

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فِي لَيْلَةٍ مَظْلَمَةٍ فَأَشْكَلَتْ عَلَيْنَا الْقِبْلَةُ فَصَلَّيْنَا. فَلَمَّا طَلَعَتِ الشَّمْسُ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ فَنَزَلَتْ: (فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ
Dari ‘Amir ibn Rabi’ah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: “Kami pernah bersama Nabi—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—pada satu malam yang gelap. Kami kesulitan menentukan arah qiblat, lalu kami shalat. Ketika matahari terbit ternyata kami telah shalat ke arah yang bukan qiblat. Maka turunlah ayat (kemana saja kamu menghadap maka di sanalah wajah Allah).” At-Tirmidzi mengeluarkannya dan ia menilainya dla’if.
Tautsiqul-Hadits
Hadits ‘Amir ibn Rabi’ah ra di atas dituliskan dalam Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fir-rajul yushalli li ghairil-qiblah no. 345. Akan tetapi Imam at-Tirmidzi menilainya dla’if:
هَذَا حَدِيثٌ لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِذَاكَ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ أَشْعَثَ السَّمَّانِ، وَأَشْعَثُ بْنُ سَعِيدٍ أَبُو الرَّبِيعِ السَّمَّانُ يُضَعَّفُ فِي الحَدِيثِ
Ini adalah hadits yang sanadnya tidak seperti itu. Kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Asy’ats as-Samman, dan Asy’ats ibn Sa’id Abur-Rabi’ as-Samman dinilai dla’if dalam hadits.
Syaikh al-Albani dalam Irwa`ul-Ghalil no. 291 menyatakan bahwa Asy’at as-Samman di atas dikuatkan oleh ‘Amr ibn Qais dalam sanad Abu Dawud at-Thayalisi. Akan tetapi itu adalah kekeliruan dari Syaikh al-Albani. Sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Samir ibn Amin az-Zuhri dalam tahqiq Bulughul-Maram yang diterbitkan Darul-Falaq, Riyadl, 1424, yang benar bukan ‘Amr melainkan ‘Umar (tanpa wawu) ibn Qais yang dia juga seorang rawi matruk, sehingga hadits ‘Amir ibn Rabi’ah di atas tidak bisa naik statusnya menjadi hasan, melainkan tetap dla’if (rujuk Musnad at-Thayalisi bab hadits ‘Amir ibn Rabi’ah no. 1241).
Akan tetapi, Syaikh al-Albani menjelaskan masih ada hadits lain yang menjadi syahid yakni dari Jabir melalui ‘Atha`. Meski rawi di bawah ‘Atha` semuanya dla’if, tetapi bisa saling menguatkan, sehingga Syaikh menyimpulkan statusnya naik menjadi hasan. Akan tetapi Syaikh Samir ibn Amin az-Zuhri mengkritiknya kembali, karena kedua rawi yang menerima dari ‘Atha` tersebut ternya matruk, hanya sseorang saja yang shaduq tetapi sering kelirunya yakni ‘Abdul-Malik al-‘Arzami. Jadi kesimpulannya hadits Jabir ini tidak bisa menjadi syahid hadits ‘Amir ibn Rabi’ah di atas. Hadits ‘Amir ibn Rabi’ah tetap dalam kedudukannya yang dla’if sebagaimana ditegaskan Imam at-Tirmidzi di atas.
Syarah Hadits
Hadits ‘Amir ibn Rabi’ah di atas meskipun dla’if, Imam at-Tirmidzi menyatakan bahwa para ulama cenderung menerima fiqih hadits tersebut, yakni bahwa siapa saja yang tidak tahu arah qiblat lalu ia shalat ke arah yang sesuai ijtihadnya, shalatnya sah meskipun ternyata diketahui arah yang dimaksud bukan qiblat. Orang tersebut tidak perlu mengulangi shalatnya kembali. Itu disebabkan orang yang shalat tersebut sudah shalat dengan memenuhi syaratnya. Syarat qiblat pada saat itu yang sesuai dengan pengetahuannya adalah arah yang ia pilih tersebut, meskipun ternyata keliru.
وَقَدْ ذَهَبَ أَكْثَرُ أَهْلِ العِلْمِ إِلَى هَذَا قَالُوا: إِذَا صَلَّى فِي الغَيْمِ لِغَيْرِ القِبْلَةِ ثُمَّ اسْتَبَانَ لَهُ بَعْدَ مَا صَلَّى أَنَّهُ صَلَّى لِغَيْرِ القِبْلَةِ فَإِنَّ صَلَاتَهُ جَائِزَةٌ، وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَابْنُ المُبَارَكِ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ
Mayoritas ulama bermadzhab pada hadits ini. Mereka berkata: “Jika seseorang shalat dalam keadaan gelap gulita pada arah bukan qiblat, kemudian baru diketahui sesudah shalat bahwa ia shalat tidak menghadap qiblat, maka shalatnya sudah cukup/sah. Ini adalah pendapat Sufyan ats-Tsauri, Ibnul-Mubarak, Ahmad (ibn Hanbal), dan Ishaq (ibn Rahawaih).” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fir-rajul yushalli li ghairil-qiblah no. 345).
Al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitab Tafsirnya menyajikan riwayat-riwayat tentang hadits di atas dari berbagai shahabat. Di akhir penyajiannya beliau menyatakan:
وَهَذِهِ الْأَسَانِيدُ فِيهَا ضَعْفٌ، وَلَعَلَّهُ يَشُدُّ بَعْضُهَا بَعْضًا. وَأَمَّا إِعَادَةُ الصَّلَاةِ لِمَنْ تَبَيَّنَ لَهُ خَطَؤُهُ فَفِيهَا قَوْلَانِ لِلْعُلَمَاءِ، وَهَذِهِ دَلَائِلُ عَلَى عَدَمِ الْقَضَاءِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Sanad-sanad ini semuanya dla’if, tetapi mudah-mudahan masing-masingnya saling menguatkan. Adapun mengulangi shalat bagi yang telah tahu bahwa qiblatnya ternyata keliru, maka di sini ada dua pendapat. Dan yang disajikan ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan tidak perlu qadla. Wal-‘Llahu a’lam (Tafsir QS. al-Baqarah [2] : 115).
Ketentuan ‘Ain dan Jihatul-Ka’bah
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَوَّاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—bersabda: “Antara timur dan barat adalah qiblat.” At-Tirmidzi meriwayatkannya dan al-Bukhari menilainya kuat.
Tautsiqul-Hadits
Hadits Abu Hurairah ra di atas ditulis oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a anna ma bainal-masyriq wal-maghrib qiblah no. 342-344. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits di atas dari dua jalur; Abu Ma’syar (no. 342-343) dan ‘Abdullah ibn Ja’far al-Makhrami (no. 344). Terkait dua jalur riwayat tersebut, Imam at-Tirmidzi dan Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari menjelaskan:
وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ فِي أَبِي مَعْشَرٍ مِنْ قِبَلِ حفْظِهِ، وَاسْمُهُ نَجِيحٌ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، قَالَ مُحَمَّدٌ: «لَا أَرْوِي عَنْهُ شَيْئًا، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ النَّاسُ»، قَالَ مُحَمَّدٌ: «وَحَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ المَخْرَمِيِّ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ الأَخْنَسِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ المَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَقْوَى مِنْ حَدِيثِ أَبِي مَعْشَرٍ وَأَصَحُّ
Sungguh sebagian ulama mempersoalkan Abu Ma’syar dari aspek hafalannya. Nama aslinya Najih maula Bani Hasyim. Muhammad (al-Bukhari) berkata: “Aku tidak meriwayatkan satu hadits pun darinya meski sungguh orang lain meriwayatkan darinya.” Muhammad (al-Bukhari) berkata lagi: “Hadits ‘Abdullah ibn Ja’far al-Makhrami, dari ‘Utsman ibn Muhammad al-Akhnasi, dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah, lebih kuat daripada hadits Abu Ma’syar dan lebih shahih.” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a anna ma bainal-masyriq wal-maghrib qiblah no. 343).
Matan kedua jalur di atas tidak ada perbedaan, persis sama dengan yang sudah ditulis di atas. Imam at-Tirmidzi menjelaskan juga:
وَقَدْ رُوِيَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ قِبْلَةٌ»، مِنْهُمْ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، وَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَابْنُ عَبَّاسٍ
Sungguh telah diriwayatkan bukan dari seorang shahabat Nabi saw: “Di antara timur dan barat adalah qiblat” di antara mereka adalah ‘Umar ibn al-Khaththab, ‘Ali ibn Abi Thalib, dan Ibn ‘Abbas.” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a anna ma bainal-masyriq wal-maghrib qiblah no. 344)
Syarah Hadits
Qiblat (arti asalnya ‘arah menghadap’) dinyatakan oleh al-Qur`an adalah arah ke Masjidil-Haram (syathral-Masjidil-Haram). Di mana pun setiap muslim berada, jika hendak shalat mestilah mengarah secara tepat ke Masjidil-Haram.
فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ
…sungguh Kami akan menghadapkan kamu ke qiblat yang kamu sukai. Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah muka kalian ke arahnya… (QS. al-Baqarah [2] : 144)
Meski disebut Masjidil-Haram oleh al-Qur`an, maksudnya adalah Ka’bah, sebab di zaman al-Qur`an turun, yang disebut Masjidil-Haram itu adalah Ka’bah dan tempat sekelilingnya. Saat itu belum ada bangunan Masjidil-Haram seperti pada zaman-zaman berikutnya. Jadi ketika disebut Masjidil-Haram, maksudnya adalah Ka’bah. Terlebih sunnah Nabi saw sendiri ketika shalat di Masjidil-Haram, shalatnya menghadap Ka’bah.
Berdasarkan ayat di atas, ulama sepakat memahami bahwa menghadap qiblat itu harus ‘ainul-Ka’bah; benar-benar tepat mengadah Ka’bah. Dalam kasus tertentu dimana Ka’bah susah diidentifikasi, maka qiblat berlaku jihatul-Ka’bah; asal sama arahnya dengan Ka’bah, meski tidak tepat pada Ka’bah. Hadits Abu Hurairah di atas menjelaskan fiqih jihatul-Ka’bah yang dimaksud. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn ‘Umar:
إِذَا جَعَلْتَ المَغْرِبَ عَنْ يَمِينِكَ، وَالمَشْرِقَ عَنْ يَسَارِكَ فَمَا بَيْنَهُمَا قِبْلَةٌ، إِذَا اسْتَقْبَلْتَ القِبْلَةَ
Jika kamu posisikan barat di sebelah kanan dan timur di sebelah kiri, maka yang ada di depan itulah qiblat, jika kamu menghadap ke qiblat (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a anna ma bainal-masyriq wal-maghrib qiblah no. 344).
Sementara itu Ibnul-Mubarak menjelaskan:
مَا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ قِبْلَةٌ، هَذَا لِأَهْلِ المَشْرِقِ
Yang ada di antara timur dan barat adalah qiblat. Ini untuk penduduk di daerah timur (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a anna ma bainal-masyriq wal-maghrib qiblah no. 344).
Hadits Abu Hurairah di atas berarti ditujukan Rasul saw untuk penduduk Madinah atau yang searah dengannya seperti Syam (Suriah, Palestina, Yordania, dan sekitarnya). Untuk lebih mudah menentukan qiblat, maka penduduk Madinah tinggal menghadap ke selatan saja. Tidak perlu repot-repot memikirkan apakah mengarah ke selatan tersebut harus agak condong ke sebelah barat atau timur. Pokoknya asal selatan, itu adalah qiblat. Sebagaimana dijelaskan Ibn ‘Umar, asalkan barat ada di sebelah kanan dan timur di sebelah kiri, maka yang ada di depan itulah qiblat (Tuhfatul-Ahwadzi syarah Sunan at-Tirmidzi).
Kalau dalam konteks Indonesia dimana Ka’bah ada di sebelah barat, berarti asal menghadap barat, apakah barat agak ke utara atau agak ke selatan, tidak perlu repot-repot dipikirkan. Pokoknya asal menghadap barat, maka itu adalah qiblat. Fiqih qiblat seperti ini yang disebut oleh para ulama di atas dengan jihatul-Ka’bah. Maksudnya yang penting shalat menghadap ke arah mata angin yang utamanya; timur, barat, utara, atau selatan. Tidak harus persis tepat ke Ka’bahnya.
Akan tetapi fiqih ini tentunya berlaku bagi penduduk Madinah di zaman Nabi saw yang belum mengetahui secara tepat dimana ‘ainul-Ka’bah, sehingga berlakulah teori jihatul-Ka’bah berdasarkan hadits Abu Hurairah ra di atas. Untuk zaman sekarang, fiqh jihatul-Ka’bah ini bisa dinyatakan tidak berlaku, sebab faktanya sudah ada peta dan kompas, kompas khusus qiblat, GPS, dan rusydul-qiblat pada tanggal 28 Mei jam 16:18 wib dan 16 Juli jam 16:27 wib. Pada tanggal dan jam tersebut matahari tepat berada di atas Ka’bah. Maka semua bayang-bayang benda pada tanggal dan jam tersebut pasti tepat mengarah ke Ka’bah.
Jadi fiqih jihatul-Ka’bah hanya berlaku di daerah yang sulit diketahui secara pasti ‘ainul-Ka’bah atau bagi orang-orang yang tidak bisa menentukan ‘ainul-Ka’bah dengan perkembangan teknologi mutakhir.
Wal-‘Llahu a’lam













