Waktu Shubuh Harus Dikoreksi? - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Waktu Shubuh Harus Dikoreksi?

3 months ago
781

Munas Tarjih Muhammadiyah ke-31 pada 20 Desember 2020 silam yang kemudian diresmikan mulai berlaku 13 Maret 2021 memutuskan bahwa waktu shubuh di Indonesia harus ditambah 8 menit. Hal itu karena standar ketinggian matahari -20° yang selama ini digunakan dinilai terlalu rendah dan harus dikoreksi menjadi -18°. Awal waktu shubuh dan akhir waktu sahur pun menjadi harus dikoreksi?

Muhammadiyah mendasarkannya pada penelitian dari sejak 2009 dan menemukan bahwa ketinggian matahari -20° masih terlalu pagi karena fajar belum terbit. Fajar menurut Muhammadiyah baru terbit ketika ketinggian matahari -18º. Akan tetapi penemuan Muhammadiyah tersebut dibantah oleh Tim Hisab dan Rukyat dari Kemenag RI. Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin, menyebutkan bahwa Tim Hisab & Rukyat Kemenag RI terdiri dari berbagai lembaga, seperti Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Universitas Islam di Indonesia. Para pakar falak dari PBNU, Persis, PUI, dan Al-Irsyad, pun dilibatkan di dalamnya. Sebagaimana dijelaskan Prof. Thomas Djamaludin, salah seorang pakar astronomi dari Tim Hisab & Rukyat Kemenag RI, penemuan Muhammadiyah tersebut kemungkinan karena mengamati di daerah yang sudah terpengaruh polusi cahaya. Faktanya, pada tanggal 24-25 April 2018 Tim Kemenag melakukan pengamatan langsung di Labuan Bajo yang masih minim polusi cahaya dan galaksi Bima Sakti pun di sana terlihat jelas dengan mata telanjang. Hasilnya diketahui bahwa pada ketinggian matahari -20° cahaya fajar sudah terbit di ufuk timur dan itu menandakan waktu shubuh sudah tiba. Jadi waktu shubuh yang selama ini dirujuk sudah tepat dan tidak perlu dikoreksi.

Jamise Syar'i

Merujuk hadits-hadits Nabi saw tentang waktu shalat shubuh, semuanya menyebutkan ketika terbit fajar. Nabi saw juga melaksanakan shalat shubuh ketika masih gelap.

وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ

Waktu shalat shubuh dari terbit fajar selama belum terbit matahari (Shahih Muslim kitab al-masajid bab auqatis-shalawatil-khams no. 1416-1420 dari hadits ‘Abdullah ibn ‘Amr).

فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ بِغَلَسٍ فَصَلَّى الصُّبْحَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرُ

Beliau memerintah Bilal adzan di waktu masih gelap, dan beliau shalat shubuh ketika terbit fajar (Shahih Muslim kitab al-masajid bab auqatis-shalawatil-khams no. 1422-1423 dari hadits Buraidah).

فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ وَالنَّاسُ لاَ يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

Beliau saw shalat fajar/shubuh ketika fajar mulai menyingsing dan orang-orang hampir tidak mengenali orang-orang yang bersama mereka… (Shahih Muslim kitab al-masajid bab auqatis-shalawatil-khams no. 1424-1425 dari hadits Abu Musa ra).

عن جَابِرٍ قال: …وَالصُّبْحَ كَانَ النَّبِيُّ  يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ

Dari Jabir, ia berkata: “…Sementara shubuh Nabi saw mengerjakan shalatnya ketika masih gelap.” (Shahih al-Bukhari kitab mawaqitus-shalat bab waqtil-maghrib no. 560 dan bab waqtil-‘isya no. 565; Shahih Muslim kitab al-masajid bab istihbabit-tabkir bis-shubhi fi awwali waqtiha [anjuran menyegerakan shubuh di awal waktunya] no. 1492).

Nabi saw juga menjelaskan bahwa fajar yang dimaksud adalah cahaya fajar yang memanjang ke samping, bukan cahaya fajar yang naik ke atas sedikit seperti ekor serigala.

الْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَأَمَّا الْفَجْرُ الَّذِي يَكُونُ كَذَنَبِ السَّرْحَانِ فَلَا تَحِلُّ الصَّلَاةُ فِيهِ وَلَا يَحْرُمُ الطَّعَامُ، وَأَمَّا الَّذِي يَذْهَبُ مُسْتَطِيلًا فِي الْأُفُقِ فَإِنَّهُ يُحِلُّ الصَّلَاةَ، وَيُحَرِّمُ الطَّعَامَ

Fajar itu ada dua. Adapun fajar yang seperti ekor serigala maka tidak halal shalat (shubuh) dan tidak haram makan (sahur). Adapun yang memanjang ke samping di ufuk maka itu menghalalkan shalat (shubuh) dan mengharamkan makan (sahur) (al-Mustadrak al-Hakim kitab at-thaharah bab fi mawaqitis-shalat no. 688).

Fajar yang pertama disebut fajar kidzb (fajar palsu), sedang fajar yang kedua fajar shidq (fajar sebenarnya). Berikut penampakannya dalam gambar.

Akan tetapi yang dimaksud fajar shadiq sebagaimana dijelaskan Prof. Thomas Djamaludin awalnya ditandai cahaya putih sangat redup, yang tidak mampu menerangi benda di sekitar. Fajar shadiq (fajar sebenarnya) muncul dengan cahaya putih, tanpa warna (sesungguhnya kebiruan, hanya tak tampak karena sangat redup), karena sekadar hamburan cahaya matahari oleh atmosfer tinggi. Ini disebut fajar astronomi, karena berdampak pada mulai meredupnya bintang-bintang (lihat QS 52:49). Karena cahaya ini hasil hamburan atmosfer bumi, maka cahayanya memanjang di sepanjang ufuk. Berbeda dengan cahaya fajar kidzib (fajar semu) yang menjulang tinggi karena disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet. Fajar kidzib terjadi sebelum fajar shadiq.

Cahayanya makin menguning kemudian memerah ketika matahari makin mendekati ufuk. Susunan cahayanya dari ufuk adalah merah, kuning, kemudian putih kebiruan. Bila melihatnya di laut, cahaya fajar yang makin terang mulai menampakkan ufuk secara jelas yang penting bagi perhitungan posisi selama pelayaran. Karenanya disebut fajar nautika (bermakna terkait pelayaran). Bila makin terang dengan warna makin merah yang mulai menerangi sekitar kita, itu disebut fajar sipil (bermakna terkait dengan masyarakat). Kalau diamati dari udara, awan pun mulai bisa dikenali wujudnya.

Jadi tegasnya fajar shadiq pertanda awal waktu shubuh itu adalah fajar astronomi yang memang masih gelap, bukan berwarna kuning atau merah dan sudah terang.

Berdasarkan hasil pengamatan Tim Hisab & Rukyat di Labuan Bajo pada 24-25 April 2018 penampakan fajar pada awal terbitnya adalah sebagai berikut:

Cahaya mulai tampak pada pukul 04.44 WITa ketika posisi matahari -20 derajat (untuk melihat cahaya fajar secara jelas, klik gambar di atas untuk membesarkannya). Posisi pusat fajar bersesuaian dengan posisi titik matahari terbit. Cahaya ini benar fajar shadiq (fajar sesungguhnya), bukan fajar kadzib (fajar semu) karena melebar di ufuk.

Citra fajar pada pukul 04.48 WITa (posisi matahari -19 derajat).

Berdasarkan hasil pengamatan di atas diketahui bahwa penetapan shubuh dengan ketinggian matahari -20° di bawah ufuk sudah tepat.

Sebagian kelompok umat Islam memang ada yang meyakini shubuh harus sudah terang (fajar nautika atau sipil) berdasarkan hadits berikut:

أَصْبِحُوا بِالصُّبْحِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِأُجُورِكُمْ

Tepatlah kalian dalam menentukan waktu shubuh, karena itu lebih besar bagi pahala kalian (Musnad Ahmad bab hadits Rafi’ ibn Khadij no. 15819, Sunan Abi Dawud kitab as-shalat bab waqtis-shubhi no. 424; Sunan at-Tirmidzi abwab as-shalat bab ma ja`a fil-isfar bil-fajr no. 154; Sunan an-Nasa`i kitab al-mawaqit bab al-isfar no. 548; Sunan Ibn Majah abwab mawaqitus-shalat bab waqti shalatil-fajri no. 672; Shahih Ibn Hibban kitab as-shalat bab mawaqitus-shalat no. 1489-1491).

Jika dirujuk riwayat lainnya, maksud hadits di atas adalah:

أَسْفِرُوا بِالْفَجْرِ، فَإِنَّهُ أَعْظَمُ لِلْأَجْرِ أَوْ لِأَجْرِهَا

Tunggulah sampai terang pada shalat fajar/shubuh, karena itu lebih besar untuk pahalanya (Musnad Ahmad bab hadits Rafi’ ibn Khadij no. 17279).

Hadits di atas menimbulkan ikhtilaf di kalangan para ulama; apakah shalat shubuh harus dilaksanakan ketika sudah terang (isfar) sebagaimana dianjurkan hadits di atas, ataukah ketika masih gelap (taghlis) berdasarkan hadits-hadits yang sudah disinggung sebelumnya. Imam at-Tirmidzi menjelaskan:

وَقَدْ رَأَى غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ  وَالتَّابِعِينَ: الإِسْفَارَ بِصَلَاةِ الفَجْرِ، وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ. وقَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ: مَعْنَى الإِسْفَارِ: أَنْ يَضِحَ الفَجْرُ فَلَا يُشَكَّ فِيهِ. وَلَمْ يَرَوْا أَنَّ مَعْنَى الإِسْفَارِ: تَأْخِيرُ الصَّلاَةِ

Beberapa ahli ilmu dari shahabat Nabi saw dan tabi’in sungguh ada yang berpendapat harus isfar (menunggu terang) untuk shalat shubuh. Di antaranya Sufyan ats-Tsauri. Akan tetapi Imam as-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq menjelaskan bahwa makna isfar itu adalah fajar jelas tampak dan tidak disangsikan lagi. Mereka tidak memandang bahwa makna isfar itu mengakhirkan shalat (sampai terang) (Sunan at-Tirmidzi abwab as-shalat bab ma ja`a fil-isfar bil-fajr no. 154)

Dalam bab sebelumnya: ma ja`a fit-taghlis bil-fajr (riwayat tentang melaksanakan shalat shubuh di waktu masih gelap), Imam at-Tirmidzi menjelaskan bahwa mayoritas shahabat, di antaranya Abu Bakar dan ‘Umar, demikian juga mayoritas tabi’in sesudah mereka, termasuk Imam as-Syafi’i, Ahmad (ibn Hanbal), dan Ishaq menegaskan shalat shubuh itu ketika masih gelap (taghlis). Jadi pendapat harus isfar itu hanya pendapat sekelompok kecil para ulama. Imam al-Mubarakfuri menyatakan, selain Sufyan ats-Tsauri, para ulama yang menyatakan harus isfar adalah Hanafiyyah; pengikut Imam Abu Hanifah (Tuhfatul-Ahwadzi).

Pendapat mayoritas ulama bahwa shalat shubuh diamalkan ketika masih gelap (fajar shadiq/astronomi) dirujukkan pada amal Nabi saw sendiri yang tidak pernah shalat shubuh menunggu terang. Sebagaimana diuraikan dalil-dalil di atas, semuanya menyebutkan Nabi saw mengamalkan shalat shubuh ketika ghalas (masih gelap) dan orang-orang hampir tidak mengenali orang-orang yang ada bersama mereka saking gelapnya. Kalaupun ada riwayat yang menyebutkan Nabi saw shalat sesudah terang maka itu satu kejadian saja yang kemungkinan sengaja Nabi saw lakukan untuk menunjukkan akhir waktu shalat shubuh. Shahabat Abu Mas’ud al-Anshari menjelaskan:

وَصَلَّى الصُّبْحَ مَرَّةً بِغَلَسٍ ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ كَانَتْ صَلاَتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ التَّغْلِيسَ حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ

Beliau shalat shubuh pernah satu kali dalam keadaan masih gelap. Kemudian dalam kesempatan lain pernah menunggu sampai terang. Kemudian shalatnya sesudah itu pada waktu masih gelap sampai beliau meninggal dunia, dan tidak pernah lagi menunggu sampai terang (Sunan Abi Dawud kitab as-shalat bab fil-mawaqit no. 394. Hadits hasan karena rawi Usamah ibn Zaid al-Laitsi yang shaduq yahim; jujur tetapi terkadang keliru. Imam Muslim merujuk juga hadits riwayatnya dalam kitab Shahihnya).

عَنْ بُرَيْدَةَ عَنِ النَّبِىِّ  أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ  فَسَأَلَهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلاَةِ فَقَالَ اشْهَدْ مَعَنَا الصَّلاَةَ. فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ بِغَلَسٍ فَصَلَّى الصُّبْحَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرُ … ثُمَّ أَمَرَهُ الْغَدَ فَنَوَّرَ بِالصُّبْحِ … فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: أَيْنَ السَّائِلُ؟ مَا بَيْنَ مَا رَأَيْتَ وَقْتٌ

Dari Buraidah, dari Nabi saw, bahwasanya seseorang datang kepada Nabi saw dan bertanya kepada beliau tentang waktu shalat. Beliau menjawab: “Ikutlah shalat bersama kami.” Beliau memerintah Bilal adzan di waktu masih gelap, lalu beliau shalat shubuh ketika terbit fajar… Keesokan harinya beliau memerintah Bilal adzan shubuh setelah menunggu sampai terang… Keesokan harinya lagi beliau bertanya: “Mana orang yang bertanya itu? Apa yang ada di antara yang kamu lihat, maka itulah waktu (shalat) (Shahih Muslim kitab al-masajid bab auqatis-shalawatil-khams no. 1422-1423).

Maka makna ashbihu/asfiru dalam hadits Rafi’ ibn Khadij di atas berarti bukan tunggulah sampai terang, sebab faktanya itu tidak Nabi saw amalkan. Makna ashbihu/asfiru dengan demikian adalah:

Pertama, pastikan bahwa shalat shubuh sudah masuk pada waktunya, sebagaimana dikemukakan oleh Imam as-Syafi’i, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq ibn Rahawaih di atas: “Fajar jelas tampak dan tidak disangsikan lagi.” Ibn Hibban dalam hal ini menekankan, terkhusus lagi pada malam-malam bulan purnama, dimana cukup sulit membedakan antara fajar dan cahaya bulan. Maka menentukan waktu shubuh harus secermat mungkin agar shalat shubuh tidak dilaksanakan sebelum waktunya. Dikiranya sudah terbit fajar shubuh, tetapi ternyata itu terang bulan purnama (Shahih Ibn Hibban kitab as-shalat bab mawaqitus-shalat no. 1489).

Kedua, shalat shubuhlah sampai terang. Artinya shalat shubuh tetap dilaksanakan di waktu masih gelap, tetapi bacaan suratnya panjang sehingga selesai ketika sudah terang. Pendapat ini dikemukakan oleh at-Thahawi dan Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah. Pemaknaan ini sesuai dengan hadits-hadits di atas yang menjelaskan Nabi saw shalat shubuh ketika masih gelap dan selesai ketika sudah terang. Inilah shalat shubuh yang paling besar ganjarannya.

Untuk poin yang terakhir ini, sesuai dengan yang diriwayatkan dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ  … يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ الرَّجُلُ جَلِيسَهُ, وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى الْمِائَةِ.

Dari Abu Barzah al-Aslami, ia berkata: “Rasulullah saw selesai dari shalat shubuh ketika seseorang mampu mengenali orang yang duduk di sampingnya. Beliau biasanya membaca 60 hingga 100 ayat.” (Shahih al-Bukhari kitab mawaqitus-shalat bab waqtiz-zhuhr ‘indaz-zawal no. 541; Shahih Muslim kitab al-masajid bab istihbabit-tabkir bis-shubhi fi awwali waqtiha [anjuran menyegerakan shubuh di awal waktunya] no. 1494).

Wal-‘Llahu a’lam.

Nashruddin Syarief

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *