Adab Berpakaian - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Adab Berpakaian

3 months ago
9643

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ، لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي، إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ» رواه البخاري

“Dari Abdullah bin Umar radhiya-‘Llahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang menjulurkan pakaiannnya dengan sombong, maka Allah swt tidak akan memperhatikan kepadanya pada hari kiamat. Maka Abu Bakar ashShiddiq bertanya: Sesungguhnya salah satu ujung pakaianku terjulur, kecuali jika aku memeganginya/ mengangkatnya? Maka Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya kamu melakukan itu bukan bermaksud sombong”. (H.R. Bukhari no. 3.665)

Pakaian adalah sesuatu yang sangat urgent bagi manusia, terlebih bagi orang muslim. Bagi orang muslim, berpakaian tidak hanya untuk menutup badan agar terlindungi dari panas dan dingin saja, tetapi lebih dari itu, yaitu untuk menutup aurat dan merupakan syariat dari Allah dan Rasulnya yang harus dilaksanakan oleh orang-orang beriman. Firman Allah swt dalam al-Quran:

Jamise Syar'i

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 26)

Sebagai orang beriman, dalam berpakaian pun harus melaksanakan adab-adabnya. Di antara adab berpakaian adalah jangan berlebihan dan jangan sombong.

Berlebihan atau israf adalah sifat yang dilarang dalam ajaran Islam. Karena berlebihan dalam segala hal itu akan mendatangkan bahaya bagi agama, tubuh, akal, kehormatan, dan harta.   Dalam berpakaian pun kita dilarang berlebihan. Firman Allah swt dalam al-Quran:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ.

“Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ» رواه البخاري

“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bershadaqahlah kalian semua, tanpa berlebihan dan tidak disertai kesombongan.” (HR. Bukhari, Fathul Bari, juz 10, hal. 285)

Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dalam hadits di atas untuk makan, minum, berpakaian, dan bershadaqah dengan tidak berlebihan dan tidak sombong. Ini menjadi peringatan bagi seorang muslim, agar hati-hati dalam perkara tadi. Karena kebanyakan manusia biasanya suka berlebihan dan sombong dalam hal makan, minum, dan berpakaian.

Termasuk berlebihan dalam berpakaian adalah memakai pakaian yang serba mewah, harganya super mahal, banyak membeli pakaian yang tidak jelas manfaatnya, sehingga menumpuk di lemari. Hal itu dilarang bagi seorang muslim. Justru seorang muslim dianjurkan memakai pakaian yang sederhana. Alangkah baiknya pakaian yang tidak dipakai dishadaqahkan kepada yang berhak menerimanya, tentunya pakaian yang masih bagus dan layak pakai.

Adab berpakaian selanjutnya adalah tidak boleh sombong. Sombong termasuk dosa besar. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

“Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedangkan kamu kekal di dalamnya.” Maka neraka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Azzumar: 72)

Nabi Muhammad shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ» رواه مسلم

“Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR. Muslim, nomor: 147)

 Agar tidak sombong, maka seorang muslim harus berhati-hati dalam memakai pakaian. Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam mengancam, barang siapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, maka Allah tidak memperhatikannya pada hari kiamat nanti.

Di antara yang dapat mengundang sikap kesombongan dalam berpakaian adalah isbal. Menurut Abdul Hadi bin Sa’id al-Bustani, musbil (orang yang isbal) adalah orang yang melonggarkan atau menjulurkan pakaiannya sampai di bawah mata kaki, dan orang yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong. (Rauhun wa Rayahin, hal. 527)

Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Isbal itu dalam sarung, kemeja/pakaian, dan sorban. Maka barang siapa yang menjulurkan sesuatu (dari tiga hal itu) dalam keadaan sombong, maka Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memperhatikannya pada hari kiamat. (HR. Abu Dawud, nomor: 4.090)

Maksud tidak akan memperhatikannya pada hari kiamat, menurut Ibnu Hajar ialah bahwa Allah tidak akan merahmatinya. Orang yang menjulurkan pakaiannya, sarungnya, sorbannya dengan sombong maka nanti pada hari kiamat tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah. Dengan demikian, maka para ulama sepakat, bahwa isbal dengan sombang hukumnya haram. (Taudhihul Ahkam, Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, jilid 7, hal. 313)

Masih menurut Al-Bassam, terdapat perselisihan hukum di antara para ulama, jika menjulurkan pakaian nya bukan karena sombong.

Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa menjulurkan pakaian melebihi mata kaki baik karena sombong atau pun tidak tetap hukumnya haram. Karena banyak dalil yang menunjukan kepada hal itu. Orang yang menjulurkan pakaiannya atau celananya sampai menyentuh bumi, maka ini adalah perilaku sombong, yang pelakunya mendapatkan ancaman di akhirat nanti. Allah tidak akan mengajak berbicara kepadanya, tidak akan mensucikannya, dan bagi mereka siksaan yang amat pedih. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam:

 

 “Dari Abu Dzar ia berkata, “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga golongan manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan, dan bagi mereka siksa yang pedih. Maka Rasulullah mengulanginya tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka celaka dan rugi. Siapa mereka wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Orang yang menurunkan kain di bawah mata kaki, orang-orang yang menyebut-nyebut pemberiannya, dan pedagang yang menjual dagangan dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim, nomor: 171)

Adapun orang yang menjulurkan sarungnya, pakaiannya sampai mata kaki saja, tapi melebihkannya sampai ke bawah, tetap mereka akan mendapatkan ancaman, hanya lebih ringan ancaman dibanding yang pertama, yang menjulurkan pakaian sampai melebihi mata kaki disertai kesombongan.

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa yang akan mendapatkan acaman dari Allah pada hari kiamat, tidak akan mendapat rahmat dari Allah adalah yang menjulurkan pakaian atau sarungnya dengan sombong. Yang berpegadang dengan pendapat ini mangambil kaidah hamlul muthlaq ‘alal muqayyad; yaitu mengambil yang mutlaq atas muqayyadnya. Muthlaqnya bahwa Allah tidak akan merahmati pada hari kiamat orang yang menjulurkan pakaiannya, muqayyadnya (batasannya) yang disertai dengan kesombongan. Adapun yang menjulurkan pakaiannya tidak disertai dengan kesombongan, maka tidak termasuk kepada orang yang mendapat ancaman ini.

Ashal dalam pakaian itu mubah. maka tidak haram berpakaian, kecuali ada dalil Allah dan Rasul-Nya yang mengharamkannya.

Dan pendapat ini dikuatkan dengan sahabat Abu Bakar Shiddiq yang suatu ketika pakaiannya menjulur melebihi mata kakainya. Tetapi Rasulullah mengatakan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq melakukan isbal itu bukan karena sombong. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam ini:

 “Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang menjulurkan pakaiannnya dengan sombong, maka Allah tidak akan memperhatikan kepadanya pada hari kiamat. Maka Abu Bakar ashShiddiq bertanya: Sesungguhnya salah satu ujung pakaianku terjulur, kecuali jika aku memeganginya atau mengangkatnya? Maka Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya kamu melakukan itu bukan bermaksud sombong”. (H.R. Bukhari, nomor: 3.665)

Dari keterangan di atas, penulis sampai pada kesimpulan bahwa isbal itu terjadi bisa dalam bentuk sarung, pakaian, dan sorban. Kedua, para ulama sepakat bahwa isbal hukumnya dibolehkan bagi wanita (lihat riwayat at-Tirmidzi no. 1.731). Ketiga, hukumnya makruh bagi orang yang isbal karena bukan ‘udzur syar’i dan bukan atas dasar kesombongan. Keempat, hukumnya boleh bagi yang isbal jika karena ada alasan syar’i semisal ada cacat di area mata kakinya. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *