Tangan Manusia Merusak Semesta - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Tangan Manusia Merusak Semesta

3 months ago
9631

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Bulan lalu, diberitakan bahwa perusahaan Tambang Emas Sangihe (TMS) telah mengantongi izin lingkungan dan izin usaha produksi pertambangan emas seluas 42.000 hektare yang meliputi setengah bagian selatan Pulau Sangihe, termasuk di dalamnya adalah Gunung Sahendaruman seluas lebih dari 3.500 hektare dimana burung endimik yang bernama seriwang sangihe atau akrab disebut dengan manu’ niu hidup di dalamnya.

Jamise Syar'i

Selain akan memusnahkan burung langkat tersebut,  praktik pertambangan emas juga akan mengancam eksistensi Gunung Sahendaruman itu sendiri yang hari ini menciut luasnya menjadi 42.000 hektare dari sebelumnya seluas 123.000 hektare.

Perusahaan TMS yang telah mendapatkan izin usaha dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kini berusaha mendapatkan izin dari masyarakat setempat yang menolak terhadap kedatangan perusahaan tersebut. Save Sangihe Island, gerakan penolakan tambang yang terdiri dari 25 organisasi, hingga hari ini terus menerus menyuarakan protes dan penolakan atas kehadiran perusahaan TMS.

Protes masyarakat tentu saja bukan didasari tawaran rendah perusahaan yang berniat membeli tanah mereka seharga 5.000 rupiah per meternya. Akan tetapi didasari atas dampak dari praktik pertambangan tersebut yang akan mencemari air laut, air meneral, perkebunan dan perbukitan akan lenyap, serta mata pencaharian penduduk yang mayoritas nelayan akan ikut sirna. (bbc.com)

Akibat-akibat kerusakan alam yang dikhawatirkan oleh masyarakat Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, telah dirasakan pula jauh sebelumnya oleh masyarakat Samarinda, Kalimantan Timur, akibat dari dampak praktik perusahaan tambang batu bara. Kini, masyarakat Samarinda mengalami kesulitan air bersih, sawah-sawah rusak akibat lumpur batu bara, anak-anak mati tenggelam akibat kubangan bekas tambang yang tidak direklamasi, serta banyak masyarakat yang sesak nafas dan batuk-batuk yang diakibatkan dari mesin Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang bahan dasarnya dari batu bara. Semua dampak kerusakan dan kemadharatan ini dikupas tuntas oleh Dhandy  Dwi Laksono dalam film dokumenternya yang berjudul Sexy Killers. (lihat: https://youtu.be/qlB7vg4l-To)  

Makna al-Fasad

Ar-Raghib al-Ashfahani mendefinisikan al-fasad sebagai sesuatu yang keluar dari yang lurus; baik itu porsinya sedikit maupun banyak, selama keluar dari jalur yang lurus maka dinamakan dengan al-fasad. Kata al-fasad ini juga, menurut ar-Raghib, sering digunakan dalam konteks psikis maupun fisik; nafsiyyah maupun badaniyyah; bathiniyyah maupun dzahiriyyah; i’tiqadiyyah maupun ‘amaliyyah. (Mu’jam Mufradat al-Fadzil Qur’an, 2008: 425)

Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir mendefinisikan al-fasad sebagai cipta kondisi yang buruk (su’ul hal). Maka dengan cipta kondisi yang buruk itu manusia sulit mengambil apa-apa yang bermanfaat baginya baik itu di daratan maupun di lautan.

Maksiat Penyebab dari Kerusakan

Ayat di atas menegaskan bahwa sebab kerusakan yang terjadi pada alam semesta ini adalah manusia. Ini menunjukan bahwa kerusakan alam bukan semata-mata akibat dari perubahan ekosistem secara natural dan tanpa disengaja. Semua itu diakibatkan oleh tangan-tangan manusia.

 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Ayat di atas telah menginformasikan jauh sebelum terjadinya kerusakan-kerusakan di alam semesta ini. Oleh sebab itu, Allah melakukan saddu dzari’ah dengan cara melarang manusia melakukan kerusakan di alam semesta ini.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11)

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan“. (QS. Al-Baqarah [2]: 11)

Menurut as-Suddi bahwa yang dimaksud dengan kerusakan ayat di atas adalah kerusakan yang bersifat i’tiqadi dan ‘amali, yaitu kekufuran dan kemaksiatan. Bahkan Abul ‘Aliyah mempertegas penafsiran as-Suddi sebagaimana berikut ini:

وقال أبو العالية: {لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأرض} يَعْنِي لَا تَعْصُوا فِي الْأَرْضِ، وَكَانَ فَسَادُهُمْ ذَلِكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ، لِأَنَّهُ مَنْ عَصَى اللَّهَ في الأرض، أو أمر بمعصيته فَقَدْ أَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ، لِأَنَّ صَلَاحَ الْأَرْضِ والسماء بالطاعة.

Abul ‘Aliyah berkata: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” maksudnya adalah janganlah kamu melakukan kemaksiatan di muka bumi. Dan kerusakan yang mereka lakukan itu merupakan kemaksiatan kepada Allah. Karena siapa saja yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau berkomplot untuk bermaksiat kepada-Nya, maka ia telah berbuat kerusakan di muka bumi; karena melakukan perbaikan di bumi dan di langit, hanya dengan cara taat. (Mukhtashar Ibn Katsir)

Ibnu ‘Asyur pun ikut menegaskan dengan menyatakan bahwa kerusakan yang dimaksud tidak dibatasi dalam satu makna. Artinya, bisa bermakna dalam artian fisik; dzahiriyyah; ‘amaliyyah, bisa juga bermakna dalam artian psikis; nafsiyyah; bathiniyyah.

وَهُوَ الْمُرَادُ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيهِمْ لِأَنَّ إِسْنَادَ الْكَسْبِ إِلَى الْأَيْدِي جَرَى مَجْرَى الْمَثَلِ فِي فِعْلِ الشَّرِّ وَالسُّوءِ مِنَ الْأَعْمَالِ كُلِّهَا، دُونَ خُصُوصِ مَا يَعْمَلُ مِنْهَا بِالْأَيْدِي لِأَنَّ مَا يَكْسِبُهُ النَّاسُ يَكُونُ بِالْجَوَارِحِ الظَّاهِرَةِ كُلِّهَا، وَبِالْحَوَاسِّ الْبَاطِنَةِ مِنَ الْعَقَائِدِ الضَّالَّةِ وَالْأَدْوَاءِ النفسية.

Yaitu yang dimaksud dengan disebabkan tangan manusia adalah karena penyandaran kata al-kasbu (perbuatan) kepada al-aidiy (tangan manusia) menunjukan bahwa perumpamaan itu bisa terjadi pada seluruh amal keburukan manusia; tidak secara spesifik dikhususkan pada apa yang dilakukan manusia dengan anggota tubuhnya secara fisik; juga tidak spesifik dikhususkan pada psikis baik berupa akidah yang sesat maupun penyakit hati. (At-Tahrir wa at-Tanwir)

Dengan demikian, kerusakan demi kerusakan yang terjadi pada alam semesta ini disebabkan tingkah laku manusia yang jauh dari jalan yang lurus; jalan yang telah Allah berikan rambu-rambunya berupa perintah dan larangan. Karena pada hakikatnya, semua yang Allah perintahkan adalah semua kemaslahatan yang akan kembali kepada manusia. Sebaliknya, semua yang Allah larang adalah semua kemadharatan yang dampaknya akan kembali kepada manusia.

Ini pun sekaligus menunjukan bahwa Islam tidak mendikotomikan arti “kerusakan” kepada yang sifatnya duniawi dan kepada yang sifatnya ukhrawi dengan pengertian sekuler. Artinya, kerusakan yang terjadi di alam semesta ini, baik berupa kerusakan ekosistem yang bersifat duniawi maupun berupa kerusakan moralitas-spiritualitas yang bersifat ukhrawi, harus menjadi perhatian bagi seluruh umat Muslim Indonesia khususnya, dan seluruh umat Muslim dunia umumnya, untuk mencegahnya.

Dampak dari Kerusakan

Dampak dari kerusakan yang dilakukan manusia adalah hilangnya keberkahan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat ar-Rum: 41.

وَالسَّبَبُ فِي هَذَا أَنَّ الْحُدُودَ إِذَا أُقِيمَتْ انكف الناس عن تعاطي المحرمات، وإذا تركت المعاصي كان سبباً في حصول الْبَرَكَاتِ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ؛ وَلِهَذَا إِذَا نَزَلَ عيسى بن مريم عليه السلام في آخر الزمان

Penyebab kerusakanya ada pada (kemaksiatan ini). Bila hudud (hukum-hukum Alah) ditegakkan, maka manusia akan berhenti melakukakan yang diharamkan. Dan bila kemaksiatan ditinggalkan, niscaya sebab-sebab adanya keberkahan dari langit dan bumi akan terwujud. Oleh sebab inilah Nabi Isa bin Maryam ‘alaihis-salam turun di akhir zaman (untuk memberikan keberkahan, pen). (Mukhtashar Ibnu Katsir)

Maka dari itu, dalam ayat lain Allah menginformasikan bahwa keberkahan itu hanya akan turun kepada penduduk yang beriman dan bertakwa.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf [7]: 96)

WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *