Mencium Istri Tidak Membatalkan Wudlu - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Mencium Istri Tidak Membatalkan Wudlu

1 month ago
50
  1. وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ  قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى اَلصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَضَعَّفَهُ اَلْبُخَارِيّ ُ

Dari ‘Aisyah ra: “Sesungguhnya Nabi saw mencium salah seorang istrinya, lalu keluar hendak shalat dan tidak berwudlu lagi.” Ahmad mengeluarkannya dan al-Bukhari mendla’ifkannya.

 

Jamise Syar'i

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad bab musnad ‘Aisyah binti as-Shiddiq no. 25766; Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi abwab at-thaharah bab ma ja`a fi tarkil-wudlu minal-qublah no. 86; dan Ibn Majah dalam Sunan Ibn Majah dalam Sunan Ibn Majah kitab at-thaharah bab al-wudlu minal-qublah no. 502.

Dalam ketiga kitab tersebut, disebutkan bahwa sesudah ‘Aisyah menyampaikan sabda Nabi saw di atas, ‘Aisyah ditanya oleh ‘Urwah yang merupakan keponakannya (putra dari az-Zubair ibn al-‘Awwam dan Asma` binti Abi Bakar):

قَالَ عُرْوَةُ: قُلْتُ لَهَا: مَنْ هِيَ إِلَّا أَنْتِ؟ قَالَ: فَضَحِكَتْ

‘Urwah berkata: Aku lalu bertanya: “Bukankah istri Nabi saw yang dimaksud itu adalah anda?” Kata ‘Urwah: “’Aisyah pun hanya tersenyum.”

Pernyataan al-Hafizh bahwa Imam al-Bukhari mendla’ifkan hadits ini ditemukan dalam Sunan at-Tirmidzi. Abu ‘Isa at-Tirmidzi menjelaskan bahwa Imam al-Bukhari dan Yahya al-Qaththan menilai hadits ini dla’if, sebab Habib ibn Abi Tsabit tidak pernah menerima (sima’) hadits dari ‘Urwah. Menurut at-Tirmidzi, memang ada lagi sanad lain yang melalui Ibrahim at-Taimi, tetapi ini pun dla’if juga. Sebabnya Ibrahim tidak pernah menerima (sima’) hadits dari ‘Aisyah. Oleh karena itu hadits ini dla’if. Bahkan Imam at-Tirmidzi berani menyatakan: “Tidak ada yang shahih dari Nabi saw satu hadits pun dalam tema ini.” (Sunan at-Tirmidzi abwab at-thaharah bab ma ja`a fi tarkil-wudlu minal-qublah no. 86)

Penilaian dla’if hadits ini dikemukakan juga oleh Abu Dawud, al-Baihaqi, ad-Daraquthni dan Ibn Hazm. Bahkan Ibn Hazm sampai berani menyatakan bahwa tidak ada satu hadits pun yang shahih dalam hal ini (boleh tidak berwudlu sesudah mencium istri). Kalaupun hadits ini shahih, berarti ini terjadi sebelum turunnya perintah untuk berwudlu sesudah menyentuh/bersentuhan dengan wanita (at-Talkhishul-Habir 1 : 245)

Meski demikian, dalam penela’ahan al-Hafizh, terdapat jalur periwayatan lain yang shahih, yakni dari ‘Abdul-Karim al-Jazari dari ‘Atha dari ‘Aisyah. Sanad yang ini statusnya kuat (at-Talkhishul-Habir 4 : 229). Penela’ahan serupa dikemukakan oleh Syaikh al-Albani yang menemukan 10 jalur periwayatan untuk hadits ini. Sebagiannya dla’if, tetapi sebagiannya lagi shahih. Ia pun menilai bahwa hadits ini shahih (Shahih Abi Dawud no. 170-173; as-Silsilah ad-Dla’ifah no. 999). Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarah Sunan at-Tirmidzi juga menilai hadits ini shahih karena sanad-sanadnya saling menguatkan (1 : 133-142 no. 86).

 

Syarah Ijmali

Dalam madzhab as-Syafi’i terdapat dua pendapat terkait menyentuh wanita membatalkan wudlu ini; ada yang menyatakan bathal, ada juga yang tidak. Imam an-Nawawi menyatakan dengan tegas bahwa pendapat madzhab yang paling kuat adalah bersentuhan dengan wanita membatalkan wudlu. Hadits-hadits yang menyatakan Nabi saw pernah menyentuh kaki ‘Aisyah ketika shalat malam, ataupun sebaliknya ‘Aisyah pernah menyentuh telapak kaki Nabi saw ketika beliau shalat malam, menurut madzhab Syafi’i, itu berlaku khusus untuk Nabi saw saja, tidak berlaku untuk umatnya (at-Talkhishul-Habir 4 : 229).

Madzhab Syafi’i/Syafi’iyyah secara umum berpendapat bahwa menyentuh/bersentuhan dengan wanita ghair muhrim membatalkan wudlu berdasar pada dalil:

وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu (QS. an-Nisa` [4] : 43. Ayat semakna QS. al-Ma`idah [5] : 6).

Menurut para ulama Syafi’iyyah pengertian au lâmastumun-nisâ` maknanya yang jelas (haqiqi) adalah menyentuh dengan tangan. Terlebih ada riwayat lain yang membacanya dengan au lamastumun-nisâ` (la dibaca pendek) yang artinya menyentuh wanita dengan tangan. Kedua riwayat bacaan ini shahih (Subulus-Salam).

Makna lâmastum/mulâmasah yang ada dalam ayat di atas memang diperselisihkan maknanya di kalangan para shahabat. Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Umar menyatakan bahwa maknanya adalah menyentuh dengan tangan. Dasar dalilnya adalah qira`at untuk ayat itu ada dua; au lâmastumun-nisâ` dan au lamastumun-nisâ` (la dibaca pendek). Selain itu Nabi saw melarang dari jual beli mulâmasah, maksudnya adalah hanya mencukupkan pada menyentuh dengan tangan maka berlaku transaksi jual beli.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ  أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  نَهَى عَنْ الْمُنَابَذَةِ وَهِيَ طَرْحُ الرَّجُلِ ثَوْبَهُ بِالْبَيْعِ إِلَى الرَّجُلِ قَبْلَ أَنْ يُقَلِّبَهُ أَوْ يَنْظُرَ إِلَيْهِ وَنَهَى عَنْ الْمُلَامَسَةِ وَالْمُلَامَسَةُ لَمْسُ الثَّوْبِ لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ

Dari Abu Sa’id ra, ia memberitahukan: “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang jual beli munabadzah, yaitu seseorang menjual dengan cara melemparkan baju jualannya kepada pembeli tanpa diteliti dan dilihat terlebih dahulu; dan melarang juga dari mulamasah. Mulamasah adalah (jual beli dengan cara) menyentuh baju (yang dibeli) tanpa melihatnya.” (Shahih al-Bukhari kitab al-buyu’ bab bai’il-mulamasah no. 2144)

Sementara itu Ibn ‘Abbas dan ‘Ali ibn Abi Thalib menyatakan bahwa maksud dari lâmastum/mulâmasah adalah jima’ (bersetubuh). Menurut Ibn ‘Abbas semua ayat al-Qur`an yang menyebutkan mubâsyarah (bersentuhan kulit) dan lams/mulâmasah (bersentuhan) maknanya pasti jima’. Di antaranya:

وَاِنْ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيْضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ اِلَّآ اَنْ يَّعْفُوْنَ اَوْ يَعْفُوَا الَّذِيْ بِيَدِهٖ عُقْدَةُ النِّكَاحِ

Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur (arti asal: menyentuh) dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah (QS. al-Baqarah [2] : 237).

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنٰتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّوْنَهَاۚ فَمَتِّعُوْهُنَّ وَسَرِّحُوْهُنَّ سَرَاحًا جَمِيْلًا

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya (arti asal: menyentuhnya) maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, Maka berilah mereka mut`ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya (QS. al-Ahzab [33] : 49).

Dalam dua ayat di atas jelas disebut: “sebelum kalian menyentuh mereka (istri).” Maksudnya bukan menyentuh biasa, tetapi jima’ (bersetubuh).

Atau QS. al-Baqarah [2] : 187:

 وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ

“…(tetapi) janganlah kamu saling bersentuhan (mubasyarah) dengan mereka sedang kamu beri`tikaf dalam masjid.”.

Maksud mubasyarah dalam ayat tersebut adalah ‘bersetubuh’, bukan bersentuhan biasa.

Sa’id ibn Jubair pernah bertanya langsung kepada Ibn ‘Abbas ketika ia mendapati perbedaan pendapat di antara orang Arab asli dan kaum mawali (hamba sahaya yang sudah bebas, biasanya bukan Arab asli) tentang makna “menyentuh” dalam al-Qur`an. Menurut orang Arab maknanya jima’, sementara menurut mawali maknanya menyentuh biasa. Maka Ibn ‘Abbas menegaskan, maknanya jima’ (Tafsir Ibn Katsir QS. an-Nisa` [4] : 43)

Imam Ibn Jarir at-Thabari, pakar tafsir terkemuka, menyatakan bahwa pendapat yang paling tepat tentang lâmastum/mulâmasah adalah jima’, bukan menyentuh biasa. Sebabnya, hadits-hadits tentang Nabi saw pernah mencium istrinya lalu shalat tanpa berwudlu kedudukannya shahih (Tafsir Ibn Katsir an-Nisa` [4] : 43).

Dalil lain yang bisa menjadi penguat bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudlu adalah:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ …لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَرَسُولُ اللهِ  يُصَلِّي وَأَنَا مُضْطَجِعَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَسْجُدَ غَمَزَ رِجْلَيَّ فَقَبَضْتُهُمَا

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “…Sungguh aku pernah melihat diriku ketika Rasulullah saw shalat aku berbaring di antara beliau dan qiblat. Jika beliau hendak sujud, beliau menyentuh kedua kakiku, maka aku pun menariknya.” (Shahih al-Bukhari kitab abwab sutrah al-mushalli bab hal yaghmizur-rajul imra`atahu no. 519).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Aku pernah kehilangan Rasulullah saw dari kasur pada satu malam. Lalu aku mencarinya dengan meraba-raba. Maka tanganku menyentuh bagian tengah telapak kakinya yang sedang diberdirikan tegak di masjid, saat itu beliau berdo’a: Ya Allah, aku berlindung dengan keridlaan-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak bisa menghitung pujian untuk-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji untuk diri-Mu.” (Shahih Muslim kitab as-shalat bab ma yuqalu fir-ruku’ was-sujud no. 1118).

Al-Hafizh menyatakan bahwa mungkin saja, Nabi saw menyentuh ‘Aisyah atau sebaliknya ‘Aisyah menyentuh Nabi saw di atas, itu disebabkan terhalang oleh kain, atau itu berlaku khusus bagi Nabi saw saja. Akan tetapi as-Shan’ani menyatakan pendapat al-Hafizh ini terlalu jauh, sebab jelas disebutkan dalam hadits di atas langsung menyentuh. Yang mudah dipahami dari menyentuh langsung telapak kaki itu tidak terhalang kain. Penilaian khusus untuk Nabi saw juga tidak berdasar pada dalil tersurat dari Nabi saw. Padahal penilaian khusus bagi Nabi saw harus berdasar pada dalil tersurat dari Nabi saw (Subulus-Salam). Meski demikian, al-Hafizh mengakui bahwa di kalangan Syafi’iyyah ada dua pendapat dalam hal ini, ada yang menyatakan bathal wudlu ada juga yang menyatakan tidak. Bagi yang menyatakan tidak, dalilnya adalah hadits-hadits di atas. Dan ini juga merupakan salah satu qaul (pendapat/fatwa) yang kuat dalam madzhab Syafi’i (at-Talkhishul-Habir 4 : 229).

Menurut Syaikh al-Albani menyentuh atau mencium istri jelas tidak membathalkan wudlu, sebab tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bathalnya. Justru dalil-dalil shahih yang ada menunjukkan sebaliknya, bahwa menyentuh atau mencium istri tidak membathalkan wudlu. Dalam hal ini, menurut beliau tidak perlu dibedakan antara yang bersyahwat dan tanpa syahwat, sebab mencium istri itu pasti bersyahwat (as-Silsilah ad-Dla’ifah no. 1000). Pendapat senada dikemukakan Syaikh Ahmad Syakir (‘Umdatut-Tafsir QS. an-Nisa` [4] : 43).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *