

Tanggerang, 10 November 2020 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta terjadi sesuatu yang sangat luar biasa, ribuan bahkan puluhan ribu manusia diperkirakan berkumpul untuk menyambut kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS). Kepulangannya secara mengejutkan siap untuk mendukung (berkoalisi) dengan Pemerintahan Jokowi. Kesiapan HRS mendukung Pemerintahan Jokowi ini tidak kosong dari syarat, ia mensyaratkan pemerintah untuk melakukan “Revolusi Akhlak”. Gagasan ini mirip dengan gagasan yang digaungkan oleh Joko Widodo pada Pilpres tahun 2014 silam: “Revolusi Mental”. Revolusi Mental ataukah Revolusi Akhlak? Ataukah ada revolusi yang lain?
Revolusi mental dapat dimaknai sebagai perubahan dasar pola pikir (mindset) masyarakat dan penguasa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan pola pikir ini secara tidak langsung akan merubah perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Dasar dari perubahan pola pikir masyarakat disini karena banyak masyarakat dan penguasa yang mengalami krisis kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud adalah cerdas yang di mana akal budinya berkembang secara sempurna. Joko Widodo mengatakan bahwa di Indonesia ini banyak sekali orang yang daya pikir dan kepintarannya sangat tinggi, namun kepintaran dan daya pikir yang tinggi tidak disesuaikan dengan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk, pintar tetapi tidak berakhlak (Lemhanas, 2015).
Revolusi akhlak yang dicanangkan oleh HRS disampaikan pada 14 November 2020 di Petamburan, Jakarta Pusat ketika menggelar acara Maulid Nabi sekaligus acara pernikahan anaknya.
“Umat Islam tidak minta diistimewakan, umat Islam tidak minta diistimewakan, tegakkan hukum yang adil, salah proses hukum dengan hukum yang setimpal. Betul? Tapi kalau begini caranya yang menjilat rezim, yang membela rezim salah apapun dibiarkan. Sudah dilaporkan oleh masyarakat, dilaporkan oleh santri, dilaporkan oleh masyarakat nggak diproses. Sampai kapan kita diam melihat begini. Ini kalau terus-menerus dibiarkan hancur kita punya negeri,” (detik.com).
Tulisan menarik datang dari Mukti Ali Qusyairi, di laman Republika, ia menulis “Dari Revolusi Akhlak ke Revolusi Cinta”, yang mengutip kitab at-Tashawwuf: Ats-Tsawrah r-Ruhiyah fi l-Islam karya Abu l-‘Ala ‘Afifi. yang ia artikan sebagai revolusi akhlaq a la ‘Afifi, yang mengusung 3 T: takhalli, tahalli, dan tajalli. Seorang yang ingin melakukan revolusi akhlak, terlebih dahulu harus melakukan takhalli, yakni mengosong-kan diri dari hal-hal yang dapat mengotori hati dan merusak jiwa. Setelah itu, dilanjutkan dengan tahalli, yakni menghiasi diri dengan kebaikan dan keindahan. Setelah melalui tahap tahalli, kemudian melakukan tajalli, yakni mewujudkan kebaikan, kemanfaatan, dan kemaslahatan secara konkret dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga, ber-masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pemerintah Jokowi mengusung revolusi mental. Pada saat yang sama HRS mengusung revolusi akhlak. Keduanya mempunyai keinginan mewujudkan perubahan melalui jalan revolusi. Sungguh sayang seribu sayang, menurut sebagian kalangan, di hari pertama kedatangan HRS, revolusi akhlak menit pertama digelar, pendukungannya parkir, duduk-duduk, dan berjalan kaki secara bergerombol di sepanjang jalan menuju bandara sehingga mengakibatkan kemacetan parah, tidak mematuhi protokol kesehatan, berkerumun, dan merusak fasum dan fasilitas bandara seperti kursi dan ada tembok rontok. Memang itulah ekspresi cinta. Cinta suci tak akan merugikan orang lain. Cinta buta seringkali merugikan orang lain dan merusak, seperti pakai kacamata kuda, nyeruduk terus ke depan tanpa tahu kanan-kiri ada apa. Mungkin revolusi akhlak bisa dimulai dengan mengubah cinta para pendukung kepada HRS dari cinta buta ke cinta suci. Karena itu, menurut saya, diperlukan semacam ‘revolusi cinta’ (Republika.co.id).
Revolusi demi revolusi bisa saja dicanangkan setiap orang, termasuk revolusi mental, akhlak, bahkan cinta, tapi pertanyaannya apakah itu semua dapat menjadi solusi? Sepertinya solusinya bersembunyi pada berbagai macam anomali (ketidaknormalan) yang terjadi. Yang sayangnya, bisa saja bukan sebagai revolusi mental, akhlak, atau pun cinta. Tapi anomali cacat mental, ga ada akhlak, dan gagal cinta.
Dimulai dari pelanggaran prokes berujung pemecatan kapolda dan pemanggilan kepala daerah; perseteruan dengan artis; sampai TNI rasa “satpol PP” yang mencabut baliho, dan lain sebagainya. Perkeliruan dan keruwetan ini sebetulnya tidaklah harus terjadi bila masing-masing elemen masyarakat dan negara bisa saling memahami.
Analisa Fahri Hamzah, seperti dalam podcast Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), menurutnya saat ini ada tiga penyakit umum yang masih menghinggapi perpolitikan Indonesia.
Pertama, kurang pandai berencana sehingga tiba masa tiba akal. Kedua, dalam pelaksanaan terhadap apapun terkadang lebih sibuk ingin dianggap sukses sehingga tak peduli proses. Ketiga, citra bisa mengalahkan kinerja.
Mengurai satu demi satu benang yang kusut tentulah tidak mudah, namun bukan sesuatu yang mustahil. Revolusi yang dimaksud sebagai perubahan besar-besaran menuju kehidupan dan penghidupan yang lebih baik mutlak adanya. Revolusi sebagai resolusi.
Revolusi seperti ini sebenarnya sudah terjadi dan masih berlangsung hingga sekarang. Revolusi itu ialah yang dilakukan oleh Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam dan terbagi menjadi dua periode: Periode Makkah dan periode Madinah. Revolusi yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dapat dilacak dari periode dakwah beliau dan juga dari klasifikasi (pembagian) surat atau ayat di dalam Al-Quran mejadi; Makkiyah dan Madaniyah. Ayat-ayat Makkiyah mengawali misi revolusi yang dilakukan Rasulullah dengan mengadakan revolusi teologis (ketuhanan) yang mengarah kepada perubahan mental-spiritual yang termanifestasikan melalui dua kalimat syahadat. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah berisi semangat untuk melakukan revolusi sosiologis (kemasyrakatan). Dengan demikian kita dapat menyebut Muhammad shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam sebagai “nabi revolusi”.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقِيلَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ إِلَيْهِ فَلَمَّا اسْتَبَنْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Dari Abdullah bin Salam ia berkata, “Tatkala Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang berlari menuju ke arahnya. Ketika diumumkan “Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam telah tiba,” maka aku pun mendatangi kerumunan orang-orang itu untuk melihat beliau. Ketika aku dapat melihat dengan jelas wajah Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam, aku dapat mengetahui bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta, dan pertama kali yang beliau ucapkan adalah: “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, dan shalatlah di malam hari ketika orang-orang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat” (H.R. Ahmad, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah).
Bila memperhatikan kondisi sosial-politik yang terjadi saat kedatangan beliau ke Madinah, kita mengetahui bahwa beliau hadir di tengah kaum yang terbelah (friksi) antara Aus dan Khazraj. Tidak hanya itu, ada pula para pendatang (muhajirin) dan juga orang-orang munafik berwatak Yahudi Indonesia pasca dekade kedua reformasi hari ini pun masyarakat terpolarisasi pada kondisi yang tidak jauh berbeda.
Revolusi yang dilakukan oleh Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam diawali dengan dasar kejujuran (laysa bi wajhin kadzdzab), ketulusan hati. Adapun gerakannya berfokus pada gerakan keselamatan (salam), Islam. Pertama, menyebarkan keselamatan (komunikasi, sosial, politik, budaya, hukum, dan pertahanan). Kedua, menjamin pangan (ekonomi). Dan ketiga, menciptakan masyarakat yang memiliki visi-misi transendental (ketuhanan) dan semangat profetik (kenabian). Itulah revolusi salam; revolusi Islam.
Setiap orang ada zamannya, dan setiap zaman ada orangnya. Sudah sepantasnya kita mampu mempertautkan antara anomali dan solusi yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Salam revolusi!
Iqbal Maulana Akhsan & Hayatul Fauji














