

Setiap pasangan yang telah menikah pasti mendambakan kehadiran seorang anak sebagai permata hati belaian jiwa, qurrata ‘ayun, untuk kedua orang tuanya. Ketika seorang istri hamil, kebahagiaan meliputi setiap pasangan. Bahkan Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam sendiri menganjurkan seorang laki-laki untuk memilih wanita yang subur sebagai penerus risalah dakwahnya.
Seseorang datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Sesungguhnya aku akan menikah dengan seorang wanita yang memiliki kedudukan tinggi dan kecantikan, tetapi ia tidak bisa melahirkan. Apakah aku boleh menikahinya?” Beliau menjawab, “Jangan” Kemudian ia menghadap untuk kedua kalinya dan beliau tetap melarangnya. Kemudian ia menghadap ketiga kalinya maka beliau bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku berharap memiliki jumlah umat yang banyak melalui kalian di antara umat-umat lainnya.” (Sunan Abi Dawud, Kitab n-Nikah Bab n-Nahy ‘an Tazwij Man lam Yalid min n-Nisa’ no. 2050).
Masa-masa kehamilan merupakan fase yang sangat indah, yang kehadirannya dinanti, senantiasa disyukuri. Walaupun keadaan lemah menimpa seorang ibu, namun semuanya tak terasa seiring kebahagiaan dalam penantian kehadiran buah hati. Terkadang dalam perjalanan berumah tangga adakalanya Allah menguji dengan sesuatu yang sangat dinanti. Ketika keguguran menimpa seorang ibu hamil, tentu rasa pilu dan sedih akan sangat dirasakan.
Untukmu, Ibu, yakinlah terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Seorang muslimah akan senantiasa husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah atas segala yang menimpanya, seberat apapun ujian itu. Allah SWT berfirman :
عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah [2]: 216).
Janganlah terlalu bersedih, kehilangan anak di dunia bisa jadi menjadi tabungan kebaikan bahkan syafa’at di akhirat untuk orang tuanya yang bersabar.
Abu l-Hasan berkata : “Aku pernah berkata kepada Abu Hurairah ; Sesungguhnya dua anakku telah meninggal dunia. Sudikah kiranya engkau menceritakan hadits Rasulullah yang dapat menghibur hatiku karena kehilangan kedua anakku itu?.” Abu Hurairah menjawab: Baiklah, anak-anak kaum muslimin akan menjadi anak-anak kecil di dalam surga. Seseorang di antara mereka akan menjemput ayahnya atau kedua orang tuanya, lalu menarik baju atau tangannya sebagaimana aku menarik bajumu ini, dan tiada hentinya atau tidak mau berhenti sebelum Allah memasukkan orang tuanya bersama dia ke dalam surga.” (H.R Muslim, Kitabul Birri wash Shilah (4769).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda : “Tidaklah sekali-kali sepasang muslim ditinggal mati oleh ketiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan memasukkan keduanya bersama anak-anak mereka ke dalam surga karena karunia dan rahmat-Nya. “Abu Hurairah melanjutkan, dikatakan kepada anak-anak tersebut : Masuklah kalian ke dalam surga! “Abu Hurairah melanjutkan bahwa anak-anak itu menjawab, “Kami menunggu kedua orang tua kami.”
Abu Hurairah melanjutkan, perintah itu diulang tiga kali tetapi mereka mengeluarkan jawaban yang sama. Akhirnya dikatakan kepada mereka: Masuklah kalian bersama kedua orang tua kalian kedalam surga!”. (Bukhari, Kitabul Janaiz no. 1171, an-Nasa’i, Ahmad dalam lanjutan Musnadul Muktsirin no. 10213).
Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam bahkan menggambarkan pertemuan anak-anak tersebut dengan keluarganya di pintu-pintu surga pada hari kiamat. Rasulullah SAW bersanda : “Tiada seorang muslim ditinggal mati oleh ketiga anaknya yang belum balig, kecuali mereka akan menjemputnya di delapan pintu surga dan ia bebas masuk dari mana saja.” (Hadits Hasan; Shahih Al-Jami’, 5772).
Kematian seorang anak akan menyisakan kesedihan yang mendalam untuk kedua orang tuanya, namun kita ambil faedahnya, diantaranya :
- Mereka akan memberatkan timbangan orang tua.
- Mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.
- Mereka akan memberi syafa’at untuk masuk surga.
Tentu saja bila ini dilalui dengan penuh kesabaran, ridha dengan ketentuan Allah, dan mengharap pahala dari Allah SWT. Begitupun bagi pasangan suami istri yang sampai akhir hayatnya tidak diberikan keturunan, maka janganlah berkecil hati, bersabarlah, karena hakikat mandul yang sebenarnya adalah bukan tidak bisa memberikan keturunan, akan tetapi orang tua yang memiliki anak dan anaknya tidak bisa menghadirkan manfaa’at bagi keduanya, sesuai dengan sabda Rasul,
“Tahukah engkau siapakah yang mandul?” Para sahabat menjawab, “Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia.” (HR. Ahmad). Wa-Llahu a’lam bish-shawab.













