

Seorang muslim tidak cukup hanya sekedar mempelajari kebaikan berupa amal-amal shalih yang berbuah pahala tanpa mempelajari keburukan berupa amal-amal buruk yang berbuah dosa. Seorang muslim yang rajin beramal shalih, tidak akan berguna amal shalihnya jika dibarengi dengan rajin beramal buruk. Contohnya sebagaimana yang diriwatkan oleh Abu Hurairah radliyal-`Llahu ‘anhu:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ فُلَانَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَفِي لِسَانُهَا شَيْءٌ يُؤْذِي جِيرَانَهَا سَلِيطَةٌ، قَالَ: «لَا خَيْرَ فِيهَا هِيَ فِي النَّارِ» وَقِيلَ لَهُ: إِنَّ فُلَانَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَتَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ وَلَيْسَ لَهَا شَيْءٌ غَيْرُهُ وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا قَالَ: «هِيَ فِي الْجَنَّةِ»
Diceritakan kepada Rasulullah shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya ada seorang perempuan rajin shalat di malam hari dan shaum di siang hari tapi lidahnya kotor, sering menyakiti tetangganya dengan lancang.” Beliau bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya, dia masuk neraka.” Dan diceritakan pula: “Sesungguhnya ada seorang perempuan yang hanya shalat wajib dan shaum Ramadlan saja, serta bersedekah hanya dengan sepotong keju. Tidak ada lagi amalnya selain itu tapi dia tidak suka menyakiti siapapun.” Beliau bersabda: “Dia masuk surga.” (al-Mustadrak ‘alas-Shahihaini lil-Hakim bab wa amma haditsu ‘abdillahi-bni ‘umara no. 7304)
Seseorang yang rajin melaksanakan ibadah sunnah, maka nilainya di mata Allah akan terkikis jika masih pula sering melakukan dosa dengan menyakiti orang lain. Maka, sekali lagi, sangat penting untuk mengetahui hal-hal apa saja yang merupakan keburukan; bukan untuk dilakukan tapi untuk dijauhi. Hal ini sebagaimana sya’ir Abu Farras al-Hamdani:
عَرَفْتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّرِّ * لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ. وَمَنْ لمْ يَعْرِفِ الشَّرَّ * مِنَ الْخَيْرِ يَقَعْ فِيْهِ
“Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat buruk, tapi untuk menghindarinya. Siapa yang tidak mampu membedakan keburukan dari kebaikan, pasti ia akan terjatuh ke dalamnya.” (aldiwan.net)
Pentingnya mengenal hal-hal buruk ini disadari oleh shahabat Hudzaifah al-Yaman radliyal-`Llahu ‘anhu sehigga ia mengatakan:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
“Dahulu orang-orang sering bertanya kepada Rasulullah shallal-`Llahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau mengenai keburukan karena takut [hal buruk tersebut] menimpa diriku…” (Shahih al-Bukhari bab ‘alamatin-nubuwwati fil-islami no. 3606)
Dengan demikian, jika dihubungkan dengan ilmu tauhid, selain seorang muslim harus senantiasa mempelajari hakikat tauhid dan bagaimana caranya mentauhidkan Allah dengan benar, pun mesti dibarengi dengan mempelajari hakikat syirik dan apa saja perbuatan-perbuatan serta ucapan-ucapan yang termasuk syirik sehingga keimanannya kepada Allah menjadi sempurna, bersih dari noda-noda syirik. Masih banyak ditemukan orang-orang mukmin yang setiap harinya sangat rajin beribadah di masjid dan hobi mendermakan sebagian hartanya, namun sayang seribu sayang, ia masih memelihara jimat demi melancarkan bisnisnya yang notabene termasuk salah satu praktik syirik. Inilah akibat nyata dari kurangnya perhatian seorang muslim untuk mempelajari hal-hal buruk -khususnya syirik- agar dapat menjauhinya.
Jika tauhid adalah mengesakan Allah, maka sebaliknya, syirik adalah menyekutukan Allah. Dalam salah satu ayat al-Qur`an, Allah sendiri mendefinisikan istilah syirik ayat di bawah ini:
“Demi Allah, sungguh kita dahulu [di dunia] berada dalam kesesatan yang nyata, karena kita menyamakan kalian (berhala) dengan Rabb semesta alam.” (QS as-Syu’ara` [42]: 97-98)
Lebih rincinya, Abdurrahman ibn Nashir as-Sa’di menyebutkan:
حَقِيْقَةُ الشِّرْكِ بِاللهِ: أَنْ يُعْبَدَ الْمَخْلُوْقُ كَمَا يُعْبَدُ اللهُ، أَوْ يُعَظَّمُ كَمَا يُعَظَّمُ اللهُ، أَوْ يُصْرَفُ لَهُ نَوْعٌ مِنْ خَصَائِصِ الرُّبُوْبِيَّةِ وَالْإِلَهِيَّةِ
“Hakikat syirik kepada Allah adalah diibadahinya makhluk sebagaimana diibadahinya Allah, diagungkannya makhluk sebagaimana diagungkannya Allah, atau dipalingkannya kekhususan rubububiyah dan uluhiyyah [Allah] kepadanya (makhluk).” (ar.islamway.net, article 7716)
Dalam redaksi lain, Abu Ameenah Bilal Philips menyebutkan bahwa syirik itu adalah menyerupakan Allah dengan makhluk, bisa dalam bentuk menyematkan sifat makhluk yang lemah kepada Allah (antropoisme) atau sebaliknya, memberikan kekuatan Allah yang Mahakuasa kepada makhluk (panteisme). (The Fundamentals of Tawheed hlm. 50-51)
Terjadi silang pendapat di antara para ulama dalam masalah pembagian jenis-jenis syirik; ada yang membagi syirik menjadi: (1) akbar, (2) ashghar, dan (3) khafi serta ada yang membagi menjadi (1) i’tiqadi dan (2) ‘amali. Selain itu, silang pendapat pun terjadi dalam menghimpun hal-hal yang termasuk ke dalam setiap jenisnya. Terlepas dari silang pendapat tersebut, seluruh ulama sepakat bahwa dosa syirik merupakan dosa yang paling berbahaya.
Dosa syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Abu Bakrah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallal-`Llahu ‘alaihi wa sallam bertanya:
«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟» ثَلَاثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ – وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ – أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ»، قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ
“Maukah kalian aku beritahu akan dosa besar yang paling besar? – beliau mengucapkannya tiga kali-” Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orangtua.” Beliau duduk terlebih dahulu sambil bertelekan kemudian melanjutkan sabdanya: “Ingatlah, ucapan dusta!” [Abu Bakrah] berkata: “Beliau terus menerus mengulanginya sampai-sampai kami berkata [di dalam hati]: ‘Seandainya beliau berhenti.” (Shahih al-Bukhari bab ma qila fi syahadatiz-zuri no. 2654)
Dosa-dosa besar selain syirik, jika tidak sempat ditaubati sampai mati, masih ada kemungkinan diampuni oleh Allah, namun tidak dengan dosa syirik. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (48)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa-dosa selainnya bagi orang yang Dia kehendaki. Siapa yang syirik kepada Allah maka sungguh ia telah melakukan dosa besar.” (QS an-Nisa` [4]: 48)
Para shahabat, generasi mukmin yang imannya paling sempurna saja tetap ditakutkan oleh Nabi dapat terjangkit virus syirik, khususnya syirik yang berupa riya`. Beliau bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari hal-hal yang aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” [Para shahabat] bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “riya`” (Musnad Ahmad bab musnadil-anshar no.23630)
Apalagi generasi umat muslim pada zaman ini yang derajat keimannya sangat jauh di bawah derajat keimanan para shahabat, tentu lebih riskan terjangkit virus syirik. Dengan demikian, sudah selayakan hati seorang mukmin selalu diliputi rasa takut terjangkit syirik tanpa ia sadari.
Selain mempelajari hal-hal apa saja yang termasuk syirik agar seorang mukmin dapat berikhtiar untuk menjauhinya, sangat perlu juga untuk memohon kepada Allah agar melindungi diri sendiri dan keluarga dari virus syirik. Bahkan para nabi yang sudah dijamin bersih dari noda syirik pun tetap berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari syirik. Allah berfirman atas lisan Nabi Ibrahim ketika beliau berdo’a:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“…Jauhkanlah diriku dan keturunanku dari menyembah berhala…” (QS Ibrahim [14]: 35)
Selain itu, Nabi Muhammad shallal-`Llahu ‘alaihi wa sallam pun pernah berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا تَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari berbuat syirik kepada dengan sesuatu yang Engkau ketahui dan kami meminta ampun kepadaMu atas [dosa] yang tidak kami sadari.” (al-Mu’jamul-Ausath lit-Thabarani bab mini-smihi al-husaini no. 3479)













