Majalah Islam Digital Tafaqquh
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Thursday, April 16, 2026
  • Login
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu
No Result
View All Result
Majalah Islam Digital Tafaqquh
No Result
View All Result
Home Hadits Ahkam

Beberapa Kekeliruan dalam Wudlu (Bag.3)

tafaqquh by tafaqquh
September 1, 2021
in Hadits Ahkam, Tafsir Hadits
0
Beberapa Kekeliruan dalam Wudlu
0
SHARES
317
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

  1. وَعَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي صِفَةِ حَجِّ النَّبِيِّ قَالَ : ابْدَؤُوا بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ. أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ هَكَذَا بِلَفْظِ الْأَمْرِ وَهُوَ عِنْدَ مُسْلِمٍ بِلَفْظِ الْخَبَرِ

Dari Jabir ibn ‘Abdillah ra—dalam hal sifat haji Nabi saw—beliau saw bersabda: “Mulailah dengan yang Allah mulai.” An-Nasa`i mengeluarkannya seperti ini dengan lafazh perintah. Sementara dalam riwayat Muslim lafazhnya berita (Aku memulai dengan yang Allah mulai).

 

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa`i dalam Sunan an-Nasa`i kitab manasikil-hajj bab al-qaul ba’da rak’atait-thawaf no. 2962.

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  طَافَ سَبْعًا رَمَلَ ثَلَاثًا وَمَشَى أَرْبَعًا، ثُمَّ قَرَأَ: {وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى} فَصَلَّى سَجْدَتَيْنِ وَجَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَةِ، ثُمَّ اسْتَلَمَ الرُّكْنَ ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَابْدَءُوا بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

Dari Jabir: “Rasulullah saw thawaf tujuh kali, tiga kali dengan berlari-lari kecil, empat kali dengan berjalan biasa. Kemudian membaca ayat: Wat-takhidzu… (jadikanlah oleh kalian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat [QS. al-Baqarah [2] : 125]). Lalu beliau shalat dua raka’at dan menjadikan Maqam Ibrahim ada di antara beliau dan Ka’bah. Kemudian menyentuh Hajar Aswad, lalu keluar (Masjidil-Haram) dan membaca: Innas-Shafa…(Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi`ar Allah [QS. al-Baqarah [2] : 158]) Maka mulailah dengan yang Allah mulai.”

Sementara Imam Muslim meriwayatkan hadits semakna tetapi dengan pernyataan Nabi saw yang berbentuk kalimat berita (khabar), bukan kalimat perintah:

عَنْ جَابِرٍ: …ثُمَّ خَرَجَ مِنَ الْبَابِ إِلَى الصَّفَا فَلَمَّا دَنَا مِنَ الصَّفَا قَرَأَ (إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ) أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ. فَبَدَأَ بِالصَّفَا فَرَقِىَ عَلَيْهِ…

Dari Jabir: “…kemudian beliau (Rasul saw) keluar dari pintu (Masjidil-Haram) menuju Shafa. Setelah dekat Shafa beliau membaca ayat: Innas-Shafa…(Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi`ar Allah [QS. al-Baqarah [2] : 158]) Aku akan mulai dengan yang Allah mulai. Lalu beliau pun naik bukit Shafa… (Shahih Muslim kitab al-hajj bab hajjatin-Nabi no. 3009)

 

Syarah Ijmali

Hadits ini sebagaimana disebutkan al-Hafizh di atas, disabdakan Nabi saw dalam kaitan sifat [praktik] haji, tepatnya ketika Nabi saw akan sa’i antara Shafa dan Marwa. Saat itu Nabi saw membacakan firman Allah swt: Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi`ar Allah (QS. al-Baqarah [2] : 158). Lalu Nabi saw pun memulai sa’i dari Shafa karena Allah swt pun menyebut terlebih dahulu Shafa.

Al-Hafizh menjadikan juga hadits ini sebagai dalil keharusan memulai wudlu sesuai urutan yang disebutkan Allah swt, yakni wajah, tangan, kepala, lalu kaki. Urutan ini tidak boleh diacak. Meskipun Nabi saw menyabdakan hadits ini ketika haji, tetapi dari segi tuntutannya untuk mengikuti urutan yang ditentukan Allah swt dalam al-Qur`an, maka hadits ini berlaku juga untuk wudlu dan syari’at-syari’at lain yang menentukan urutan. Misalnya dalam hal kifarat sumpah, tidak boleh langsung pada shaum tiga hari, tetapi dimulai dulu dari memberi makan 10 orang miskin, atau memberi pakaian 10 orang miskin, atau membebaskan hamba sahaya. Jika ketiga hal itu tidak mampu baru menempuh urutan terakhir, yakni shaum tiga hari (rujuk QS. al-Ma`idah [5] : 89). 

 

  1. وَعَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ إِذَا تَوَضَّأَ أَدَارَ الْمَاءَ عَلَى مُرْفَقَيْهِ. أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادِ ضَعِيفٍ

Dan darinya (Jabir) ia berkata: “Nabi saw apabila berwudlu menuangkan air pada kedua sikutnya.” Ad-Daraquthni mengeluarkannya dengan sanad dla’if.

 

Takhrij Hadits

Al-Hafizh menjelaskan dalam at-Talkhisul-Habir 1 : 110 bahwa hadits ini dalam sanadnya terdapat al-Qasim ibn Muhammad, seorang rawi yang dinilai oleh Abu Hatim sebagai matruk (sering diketahui berdusta, meski tidak ada indikator langsung bahwa hadits ini merupakan produk pemalsuannya). Abu Zur’ah menilainya: Haditsnya munkar (harus ditinggalkan). Ahmad dan Ibn Ma’in juga men-dla’if-kannya. Ibnul-Jauzi, al-Mundziri, Ibnus-Shalah, an-Nawawi dan ulama lainnya juga menilainya dla’if.

 

Syarah Ijmali

Dalam kaitan mencuci kedua sikut ini, menurut al-Hafizh, hadits riwayat Muslim berikut ini cukup untuk dijadikan dalil:

عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمُجْمِرِ قَالَ رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ … ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى حَتَّى أَشْرَعَ فِى الْعَضُدِ ثُمَّ يَدَهُ الْيُسْرَى حَتَّى أَشْرَعَ فِى الْعَضُدِ … ثُمَّ قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  يَتَوَضَّأُ

Dari Nu’aim ibn ‘Abdillah al-Mujmir, ia berkata: Aku melihat Abu Hurairah berwudlu… kemudian ia mencuci tangan kanannya sampai lengan bagian atas, kemudian tangan kirinya sampai lengan bagian atas… kemudian ia berkata: Seperti inilah aku melihat Rasulullah saw berwudlu (Shahih Muslim kitab at-thaharah bab istihbab ithalah al-ghurrah no. 602).

Maksudnya, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi, berarti kedua sikut dicuci juga. Tidak cukup hanya dituangi air saja (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

 

  1. وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : لاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ مَاجَهْ, بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ. وَلِلترْمِذِيِّ: عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ وَأَبِي سَعِيدٍ نَحْوُهُ. قَالَ أَحْمَدُ: لَا يَثْبُتُ فِيهِ شَيْءٌ.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada wudlu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah (basmalah).” Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah mengeluarkannya dengan sanad dla’if. Dalam riwayat at-Tirmidzi (hadits bersumber) dari Sa’id ibn Zaid dan Abu Sa’id sama seperti itu (sanadnya dla’if). Ahmad berkata: “Tidak ada ketetapan apapun dalam hal ini.”

 

Takhrij Hadits

Dalam kitab at-Talkhishul-Habir jilid 1 hlm. 131-136, al-Hafizh menguraikan secara panjang lebar riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang membaca basmalah ketika mulai wudlu. Semua riwayat tersebut tidak lepas dari kelemahan, tetapi kelemahan yang tidak sampai derajat parah (maudlu’, munkar). Al-Hafizh kemudian menjelaskan:

وَالظَّاهِرُ أَنَّ مَجْمُوعَ الْأَحَادِيثِ يَحْدُثُ مِنْهَا قُوَّةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ لَهُ أَصْلاً، وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ: ثَبَتَ لَنَا أَنَّ النَّبِيَّ  قَالَهُ

“Jelasnya, sejumlah hadits-hadits tersebut melahirkan kekuatan dan mengindikasikan adanya ashal (dasar dari Nabi saw). Abu Bakar ibn Abi Syaibah berkata: Bagi kami telah cukup jelas bahwasanya Nabi saw menyabdakannya.”

 

Syarah Ijmali

Hadits ini menjadi dalil disyari’atkannya membaca basmalah ketika memulai wudlu. Menurut al-Bassam, madzhab Hanbali menyatakannya wajib, jika terlewat berarti wudlunya tidak sah, sesuai pernyataan Nabi saw “tidak ada wudlu” dalam redaksi hadits di atas. Sementara tiga madzhab lainnya (Maliki, Hanafi, Syafi’i) menyatakan sunat, karena memahami tuntutan di atas tidak jazim/mesti (Taudlihul-Ahkam).

Imam an-Nawawi menjelaskan, menyebut nama Allah itu cukup dengan “Bismillah”. Tetapi dengan “Bismillahir-Rahmanir-Rahim” itu lebih baik lagi (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim bab adabit-tha’am was-syarab).

 

  1. وَعَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ يَفْصِلُ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَالِاسْتِنْشَاقِ. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادِ ضَعِيفٍ.

Dari Thalhah ibn Musharrif, dari ayahnya (Musharrif), dari kakeknya (Ka’ab ibn ‘Amr al-Hamdani), ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw memisahkan antara berkumur-kumur dan istinsyaq (menghirup dan mengeluarkan air dari hidung).” Abu Dawud mengeluarkannya dengan sanad dla’if.

  1. وَعَنْ عَلِيٍّ  فِي صِفَةِ الْوُضُوءِ: ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا, يُمَضْمِضُ وَيَنْثِرُ مِنَ الْكَفِّ الَّذِي يَأْخُذُ مِنْهُ الْمَاءَ. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ

Dari ‘Ali ra—dalam hal sifat [praktik] wudlu: Kemudian beliau saw berkumur-kumur dan istintsar (menghirup dan mengeluarkan air dari hidung) 3x, beliau berkumur-kumur dan istintsar dari telapak tangan yang sama yang digunakan mengambil air. Abu Dawud dan an-Nasa`i mengeluarkannya.

  1. وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ  فِي صِفَةِ الْوُضُوءِ: ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Abdullah ibn Zaid ra—dalam hal sifat [praktik] wudlu: Kemudian beliau saw memasukkan tangannya (ke dalam air), lalu berkumur-kumur dan istinsyaq dari telapak tangan yang sama. Beliau melakukan hal itu 3x. Disepakati shahihnya.

 

Takhrij Hadits

Hadits no. 46 statusnya dla’if dan tidak bisa diamalkan karena bertentangan dengan hadits yang shahih no. 47 dan 48. Hadits no. 46 dalam sanadnya terdapat rawi bernama Laits ibn Abi Sulaim, seorang rawi yang dla’if. Ibn Hibban menyatakan: “Ia seorang yang suka mengubah-ubah sanad, memarfu’kan riwayat mursal, menyatakan menerima hadits dari orang-orang tsiqat padahal bukan dari orang tsiqat.” Yahya ibn al-Qaththan, Ibn Mahdi, Ibn Ma’in dan Ahmad ibn Hanbal meninggalkannya. Imam an-Nawawi dalam kitab Tahdzibul-Asma` menyatakan: “Para ulama sepakat atas kedla’ifannya.” (at-Talkhishul-Habir 1 : 140).

 

Syarah Ijmali

Istilah istinsyaq dan istintsar jika disebutkan dua-duanya bermakna sebagaimana asalnya, yakni istinsyaq (menghirup air ke hidung) sedang istintsar (mengeluarkan air dari hidung). Tetapi jika disebutkan salah satunya; istinsyaq saja atau istintsar saja, maka bermakna dua sekaligus antara “menghirup dan mengeluarkan air dari hidung”. Sebab istinsyaq pasti istintsar, dan demikian juga sebaliknya. Maka hadits di atas (no. 47-48), meski hanya menyebut istinsyaq saja dan istintsar saja, maksudnya adalah “menghirup dan mengeluarkan air dari hidung”.

Berdasarkan hadits di atas yang shahih (no. 47-48), berkumur-kumur, istinsyaq (menghirup air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung) itu dilakukan secara bersamaan dari satu telapak tangan yang sama. Tidak boleh memisahkannya; berkumur-kumur dahulu, lalu menghirup air ke hidung sesudahnya. Hadits yang menjelaskan praktik seperti ini statusnya dla’if.

Meski hadits di atas menyebutkan 3x 3x, tetapi tentu maksudnya bisa juga 2x 2x atau 1x 1x (rujuk pembahasan sebelumnya tentang “Praktik Wudlu Nabi saw).

Tags: wudlu
Previous Post

Beberapa Kekeliruan dalam Wudlu (Bag.2)

Next Post

Cara Bijak Muslimah Menyikapi Childfree di Media Sosial

tafaqquh

tafaqquh

Next Post
Cara Bijak Muslimah Menyikapi Childfree di Media Sosial

Cara Bijak Muslimah Menyikapi Childfree di Media Sosial

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

Mengawali Basmalah di Setiap Aktivitas

March 11, 2021
Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

Kontroversi Hadits Menyusui Anak Angkat Yang Sudah Dewasa

January 24, 2021
Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

Pemungut Pajak Adalah Ahli Neraka

July 5, 2021
Harta Anak Harta Orangtua

Harta Anak Harta Orangtua

April 2, 2021
Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

Hukum Menyimpan Uang di Dompet Digital

7
Salam Semua Agama, Selamat Natal, BID’AH

Konsep Bid’ah Menurut NU

4
Peran Perempuan Dalam Keluarga

Peran Perempuan Dalam Keluarga

0
Degradasi Ulama

Degradasi Ulama

0
Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024

Recent News

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

Indahnya Inner Beauty Muslimah Sejati 

August 25, 2025
Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

Imam Ibn Jarir ath-Thabari dan Inspirasi untuk Produktif Menulis Ilmu

August 21, 2025

Amalan Wajib VS Amalan Sunnah

January 12, 2024
Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

Shalat Sebagai Pelipur Masalah Hidup Manusia

January 7, 2024
  • Beranda
  • Kontak
  • Profil
  • Download Majalah
  • Privacy Policy
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Artikel Terbaru
    • Download Majalah
    • Edisi Th1 2020
      • Edisi 11 Bulan Desember 2020
      • Edisi 10 Bulan November 2020
      • Edisi 9 Bulan Oktober 2020
      • Edisi 8 Bulan September 2020
      • Edisi 7 Bulan Agustus 2020
      • Edisi 6 Bulan Juli 2020
      • Edisi 5 Bulan Mei 2020
      • Edisi 4 Bulan April 2020
      • Edisi 3 Bulan Maret 2020
      • Edisi 2 Bulan Februari 2020
      • Edisi 1 Bulan Januari 2020
      • edisi Perdana
    • Edisi Th2 2021
      • Edisi 1 Bulan Januari 2021
      • Edisi 2 Bulan Februari 2021
      • Edisi 3 Bulan Maret 2021
      • Edisi 4 Bulan April 2021
      • Edisi 5 Bulan Mei 2021
      • Edisi 6 Bulan Juli 2021
  • Fatihah
  • Mabhats
  • Tanya Jawab
    • Masa’il
  • Tauhid Akhlaq
    • Tauhid
    • Suluk
  • Tafsir Hadits
    • Hadits Ahkam
    • Hadits Akhlaq
    • Tafsir Ahkam
    • Tafsir ‘Am
  • Istinbath Ahkam
  • Masyakil
  • Tamaddun
  • Ibrah
  • Mar’ah Shalihah
  • Abna’ul Akhirah
  • Mutiara Wahyu

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In