

Allah―’Azza wa Jalla―menciptakan alam semesta ini―langit dan bumi serta para penghuninya―bukan tanpa tujuan, tapi ada hikmah ilâhiyyah di baliknya. Semua ciptaan ini untuk semakin menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya, termasuk dalam penciptaan manusia. Tujuan diciptakannya ats-tsaqalân (manusia dan jin) adalah agar mereka semua men-tauhid-kan/mengesakan Allah sehingga dengan ini, semakin nampaklah kebesaran dan keagunganNya, meskipun Allah akan tetap Mahabesar dan Mahaagung meskipun tidak ada satupun makhluq yang menauhidkan-Nya. Ia berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ، مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ، إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menginginkan dari mereka pemberian apapun dan Akupun tidak menginginkan agar mereka memberi makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rizki yang Mempunyai kekuatan lagi Mahakokoh.” (QS. adz-Dzâriyât (51) : 56 – 58)
al-Hâfizh Ibn Katsîr―rahimahul-`Llâh―di dalam kitab tafsirnya menyajikan riwayat dari ‘Ali ibn Abu Thalhah dari ‘Abdullah ibn ‘Abbâs―radliyal-`Llâhu ‘anhu―:
إِلا لِيَعْبُدُونِ} أَيْ: إِلَّا لِيُقِرُّوا بِعِبَادَتِي طَوْعًا أَوْ كَرْهًا}
“Maksud dari ‘kecuali agar mereka beribadah kepadaKu’ adalah kecuali supaya mereka mengakui peribadatan untukKu baik secara sukarela maupun terpaksa” (Tafsîr Ibn Katsîr QS. adz-Dzâriyât (51) : 56) Dari ungkapan Ibn ‘Abbas ini dapat kita pahami bahwa Allah mewajibkan para manusia dan jin untuk mengakui bahwa hanya Allahlah satu-satunya yang berhak diibadahi. Ini merupakan makna dari tauhid ulûhiyyah―yang akan dijelaskan di bawah in syâ`al-`Llâh.
Pembagian Tauhid
Sebagaimana yang sudah penulis sajikan pada edisi lalu,
Baca juga : Mengenal Tauhid
Tauhid secara etimologi (bahasa Arab) berasal dari kata (وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا) artinya adalah mengesakan. Sedangkan menurut terminologi (istilah ilmu agama islam) adalah mengesakan Allah dalam haq rubûbiyyah, ulûhiyyah, dan asmâ` was-shifât yang mana merupakan antonim dari syirik.
Dari definisi di atas, terlihatlah bahwa ternyata ada tiga hak yang khusus hanya boleh dimiliki oleh Allah, yaitu (1) hak rubûbiyyah (ketuhanan), (2) hak ulûhiyyah (peribadatan), dan (3) hak asmâ` was-shifât (nama-nama dan sifat-sifat).
Tiga hak Allah dalam tauhid ini memang sudah diisyaratkan oleh Allah―’azza wa jalla―sendiri di dalam al-qur`an, yaitu dalam firmanNya:
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan seluruh yang ada di antara keduanya, maka beribadahlah kepadaNya dan teguhlah dalam peribadatan itu. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”( QS. Maryam [19] : 65). FirmanNya “Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan seluruh yang ada di antara keduanya…” menunjukkan hak rubûbiyyah, firmanNya “maka beribadahlah kepadaNya dan teguhlah dalam peribadatan itu…” menunjukkan hak ulûhiyyah, dan firmanNya “Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” menunjukkan hak asmâ` was-shifât.
Berdasarkan ini, kemudian para ulama seperti Abu Ja’far at-Thahawy dalam muqaddimah kitab al-’Aqîdah at-Thahawiyyah, Ibn Abu Zaid al-Qairawany dalam kitab ar-Risâlah al-Fiqhiyyah, Ibn Batthah al-Akbary dalam kitab al-Ibânah ‘an Syarî’atil-Firqatin-Nâjiyah wa Mujnabatul-Firaq al-Madzmûmah dan karya ulama lainnya merumuskan bahwa cara bertauhid kepada Allah adalah dengan mentauhidkan tiga hak Allah tersebut, sehingga membagi tauhid menjadi tiga pembagian, yaitu: (1) tauhid rubûbiyyah, (2) tauhid ulûhiyyah, dan (3) tauhid asmâ` was-shifât.
Tauhid Rubûbiyyah
Tauhid rubûbiyyah adalah mengesakan Allah dalam al-khalq (penciptaan), al-milk (kepemilikan), dan at-tadbîr (kepengurusan) terhadap alam semesta (seluruh makhluq).
Mengesakan Allah dalam penciptaan maksudnya meyakini hanya Dia satu-satunya Pencipta seluruh makhluq. Allah berfirman:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia ber-istiwa` di atas ‘Arsy…” (QS al-A’raf (7) : 54)
Mengesakan Allah dalam kepemilikan maksudnya meyakini hanya Dia satu-satunya Pemilik sejati seluruh makhluq. Allah berifrman:
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahaperkasa atas segala sesuatu.” (QS Ali ‘Imran (3) : 189)
Mengesakan Allah dalam kepengurusan maksudnya meyakini hanya Dia satu-satunya Pengurus seluruh makhluq, baik memberi rizki, keselamatan, kecelakaan, dll. Allah berifrman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah ‘Mengapa kalian tidak mau bertaqwa kepadaNya)?‘.” (QS Yûnus (10) : 31)
Tauhid Ulûhiyyah
Tauhid ulûhiyah adalah mengesakan Allah dalam seluruh ibadah, sebagaimana peritah Allah di dalam firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون
“Tidaklah Aku Ciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS adz-Dzâriyât (51) : 56)
Tauhid ini merupakan konsekuensi dari tauhid rubûbiyyah, dalam artian seseorang pasti secara tidak langsung akan hanya beribadah kepada Allah setelah ia meyakini bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang telah menciptakannya, memilikinya, dan mengatur seluruh urusannya. Sederhananya, tauhid rubûbiyyah merupakan tauhid teoritis sedangkan tauhid ulûhiyyah adalah cara mempraktikkan teori tersebut.
Oleh karena itu, inti materi dakwah para rasul dari masa ke masa adalah menyerukan tauhid ulûhiyyah ini sebagaimana ucapan yang senada dari Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dll yang diabadikan oleh Allah di dalam al-qur`an:
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada bagi kalian tuhan selainNya…” (QS al-A’râf (7) : 59, 65, 73, 85)
Tauhid asmâ` was-shifât
Tauhid asmâ` was-shifât adalah mengesakan Allah dalam seluruh nama dan sifat yang hanya khusus bagiNya. Nama-nama Allah tersebut kita kenal dengan istilah al-asmâ`ul-husnâ sedangkan sifat-sifatNya adalah sifat-sifat yang Allah tetapkan di dalam al-qur`an dan juga NabiNya―shallal-`Llâhu ‘alaihi wa sallam―tetapkan di dalam hadits.
Cara-cara mengamalkan tauhid bagian terakhir ini ada 5, yaitu:
- Itsbât (menetapkan) seluruh nama dan sifat yang tercantum dalam al-qur`an dan hadits, contohnya menetapkan bahwa Allah Memiliki wajah dan tangan.
- Menolak tasybih (penyerupaan) nama dan sifat tersebut dengan para makhluqNya, contohnya menolak orang yang mengatakan bahwa wajah dan tangan Allah sama persis dengan wajah dan tangan makhluqnya; yang benar adalah bentuk wajah dan tangan Allah tidak sama/berbeda jauh dengan wajah dan makhlukNya.
- Menolak ta`wîl (memalingkan) nama dan sifat tersebut dari makna sebenarnya, contohnya dengan cara mengingkari orang yang mengatakan bahwa Allah tidak punya wajah, yang dimaksud wajahNya adalah keridlaanNya; yang benar adalah Allah tetap punya wajah namun berbeda dengan bentuk wajah makhluqNya
- Menolak takyîf (bertanya-tanya mengenai cara) nama dan sifat tersebut, contohnya adalah tidak bertanya-tanya mengenai cara Allah turun ke bumi pada sepertiga malam, karena mengenai caranya hanya Allah yang lebih tahu.
- Menolak ta’thîl (tidak percaya) nama dan sifat tersebut, contohnya menolak orang yang mengatakan bahwa Allah tidak mungkin punya wajah dan tangan. Ini adalah kebalikan dari itsbât.
Mengenai 3 pembagian tauhid ini,―in syâ`al-`Llâh―akan dijelaskan lebih rinci dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya. Wal-`Llâhu a’lam wa shallal-`Llâhu ‘alâ Nabiyyinâ Muhammad.
Oleh : Fauzy Barokah Ramadhani (Staf Pengajar Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)













