Hukum Nikah dengan Niat Sementara Haram

7 months ago
783

Pertanyaan :

Ada pertanyaan dari seseorang yang akan bertugas ke luar negeri untuk beberapa tahun tentang hukum nikah dengan niat sementara. Kebutuhan seksualnya pasti tidak bisa dihentikan dan harus disalurkan secara halal. Daripada khawatir terjatuh pada zina, maka apakah diperbolehkan menikahi perempuan di negara tersebut, namun dengan niat ketika ia kembali pulang ke negara asalnya, ia akan menceraikannya.

Jama’ah Majelis Tafaqquh fid-Din Situaksan Bandung

Jawaban :

Pernikahan sementara seperti yang ditanyakan di atas tidak akan terlepas dari dua model, yaitu: Pertama, nikah muthlaq—arti asal muthlaq adalah terlepas dari ikatan—yakni tanpa ada batasan apapun apakah itu rencana waktu atau rencana masa depan. Pokoknya bagaimana nanti saja. Jika memungkinkan dilanjutkan, dan jika tidak memungkinkan diceraikan saja. Kedua, nikah muqayyad baik dari waktunya atau niatannya yang memang dari sejak awal sudah dikemukakan tidak akan selamanya.

Terkait nikah muthlaq, Imam Ibn Qudamah (541-620 H) menjelaskan dalam kitab al-Mughni:

فَصْلٌ: وَإِنْ تَزَوَّجَهَا بِغَيْرِ شَرْطٍ، إلَّا أَنَّ فِي نِيَّتِهِ طَلَاقَهَا بَعْدَ شَهْرٍ، أَوْ إذَا انْقَضَتْ حَاجَتُهُ فِي هَذَا الْبَلَدِ، فَالنِّكَاحُ صَحِيحٌ، فِي قَوْلِ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ، إلَّا الْأَوْزَاعِيَّ قَالَ: هُوَ نِكَاحُ مُتْعَةٍ. وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ، وَلَا تَضُرُّ نِيَّتُهُ، وَلَيْسَ عَلَى الرَّجُلِ أَنْ يَنْوِيَ حَبْسَ امْرَأَتِهِ وَحَسْبُهُ إنْ وَافَقَتْهُ، وَإِلَّا طَلَّقَهَا

Fashal: Jika ia menikahi seorang perempuan tanpa syarat, tetapi sungguh ada dalam niatnya akan menceraikannya sesudah satu bulan, atau apabila telah selesai keperluannya di suatu negeri, maka nikahnya sah, berdasarkan pendapat mayoritas ulama. Terkecuali Imam al-Auza’i yang mengatakan bahwa yang seperti itu termasuk nikah mut’ah. Yang benar tidak ada salahnya dan tidak madlarat niatnya, sebab tidak ada kewajiban bagi seorang lelaki untuk meniatkan akan terus mempertahankan istrinya. Cukup baginya jika istrinya itu sesuai dengannya maka dilanjutkan, tetapi jika tidak maka ia akan menceraikannya (al-Mughni 7 : 180)

 

Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa nikah dengan niatan akan diputuskan sesudah beberapa saat, sepanjang itu tidak disyaratkan, hanya sebatas diniatkan, maka menurut Ibn Qudamah, mayoritas ulama membolehkannya. Nikahnya sah. Pasalnya tidak ada kewajiban juga bahwa seseorang yang menikah harus dengan niat akan melanggengkannya selamanya. Tentunya kembali pada kecocokan; jika cocok dilanggengkan, jika tidak maka ditalaq.

Imam an-Nawawi (631-676 H) sepakat dengan al-Qadli ‘Iyadl (476-544 H) yang menyatakan bahwa para ulama ijma’ atas hukum asal nikah muthlaq halal, tentunya sepanjang rukun dan syarat nikah dipenuhi. Masalah nanti bagaimana, bagaimana nanti saja. Yang penting untuk saat sekarang seseorang sudah berbulat tekad untuk menikah, tetapi ada kemungkinan hanya sementara waktu saja. Menurut Imam an-Nawawi, jumhur ulama tidak menyamakan pernikahan seperti ini dengan nikah mut’ah (untuk bersenang-senang sementara waktu), sebab nikah mut’ah memang sudah diniatkan dan diakadkan dari sejak awal hanya untuk sementara waktu, sesudah itu disepakati bubar jalan. Sementara nikah muthlaq tidak ada niatan apapun selain menikah saat itu dan untuk nanti bagaimana nanti saja, meski terselip niatan kemungkinan tidak akan dipertahankan.

قَالَ الْقَاضِي : وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ مَنْ نَكَحَ نِكَاحًا مُطْلَقًا وَنِيَّته أَلَّا يَمْكُث مَعَهَا إِلَّا مُدَّة نَوَاهَا فَنِكَاحه صَحِيح حَلَال ، وَلَيْسَ نِكَاح مُتْعَة ، وَإِنَّمَا نِكَاح الْمُتْعَة مَا وَقَعَ بِالشَّرْطِ الْمَذْكُور، وَلَكِنْ قَالَ مَالِك : لَيْسَ هَذَا مِنْ أَخْلَاق النَّاس ، وَشَذَّ الْأَوْزَاعِيُّ فَقَالَ : هُوَ نِكَاح مُتْعَة ، وَلَا خَيْر فِيهِ . وَاَللَّه أَعْلَم

Al-Qadli (‘Iyadl) berkata: Para ulama sepakat bahwasanya orang yang nikah dengan nikah muthlaq dan ia berniat tidak akan hidup bersamanya kecuali dalam satu masa yang ia niatkan, maka nikahnya shahih, halal, dan tidak termasuk nikah mut’ah. Hanyasanya nikah mut’ah itu adalah yang ada syarat di atas (sampai batas waktu yang disepakati oleh kedua mempelai—pen). Akan tetapi Imam Malik berkata: “Ini tidak termasuk akhlaq manusia.” Sementara itu Imam al-Auza’i mengambil jalan yang lemah dengan menyatakan bahwa nikah seperti itu adalah nikah mut’ah, dan tidak ada kebaikan di dalamnya. Wal-‘Llahu a’lam (Syarah Shahih Muslim bab nikahul-mut’ah).

 

Berbeda sedikit dengan Ibn Qudamah, penjelasan Imam an-Nawawi di atas menunjukkan adanya dua aspek yang disoroti dari nikah muthlaq, yakni bukan hanya aspek legal formal saja, tetapi juga ada aspek moral. Secara legal formal (murni pertimbangan hukum pernikahan) maka pernikahan yang seperti itu sah dan halal. Akan tetapi dari aspek moral, Imam an-Nawawi mengutip penjelasan Imam Malik yang menyatakan bahwa pernikahan seperti ini tidak beradab, bukan akhlaq manusia, lebih mirip akhlaq binatang, atau biadab.

Terkait aspek moral ini, Syaikh al-‘Utsaimin (w. 1421 H) menjelaskan panjang lebar bahwa bagaimanapun ada aspek penipuan dalam nikah muthlaq ini meski secara hukum legal formal pernikahannya sah. Tidak mungkin ada seorang Bapak yang rela menikahkan putrinya kepada seorang lelaki yang memang dari sejak awal sudah ada niat akan menceraikannya ketika kepentingan biologisnya sudah terpenuhi. Demikian halnya seorang perempuan mustahil akan rela dinikahi seorang lelaki jika ia tahu bahwa calon suaminya itu ada niatan akan menikahinya sementara waktu saja untuk sekedar memenuhi kebutuhan bilogisnya saja. Syaikh al-‘Utsaimin kemudian menyimpulkan:

فعلى قول من يقول: إنه من نكاح المتعة ـ وهو المذهب ـ فالنكاح باطل، وعلى القول الثاني ـ الذي نختاره ـ أن النكاح صحيح، لكنه آثم بذلك من أجل الغش، مثل ما لو باع الإنسان سلعة بيعاً صحيحاً بالشروط المعتبرة شرعاً، لكنه غاشٌ فيها، فالبيع صحيح والغش محرم

Maka berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa (nikah muthlaq) tersebut termasuk nikah mut’ah—dan itu ada satu madzhab yang berpendapat demikian—maka jelas pernikahannya bathal. Sementara jika didasarkan pendapat kedua yang menjadi pilihan kami (bukan termasuk nikah mut’ah—pen) maka sungguh nikahnya sah, tetapi ia berdosa dengan cara seperti itu dari aspek penipuannya. Sama halnya dengan seseorang yang menjual satu barang dengan transaksi yang shahih dan dengan syarat-syarat yang dibenarkan oleh syari’at, akan tetapi ia sebenarnya menipu dalam transaksi tersebut, maka transaksi jual belinya sah, tetapi penipuannya itu haram (as-Syarhul-Mumti’ ‘ala Zadil-Mustaqni’ 12 : 184 bab as-syuruth wal-‘uyub fin-nikah).

Penjelasan dari para ulama di atas menegaskan bahwa meskipun secara legal formal pernikahannya sah, tetapi secara moral pernikahan itu cacat karena ada unsur penipuan. Praktik pernikahan seperti ini secara otomatis haram.

Model yang kedua dari pernikahan sementara itu adalah dari sejak awal lelaki yang akan menikah sudah terang-terangan menyatakan niatnya bahwa ia menikah hanya untuk sementara. Setelah tugasnya selesai di tempat tersebut ia akan menceraikan istrinya dan memberinya mata’ (bekal perceraian) sebagaimana dianjurkan syari’at. Jika kemudian mereka mempunyai anak, maka anaknya itu akan diakui sebagai anaknya dan ia akan memberi nafkah untuk anak dan istrinya tersebut sebagaimana berlaku hukumnya dalam perceraian yang diatur syari’at Islam.

Model pernikahan yang muqayyad seperti ini sebagaimana terbaca dari penjelasan para ulama di atas sama dengan nikah mut’ah karena sudah direncanakan dari sejak awal dengan terus terang bahwa nikahnya sampai batas waktu yang ditentukan. Pernikahan model seperti ini hukumnya jelas haram dan pernikahannya bathal. Dalam hadits Sabrah al-Juhani yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِى الاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَىْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلاَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

Wahai manusia, sungguh dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk nikah mut’ah kepada kaum perempuan. Akan tetapi sungguh Allah telah mengharamkan hal tersebut sampai hari kiamat. Maka siapa saja yang masih ada seorang perempuan di sisinya dari yang dimut’ah, berikanlah ia jalan, dan janganlah ia mengambil sedikit pun dari apa yang ia sudah berikan kepada mereka (Shahih Muslim bab nikahul-mut’ah no. 3488).

عَنْ سَبْرَةَ الْجُهَنِىِّ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِينَ دَخَلْنَا مَكَّةَ ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ مِنْهَا حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا

Dari Sabrah al-Juhani, ia berkata: “Rasulullah saw mengizinkan kami untuk mut’ah pada tahun Fathu Makkah ketika kami datang ke Makkah (8 H). Kemudian sebelum kami keluar dari Makkah, beliau sudah mengharamkannya.” (Shahih Muslim bab nikahul-mut’ah no. 3490).

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الإِنْسِيَّةِ

Dari ‘Ali ibn Abi Thalib, sesungguhnya Rasulullah saw melarang mut’ah perempuan pada hari Khaibar (7 H) dan juga melarang makan daging keledai jinak (Shahih Muslim bab nikahul-mut’ah no. 3497)

Catatan:

Dua hadits ‘Ali dan Sabrah di atas tidak bertentangan. Imam Muslim menjelaskan dalam tarjamahnya, dua hadits di atas menunjukkan bahwa nikah mut’ah sempat dihalalkan dua kali kemudian diharamkan juga dua kali, dan sesudah itu diharamkan sampai hari kiamat. Yang dimaksud dihalalkan pada perang Khaibar (7 H), lalu diharamkan, kemudian dibolehkan lagi pada Fathu Makkah (8 H) dan lalu diharamkan juga beberapa hari kemudian ketika masih di Makkah. Sesudah itu berlaku larangannya sampai hari kiamat.

Dalam Shahih Muslim juga disebutkan atsar-atsar yang menunjukkan bahwa pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar ada shahabat yang mengamalkan mut’ah sampai kemudian dilarang oleh ‘Umar. Menurut Imam an-Nawawi, kemungkinan besar mereka yang mengamalkan mut’ah karena belum mengetahui larangannya, sampai kemudian ditegaskan oleh Khalifah ‘Umar ibn al-Khaththab.

Demikian juga disebutkan dallam Shahih Muslim bahwa shahabat Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Abbas memberikan kelonggaran untuk nikah mut’ah ini. Imam an-Nawawi menjelaskan, itu dikarenakan kedua shahabat tersebut belum mengetahui pasti ada larangannya. Setelah dikonfrontasi, kedua shahabat itu pun kemudian mengakui keharamannya (Syarah Shahih Muslim an-Nawawi).

Nikah itu memang salah satu tujuannya adalah menjaga dorongan biologis dan menundukkan pandangan, tetapi ini tentunya bagi mereka yang mampu ba`ah (arti asal ba`ah adalah menetap di satu tempat tinggal secara mandiri). Dalam kasus yang ditanyakan di atas kedudukannya belum masuk kategori mampu ba`ah. Jika demikian adanya maka solusinya bukan dengan menikah sementara, melainkan dengan memperbanyak shaum.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah mampu hidup mandiri maka menikahlah karena itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga farji. Tetapi siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum, karena sesungguhnya shaum itu akan jadi tameng untuknya (Shahih Muslim bab istihbabin-nikah no. 3464)

Shaum yang dimaksud tentunya adalah shaum dalam maknanya yang sempurna seperti dijelaskan dalam hadits-hadits tentang shaum, yakni shaum dari berkata kotor dan tidak senonoh, termasuk yang mengarah pada perzinaan. Demikian juga shaum dari perbuatan-perbuatan yang bodoh, apalagi yang mengarah pada perzinaan. Jadi di samping menshaumkan nafsu, juga menshaumkan perkataan dan perbuatan sehingga mampu terhindar dari kekhawatiran terjerumus zina. Wal-‘Llahu a’lam

Dewan Kajian Masa`il:

Nashruddin Syarief, Robi Permana, Iwan Abu ‘Ayyasy, Irsyad Taufieq Rahman, Achmad Nurdiyansyah, Oman Warman, Muhammad Atim, Husna Hisaba Kholid, Saeful Japar Sidik, Fauzy Barokah Ramdani, Iwan Ridwan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *