Orang Junub Haram Masuk Masjid

7 months ago
861

وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

… (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi (QS. an-Nisa` [4] : 43).

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

… dan jika kamu junub maka bersucilah (mandi)… (QS. al-Ma`idah [5] : 6)

 

Tafsir Mufradat

Junub merupakan istilah yang digunakan al-Qur`an untuk menunjuk satu keadaan tidak suci yang mewajibkan bersuci dengan cara mandi. Arti asal junub itu sendiri adalah jauh. Maksudnya menjauh dari masjid atau shalat sampai mandi terlebih dahulu, sebagaimana dijelaskan dalam dua ayat di atas.

 

Tafsir ‘Am

Maksud firman Allah swt: illa ‘abiri sabil yang diterjemahkan di atas terkecuali sekedar berlalu saja, ada juga penafsiran lainnya dari shahabat ‘Ali ra bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang sedang safar. Makna asal dari ‘abir sabil itu sendiri memang “orang yang melewati jalan”. Dalam hadits juga dimaknai sebagai orang yang sedang dalam perjalanan/safar. Maka ‘Ali ra menjelaskan maksud ayat tersebut: Jangan mendekati shalat, kecuali orang yang sedang safar lalu junub dan tidak menemukan air. Ia boleh shalat dengan tayammum sampai ia mendapatkan air (Tafsir Ibn Katsir).

Imam Ibn Jarir at-Thabari lebih memilih pendapat jumhur sebagaimana dikemukakan oleh Ibn ‘Abbas, Ibn Mas’ud, dan Anas, yakni bahwa illa ‘abiri sabil tersebut maknanya terkecuali sekedar berlalu saja. Menurut ulama besar tafsir ini, sebab pengecualian untuk orang safar dijelaskan di potongan ayat berikutnya dalam firman-Nya: wa in kuntum mardla au ‘ala safar…dan seterusnya (QS. an-Nisa` [4] : 43 atau al-Ma`idah [5] : 6). Jika yang dimaksud illa ‘abiri sabil adalah orang yang safar, tentu tidak perlu ada pengulangan lagi pada firman Allah swt: wa in kuntum mardla au ‘ala safar. Demikian tegas Ibn Jarir at-Thabari. Maka dari itu, makna “jangan mendekati shalat”-nya pun ditakwil menjadi “jangan mendekati tempat shalat”. Maksudnya sebagaimana dijelaskan di hadits tentu “masjid”. Sehingga makna ayat di atas: Hai orang-orang beriman, janganlah kalian mendekati masjid untuk shalat di sana ketika kamu dalam keadaan mabuk sehingga mengerti apa yang kalian katakan. Demikian juga jangan mendekati masjid bagi orang yang junub sehingga mandi, kecuali untuk orang-orang yang hanya sekedar berlalu saja (Tafsir Ibn Katsir).

Meski demikian bukan berarti pengecualian hukum sebagaimana dijelaskan oleh ‘Ali ibn Abi Thalib di atas tidak berlaku. Hukumnya tetap berlaku, tetapi melalui potongan ayat selanjutnya, yaitu wa in kuntum mardla au ‘ala safar…dan seterusnya. Bahkan jika kasusnya tidak ada air, bukan hanya bagi orang yang safar, orang yang muqim pun diperbolehkan shalat meski belum mandi. Pembahasan lengkapnya akan disajikan dalam tafsir ahkam tayammum yang akan datang.

 

Tafsir Ahkam

Syaikh al-Albani (w. 1420 H) senada dengan Ibn Hazm (w. 456 H) menegaskan bahwa tidak ada dalil yang tegas melarang perempuan haidl masuk masjid, sehingga hukumnya kembali ke asal yakni tidak ada larangan (al-bara`atul-ashliyyah). Hadits pokok yang tegas melarang perempuan haidl masuk masjid dinilai dla’if oleh Syaikh al-Albani. Sementara dalil-dalil lainnya yang mengarah pada larangan tersebut dipahami berbeda oleh beliau. Syaikh al-Albani menyatakan:

وَبِالْجُمْلَةِ فَلاَ دَلِيْلَ عَلَى تَحْرِيْمِ دُخُوْلِ الْحَائِضِ وَكَذَا الْجُنُبِ الْمَسْجِدَ وَالْأَصْلُ الْجَوَازُ وَقَدِ اقْتُرِنَ بِهِ مَا يُؤَيِّدُهُ كَمَا سَبَقَ. والله تعالى ولي التوفيق

Kesimpulannya, tidak ada dalil yang mengharamkan perempuan haidl, demikian juga orang junub, untuk masuk masjid. Maka hukum pokoknya boleh. Sungguh telah disertakan dalil-dalil yang menguatkannya sebagaimana telah diulas. Dan Allah ta’ala Pemberi taufiq (ats-Tsamarul-Mustathab 2 : 755 bab ahkamul-masajid subbab al-mubahat).

 

Terkait QS. an-Nisa` [4] : 43 di atas, Syaikh al-Albani berpegang pada pendapat marjuh (tidak kuat/dijadikan pegangan para ulama) dari ‘Ali ibn Abi Thalib yang memahami shalat dalam ayat di atas bermakna shalat sebenarnya dan ‘abiri sabil sebagai musafir. Sehingga maknanya: Jangan mendekati shalat, kecuali orang yang sedang safar lalu junub dan tidak menemukan air. Ia boleh shalat dengan tayammum sampai ia mendapatkan air (Irwa`ul-Ghalil no. 193). Padahal pendapat para ulama yang rajih (kuat) adalah pendapat ulama jumhur sebagaimana dijelaskan di atas.

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dilarang dalam ayat di atas adalah orang yang junub, bukan perempuan yang haidl. Status hukum junub dan haidl berbeda. Orang yang junub tetap wajib shaum dan tidak batal dengan sebab junub ihtilam atau masih junub ketika masuk waktu shubuh, sementara perempuan haidl haram shaum dan batal shaumnya karena haidl. Akan tetapi meski ada perbedaan, dalam hal menjauhi masjidnya, perempuan haidl dan orang yang junub, hukumnya sama, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi saw dalam hadits ‘Aisyah berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِى رَسُولُ اللهِ  نَاوِلِينِى الْخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّى حَائِضٌ. فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Ambilkan untukku kain (sajadah) dari masjid.” Aku menjawab: “Saya sedang haidl.” Nabi saw menimpali: “Haidlmu bukan ada pada tanganmu.” (Shahih Muslim kitab al-haidl bab jawazi ghaslil-ha`idl ra`sa zaujiha no. 715)

Penolakan ‘Aisyah di atas menunjukkan bahwa memang sudah diketahui perempuan haidl itu tidak boleh masuk masjid. Nabi saw tidak menyanggahnya dalam hal itu, tetapi menunjukkan kepadanya bahwa tidak apa-apa kalau sekedar lewat untuk mengambil/menyerahkan sesuatu. Hadits ini menguatkan makna ayat 43 surat an-Nisa` di atas sebagaimana dijadikan pegangan oleh jumhur ulama. Terlepas dari apakah Nabi saw saat itu sedang di dalam masjid atau di luar masjid, yang jelas ‘Aisyah disuruh masuk masjid hanya untuk mengambil kain dari/ke masjid.

Akan tetapi Syaikh al-Albani beristinbath bahwa hadits di atas justru menunjukkan bahwa seorang perempuan haidl boleh masuk dan diam di masjid, terlebih lagi jika ada keperluan (ats-Tsamarul-Mustathab).

Imam at-Tirmidzi yang juga meriwayatkan hadits di atas menjelaskan:

وَهُوَ قَوْلُ عَامَّةِ أَهْلِ العِلْمِ، لَا نَعْلَمُ بَيْنَهُمْ اخْتِلَافًا فِي ذَلِكَ: بِأَنْ لَا بَأْسَ أَنْ تَتَنَاوَلَ الحَائِضُ شَيْئًا مِنَ المَسْجِدِ

Itu adalah pendapat mayoritas ahli ilmu. Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dalam hal itu, yakni bahwa tidak berdosa perempuan haidl mengambil sesuatu dari masjid (Sunan at-Tirmidzi bab fil-ha`idl tatanawalu syai`an minal-masjid no. 134).

 

Ketika mensyarah hadits Ummu ‘Athiyyah yang memerintahkan perempuan haidl hadir dalam shalat ‘id tetapi tidak masuk area mushalla, Imam an-Nawawi menjelaskan:

قَالَ الْجُمْهُور: هُوَ مَنْع تَنْزِيه لَا تَحْرِيم، وَسَبَبه الصِّيَانَة وَالِاحْتِرَاز مِنْ مُقَارَنَة النِّسَاء لِلرِّجَالِ مِنْ غَيْر حَاجَة وَلَا صَلَاة، وَإِنَّمَا لَمْ يَحْرُم لِأَنَّهُ لَيْسَ مَسْجِدًا

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat larangan itu larangan kebersihan (makruh) bukan larangan haram. Sebabnya untuk menjaga dari berdekatannya perempuan dengan lelaki tanpa ada keperluan atau shalat. Tidak sampai haram karena memang mushalla bukan masjid (Syarah Shahih Muslim bab dzikr ibahah khurujin-nisa fil-‘idain no. 1475).

 

Sementara al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan:

وَحَمَلَ الْجُمْهُورُ الْأَمْرَ الْمَذْكُورَ عَلَى النَّدْبِ لِأَنَّ الْمُصَلَّى لَيْسَ بِمَسْجِدٍ فَيَمْتَنِعُ الْحُيَّضُ مِنْ دُخُولِهِ

Jumhur memahami perintah di atas sebagai sunat, karena mushalla bukan masjid yang mana perempuan-perempuan haidl terlarang masuk ke dalamnya (Fathul-Bari bab syuhudil-ha`id al-‘idain).

 

Penegasan Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar di atas bahwa mushalla beda dengan masjid, dimana masjid haram dimasuki perempuan haidl, dan menyandarkannya pada pendapat jumhur ulama, menguatkan apa yang disebutkan Imam at-Tirmidzi di atas. Dalam hal ini maka pendapat Syaikh al-Albani diketahui marjuh (lemah)-nya.

Selanjutnya terkait hadits ‘Aisyah ra yang menyatakan perempuan haidl dan junub tidak halal masuk masjid, terjadi ikhtilaf juga. Al-Hafizh Ibn Hajar menuliskannya dalam Bulughul-Maram no. 132:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : إِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

Dari ‘Aisyah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: Rasulullah—shalawat dan salam untuknya—bersabda: “Sungguh aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haidl dan tidak pula untuk orang yang junub.” Abu Dawud meriwayatkannya dan Ibn Khuzaimah menshahihkannya.

Sanad hadits di atas, ‘Aisyah mengajarkan kepada Jasrah binti Dijajah, dan Jasrah mengajarkannya kepada Aflat ibn Khalifah. Syaikh al-Albani mendla’ifkan hadits ini disebabkan dua rawi di bawah ‘Aisyah tersebut, yakni Jasrah binti Dijajah dan Aflat ibn Khalifah, yang menurutnya berstatus dla’if.

Al-Hafizh Ibn Hajar sebagaimana terlihat di atas menyetujui penilaian shahih dari Ibn Khuzaimah. Dalam at-Talkhishul-Habir, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa hadits ini dinilai dla’if oleh sebagian ulama karena Aflat ibn Khalifah dinilai majhul hal (tidak dikenal statusnya). Akan tetapi Ibn Hajar tidak sependapat. Menurutnya Imam Ahmad jelas menyatakan bahwa Aflat ini ma ara bihi ba`san; saya tidak melihat ada cacat padanya. Imam Ibn Khuzaimah menilainya shahih dan Ibnul-Qaththan menilainya hasan (at-Talkhishul-Habir bab al-ghusl no. 185). Maka dari itu dalam Taqribut-Tahdzib al-Hafizh menyimpulkan bahwa Aflat seorang rawi yang shaduq (jujur).

Rawi lain yang dikritik oleh Syaikh al-Albani adalah Jasrah binti Dajajah. Ia dinilai oleh Imam al-Bukhari: ‘indaha ‘aja`ib; memiliki beberapa keanehan. Syaikh al-Albani juga sependapat dengan Imam al-Baihaqi, Ibn Hazm, ‘Abdul-Haq al-Asybili, al-Khaththabi dan an-Nawawi yang menilai hadits ini dla’if.

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Tahdzibut-Tahdzib menjelaskan Jasrah sebagai berikut:

قَالَ الْعِجْلِيُّ ثِقَةٌ تَابِعِيَّةٌ وَذَكَرَهَا ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ قُلْتُ وَذَكَرَهَا أَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الصَّحَابَةِ وَقاَلَ الْبُخَارِيُّ عِنْدَ جَسْرَةَ عَجَائِبُ قَالَ أَبُوْ الْحَسَنِ بْنُ الْقَطَّانِ هَذَا الْقَوْلُ لاَ يَكْفِي لِمَنْ يَسْقُطُ مَا رَوَتْ كَأَنَّهُ يُعَرِّضُ بِابْنِ حَزْمٍ لِأَنَّهُ زَعَمَ أَنَّ حَدِيْثَهَا بَاطِلٌ

Al-‘Ijli berkata: Ia seorang tsiqah dari generasi tabi’in. Ibn Hibban megategorikannya tsiqat. Aku tambahkan: Abu Nu’aim menyebutkannya sebagai shahabat. Tetapi Imam al-Bukhari berkata: “Pada Jasrah ada beberapa keanehan.” Abul-Hasan ibn al-Qaththan berkata: “Penyataan al-Bukhari ini tidak cukup untuk menggugurkan semua yang ia riwayatkan.” Seakan-akan ia menyindir Ibn Hazm yang meyakini bahwa hadits Jasrah bathil.

 

Dari uraian ini diketahui bahwa al-Hafizh Ibn Hajar sependapat dengan Ibnul-Qaththan yang tidak menilai hadits ini bathil. Beliau tidak sependapat dengan Ibn Hazm yang berlebihan menilai hadits Jasrah bathil. Maka dari itu dalam Taqribut-Tahdzib beliau menyimpulkan bahwa Jasrah seorang rawi yang maqbulah (bisa diterima jika ada yang menguatkan) dan mengakomodir pendapat bahwasanya ia pernah bertemu dengan Nabi saw (wa yuqalu inna laha idrakan). Sementara Imam adz-Dzahabi menyatakan bahwa Jasrah wutstsiqat; bisa dinilai tsiqah. Maka dari itu penilaian yang tepat untuk hadits dengan rawi seperti ini bukan dla’if sebagaimana penilaian al-Albani, melainkan hasan. Hadits hasan bisa dijadikan hujjah. Wal-‘Llahu a’lam.

Penulis : Nashruddin Syarief (mudir ‘am Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *