Anak Sholeh dan Do’a Jelek Sang Ibu

7 months ago
207

Ada sebuah kisah menarik yang bisa kita ambil ibrahnya tentang kedahsyatan do’a seorang ibu, terlepas isi do’anya baik atau jelek, yaitu pada kisah Juraij. Jika tahu demikian, maka tentu seorang anak harus memuliakan orang tuanya. Jangan sampai ia membuat orang tuanya marah, yang mengakibatkan keluar kata atau bahkan do’a yang jelek dari orang tua yang bisa mencelakakan dirinya.

Dari Abu Hurairah ia berkata, ”Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan (bayi di masa) Juraij”. Lalu ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?” Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya). (Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya.  Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu wahai Juraij, sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.” Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya. Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?” “Dari Juraij”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.” Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali, lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia. Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?” Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya, “Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan (ibu)nya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.” Sontak sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas?” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti sedia kala.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tersenyum) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.” {HR. Muslim, Kitab al-Biir wash-Shilah wal-adab}

Dari kisah Juraij tentu banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil, salah satunya adalah bahwa seorang anak harus berhati-hati dengan kemarahan orang tuanya. Karena jika ia sampai melukai hati orang tua, lalu orang tuanya pun mendo’akan hal-hal yang buruk karena merasa jengkel dan sakit hati, maka itu adalah do’a yang mudah untuk diijabah. Allah Swt. berfirman

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka janganlah kamu sekali-kali mengatakan kepada keduanya ucapan “ah”. Juga janganlah kamu membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. {QS. Al-Isra: 23}

Begitu juga dengan orang tua, bagaimana pun kesal dan jengkelnya terhadap seorang anak, maka semaksimal mungkin orang tua harus mampu mengendalikan amarahnya dengan tetap berpikir dan berbicara positif kepada anaknya. Karena seorang anak adalah amanah dari Allah Swt. yang tak boleh diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, orang tua harus senantiasa menjaga, mendidik, dan membina anaknya dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya itu, orang tua pun harus bisa menjadi Uswah Hasanah dan memberikan do’a yang terbaik untuk anak-anaknya sebagaimana yang diajarkan oleh para Nabi terdahulu. Salah satu do’a yang termaktub dalam al-Qur’an ialah:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرّيـَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. {QS. Al-Furqaan : 74}

Semoga kita sebagai anak tetap berbakti kepada orang tua kita dan terhindar dari murkanya, karena murka mereka adalah murka Allah swt juga. Dan sebagai orang tua kita tetap berusaha untuk menjadi Uswah Hasanah dan memberi pendidikan yang baik bagi anak kita, sampai do’a mereka menjadi alasan kita berada di surga kelak.

Penulis : Achmad Nurdiyansah (staf pengajar Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *