Ada Apa Dengan Banser?

7 months ago
333

Kiprah Nahdlatul Ulama (NU) dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI dari imperialisme dan kolonialisme perlu diperhitungkan. Pasalnya, K.H. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU merupakan tokoh penting dalam proses lahirnya Republik Indonesia; ia pernah menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Urusan Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan pernah juga menjadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Organisasi yang diresmikan pada 31 Januari 1926 ini, semula bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang didirikan pada 1914 di Surabaya oleh Abdul Wahab Chasbullah dan Mas Mansur, semakin menegaskan akan kontribusi organisasi ini terhadap Republik.

Tidak sampai di sana, GP Ansor sebagai gerakan pemuda NU yang berawal dari organisasi Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang didirikan oleh K.H. Abdul Wahab, menggenapkan akan gerak juang NU dalam menjaga dan mengokohkan NKRI di Republik ini. 

Semakin terlihat jelas kontribusi NU terhadap bangsa ini, saat lahirnya Barisan Ansor Serbaguna (Banser).  Sebagai sayap kanan NU dan bagian dari badan otonom GP Anshor, Banser bergerak di bidang pengamanan dan kemasyarakatan melalui satuan-satuannya.

Di antara satuan-satuan Banser yang bergerak di bidang pengamanan dan kemasyarakatan yaitu; 1). Datasemen Khusus 99 Asmaul Husna (Densus 99) yang bertugas mengamankan berbagai program keagamaan dan sosial kemasyarakatan dengan mengumpulkan dan menganalisis informasi untuk mencegah terjadinya ketidaknyamanan dalam berbagai program; 2). Satuan Banser Tanggap Bencana (Bagana) yang memiliki spesifikasi tugas terhadap program penanggulangan bencana; 3). Satuan Khusus Bariasan Ansor Serbaguna Penanggulangan Kebakaran (Balakar) yang memiliki tugas dan fungsi dalam menganani bencana kebarakan; 4). Satuan Khusus Banser Lalu Lintas (Balantas) yang bertugas menjaga keamanan dan kelancaran lalu lintas; 5). Barisan Ansor Serbaguna Husada yang bertugas mengadakan bantuan kemanusiaan di bidang kesehatan; 6). Banser Protokoler yang bertugas di bidang manajemen acara; dan 7). Barisan Ansor Serbaguna Maritim (Baritim) yang bertugas dalam bidang keamanan, pemeliharaan, pelestarian, dan konsevarsi wilayah Maritim NKRI.

Gus Yaqut sebagai ketua Umum GP Ansor periode 2015-2020 yang pernah diwawancarai dua tahun silam (2017) oleh salah satu media, menegaskan bahwa GP Ansor begitupun Banser akan tetap mendukung dan menjaga konsensus nasional yang terdiri atas NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan UUD 1945.

Namun, dari sederet prestasi dan kontribusi Banser terhadap Republik Indonesia ini, tidak berbanding lurus dengan pemberitaan media hari-hari ini.

Sebagaimana dilansir dalam website resmi NU, ketua umum GP Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) beserta pengurus lain bertandang ke kota Vatikan. Mereka menemui Paus Fransiskus dan berbincang terkait upaya menciptakan kondisi damai di dunia.

Gus Yaqut yang juga ditemani Ketua Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H. Alfa Isnaeni menegaskan bahwa kehadirannya menemui Paus Fransiskus untuk mendukung dokumen Persaudaraan Manusia ketika Paus Human Fraternity meeting dengan Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Al-Thayeb.

“Rabu pagi tadi, 25 September 2019, rombongan kami berkesempatan menghadiri Audiensi Umum di lapangan Santo Petrus, Vatikan” kata Gus Yaqut dikutip NU Online, Rabu (25/9) lewat facebook-nya.

“Kami membawa misi mendukung dokumen Human Fraternity for World Peace and Living Together yang didengungkan Paus Fransiskus dengan Grand Syekh Al-Azhar, sekaligus menyampaikan dokumen GP Ansor Declaration on Humanitarian Islam,” sambungnya.

Dalam kesempatan bertemu langsung dengan Paus Fransiskus usai Audiensi Umum, Gus Yaqut menyampaikan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia di mana GP Ansor turut berkontribusi memeliharanya. Termasuk dalam menjaga kegiatan keagamaan Umat Katolik di Indonesia.

Selaras dengan itu, GP Ansor Depok mengerahkan 70 anggotanya untuk berpatroli guna menjaga keamanan umat Nashrani dalam merayakan malam natal. Ustadz Abdul Kodir, ketua GP Ansor Depok, menyatakan bahwa patroli ini akan berlangsung juga pada malam perayaan tahun baru 2020.

Padahal, sebelumnya (28/8/2019), Banser Banyuwangi menolak kehadiran Gusnur yang akan berceramah di kota tersebut, dengan alasan bahwa konten ceramah-ceramah Gusnur acapkali dinilai selalu melontarkan ujaran kebencian dan menghina pemerintah dan kiyai NU. Bahkan sebulan sebelumnya (10/7/2019), Banser Tegal membubarkan ceramah Ustadz Hanan Attaki. Pembubaran yang terakhir ini dilakukan langsung oleh GP Ansor Tegal.

Setahun silam, tepatnya pada Hari Santri Nasional (22/10/2018) dua oknum anggota Banser membakar tauhid yang dianggap sebagai bendera HTI. Sehingga, kedua oknum tersebut ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembakaran bendera tauhid tersebut.

Pemberitaan-pemberitaan tersebut, selain menuai pro kontra di masyarakat, juga memunculkan pertanyaan besar, “Ada Apa Dengan Banser?”.

Sikap toleransi Banser NU terhadap Nashrani tidak berbanding lurus dengan perlakuannya terhadap ormas Islam yang seakidah dan seagama Islam. Padahal, baik di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, anjuran untuk memperkokoh tali persaudaraan sesama umat muslim dianjurkan dan bahkan diperintahkan.

مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S: Al-Fath: 29)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (Q.S: Al-Maidah: 54)

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Dari Nu’man bin Basyir ia berkata, “Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: perumpamaan orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila ada salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuhnya akan meresakan kurang tidur dan demam”. (H.R. Al-Bukhari no. 6011)

NU yang secara historis pernah vis à vis dengan Muhammadiyyah dan Persis dalam persoalan fiqih, dalam isu Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia pernah bersatu dan satu misi dalam mewujudkannya.

Bahkan jauh sebelum itu, kaum santri yang kemudian bertransformasi menjadi organisasi keagamaan, dalam hal ini NU, memberikan peran sangat penting dalam menggalang kekuatan untuk menentang penguasaan kolonial. Bahkan, beberapa pemberontakan seperti yang terjadi di Banten tahun 1881, perang Padri di Sumatra Barat, perang Diponegoro di Jawa tahun 1825-1830, dan sebagainya adalah perang-perang yang diinisiasi oleh kelompok santri.

Dilihat dari sepak terjang NU dalam menjaga NKRI di Bumi Pertiwi ini, patut diingat oleh siapapun yang pernah membaca sejarah. Sehingga, pemberitaan-pemberitaan tentang NU, dalam hal ini Banser, mengundang sebuah pertanyaan besar, “Ada apa dengan Banser?”. Mungkinkah oknum-oknum pemecah belah atau paham-paham untuk merusak cara beripikir sebagian kader NU masuk ke dalam tubuh organisasi mereka? Tentu saja ini menjadi sebuah anomali. Wal-‘Llahu a’lam (dari berbagai sumber)

Penulis : Saeful Ja’far Shidieq, (staf pengajar Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *