Teladan Ulama dalam Adab Menjaga Waktu

6 months ago
816

Jika kita memperhatikan perjalanan hidup para ulama dahulu maka kita akan menemukan dibalik kesuksesan mereka dalam menuntut ilmu itu terdapat nilai keteladanan yang berharga dalam kesungguhan mereka dalam menjaga waktu. Ibnu Taimiyah Majdudin Abul Barakat (w. 653 H) rahimahullah misalnya seringkali berpesan kepada muridnya jika ia masuk WC,

اقْرَأْ فِي هَذَا الكٍتَابٍ، وَارْفَعْ صَوْتَكَ حَتَّى أَسْمَعَ

 “Bacakan kitab ini dan keraskan suaramu agar aku dapat mendengarnya” (Dzailut Thabaqat al-Hanabilah : 5 Jilid 4). Hal ini dilakukan karena Ibnu Taimiyah rahimahullah begitu paham betapa berharganya nilai waktu bagi dirinya, sehingga ia tidak rela waktunya di dalam WC ia lalui begitu saja tanpa faidah apapun.

Keteladanan dalam menjaga waktu ini, kita bisa saksikan pula dalam keterangan Imam Ibnu Jauzi rahimahullah ketika membaca salah satu tulisan dari Ibnu Aqil (w. 513 H) sebagaimana berikut.

إِنِي لَا يَحِلُ لِي أَنْ أُضِيْعَ سَاعَةً مِنْ عُمْرِيْ، حَتَى إِذَا تَعَطَّلَ لِسَانِيْ عَنْ مُذَاكَرَةٍ وَمُنَاظَرَةٍ، وَبَصَرِي عَنْ مُطَالَعَةٍ، أَعْمَلْتُ فِكْرِي فِي حَالِ رَاحَتِي، وَأَنَا مُسْتَطْرِحٌ، فَلَا أَنْهَضُ إِلاَّ وَقَدْ خَطَرَ لِي مَا أَسْطُرُهُ. وَإِنِي لَأَجِدُ مٍنْ حِرْصِيْ عَلَى العِلْمِ. وَأَنَا فِي عِشْرِ الثَمَانِيْنَ أَشَدُ مِمَا كُنْتُ أَجِدُهُ وَأَنَا ابْنُ عِشْرِيْنَ سَنَةً.

“Aku tidak boleh menyia-nyiakan umurku sesaat saja. Hingga jika lisanku lelah untuk berdiskusi dan mataku lelah dalam membaca maka aku akan menggunakan pikiranku di waktu istirahatku sambil berbaring. Kemudian tidaklah aku bangkit dari istirahatku kecuali aku telah mendapatkan apa yang harus aku tulis. Sungguh aku mendapatkan semangatku dalam menuntut ilmu di usia delapan puluh tahun lebih besar daripada ketika aku berusia 20 tahun” (Dzailut Thabaqat al-Hanabilah : 324 Jilid 1)

Dua kisah ulama diatas merupakan wujud amal dari ruh ayat-ayat di dalam al-Qur’an. Banyak sumpah yang kita temukan di dalam al-Qur’an dalam perkara waktu. Sumpah ini menunjukan waktu memiliki rahasia besar dalam keberhasilan dan kegagalan seorang penuntut ilmu. Surat al-‘Ashr salah satu surat yang menegaskan pentingnya setiap penuntut ilmu merenungkan setiap waktu yang telah diberikan oleh Allah swt.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S al-‘Ashr : 1-3)

Imam Fakhruddin ar-Razi ketika menafsirkan surat ini mengatakan,

أَنَّ بَقِيَّةَ عُمُرِ الْمَرْءِ لَا قِيمَةَ لَهُ، فَلَوْ ضَيَعْتَ أَلْفَ سَنَةٍ، ثُمَ تَبت فِي اللَّمْحَةِ الْأَخِيرَةِ مِنَ الْعُمُرِ بَقِيتَ فِي الْجَنَّةِ أَبَدَ الْآبَادِ فَعَلِمْتَ حِينَئِذٍ أَنَّ أَشْرَفَ الْأَشْيَاءِ حَيَاتُكَ فِي تِلْكَ اللَّمْحَةِ، فَكَأَنَّ الدَّهْرَ وَالزَّمَانَ مِنْ جُمْلَةِ أُصُولِ النِّعَمِ، فَلِذَلِكَ أَقْسَمَ بِهِ

“Umur tidak dapat dinilai dengan hal apapun. Andaikan dirimu menyia-nyiakan waktu seribu tahun lamanya kemudian dirimu bertaubat di akhir kehidupanmu, maka kamu akan masuk surga kekal selama-lamanya di dalamnya. Ketika itu dirimu akan mengetahui bahwa perkara yang paling mulia dalam hidupmu adalah umur. Sedangkan umur itu diantara pokok-pokok nikmat, untuk itulah Allah bersumpah dengan waktu” (Mafatihul Ghaib : 277 Jilid 32)

Perkara waktu inilah yang mesti benar-benar menjadi perhatian besar para penuntut ilmu tentunya disamping adab-adab yang lain. Waktu merupakan diantara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba. Maka keberhasilan perjalanan penuntut ilmu itu ditentukan sejauh mana perkara waktu ini menjadi perhatian utama dalam pengembaraan ilmunya. Imam Ibnu Jama’ah dalam kitabnya Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim fi Adabil Muta’allim menuliskan diantara adab seorang penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri ialah memperhatiakn waktu umurnya.  

أَنْ يُبَادِرَ شَبَابَهُ وَأَوْقَاتِ عُمْرِهِ إِلَى التَحْصِيْلِ وَلَا يَغْتَرَ بِخِدْعِ التَسْوِيْفِ وَالتَأَمِيْلِ؛

 “Hendaknya seorang penuntut ilmu bergegas dimasa mudanya dan di setiap umurnya untuk memperoleh ilmu. Janganlah tertipu dengan penundaan dan angan-angan” (Tadzkirah al-Sami wa al-Mutakallim : 87)

Jika seorang penuntut ilmu terbiasa menunda-nunda belajar dan hanya berangan-angan saja tanpa dibarengi dengan amal perbuatan maka keberhasilan dalam menuntut ilmu itu hanyalah fatamorgana bagi dirinya. Wajar kiranya, al-Qur’an menggambarkan diantara hal yang disesalkan para penghuni neraka kelak ialah karena mereka menyia-nyiakan umur ketika di dunia. Allah swt. berfirman. 

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (37

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Bukankah Kami memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan bukankah telah datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.  (Q.S Fathir : 37)

Imam al-Baghawi ketika menafsirkan kata an-Nadzir  dalam ayat ini beliau mengemukakan bahwa, an-Nadzir  disini adalah asy-Syaib (uban) karena orang shalih terdahulu seringkali jika tumbuh uban di rambutnya akan berkata,

مَا مِنْ شَعَرَةٍ تَبْيَضُّ إِلَّا قَالَتْ لِأُخْتِهَا: اسْتَعِدِّي فَقَدْ قَرُبَ الْمَوْتُ.

Tidaklah satu helai rambut berwarna putih tumbuh kecuali ia akan berkata kepada saudaranya, ‘Bersiap-siaplah sungguh kematian telah dekat” (Tafsir al-Baghwi : 425 Jilid 6)

Dengan demikian umur yang disia-siakan hanya akan menjadi kesengsaraan kelak di hari kiamat. Umurlah diantara nikmat yang pertama nabi saw. sebutkan, sebagai nikmat yang akan ditanya di akhirat kepada seluruh hamba.

لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Kaki Anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya.”(H.R Tirmidzi Bab fi al-Qiyamah  no. 2416)

Berdasarkan keterangan nash al-Qur’an dan hadis inilah  para ulama mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap masalah waktu. Tidak heran kiranya jika seluruh waktu yang digunakan oleh para ulama benar-benar diisi oleh hal-hal yang bermanfaat sehingga melahirkan karya-karya tulis yang berlimpah. Ibnu Abi dunya misalnya melahirkan 1000 karya tulis, Ibnu Asakir menulis kitab tarikhnya sebanyak 80 Jilid, Ibnu Syahin menulis 330 karya tulis, Ibnu Taimiyah yang menulis 300 karya tulis yang mencapai 500 jilid, Ibnu Hazm telah mewariskan 400 jilid tulisan, al-Baqilani tidak tidur kecuali telah menulis sebanyak 35 lembar dan ulama lainnya sebagai potret dari buah kesungguhan mereka dalam menjaga waktu. (lihat Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama : 86-89)

Perhatian para ulama dalam masalah waktu ini bahkan menjadikan perkara makan, minum dan tidur itu hanya merupakan perkara yang terpaksa dilakukan saja, karena para ulama telah mencurahkan seluruh waktunya untuk ilmu. Hal ini sebagaimana imam an-Nawawi menyampaikan,

وينبغي أن يكون حريصا على التعليم مُوَاظِبًا عَلَيْهِ فِي جَمِيعِ أَوْقَاتِهِ لَيْلًا وَنَهَارًا حضرا وسفرا وَلَا يُذْهِبُ مِنْ أَوْقَاتِهِ شَيْئًا فِي غَيْرِ الْعِلْمِ إلَّا بِقَدْرِ الضَّرُورَةِ لِأَكْلٍ وَنَوْمٍ قَدْرًا لا بد منه ونحوهما كاستراحة يسيرة لا زالة الْمَلَلِ وَشِبْهِ ذَلِكَ مِنْ الضَّرُورِيَّاتِ

“Seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki jiwa yang rakus dalam belajar, tekun dalam menjaga seluruh waktu malam dan siangnya baik ketika bermukim ataupun safar. Janganlah ia menghilangkan waktunya sedikitpun tanpa ilmu kecuali karena darurat untuk makan, tidur sesuai kadar kebutuhannya dan yang semisalnya berupa istirahat sejenak untuk menghilangkan kebosanan dan kebutuhan lain yang semisalnya” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab : 37 Jilid 1)

Abul Waafa bin Aqil bahkan menghemat waktu dalam masalah makan. Ia pernah berkata, “Aku sangat bersunguh-sungguh dalam meringkas waktu makanku sehingga diriku lebih memilih kue yang dicelupkan kedalam air daripada roti karena waktu yang dibutuhkan antara keduanya dalam mengunyah berbeda. Waktu yang ada itu bisa aku manfaatkan untuk membaca, menulis faidah yang belum aku pahami dan sungguh sesuatu yang paling mulia menurut ijma ulama ialah waktu karena waktu adalah ghanimah yang sangat berharga untuk digunakan. Beban hidup itu amat banyak sedangkan waktu hanya sedikit”  (Qimatuz Zaman ‘Indal ‘Ulama : 110)

Seperti inilah perhatian para ulama dalam menjaga waktu. Mereka menilai waktu lebih berharga daripada harta sebanyak apapun. Bahkan lebih berharga daripada emas dan perak. Akhlak para ulama ini merupakan Suluk yang layak diteladani oleh siapapun yang hendak menempuh perjalanan ilmu. Siapapun yang benar-benar memperhatikan waktunya dengan baik, selama ia yakin terhadap amal-amalnya maka atas pertolongan Allah pasti ia akan sampai pada cita-citanya. Wallahu A’lam bis Shawwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *