Awas Terjebak Permainan Dunia

6 months ago
543

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. (QS. al-An’am [6] : 32)

Setidaknya ada empat ayat al-Qur`an yang menegaskan dunia sebagai permainan dan hiburan. Selain ayat di atas terdapat juga dalam QS. al-‘Ankabut [29] : 64, Muhammad [47] : 36, dan al-Hadid [57] : 20. Tentunya ayat-ayat di atas bukan sebagai pembenar bahwa dunia harus diperlakukan seperti itu, melainkan sebagai peringatan bahwa dunia mempunyai daya pemikat yang berbahaya yaitu permainan dan hiburannya. Maka dari itu selalu diingatkan di bagian akhir ayat-ayat di atas untuk tetap fokus pada akhirat dan jangan sampai terbuai oleh permainan dunia. Bahkan dengan tegas Allah swt mengingatkan: “Apakah kalian tidak berakal?” Mengapa sampai bisa mementingkan dunia yang hanya permainan, hiburan sementara, senang sesaat jenuh kemudian, dan mengabaikan kesenangan yang abadi berupa kehidupan akhirat?

Mereka yang terbudakkan oleh hawa nafsu seksualnya adalah di antara yang terjebak pada kesenangan dunia ini. Mereka merasa harus memuaskan nafsunya dengan cara haram karena itu menyenangkan, padahal nyatanya hanya sesaat, dan setelah itu menyiksa kembali dengan menuntut nafsunya kembali. Terus menerus ia terjebak dalam nafsu yang berulang seperti itu dan dalam cara yang haram, karena cara yang halal tidak memuaskannya. Jadinya ia mengorbankan kesenangan abadi berupa ketenteraman hati dan kekhusyuannya dalam ibadah kepada Allah swt. Ia pun secara otomatis telah mempersembahkan dirinya untuk disiksa di neraka nanti.

Budak-budak harta dan kekayaan adalah contoh lainnya dari mereka yang terjebak pada permainan dunia. Mereka terbawa emosi, terdorong obsesi untuk memilikinya, tertipu nafsu untuk memenangkannya dengan mengalahkan lainnya, padahal ketika ia memperolehnya, yang dirasakannya hanya kesenangan sesaat. Sesudah itu ia harus berlelah-lelah lagi memaksakan emosi, obsesi, dan nafsunya untuk memenangkannya lagi dan memenangkannya lagi. Jadinya ia selalu sibuk dalam permainannya yang kemudian melupakannya dari kenikmatan dzikir, kesenangan tilawah al-Qur`an, kekhusyuan shalat malam, ketenangan shaum sunat, kebahagiaan berbagi, dan keyakinan akan kesejahteraan di akhirat.

Seorang mukmin sudah seyogianya menjadi: “Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna/hiburan/permainan.” (QS. al-Mu`minun [23] : 3); apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya (QS. al-Furqan [25] : 72); dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (QS. al-Qashash [28] : 55).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *