Akal Bulus Jeratan Duniawi

7 months ago
1212

Pada mulanya Rasulullah menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi. Lalu setelah ada perintah dari Allah swt, Rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Begitu pun dengan pengikutnya, pada awalnya hanya kerabat dan teman dekat Rasulullah yang masuk Islam. Namun kemudian banyak tokoh-tokoh dan pembesar Quraisy yang menyatakan diri masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah. Saat ‘api Islam’ masih belum berkobar, kaum kafir Quraisy Makkah berusaha untuk mematikan ajaran Islam. Berbagai macam daya dan upaya dilakukan untuk meredam pergerakan Rasulullah. Terutama dengan cara-cara kekerasan dan penindasan terhadap pengikut Islam yang lemah. Mereka dipaksa untuk keluar dari Islam.  Strategi mereka tidak berhasil. Justru ‘cahaya Islam’ menyala semakin membesar. Terutama setelah beberapa tokoh kafir Quraisy menyatakan diri masuk Islam. Diantaranya Umar bin Khattab dan paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka dikenal sebagai sosok pemberani dan tegas. Mereka juga tidak segan-segan untuk ‘bertarung’ dengan kafir Quraisy yang mengganggu Rasulullah dan dakwah Islam. Begitu lah, dulu mereka membenci Islam, tapi kemudian menjadi pelindung Islam. Situasi dan kondisi itu membuat kaum kafir Quraisy Makkah ketar ketir. Dulu mereka berani mencemooh dan menghina Rasulullah, serta menindas pengikut Rasulullah yang lemah. Namun, setelah ‘jagoan’ kaum kafir Makkah masuk Islam, mereka tidak lagi berani seperti itu. 

Para tokoh kafir Makkah itu akhirnya berkumpul dalam sebuah majelis. Mendiskusikan dan merumuskan strategi baru untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Salah seorang elit kafir Makkah, Utbah bin Rabi’ah, -seorang pemimpin yang memiliki penglihatan tajam terhadap kondisi rakyatnya, bijaksana, cerdas, ramah, dan bisa bekerjasama dengan musuh-, ia menyampaikan usul agar menggunakan cara-cara yang lain, cara-cara yang  lembut untuk menghentikan pergerakan dakwah Rasulullah dia menyatakan: ”Wahai sekalian orang Quraisy, bagaimana jika aku menemui Muhammad untuk menawarkan beberapa hal? Siapa tahu ia bersedia menerima sebagian darinya supaya berhenti mengganggu kita semua?.

Para tokoh kafir Makkah sepakat untuk mengubah taktik dan menyetujui usulan Utbah bin Rabi’ah. Singkat cerita, Utbah bin Rabi’ah lalu menemui Rasulullah yang saat itu tengah berada di dalam kawasan Ka’bah. Ia mendekat dan duduk di samping Rasulullah. Pada kesempatan itu, Utbah langsung melancarkan strateginya yaitu memberikan beberapa penawaran kepada Rasulullah. Sebagai imbalannya, Rasulullah harus menghentikan dakwahnya.   Ada empat penawaran yang diberikan Utbah kepada Rasulullah. Pertama, harta. Jika Rasulullah menginginkan harta, maka Utbah dan para tokoh Makkah akan memberikan semua hartanya sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah. Kedua, kemuliaan. Para pembesar Makkah juga siap menjadikan Rasulullah sebagai orang yang paling mulia diantara mereka, jika beliau menghendakinya. Ketiga, kerajaan. Jika yang diminta Rasulullah adalah kerajaan, maka mereka siap menjadikannya sebagai raja mereka. Keempat, obat paling mujarab. Mereka juga siap menyiapkan obat yang paling ‘ampuh’ dan seorang tabib manakala Rasulullah tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati sendiri, mereka menganggap Nabi kena gangguan jin.

Rasulullah mendengarkannya secara seksama. Setelah menyampaikan beberapa iming-imingan tersebut, Utbah bin Rabi’ah terdiam. Rasulullah acuh dengan semua tawaran yang ditawarkan Utbah tersebut. Beliau tidak menginginkan dan tidak tertarik sama sekali dengan semua tawaran yang ditawarkan Utbah. Dan inilah karakter Rasulullah dalam mempertahankan misi dakwah ilahi. Rasulullah lantas bertanya kepada Utbah. “Apakah engkau sudah selesai bicara wahai Abul-Walid?” tanya Rasulullah. Utbah mengangguk dan menjawab “Iya, sudah selesai.” Rasulullah kemudian meminta Utbah mendengarkan perkataannya. Lalu Rasulullah membacakan QS. Fushshilat ayat 1-14., Rasulullah membaca QS. Fushshilat hingga ayat ke-38 ketika Utbah memintanya untuk menghentikan bacaannya, dengan membekap mulut Rasulullah saw, Utbah merasa takut mendengar ancaman-ancaman dalam ayat tersebut. Melalui ayat-ayat itu, Rasulullah hendak menegaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan Rasul Allah bertugas untuk menyampaikan wahyu berupa kabar gembira dan memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia. Mereka akan selamat jika mengikuti ajaran Rasulullah. Sebaliknya, mereka akan celaka jika menentangnya. .

Setelah itu, Utbah bin Rabi’ah langsung menemui pemuka kaum musyrik Makkah. Dan tentunya Utbah merasa takjub dengan ayat-ayat yang dibacakan oleh Rasulullah saw. Dan itu pun diakui dan disampaikan di hadapan para pembesar musyrik Makkah, Utbah mengaku takjub dengan kata-kata yang disampaikan Rasulullah. Ia tahu jika itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan perdukunan. Kemudian ia meminta para pemuka Quraisy Makkah meninggalkan Rasulullah, tidak mengganggunya lagi. “Demi Allah, engkau telah disihir dengan kalimat-kalimatnya,” kata para pemuka musyrik Makkah itu kepada Utbah.

Tantangan dakwah yang dialami Rasulullah saw sangat luar biasa, dimulai dari penyiksaan, penghinaan, hingga pemboikotan. Itu semua dilakukan agar Nabi berhenti berdakwah menyampaikan risalah Allah swt. Namun Nabi tetap bertahan dalam misi dakwah. Malah makin menambah jumlah kaum muslimin. Dan kita pun yakin, bahwa umat Islam semakin ditindas akan semakin kuat. Tak hanya penindasan dan penyiksaan, mereka kafir Quraisy berusaha mencegah dakwah Nabi dengan iming-iming dunia. Mereka menawarkan harta, tahta, jabatan, dan wanita. Tapi mereka tetap gagal dengan cara seperti itu.

Yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa Nabi sosok yang kuat dan tahan bantingan dalam berjuang.  Termasuk tahan bantingan dengan bujukan rayuan duniawi. Mungkin faktor inilah umat Islam hatta aktifis dakwah sekalipun yang banyak terkecoh dan terjerembap pada kenistaan dunia, yang banyak ditawarkan oleh tangan-tangan setan yang berwujud manusia. Mereka meninggalkan ruh agama, ruh Islam hanya karena tawaran-tawaran menyesatkan  yang pada dasarnya tidak abadi. Inilah kekhawatiran nabi menimpa umatnya. Manakala diberi cobaan kemiskinan mereka mampu bertahan, namun manakala diberi kenikmatan mereka malah justru kufur. Ingatlah sabda Nabi: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ 

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am : 44)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *