Belajar Kembali Menghargai Ulama

6 months ago
1721

Ustadz Abdul Somad (UAS) sampai membuat video khusus untuk menjelaskan fatwa Majelis-majelis Ulama di berbagai negara, termasuk MUI, tentang ditutupnya masjid-masjid raya demi mencegah meluasnya wabah corona. Beberapa hari setelah Majelis Ulama Mesir, Arab Saudi, dan Indonesia mengeluarkan fatwa yang senada secara berurutan, masyarakat muslim bereaksi keras menolak fatwa tersebut. Mereka menumpahkan kekecewaannya di media sosial. Beberapa ada yang masih cukup sopan mempertanyakan fatwa-fatwa tersebut, tetapi sebagian lainnya ada yang sampai memprotes keras bahkan sampai menghujat para ulama penjaga agama Allah swt tersebut. Sekelompok lainnya ada yang acuh tak acuh dan malah mengabaikan sama sekali himbauan dari para ulama dunia tersebut. Mereka kemudian membandingkannya dengan mall dan pusat perbelanjaan lainnya yang tidak ditutup.

Dalam video berdurasi singkat yang diunduh ke media sosial tersebut UAS menyalahkan kaum muslimin yang memprotes keras mall tidak ditutup dengan menuntut masjid-masjid raya untuk tidak ditutup juga. Tidak luput pula UAS menyalahkan kaum muslimin yang malah pergi ke mall ketika masjid-masjid raya ditutup.

Di akhir pernyataannya, UAS kemudian menegaskan: “Saya percaya kepada Majelis Ulama Indonesia dan khusus Mesir, karena saya alumni Al-Azhar. Saya sebagai orang awam yang tidak berilmu ikut ulama-ulama dan guru-guru kami di Al-Azhar yang sudah mengeluarkan keputusan pada tanggal 15 Maret 2020 tentang gugurnya shalat Jum’at dan shalat fardlu (berjama’ah).”

Kepercayaan tersebutlah yang ditekankan UAS kepada umat Islam untuk tidak boleh hilang kepada para ulamanya, sebab Nabi saw sendiri yang telah memberikan jaminan bahwa para ulama adalah pewaris keilmuan Nabi saw, bahkan semua Nabi ‘alaihimus-salam. Nabi saw sendiri juga yang menjamin bahwa ketika ulama bersepakat maka itu mustahil sebuah kesesatan, karena yadul-‘Llah ma’al-jama’ah; keridlaan dan kekuatan Allah ada pada kesepakatan para ulama. Apa yang difatwakan oleh para ulama pasti dasarnya ilmu, bukan hawa nafsu apalagi sikap pengecut yang berlebihan.

Jika UAS saja yang semua orang sudah tahu kadar tinggi keilmuannya merasa sebagai orang awam di hadapan para ulama, dan ia sepenuhnya percaya kepada para ulama yang memberikan fatwa, maka mengapa umat Islam ‘awam yang keilmuannya jauh di bawah UAS berat untuk mempercayai para ulama? Apakah ini tidak berarti bahwa hawa nafsu telah mengalahkan kesadaran diri sehingga mengabaikan ilmu dan merendahkan para ulama?

Pesan singkat dari UAS ini semoga bisa mengingatkan umat Islam untuk belajar kembali bagaimana menghargai ilmu para ulama. Merendahkan mereka berarti merendahkan ilmu kenabian. Merendahkan ilmu kenabian berarti merendahkan Nabi Muhammad saw. Orang-orang yang sudah berani berakhlaq seperti ini tidak pantas lagi mengaku sebagai umat Nabi saw. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *