Fiqih Darurat

4 months ago
1582

Menghilangkan kesulitan dalam menjalani kehidupan itu merupakan diantara tujuan syari’at yang Allah Ta’ala turunkan. Syari’at Allah Ta’ala ini akan selalu menghendaki kemudahan-kemudahan untuk hamba-hamba-Nya. Karena kemudahan itulah agama Islam ini menjadi agama yang sesuai dengan fitrah umat manusia. Allah Ta’ala tidak akan pernah membebani suatu beban kepada suatu seorang hamba dalam perkara agama ini dengan beban di luar kemampuan hamba tersebut. Kemudahan ini sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat al-Qur’an berikut.

{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمْ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمْ الْعُسْرَ} [البقرة: 185]

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Q.S al-Baqarah : 185)

{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ} [الحج: 78]

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Q.S al-Haj : 78)

Begitupula kemudahan itu diperintahkan oleh Nabi saw, dalam sabdanya berikut.

«يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا»

Permudahlah jangalah kalian mempersulit dan gembirakanlah jangan kalian membuat orang lari (H.R al-Bukhari Bab Ma Kanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Yatakhowwalahum bil Mau’izhah wal ‘Ilmi kai Layanfiru. No 69)  

Dari ayat al-Qur’dan dan Hadis ini lahirlah sebuah Qaidah Fiqih dalam khazanah keilmuan para ulama fiqih untuk menjawab kesulitan-kesulitan dalam melaksanakan pelaksanaan syari’at,

الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ

“Kesulitan itu akan menarik kemudahan” (Lihat al-Aysbah wan Nazhair : 76)

Kesulitan-kesulitan itulah yang akan mendorong keringanan (rukhshah) dan kemudahan (takhfif) dari Allah swt. kepada hamba-Nya. Imam as-Suyuti menyebutkan kesulitan yang menarik keringanan dalam syari’at itu ada tujuh macam, yaitu safar (السفر), sakit (المرض) , paksaan (الإكراه) , lupa (النسيان) , kebodohan (الجهل), kesulitan atau bencana (العسر و عموم البلوى)  , dan kekurangan (النقص) . kesulitan-kesulitan inilah yang akan menarik kemudahan syari’at, sebagai contoh karena safar orang dibolehkan mengqashar shalat, karena paksaan orang boleh mengucapkan kekufuran seperti yang dialami oleh ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, atau karena kekurangan yang dimiliki oleh seseorang menjadikan ia terlepas dari beban taklif agama seperti gila.  (lihat al-Asybah wa an-Nazhair : 76 -80)

Dalam kesulitan-kesulitan inilah bahkan, sesuatu yang terlarang itu menjadi diperbolehkan jika memang dalam keadaan darurat. Sebagaimana para ulama menegaskan sebuah kaidah fiqihiyah,

الضَّرُورِيَّاتُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ

“Kedaruratan itu membolehkan yang terlarang” ((lihat al-Asybah wa an-Nazhair : 84)

Sebagai contoh kaidah diatas sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’an, seorang dalam kondisi kelaparan dan terdesak boleh memakan bangkai yang secara asal diharamkan dalam syari’at demi menjaga keberlangsungan hidupnya.

 إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (173)

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S al-Baqarah : 173)

Berdasarkan kaidah-kaidah inilah dalam keadaan darurat dengan konteksnya di negeri ini, jika wabah terus-menerus semakin merebak, syari’at memberikan kemudahan-kemudahan agar umat manusia tetap bisa menjalankan syari’at Allah dengan penuh ketenangan. Meskipun tentu, kedaruratan itu mesti ditimbang kadar kedaruratannya, apakah memang pertimbangan kedaruratan itu telah tepat menjadikan rukhshah terhadap suatu pelaksanaan ibadah ataukah justru masih berada dalam lingkup kemampuan seorang hamba? Dalam hal ini tentu kita mesti cermat dalam menimbang dan menakar kedaruratan dalam memahami fiqih wabah saat ini.  Wallahu A’lam bis Shawwab wa Lillahil Hamdu wal Minnatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *