Kenikmatan Yang Sudah Dirasakan Masih Lebih Banyak

3 months ago
1835

Tidak bisa dipungkiri, Pandemi Covid-19 menjadi musibah besar bagi umat manusia, termasuk umat Islam. Terlebih di masa ibadah Ramadlan dan akan menyongsong Lebaran seperti saat ini. Ada banyak ketidakbiasaan yang harus dijalankan dari mulai ibadah yang dibatasi sampai mencari nafkah yang juga jadi terbatasi. Bagaimana umat Islam mesti menyikapi semua ini dengan tepat sehingga tetap bisa melalui masa-masa musibah ini dengan kebahagiaan? Seorang ulama muda, yang juga praktisi Islamic hypnoparentin, dan conseling therapy, Ustadz Ucu Najmudin, akan menjelaskannya panjang lebar untuk pembaca Majalah Tafaqquh sekalian. Selamat menikmati.

Sudah banyak masyarakat yang terdampak akibat pandemi Covid-19 saat ini. Ditambah mereka sedang menjalani ibadah Ramadlan dan akan menghadapi lebaran, yang biasanya akan membutuhkan finansial banyak, tetapi nyatanya saat ini sangat terbatas. Menurut Ustadz, bagaimana seharusnya sikap umat menghadapi Ramadlan dan Lebaran di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini?

Sebetulnya perjalanan hidup manusia itu, ada dan tidak adanya musibah pasti akan seperti ini. Ketika kita berbicara tentang kondisi sekarang, sudah lebih lama kenikmatan itu kita dapatkan. Bulan Ramadlan tanpa keadaan seperti ini lebih banyak terhitung kecuali bagi dia yang baru menikmatinya di tahun ini, pasti akan merasa terkejut dan kaget. Tapi bagi kita sebetulnya tidak perlu merasakan demikian, karena kenikmatan yang telah kita dapatkan di bulan Ramadlan sebelumnya lebih banyak daripada musibah yang terjadi saat ini. Maka seharusnya, kita lebih cerdas dalam memahami dan merasakan kondisi saat ini.

 Kondisi seperti ini justru merupakan peluang dalam memahami nikmatnya hidup sehingga lebih terasa. Pertama, perlu rasa syukur kita terapkan, karena telah banyak kenikmatan yang didustakan, sehingga kenikmatan yang kita rasakan seolah-olah hilang akibat dari rasa syukur yang diabaikan. Kedua, perlu diterapkan kesabaran yang bernilai. Walau memang karena manusia mempunyai dua otak, yaitu otak spiritual dan otak korteks, sehingga ketika kita berdo’a kepada Allah swt tetapi ekonomi kita terpuruk memang tidak bisa dibohongi pasti akan terganggu jiwanya. Maka jalani saja dahulu, bagaimana nikmat ibadah di saat seperti ini dan kita tidak perlu protes terhadap keadaan karena jika kita protes terhadap keadaan maka kita seperti memprotes ketentuan Allah swt.

 

Di kota Bandung sendiri sudah diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Aktivitas masyarakat dibatasi dan keluar rumah pun diminimalisir sehingga menjadi mindset di tengah jama’ah seakan-akan semuanya terbatas. Langkah yang paling awal untuk dilakukan dalam mengubah semua itu, bagaimana Ustadz?

Sesuatu yang manusiawi, karena sesuatu yang berhubungan dengan humanisme tidak bisa dibohongi. Lingkungannya sangat mempengaruhi. Bahkan di dalam tubuh kita ada sel yang mempengaruhi pikiran, hati, dan juga tubuh. Tetapi kembali kepada diri kita apakah akan dijadikan sebuah kecemasan ataukah introspeksi diri. Keterbatasan ini jangan sampai membuat keterbatasan diri dalam berpikir. Biarkan daerah kita lockdown tapi jangan sampai pola pikir kita yang lockdown. Adapun kegiatan di rumah maka kerjakanlah yang bermanfaat dan banyak bereksplorasi. Sekalipun cemas, tidak boleh berlebihan karena memang manusiawi. Dan bagaimana kita me-menage kejadian yang terjadi pada diri kita dan kuncinya adalah hidup bahagia.

 

Sering ada pertanyaan, Ramadlan itu biasanya kegiatan di masjid semarak; ada tarawih, tadarus al- Qur’an, dan kajian di mana-mana. Hari ini setelah PSBB diberlakukan, maka aktivitas menjadi terbatas. Adakah dampak spiritual tersendiri ketika aktivitas Ramadlan banyak di rumah dan tidak ada lagi kegiatan berjama’ah di luar?

Otomatis akan ada energi dan vibrasi yang pasti kurang. Dan nanti suasana Ramadlan itu akan bersifat autisme; individual. Jadi ramai dan nikmatnya bulan Ramadlan tergantung keadaan di rumahnya. Adapun ketika berkegiatan di masjid secara berjama’ah otomatis akan terasa ramai dan nikmat secara keseluruhannya. Dampak ini pasti akan luar biasa. Energi dan vibrasi, gelombang-gelombang yang awalnya di setiap masjid bergema dan orang-orang yang berjalan beramai-ramai jadi hilang. Sebetulnya kita banyak kehilangan pahala dari peristiwa ini tapi kehilangan pahalanya yang berkaitan dengan keutamaan masjid saja karena dibatasi. Kalau pun ini benar-benar dari skenario Allah swt, kita tetap mendapat pahala darinya dan disebut syahid ketika meninggal pun. Tapi kalau ini bukan skenario Allah swt akan tetapi diciptakan oleh manusia, maka mereka telah berbuat zhalim yaitu menghentikan rutinitas ibadah yang biasanya dilakukan tapi sekarang tidak.

 

Ketika kondisi pandemi hari ini semua orang dirumahkan dan aktivitas pun dirumahkan, justru banyak terjadi perselisihan di antara keluarga, mungkin karena tidak terbiasa setiap hari secara langsung berjumpa, kemudian hari ini di rumah terus. Untuk menjadikan kegiatan Ramadlan di rumah berkualitas, saran Ustadz bagaimana?

Komunikasi harus bagus, karena faktor-faktor ini memang mempengaruhi keharmonisan keluarga terutama faktor yang terasa berat itu adalah faktor ekonomi. Sekarang penanggulangan pangan itu tetap karena orang-orang memiliki kebutuhan. Tetapi orang yang biasa mempunyai cicilan merasa berat, orang yang mau sekolah pun sama. Kalau orang yang mempunyai gaji tetap, itu no problem seperti pegawai negeri dan pejabat-pejabat. Tetapi bagi orang yang tidak seperti mereka, yang hanya mendapatkan bungkusan satu paket sembako, belum menyelesaikan masalahnya. Hanya kebahagiaan sesaat yang mereka dapatkan. Maka tugas kita adalah saling mengasihi orang-orang di dunia dan nanti Allah swt akan mengasihi kita di akhirat. Dan hanya ada satu tempat untuk berharap sekarang, yaitu bukan kepada manusia. Jangankan Ustadz ataupun Kyai, tingkat Dokter atau Profesor pun untuk menghindari penyakit ini tidak mungkin bisa karena mereka juga banyak yang terkena. Jadi tidak ada jalan lain selain berharap kepada Allah swt, kita pakai logika ilahiyyah saja. Kita tunggu keajaiban dari Allah karena jika kita memaksakan pakai sistem SOP manusia, pasti tidak akan tergambarkan. Maka janganlah berhenti tahajjud, membaca al-Qur’an, dan bershadaqah.

 

Mengenai berita-berita yang sering kita dapatkan, dan sebagiannya membuat kita semakin pusing, perlukah berhenti sejenak menyimak berita?

Perlu dan tidak perlu. Perlunya ya kita bisa menyaring lah Sekiranya menimbulkan pirudeten (membuat pusing) jangan ditonton atau dibaca. Tapi sekiranya dapat memberi informasi perlu juga sih. Tapi sekiranya pibahayaeun (membuat bahaya) kayak berita kematian jangan dibaca karena akan menambah beban pikiran, kecuali berita yang sembuhnya teu nanaon (tidak apa-apa). Jadi sebetulnya apa yang di-input ke otak kita akan mempengaruhi sistem tubuh kita. Dan kita yang memilih input kita.

 

Nasihat Ustadz untuk umat Islam dalam menghadapi pandemi ini?

Pertama, seringlah bersilaturahmi. Jika ada pertanyaan mengapa di saat kita tidak boleh banyak berinteraksi justru Ustadz menganjurkan bersilaturahmi, jawabannya, silaturahmi yang dimaksud itu dengan suami, istri, dan anak, ataupun dengan orang-orang di luar dengan jalur yang kita mampu. Yang kedua, pakailah standar operasional Allah (ilahiyyah) dalam menjalani hidup karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di balik kejadian ini. Dan tidak ada kejadian yang tidak ada hikmahnya. Ketiga, husnuzhan dalam hidup yaitu selalu berprasangka yang baik. Karena kalau kita berprasangka negatif terus, itu tidak bagus. Ini betul-betul implikasi surat al-Baqarah wa lanabluwannakum bisyai`in minal-khaufi wal-jụ’i wa naqshim-minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt, wa basysyirish-shābirīn (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar). Tidak ada sesuatu pun yang bukan skenario dari Allah swt dan itu sudah ada di dalam ayat al-Qur’annya tinggal kita menjalankannya seperti apa.

Elfa Muhammad Ihsan Al-Aufa dan Tim Reporter Santri Pesantren Persis 27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *