Manajemen Bahagia di Masa Pandemi Corona

3 months ago
1779

Hampir tidak ada seorang pun yang tidak berkurang kebahagiaannya di masa pandemi Corona seperti saat ini. Terlebih setelah aktivitas ibadah di bulan Ramadlan dan Lebaran nanti pun dibatasi. Padahal Ramadlan dan Lebaran merupakan puncak ibadah umat Islam pada umumnya. Kebahagiaan umat Islam sepenuhnya ada pada kebahagiaan beribadah. Apakah itu berarti Ramadlan dan Lebaran yang akan dihadapi pasti tidak akan dijalani dengan bahagia? Apakah memang tidak ada celah sedikit pun untuk bahagia di masa-masa wabah penyakit?

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah diterapkan di berbagai kota besar di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. PSBB yang diterapkan juga untuk kota-kabupaten sekitarnya otomatis memaksa warga setempat membatasi aktivitasnya; mulai dari kegiatan belajar, bekerja, hiburan, sampai ibadah. Pembatasan aktivitas yang otomatis akan membatasi juga sumber pendapatan ekonomi sehari-hari warga setempat. Semuanya terpaksa dijalankan demi menghindari bahaya yang lebih besar, yakni penyebaran virus Corona jenis Covid-19 yang mematikan dan belum ditemukan obat atau vaksinnya.

Perasaan tertekan pasti akan dirasakan oleh semua orang yang tidak nyaman kegiatannya dibatasi. Kegiatan bekerja, wisata, sampai mudik pun dilarang. Perasaan tertekan juga lahir akibat ketakutan terserang virus Covid-19. Terlebih setiap kali membuka laman berita, informasi seputar perkembangan yang masih selalu bertambah buruk, pasti akan selalu menambah ketakutan. Sehingga tidak heran banyak masyarakat yang kemudian bersikap apatis dengan perkembangan informasi penyebaran Covid-19 ini agar pikiran bebas dari hal-hal yang menakutkan.

Yang paling membuat tertekan dari semuanya itu adalah pembatasan ibadah yang bertepatan dengan bulan Ramadlan dan akan menyongsong Lebaran. Ibadah jum’at dilarang, shalat wajib berjama’ah demikian juga, shalat Tarawih, kegiatan majelis ta’lim, i’tikaf, sampai shalat ‘Idul-Ftihri beserta silaturahminya semuanya tidak boleh diamalkan demi membatasi penyebaran virus Covid-19.

Pembatasan ibadah ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia, mengingat penyebaran Covid-19 ini sudah menjadi pandemi meliputi seluruh wilayah di dunia. Majelis-majelis Ulama di berbagai negara sama memfatwakan agar kegiatan ibadah yang melibatkan banyak jama’ah, khususnya di bulan Ramadlan dan memasuki ‘Idul-Fithri, bahkan sampai ibadah haji nanti, harus dihentikan sementara. Semua ibadah difokuskan di rumah saja.

Hindari Konflik dan Silang Pendapat

Hal pertama yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah menghindari konflik semaksimal mungkin dalam menyikapi kebijakan-kebijakan Pemerintah atau majelis-majelis ulama yang pasti dirasakan tidak bersahabat di atas. Terlebih di bulan Ramadlan dengan syari’at shaum yang sedang dijalankan seperti saat ini, dimana setiap orang dituntut untuk mampu menahan diri dari konflik dan perselisihan dengan mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sedang shaum. Nabi saw sendiri sudah dari sejak awal mengingatkan:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

Shaum adalah tameng. Maka jangan berkata kotor dan berbuat bodoh. Jika ada orang lain yang mengganggu atau menghina, katakanlah: “Aku sedang shaum. Aku sedang shaum.” (Hadits Abu Hurairah dalam Shahih al-Bukhari bab fadllis-shaum no. 1894).

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِنَّماَ الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

Shaum itu bukan dari makan dan minum. Hanyasanya shaum itu dari laghw (perbuatan sia-sia) dan rafats (perkataan tidak senonoh). (al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain kitab as-shaum no. 1520)

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (yang tidak diizinkan Allah) dan juga perbuatannya, maka Allah tidak punya kepentingan (tidak akan memberi pahala) terhadap usahanya meninggalkan makan dan minum. (Shahih al-Bukhari kitab as-shaum bab man lam yada’ qaula az-zur wa al-‘amal bihi fi as-shaum no. 1903)

Perselisihan pendapat dan konflik termasuk rafats (berkata kotor), jahl (bersikap bodoh), laghw (hal yang tidak bermanfaat), qauluz-zur (berkata sia-sia), dan ‘amal bihi (perbuatan sia-sia) yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas, sebab jelas tidak akan ada manfaatnya selain memperburuk keadaan saja. Semua lapisan masyarakat harus berprasangka baik atas ijtihad Pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi kemasalahatan bersama. Masalah Pemerintah yang tidak sigap melakukan tes massal atau memberikan santunan dikembalikan lagi pada tuntunan syari’at yang umum untuk selalu sabar atas pemberian. Jika menerima bersyukur, tetapi ketika kebetulan tidak atau belum menerima maka bersabar saja. Sikap protes berlebihan yang berujung pada konflik tidak akan menyelesaikan masalah. Memperjuangkan hak silahkan saja asalkan caranya baik, tidak dengan perkataan dan sikap yang kasar dan kotor. Sikap-sikap yang mengarah pada konflik hanya semakin menjauhkan kebahagiaan dari kehidupan. Sikap dan perkataan yang kasar ketika tidak menerima bagian hanya pantas dilakukan oleh orang-orang munafiq:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ (58) وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ (59)

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka) (QS. at-Taubah [9] : 58-59).

Tetapi tentunya tuntunan yang dijelaskan dalam ayat al-Qur`an dan hadits-hadits di atas tidak untuk dijadikan dalih oleh Pemerintah untuk tidak teliti dalam mengeluarkan kebijakan dan mengimplementasikannya di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah wajib paham bahwa ketaatan masyarakat kepada pemimpin itu terikat syarat pemenuhan amanah dari pemimpin kepada rakyat. Jika rakyat cenderung tidak taat kepada pemimpin maka pemimpin tidak perlu menerapkan hukuman yang kontraproduktif karena hanya akan semakin membuat masyarakat tertekan saja dan tidak akan jadi maslahat. Al-Qur`an sudah memberikan tuntunan bahwa sebelum menuntut ketaatan kepada Ulil-Amri, pihak Ulil-Amrinya sendiri harus menunaikan amanah kepada mereka yang berhaknya, dalam hal ini rakyat. Jadi ketika rakyat banyak yang tidak mengindahkan aturan Pemerintah, maka sebaiknya Pemerintah lebih sigap lagi dalam memenuhi hak rakyatnya.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. an-Nisa` [4] : 58).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. an-Nisa` [4] : 59).

Dua ayat di atas difirmankan Allah swt secara berturut-turut. Ayat pertama, ayat 58 dari surat An-Nisa`, ditujukan kepada para pemimpin untuk memenuhi hak rakyatnya. Sementara ayat kedua, ayat 59 dari surat an-Nisa`, ditujukan kepada rakyat untuk mematuhi para pemimpinnya. Disandingkannya dua ayat di atas dengan menyebutkan kewajiban pemimpin terlebih dahulu menunjukkan bahwa hak taat dari rakyat berbanding lurus dengan kewajiban pemimpin dalam memenuhi hak rakyatnya.

Maka dari itu dalam ayat 59 di atas, khusus untuk Ulil-Amri tidak ada pengulangan lafazh athi’u seperti pada Allah dan Rasul. Menurut al-Hafizh Ibn Hajar atsar dari tabi’in berikut ini menjadi jawaban yang paling bagusnya. Ketika para ulama tabi’in diinterogasi oleh para penguasa Bani Umayyah:

قَالَ لَهُ : أَلَيْسَ اللَّه أَمَرَكُمْ أَنْ تُطِيعُونَا فِي قَوْله وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَقَالَ لَهُ : أَلَيْسَ قَدْ نُزِعَتْ عَنْكُمْ – يَعْنِي الطَّاعَةَ – إِذَا خَالَفْتُمْ الْحَقَّ بِقَوْلِهِ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Pemimpin itu berkata: “Bukankah Allah telah memerintah kalian untuk taat kepada kami dalam firman-Nya: ‘…dan ulil amri di antara kamu’?” Jawaban mereka: “Bukankah sungguh telah tercabut dari kalian ketaatan itu apabila kalian menyalahi kebenaran dengan firman-Nya: ‘Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah…” (Fathul-Bari kitab al-ahkam)

Itu artinya bahwa ketaatan kepada ulil-amri tidak mutlak seperti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena ulil-amri adakalanya menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya, demikian Imam at-Thibi menjelaskan. Maka dari itu, dalam berbagai haditsnya, Nabi saw menegaskan bahwa yang harus ditaati itu adalah: amirku. Artinya bukan sembarangan amir yang harus ditaati oleh umat Islam, melainkan amir yang mengikuti jalan dan petunjuk Nabi saw.

مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِى، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِى، وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا، وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Siapa yang menaatiku maka sungguh ia telah menaati Allah, dan siapa yang maksiat kepadaku maka sungguh ia telah maksiat kepada Allah. Siapa yang menaati amirku, maka sungguh ia telah menaatiku, dan siapa yang maksiat kepada amirku maka sungguh ia telah maksiat kepadaku. Dan sesungguhnya imam itu tameng. Dia, diperangi dari belakangnya (perang untuk membela imam) dan dilindungi. Maka jika ia memerintahkan taqwa kepada Allah dan adil, maka sesungguhnya ia akan mendapatkan pahala dengan sebab itu. Dan jika ia berkata yang selainnya, maka ia akan mendapatkan siksa dari sebab itu.” (Shahih al-Bukahriy kitab al-jihad bab yuqatalu min wara`il-imam wa yuttaqa bihi no. 2957 dan kitab al-ahkam bab qaulil-‘Llah ta’ala: athi’ul-‘Llah wa athi’ur-rasul wa ulil-amri minkum no. 7137; Shahih Muslim kitab al-imarah bab wujub tha’atil-umara fi ghairi ma’shiyah wa tahrimiha fil-ma’shiyah no. 4852, 4854)

Salah satu syarat seorang pemimpin masuk kategori “Amirku” (pemimpin yang diridlai Nabi saw) adalah pemimpin yang menunaikan hak rakyatnya dengan tidak memberatkan mereka. Nabi saw pernah berdo’a ketika beliau berada di rumah ‘Aisyah ra:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku meski itu sedikit, lalu ia memberatkan mereka, maka beratkanlah kehidupannya. Dan siapa saja yang mengurus urusan umatku meski itu sedikit, lalu ia bersikap lembut mereka, maka berikanlah kemudahan kehidupannya (Shahih Muslim bab fadlilatil-imamil-‘adil wa ‘uqubatil-ja`ir no. 4826).

“Ulama Negeri” vs “Ulama Kampung”

Termasuk dalam hal ini menghindari semaksimal mungkin konflik pendapat dalam menyikapi perbedaan ijtihad “Ulama Negeri” dan “Ulama Kampung”. Dua istilah ini memang bukan istilah yang baku, tetapi merujuk fakta yang saat ini ada di tengah-tengah masyarakat. “Ulama Negeri” merujuk pada ulama yang terhimpun di Majelis Ulama atau ormas-ormas Islam dan berpikir dalam lingkup negeri secara keseluruhan. Mereka berijtihad berdasarkan pandangan yang luas mencakup seluruh Negeri bahwa pandemi Corona sudah masuk dalam tahap rawan untuk seluruh Negeri, oleh karena itu masjid-masjid di seluruh Negeri; baik kota atau kabupaten, harus menutup kegiatannya dari shalat wajib berjama’ah, shalat Jum’at, Tarawih, majelis ta’lim, i’tikaf, termasuk nanti dari shalat ‘Idul-Fithri. Sementara “Ulama Kampung” merujuk pada ulama yang tinggal di perkampungan dan berpikir dalam lingkup kampung mereka saja. Bagi mereka, sesudah pandemi corona lewat dua bulan seperti saat ini dan faktanya di jama’ah mereka dan masyarakat sekitarnya tidak ada yang ODP, PDP, apalagi yang positif Corona, maka menutup masjid dari kegiatan-kegiatan yang wajib adalah sebuah pelanggaran syari’at. Maka dari itu laporan pandangan mata dari berbagai daerah melalui media sosial masih saja ditemukan masjid-masjid yang aktif membuka kegiatan ibadah meski masih dalam lingkup terbatas.

Sebagai bentuk “manajemen konflik” agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka masing-masing pihak yang pro “Ulama Negeri” atau “Ulama Kampung” sudah seyogianya memahami perbedaan kebijakan ulama di atas didasarkan pada perbedaan ijtihad. Ulama yang berijtihad meski salah sekalipun tidak akan ada yang berdosa. Kedua kelompok ulama dan umat di atas akan mendapatkan pahala masing-masing. Maka dari itu sesama yang akan mendapatkan pahala jangan kemudian saling silang pendapat yang kontraproduktif.

Bagi masyarakat yang cenderung sependapat dengan “Ulama Negeri” sementara DKM setempat lebih memilih ijtihad “Ulama Kampung”, maka cukup dengan menahan diri beribadah di rumah saja. Tidak perlu merasa pahala akan berkurang banyak jika memang masih ada ketakutan dalam hati yang tidak mungkin ditutup-tutupi. Ketakutan semacam itu masuk katefori rukhshah (keringanan) yang membolehkan ibadah di masjid ditinggalkan, baik itu shalat wajib berjama’aah, shalat Jum’at, Tarawih, dan kegiatan bermajelis lainnya. Tidak perlu juga menghasut jama’ah lainnya hanya untuk memperbanyak kelompok sendiri saja, apalagi jika sampai menyulut permusuhan di tengah-tengah jama’ah setempat. Demikian halnya sebaliknya, DKM setempat yang mengikuti ijtihad “Ulama Kampung” tidak perlu berprasangka jelek kepada jama’ah tidak beribadah di masjid. Cukup hargai saja ijtihad mereka, sebab khauf sesuatu yang alami dan tidak bisa dipaksakan untuk dihilangkan.

Semua pihak harus mengingat kembali hadits-hadits tentang seruan shallu fi buyutikum (anjuran shalat di rumah). Ketika Nabi saw memerintahkan muadzdzin untuk mengumandangkan shallu fi buyutikum, Nabi saw sendiri bersama jama’ah yang dekat tetap shalat di masjid. Artinya bagi mereka yang tidak merasa berat untuk datang ke masjid, silahkan datang. Tetapi bagi mereka yang berat untuk datang ke masjid silahkan shalat saja di rumah. Masing-masing yang beribadah di masjid dan rumah tidak perlu saling menghujat dan menghasut.

Kasus di atas bisa juga terbalik di berbagai masjid. Jama’ahnya ingin mengikuti ijtihad “Ulama Kampung”, sementara DKM-nya mengikuti ijtihad “Ulama Negeri” dengan menutup masjid dari semua kegiatan ibadah meski di bulan Ramadlan seperti saat ini. Maka jama’ah yang ingin ibadah di masjid tinggal mencari masjid lain saja yang mudah dijangkau untuk beribadah, dengan menanggalkan segala prasangka buruk dan kedengkian kepada DKM yang masjidnya biasa dijadikan tempat ibadahnya. Jika tidak ada yang terjangkau maka berarti cukup bersabar dengan beribadah di rumah saja, sebab sedang ada udzur syar’i yakni masjid yang ditutup akibat khauf dari penularan Covid-19.

Hal yang sama berlaku juga dalam ijtihad shaf renggang, dimana sebagian masjid memberlakukannya dan sebagian lainnya tidak memberlakukannya. Jama’ah masjidnya sendiri juga selalu terbelah pada dua pendapat antara memilih shaf renggang atau tetap harus rapat. Maka dalam hal ini kewenangan sepenuhnya ada pada imam shalat di masjid setempat. Jika imam menginstruksikan harus tetap rapat shaf, makmum harus menigkutinya. Makmum yang tidak sependapat cukup shalat di pinggir sehingga tidak mengganggu kerapatan shaf, atau shalat munfarid saja di rumah, karena itu artinya ada unsur khauf dalam dirinya yang cukup untuk menjadi udzurnya. Dalam hadits sendiri memang tidak ditemukan rukhshah dari shalat berjama’ah dengan merenggangkan shaf, yang ada dengan shalat di rumah masing-masing. Jadi jika tidak sependapat dengan shaf rapat, sebaiknya jama’ah mengalah dengan shalat di rumah saja munfarid, atau berjama’ah di rumah sendiri dengan shaf renggang.

Demikian sebaliknya, jika jama’ah ingin tetap rapat shaf sementara DKM setempat memberlakukan shaf renggang, maka jama’ah yang merasa shalat berjama’ahnya tidak sah tinggal mencari masjid lain yang sesuai ijtihadnya, atau shalat di rumah saja karena ada udzur syar’i di masjid, yakni tidak terpenuhi rukun shalat berjama’ah berdasarkan ijtihadnya. Hal-hal yang sekiranya mengarah pada konflik ijtihad sudah semestinya dihindari.

Manajemen Sabar

Yang paling pokok dari semua itu tentu adalah manajemen sabar. Sabar sebagaimana dijelaskan ar-Raghib dalam kitab Mu’jamnya adalah al-imsak fi dlaiq; bertahan dalam kesempitan/kesusahan. Definisi yang paling sempurna untuk sabar menurut al-Hafizh Ibn Hajar adalah:

حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْمَكْرُوْهِ وَعَقْدُ اللِّسَانِ عَنِ الشَّكْوَى وَالْمُكَابَدَةُ فِي تَحَمُّلِهِ وَانْتِظَارِ الْفَرَجِ

Menahan diri dari hal yang dibenci, mengikat lisan dari mengeluh, siap bersusah payah ketika menanggungnya dan menunggu kelapangan tiba (Fathul-Bari bab as-shabr ‘an maharimil-‘Llah).

Secara khusus dalam kondisi sulit ekonomi akibat pandemi ini dimana pendapatan berkurang dan santunan tidak kunjung menerima, manajemen sabar mutlak diterapkan. Nabi saw mengajarkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri berikut:

عن أَبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ أُنَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ r فَلَمْ يَسْأَلْهُ أَحَدٌ مِنْهُمْ إِلَّا أَعْطَاهُ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ نَفِدَ كُلُّ شَيْءٍ أَنْفَقَ بِيَدَيْهِ مَا يَكُنْ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لَا أَدَّخِرْهُ عَنْكُمْ وَإِنَّهُ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra: Ada beberapa orang Anshar yang meminta kepada Rasulullah saw. Tidak ada seorang pun dari mereka yang meminta melainkan beliau memberinya. Bahkan sampai habis apa yang ada pada beliau. Waktu itu beliau bersabda kepada mereka: “Harta yang ada padaku tidak mungkin aku sisakan dari kalian. Hanya siapa yang menahan diri, pasti Allah menjadikannya mampu bertahan. Siapa yang bersabar, pasti Allah akan memberinya kesabaran. Dan siapa yang mencukupkan diri, pasti Allah memberinya kecukupan. Dan tidaklah kalian diberi satu pemberian yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.” (Shahih al-Bukhari bab as-shabr ‘an maharimil-‘Llah no. 6470)

Hadits ini mengajarkan kepada siapa pun yang sedang mengalami kesempitan untuk bertahan, sebab itulah satu-satunya yang terbaik untuk dilakukan ketika hidup dalam kesusahan. Dalam hadits ‘Abdullah ibn ‘Abbas ra, Nabi saw memberi nasihat:

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Ketahuilah dalam kesabaran atas hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan, bahwa pertolongan itu datang setelah kesabaran, kelapangan itu datang setelah kesempitan, dan kemudahan itu datang setelah kesulitan (Musnad Ahmad bab hadits Ibn ‘Abbas no. 2804).

Secara khusus nasihat dalam hadits Abu Sa’id di atas Nabi saw tujukan kepada orang yang tidak mendapatkan pemberian. Ini tentu lebih menyakitkan; sudah ia hidup susah, tidak ada juga yang memberi. Namun tidak ada lagi yang terbaik untuk diamalkan selain sabar, sebab pertolongan Allah swt pasti tiba, hanya harus sabar saja. Jadi tinggal buktikan sabar saja.

Di sanalah kehebatan manajemen hidup dari seorang mukmin itu sendiri, sebagaimana disabdakan Nabi saw dalam hadits. Apapun yang dialaminya baik senang atau susah tidak akan ada yang jelek baginya, melainkan selalu mampu mengolahnya sehingga menjadi sebuah kebahagiaan.

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh hebat urusan seorang mukmin itu, karena semua urusan hidupnya selalu baik untuknya. Dan itu tidak akan dialami kecuali oleh seorang mukmin. Jika datang kepadanya kesenangan, ia syukur, maka itu jadi baik baginya. Dan jika kesusahan menimpanya, ia sabar, sehingga itu pun jadi baik baginya (Shahih Muslim bab al-mu`min amruhu kulluhu khair no. 7692).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *