

Bertambahnya pengetahuan seringkali menjadi faktor utama hadirnya motivasi bagi diri seseorang. Semakin banyak tahu tentang kisah istri-istri yang sabar, maka semakin besar pula peluang untuk menghadirkan motivasi bagi diri para istri saat ini untuk bersikap sabar pula. Apalagi di tengah kondisi yang sedang menimpa negeri ini, yaitu musibah pandemi Covid-19. Entah akan berakhir sampai kapan, namun yang pasti musibah ini akan berlalu saat masanya telah sempurna. Sebagaimana malam yang akan berganti siang saat waktu malam telah mencapai puncak kesempurnaannya. Begitupun dengan siang yang akan berganti malam, saat kesempurnaan waktu siang telah mencapai puncaknya. Hal inilah yang disebut sebagai salah satu kaidah alam di dalam melihat sebuah musibah, demikian menurut Dr. ‘Â`idl al-Qarnî dalam kitabnya Hâkadzâ Haddatsanaz-Zamân.
Wahai muslimah yang bergelar “istri”, kalian perlu tahu! Jauh pada waktu yang lampau, Allah Ta’âlâ telah hadirkan uswah (tauladan) para istri yang sabar, agar menjadi pelajaran bagi para istri yang hidup setelahnya. Mereka ditimpa musibah dengan bentuknya masing-masing. Ada yang diuji dengan hartanya, kesehatannya, orang yang disayanginya, dan bahkan hingga nyawanya. Namun mereka mampu bertahan dari musibah yang dihadapinya. Dengan musibah yang berat itu tidak menjadikan mereka kufur kepada nikmat yang telah Allah Ta’âlâ berikan kepadanya. Mereka tetap kuat keimanannya, dan kokoh kesabarannya. Sosok tersebut antara lain adalah Fâthimah bintu Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, Ummu Sulaim bintu Milhân, Su’airah al-Asadiyah, dan ibu dari kisah Ashâbul-Ukhdûd.
Fâthimah az-Zahrâ istri‘Alî ibn Abî Thâlib yang rumah tangganya dikenal dengan kesederhanaanya. Di kisahkan bahwa Fâthimah pernah menarik alat untuk menyirami tanaman hingga berbekas di tangannya, menggendong qirbah (tempat air terbuat dari kulit) hingga berbekas pada lehernya, dan menyapu rumah hingga debu mengotori pakaiannya. Dalam kondisi seperti itu, ada seseorang menyarankan kepadanya untuk memint pembantu kepada ayahandanya, yaitu Rasûlullâh. Akhirnya ia mendatangi ayahnya dengan bermaksud meminta pembantu untuk membantu pekerjaan rumahnya. Namun, Nabi menjawab, “Bertakwalah engkau kepada Allah wahai Fâthimah, tunaikanlah kewajiban Tuhanmu, dan laksanakanlah pekerjaan keluargamu. Kemudian, apabila engkau bersiap untuk tidur, maka bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali, sehingga berjumlah seratus. Maka hal tersebut lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.” Lalu Fâthimah menjawab, “Aku ridla kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Selanjutnya, kisah Ummu Sulaim bintu Milhân, ia merupakan ibu dari Anas ibn Mâlik dan juga saudarinya Ummu Harâm bintu Milhân. Sebelum memeluk Islam, ia telah menikah dengan Mâlik ibn an-Nadlr, dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Anas. Lalu, ia masuk Islam bersama dengan orang-orang yang pertama masuk Islam dari kaum Anshâr. Mengetahui hal itu, Mâlik (suaminya) marah, namun Ummu Sulaim tetap teguh dengan pendiriannya seraya mengucap syahadat di hadapan semuaminya, “Tidak ada Ilah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.” Saat suaminya meninggal dalam peperangan di Syam, datanglah Abû Thalhah untuk meminangnya. Ummu Sulaim menolaknya karena ia masih musyrik dan ia tidak menginginkan mahar apapun selain daripada keislamannya. Akhirnya, Abû Thalhah masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim dengan Islam sebagai maharnya. Kisah pernikahan ini yang disebut dengan صداق ما بينهما الإسلام (Mahar pernikahan keduanya adalah Islam). Dari sanalah kisah kesabaran Ummu Sulaim baru dimulai. Dari pernikahannya itu, keduanya dikarunia anak. Namun tiba saatnya, anaknya meninggal dunia dalam usia belia. Ummu Sulaim sangat terpukul dengan kematian anaknya di saat suaminya sedang tidak ada di rumah. Namun, kesabarannya lebih besar dari musibah yang menimpanya. Dengan tegar ia mengatakan kepada keluarganya, bahwa jangan mengabarkan apapun kepada Abû Thalhah sampai dia sendiri yang akan memberitahukan tentang kematian anaknya. Sepulangnya Abû Thalhah ke rumah, Ummu Sulaim tidak menampakkan wajah sedihnya, seperti biasa ia menghidangkan makan malam kepada suaminya. Ia makan dan minum dengan senang. Lalu, Ummu Sulaim berhias lebih cantik dari biasanya, hingga Abû Thalhah bercumbu dengannya. Setelah ia mengetahui bahwa Abû Thalhah telah merasa lega dan puas, ia bertanya kepadanya, “Wahai Abû Thalhah, bagaimana menurutmu jika ada sekelompok orang memberikan pinjaman kepada suatu keluarga. Kemudian, sekelompok orang tersebut meminta pinjaman tersebut dikembalikan. Apakah boleh keluarga itu menolaknya?” Abû Thalhah menjawab dengan mantap, “Tentu tidak boleh.” Lalu ia berkata, “Maka relakanlah putramu. Ia telah diminta kembali oleh Pemiliknya, Dzat Pemilik Seluruh Alam.”
Lalu selanjutnya, kisah Su’airah al-Asadiyah, wanita yang dijamin surga, buah dari kesabarannya. Kisah ini tercantum dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Ia mengadukan kepada Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tentang penyakitnya (epilepsi). Setiap kali penyakitnya kambuh, maka auratnya seringkali tersingkap. Dan ia memohon agar Nabi berkenan mendoakan demi kesembuhannya. Beliau bersabda, “Jika engkau berkenan untuk bersabar, maka bagimu surga. Dan jika engkau berkenan untuk sembuh, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Lalu Su’airah menjawab, “Aku akan bersabar,” dan ia menambahkan, “Berkenankah engkau mendoakanku agar auratku tidak tersingkap saat penyakit ini kambuh.” Maka, Nabi pun mendoakannya.
Terakhir, kisah seorang ibu yang bersabar dalam memeluk agama Islam, walau harus dibakar beserta dengan anaknya. Kisahnya dinekal dengan kisah Ashhâbul-Ukhdûd. Ia kokoh bertahan (bersabar) meski nyawa menjadi taruhannya.
Kesabaran dari kisah-kisah tersebut semoga memotivasi kita sebagai istri dalam mengaruhi cobaan bahtera rumah tannga. Semakin, sering kesulitan menimpa diri, maka semakin besar peluang diri untuk menjadi seorang yang sabar. Yakinilah, bahwa kesabaran bisa menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
Wa-Llâhu A’lam bish-Shawwâb
(Sumber kisah: Kitab Nisâ` Hawl Rasûl al-Qudwah al-Hasanah wal-Uswah ath-Thayyibah li Nisâ` al-Usrah al-Muslimah karya Muhammad Ibrâhîm Salîm; dan sumber lainnya)













