Nilai Tauhid dalam Syari’at Qurban

5 days ago
108

Qurban Sunnah Ibrahim

Ibadah Udlhiyyah atau yang lebih dikenal dengan qurban adalah ibadah tahunan yang disyari’atkan bagi umat muslim pada hari raya ‘Īdul-Adlhā. Ibadah qurban merupakan salah satu dari syi’ar (ciri khas) agama Allah. al-Hafizh Ibn Katsir—rahimahul-`Llāh—menyebutkan bahwa syari’at qurban senantiasa dilaksanakan dari masa ke masa pada setiap umat, ia berkata:

لم يَزَل ذبحُ المناسك وإراقةُ الدماء على اسم الله مشروعًا في جميع الملل

Allah mengabarkan bahwa menyembelih hewan dan mengalirkan darahnya dengan menyebutkan nama Allah telah disyariatkan pada seluruh millah.” Bahkan Ibn ‘Abbas—radliyal-`Llāhu ‘anhu—menyatakan, qurban bukan hanya sebagai syariat ibadah, tapi juga menjadi hari raya yang senantiasa dirayakan oleh seluruh umat. (Tafsīrul-Qur`ānil-‘Azhīm: V/424, tafsir QS. al-Hajj [22] : 34)

Ibadah qurban ini sebetulnya telah dilaksanakan dari sejak zaman Nabi Adam—‘alaihis-salām—. Allah menceritakan di dalam al-qur`an (QS. al-Mā`idah [5] : 27) mengenai kedua anak Nabi Adam, Qabil dan Habil yang melaksanakan qurban; dimana Qabil berqurban dengan tanaman hasil tani yang busuk dan buruk yang merupakan harta sisa miliknya sedangkan Habil berqurban dengan seekor domba gemuk yang merupakan hartanya yang paling baik. Kemudian Allah hanya menerima qurban Habil dan menolak qurban Qabil karena Habil berqurban atas dasar keikhlasan, terbukti dari pilihannya terhadap harta terbaiknya sebagai dikurbankan sedangkan qurban Qabil terkesan asal-asalan, terbukti dari pilihannya terhadap harta buruknya sebagai qurban.

Barulah pada masa Nabi Ibrahim—‘alaihis-salām—syari’at qurban ini semakin disempurnakan tatkala beliau diperintahkan untuk menyembelih anak semata wayangnya, ‘Isma’il—‘alaihis-salām—yang ketika hendak disembelih, akhirnya Allah menyuruh beliau untuk menghentikannya dan menggantinya dengan domba yang dulu dipersembahkan sebagai qurban oleh Habil. Berdasarkan banyak riwayat, setelah Allah menerima domba qurban Habil, maka domba tersebut disimpan di surga sampai diturunkan kembali ke dunia untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim sehingga menjadi syari’at udlhiyyah pertama. (Tafsīrul-Qur`ānil-‘Azhīm: III/83, tafsir QS. al-Ma`idah [5] : 27) Oleh karena itu, ibadah udlhiyyah disebutkan oleh Nabi—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—sebagai sunnah Ibrahim. Zaid ibn ‘Arqam—radliyal-`Llāhu ‘anhu—menuturkan: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah apakah udlhiyyah ini?” Beliau menjawab:

سنة أبيكم إبراهيم

Sunnah bapak kalian, Ibrahim.” (Musnad Ahmad: IV/458 no. 19302)

Nilai Tauhid dalam Syariat Qurban

Dari dua kisah awal mula disyariatkannya ibadah qurban di atas, disimpulkan bahwa ibadah qurban sangat erat kaitannya dengan tauhid seorang hamba kepada Allah, dimana Habil dengan ikhlash melaksanakan qurban sampai diterima oleh Allah dan Nabi Ibrahim rela untuk menyembelih anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Allah.

Keikhlashan seorang hamba akan terwujud jika ia benar-benar memahami esensi tauhid al-ma’rifah wal-itsbāt (tauhid rubūbiyyah dan tauhid al-asmā` was-shifāt), sedangkan ketundukkan dan kerelaan seorang hamba akan terwujud jika ia benar-benar memahami esensi tauhid at-thalab wal-qashd (tauhid ulūhiyyah). Maka, syariat qurban mengandung nilai tauhid yang harus direalisasikan oleh seorang hamba, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Dan bagi setiap umat kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka tuhan kalian adalah tuhan yang Mahaesa, karena itu berserahdirilah kalian kepadaNya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. al-Hajj [22] : 36) Setelah Allah menyebutkan syariat qurban, selanjutnya Allah memberi tahu bahwa hanya Dialah satu-satunya tuhan yang berhak diibadahi dan memerintahkan para hambaNya untuk tunduk dan patuh (bertauhid) kepadaNya.

Nilai Tauhid al-Ma’rifah wal-Itsbāt

Dalam syariat qurban, terkandung beberapa nilai tauhid al-ma’rifah wal-itsbāt, di antaranya: Pertama, harus diyakini bahwa Allah berbeda dengan makhluqNya dalam sifat-sifatNya. Melaksanakan ibadah qurban sangat berbeda dengan ritual mempersembahkan sesajen kepada tuhan-tuhan selain Allah. Jika sesajen diniatkan agar dikonsumsi oleh tuhan-tuhan tersebut, yang berarti mereka sama-sama makhluq yang lemah karena membutuhkan makanan, sedangkan ibadah qurban dilaksanakan hanya sebagai bentuk ketaatan dan ketundukan terhadap perintah Allah serta dagingnya pun dikonsumsi oleh kita sendiri yang melaksanakannya karena Allah tidak membutuhkan pemberian, apalagi makanan karena Allah Mahakuasa, tidak membutuhkan makhluq apapun untuk membantuNya hidup. Allah berfirman:

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Aku tidak menginginkan pemberian dari mereka dan tidak pula aku ingin diberi makan oleh mereka.” (QS. adz-Dzāriyāt [51] : 57) Dalam ayat lain, Allah menyatakan dengan tegas:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging dan darahnya (hewan qurban) tidak akan sampai kepada Allah, tetapi akan sampai kepadaNya (nilai) ketaqwaan dari kalian…” (QS. al-Hajj [22] : 37)

Kedua, harus diyakini bahwa Allah adalah ar-Razzāq, Maha Pemberi rezeki. Qurban adalah ibadah yang berkaitan dengan harta. Ketika melaksanakan qurban, maka kita harus membelanjakan sebagian harta untuk mendapatkan hewan sembelihan yang tidak murah. Bagi sebagian orang, pasti akan timbul rasa sayang ketika harus membelanjakan sebagian hartanya karena tabiat dasar manusia memang ingin menumpuk harta. Namun, bagi orang yang bertauhid, yang meyakini bahwa rezekinya berada di tangan Allah, ia akan mudah mengeluarkan sebagian hartanya dengan sukarela. Ia yakin bahwa sedekah tidak akan mengurangi hartanya, bahkan yang ada keberkahannya malah akan semakin bertambah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Tidak akan berkurang sedekah berupa harta.” (Shahīh Muslim kitāb al-birr was-shilah wal-ādāb bāb istihbābul-‘afwi wat-tawādlu’ no. 6757)

Nilai Tauhid at-Thalab wal-Qashd

Dalam syariat qurban, terkandung beberapa nilai tauhid at-thalab wal-qashd, di antaranya: Pertama, kita harus tunduk dan patuh terhadap segala syariat Allah. Tasyrī’ (menetapkan syari’at) adalah hak Allah semata, tugas kita sebagai hamba adalah melaksanakannya tanpa harus tahu mempertimbangkan apa saja keuntungan dan kerugian di baliknya bagi kita. Seluruh syariat pasti mengandung mashlahat, walaupun terkadang kita merasa berat untuk melaksanakannya karena kita hanya memandang secara sekilas aspek kerugiannya saja, misalnya harus kehilangan sebagian harta ketika melaksanakan syariat qurban.

Kedua, dalam melaksanakan ibadah apapun kita harus meniatkannya ikhlash hanya ditujukan kepada Allah dan hanya karena mengharap pahala dariNya semata. Jangan sampai terjerumus dalam syirik besar maupun syirik kecil dalam ibadah, terkhusus dalam qurban. Termasuk syirik besar jika kita menyembelih hewan yang ditujukan kepada selain Allah demi mendapatkan keuntungan duniawi tertentu, namun yang seperti ini sedikit sekali ditemukan dalam ibadah qurban. Ritual seperti ini hanya ditemukan di luar ibadah qurban.

Biasanya, dalam ibadah qurban seseorang sangat rentan terjerumus dalam syirik kecil, yaitu riya`. Banyak orang yang qurban bukan karena melaksanakan perintah Allah, tapi karena malu oleh tetangganya jika tidak berqurban, karena ia merupakan tokoh masyarakat. Ada juga yang berqurban karena ia ingin mendapatkan pujian sebagai orang yang kaya dan dermawan. Jika seseorang masih terjerumus dalam syirik ketika berqurban, maka selain qurbannya tidak diterima, dia pun akan mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad—shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam—:

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (Shahīh Muslim kitābul-adlāhī bāb tahrīmidz-dzabhi li ghairil-`Llāhi ta’ālā wa la’ana fā’ilahu no. 5240)

Wal-`Llāhu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *