Akikah Dulu Sebelum Qurban

3 months ago
716

Permasalahan kurban sebelum akikah masih menjadi problem di tengah masyarajat, mulai dari pertanyaan terkait hukumnya dan ada pula yang berpendapat bahwa tidak sah kurban jika semasa kecilnya tidak di akikahi. Sebelum mengupas jauh tentang masalah itu, kita mesti memahami terlebih dahulu perbedaan mendasar kurban dan akikah.

Kurban memiliki pengertian menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada Hari Raya Haji atau Idul Adha yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari tasyriq setelahnya 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, dilakukan setelah shalat ied

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ ، وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum salat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah salat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 5546).

Sedangkan akikah memiliki makna memotong atau menyembelih hewan dalam rangka tasyakur kepada Allah swt. karena kelahiran anak baik laki-laki maupun perempuan disertai dengan pemotongan rambut bayi. Waktu pelaksanaannya adalah hari ketujuh

Diantara dalil-dalilnya adalah :

  1. Hadits Salmaan bin ’Aamir Adh-Dhabbiy radliyallaahu ’anhu, ia pernah berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

مع الغلام عقيقة، فأهريقوا عنه دماً، وأميطوا عنه الأذَى

”Untuk satu orang anak adalah satu ’aqiqah. Tumpahkanlah darah untuknya dan bersihkanlah dia dari kotoran”. [Al-Bukhari no. 5472, Abu Dawud no. 2839, At-Tirmidzi no. 1515, Ibnu Majah no. 3164, dan yang lainnya.]

  1. Hadits Samurah bin Jundub radhiyallaahu ’anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda :

كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسم

”Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya[1] yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur (rambutnya), dan diberi nama”. [Abu Dawud no. 2837-2838; At-Tirmidzi no. 1522; An-Nasa’i no. 4220; Ibnu Majah no. 3165; Ahmad 5/7,12,17,22; dan yang lainnya]

Tentang makna kalimat “ Setiap anak tergadai dengan ’aqiqahnya” dalam hadis ini  ; Al-Khaththabi berkata :

تكلَّم الناسُ في هذا، وأجْودُ ما قيل فيه ما ذَهب إليه أحمدُ بن حنْبَل. قال: هذا في الشفاعَةِ، يريدُ أنه إذا لم يُعَقَّ عنه فمات طِفلا لم يَشْفَع في والدَيه. وقيل معناه أنه مَرهون بأذَى شَعَره، واستدَلُّوا بقوله: فأمِيطُوا عنه الأذَى

“Orang-orang banyak berbicara tentang hadits ini dan komentar yang paling baik adalah komentar Ahmad bin Hanbal. Ia berkata : ’Ini berkaitan dengan syafa’at. Apabila si anak meninggal dunia pada saat masih kecil sementara ia belum di-aqiqah-kan (oleh walinya), maka anak tersebut tidak dapat memberi syafa’at kepada kedua orang tuanya” [An-Nihayah fii Ghariibil-Hadiits oleh Ibnul-Atsiir – materi kata رهن  ; Maktabah Al-Misykah. Lihat pula Sunan Abi Dawud wa Ma’aalimus-Sunan lil-Khaththabi 3/175; Daar Ibni Hazm, Cet. 1/1418, Beirut ].

Ibnul-Qayyim berkata dalam kitabnya At-Tuhfah sebagai komentar dan bantahan terhadap pendapat ’Atha’ yang diikuti oleh Ahmad yang mana mereka menafsirkan makna ”tergadai” dengan terhalangnya syafa’at si anak untuk kedua orang tuanya. Beliau berkata :” Pendapat ini masih perlu ditinjau ulang, karena tidak diragukan lagi bahwa syafa’at seorang anak terhadap orang tuanya tidaklah lebih utama daripada syafa’at orang tua terhadap anaknya, dan tidak seorangpun yang dapat memberi syafa’at pada hari kiamat nanti kecuali setelah mendapat ijin yang diberikan Allah ta’ala kepada orang-orang yang Dia kehendaki dan Dia ridlai. Ijin yang diberikan Allah ta’ala berdasarkan amalan orang yang diberi syafa’at, baik yang berkaitan dengan tauhidnya maupun keikhlasannya.

Seseorang dapat memberi syafa’at karena kedekatannya kepada Allah, bukan disebabkan adanya hubungan kekerabatan dengan orang yang diberi syafa’at. Bukan dikarenakan ia sebagai seorang anak, dan bukan pula sebagai ayah. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah memberi pengarahan kepada paman, bibi, dan anak perempuannya (Fathimah) :

لا أغني عنكم من الله شيئا

”Aku tidak dapat membantu kalian sedikitpun di hadapan Allah”  ; dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadh :

لا أملك لكم من الله شيئا

”Sedikitpun aku tidak kuasa menolong kalian dari (siksaan) Allah sedikitpun”.

Lantas, dari mana datangnya pernyataan bahwa anak akan memberi syafa’at kepada orang tuanya, namun apabila mereka tidak menyembelih ’akikah untuk anaknya maka si anak tidak dapat memberi syafa’at kepada orang tuanya? Juga, tidak dapat dikatakan bahwasanya seorang yang tidak dapat memberikan syafa’at kepada orang lain adalah orang yang tergadai. Tidak ada satu lafadz hadits pun yang menunjukkan makna seperti ini. Bahkan Allah ta’ala telah mengabarkan bahwa seorang hamba akan tergadai dengan amalannya semasa di dunia. Allah ta’ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

”Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” [QS. Al-Mudatstsir : 38].

أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا

”Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri” [QS. Al-An’am : 70].

Jadi seorang yang tergadai adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang pernah ia lakukan atau dikarenakan perbuatan orang lain. Adapun orang yang tidak mempu memberikan syafa’at, tidak dapat disebut murtahin (orang yang tergadai), akan tetapi murtahin adalah seorang yang terhalang untuk mendapatkan sesuatu. Bisa jadi karena perbuatannya sendiri dan bisa jadi karena perbuatan orang lain.

Allah ta’ala menetapkan agar menyembelih hewan sebagai pembebas seorang anak dari gadaian syaithan yang terus mengaitkannya sejak ia lahir ke dunia dan menusuk bagian pinggangnya. ’Akikah merupakan penebus dan pembebas seorang anak dari kungkungan syaithan yang senantiasa menghalanginya untuk meraih kemaslahatan akhirat yang merupakan tempat kembalinya si anak. Jadi seolah-olah ia dipenjara untuk disembelih syaithan dengan pisau yang telah ia persiapkan untuk para wali dan pengikutnya serta telah bersumpah di hadapan Allah bahwa ia akan menyesatkan anak cucu Adam. Sedikit sekali orang-orang yang selamat dari sumpah syaithan ini, sementara syaithan masih terus siagamenunggu dan mengganggu setiap anak yang lahir ke dunia. Ketika seorang anak lahir, syaithan langsung merekrut anak ini dan berusaha agar anak ini menjadi tawanannya dan di bawah kendalinya serta menjadikannya sebagai salah seorang pengikut  dan anggota kelompoknya. Syaithan sangat sungguh-sungguh dalam melaksanakan hal ini, sehingga mayoritas anak menjadi pengikut dan bala tentara syaithan, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلادِ

”Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak” [QS. Al-Israa’ : 64].

Dia juga berfirman :

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ

”Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka” [QS. Sabaa’ : 20].

Karena setiap anak yang lahir akan tertawan, maka Allah ta’ala menganjurkan agar orang tua si anak membebaskan anaknya dari tawanan dengan menyembelih hewan sebagai tebusan. Jika orang tua si anak tidak melakukannya, maka si anak tetap berstatus sebagai tawanan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda : ”Seorang anak itu tergadai dengan ’aqiqahnya. Maka tumpahkanlah darah untuknya dan bersihkanlah dia dari kotoran”.

Pada hadits ini Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memerintahkan agar menumpahkan darah (dengan menyembelih hewan ’aqiqah) untuk membebaskan anak dari tawanan itu. Apabila tawanan tersebut berkaitan dengan kedua orang tua, tentu beliau shallallaau ’alaihi wasallam mengatakan : ”Tumpahkanlah darah untuk kalian agar kalian memperoleh syafa’at (dari anak kalian)”. Dengan adanya perintah agar orang tua membuang kotoran yang ada pada fisik si anak dan menyembelih hewan untuk membersihkan kotoran mental si anak, maka jelaslah bahwa tujuan syari’at adalah untuk membersihkan lahir bathin si anak dari berbagai kotoran. Dan Allah lah yang lebih mengetahui maksud firman-Nya dan maksud sabda Rasul-Nya shallallaahu ’alaihi wasallam.”[Ibnul-Qayyim dengan peringkasan – Tuhfatul-Maudud bi-Ahkaamil-Maulud hal. 50-52].

  1. Hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa: Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :

عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة

“Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing yang setara/sama, dan untuk anak perempuan adalah seekor kambing”. [At-Tirmidzi no. 1513, Ibnu Majah no. 3163, dan Ahmad 6/31. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 2/164; Maktabah Al-Ma’arif, Cet. 1/1420, Riyadh]

Hadis-hadis ini secara zhahir menjelaskan bahwa ibadah akikah berkaitan dengan kelahiran bayi yang dibatasi pada hari ketujuh, jika melewati hari ketujuh maka tidak ada syari’at akikah. Adapun hadis tentang Nabi Saw pernah mengakikahi dirinya sendiri setelah di utus menjadi Nabi hadisnya dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah. Hadis yang dimaksud adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَرَّرٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ مَا بُعِثَ بِالنُّبُوَّةِ “

Dari ‘Abdullah bin Muharrar, dari Qataadah, dari Anas, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi dirinya setelah diutus sebagai nabi” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 7960].

Takhrij Hadis

Diriwayatkan juga oleh Ibnul-Madiiniy dalam Al-‘Ilal hal. 53 no. 58, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr 13/478-479 no. 7281 dan dalam Kasyful-Astaar 2/74 no. 1237, Ibnu ‘Adiy[4] dalam Al-Kaamil 5/214, Ar-Ruuyaaniy dalam Al-Musnad 2/386 no. 1371, Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 2/23, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 9/300 (9/505) no. 19273; semuanya dari jalan ‘Abdullah bin Muharrar, dari Qataadah, dari Anas secara marfuu’.

Faktor kedhaifan hadis ini tertuju pada ‘Abdullah bin Al-Muharrar (Al-‘Aamiriy Al-Jazriy Al-Harraaniy), seorang yang matruuk [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3598]. Adapun Qataadah bin Di’aamah adalah seorang yang tsiqah lagi tsabt [Taqriibut-Tahdziib hal. 798 no. 5553].Terdapat mutabaah dari riwayat Ibn Syaahin


حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْمَحَامِلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو قَتَادَةَ الْحَرَّانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ الْجُرَشِيُّ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا أُنْزِلَتِ الْنُبُوَّةُ

. وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، وَلا أَعْرِفُ لِعَبْدِ اللَّهِ الْجُرَشِيِّ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ، عَنْ قَتَادَةَ، وَقَالَ الْقَاسِمُ، عَنِ الْفَضْلِ، قَالَ: قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: هَذَا أَفَادَنَاهُ شُعْبَةُ، عَنْ هَذَا الشَّيْخِ، وَقَالَ: لَيْسَ يَرْوِي هَذَا الْحَدِيثَ أَحَدٌ غَيْرُهُ

Sanad riwayat ini sangat lemah dengan sebab ‘Abdullah bin Waaqid Abu Qataadah Al-Harraaniy, seorang yang matruuk [Taqriibut-Tahdziib, hal. 555 no. 3711].

Imam Qatadah mempunyai mutaba’ah dari Tsumamah bin ‘Abdillah bin Anas yang dikutip dalam riwayat Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar 3/78 no. 1053,


مَا حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْصُورٍ الْبَالِسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى بْنِ أَنَسٍ، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ “.

Ibnu Abid-Dunya dalam Al-‘Iyaal hal. 208 no. 66, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 994, dan Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah 5/204-205 no. 1832-1833; dari tiga jalan (Al-Hasan bin ‘Abdillah, ‘Amru bin Naaqid, dan Ahmad Al-Haitsam bin Jamiil), ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa bin Anas, dari Tsumaamah bin Anas, dari Anas secara marfuu’ dan Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar 3/79 no. 1054

Hadis ini lemah karena ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa, seorang yang shaduq, namun banyak salah (shaduuq, katsiirul-ghalath) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3596]

Ada yang mengatakan bahwa riwayat ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa ini hasan karena ia mengambil riwayat dari pamannya (Tsumaamah bin Anas), dan Imam Al-Bukhariy berhujjah dengan riwayat mereka dalam kitab Shahiih-nya.

Penilaian hasan  ini tidaklah benar. Sudah diketahui dalam ilmu mushthalah hadis bahwa Al-Bukhariy meriwayatkan beberapa hadis dalam kitab Shahih-nya dari beberapa perawi yang lemah. Beliau rahimahullah mencantumkan hadis beberapa perawi lemah tersebut dalam kitab Shahih-nya karena ada qarinah bahwa hadits tersebut shahih/hasan. Selain itu, Al-Bukhariy berhujjah dengan riwayat ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa dari Tsumaamah hanya dalam mutaba’ah saja, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar rahimahullah dalam Hadyus-Saariy (1/416). Di kesempatan lain Ibnu Hajar rahimahullah berkata setelah menyebutkan perkataan beberapa ulama kepada ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa :

فهذا من الشيوخ الذين إذا انفرد أحدهم بالحديث لم يكن حجة،

“Orang ini termasuk di antara para syaikh yang jika bersendirian dalam periwayatan hadits tidak bisa dipergunakan sebagai hujjah” [Fathul-Baariy, 9/595].

‘Abdullah bin Al-Mutsannaa ini menyendiri dalam periwayatan dari Tsumaamah. Adapun penguat dari jalur Qatadah.  Maka kualitasnya sangat lemah. Dengan demikian hadis ini dengan keseluruhan jalannya adalah lemah, tidak dapat dipergunakan sebagai hujjah.

Dari pengertian tadi, jelas sekali bahwa kurban adalah ibadah sunnah muakkad yang berbeda tujuannya oleh karena itu kurban dan akikah tidak ada kaitan apapun. Dalam artian, akikah bukan syarat sahnya ibadah kurban, begitu pula sebaliknya. Dan akikah merupakan mukallaf bagi orangtuanya, bukan bayinya. Sedangkan ibadah kurban adalah mukallaf bagi yang sudah baligh.

Al- Khallal meriwayatkan dari Ismail bin Said as- Syalinji  dalam kitab Tuhfatul Maudud

سألت أحمد عن الرجل يخبره والده أنه لم يعق عنه ، هل يعق عن نفسه ؟ قال : ذلك على الأب

 “Saya bertanya kepada imam ahmad tentang seseorang yang diberi tahu  orang tuanya, bahwa dirinya belum diakikahi. Bolehkah orang ini mengakikahi dirinya sendiri? Kata ahmad, “itu tanggung jawab ayahnya.”

Dengan demikian, bagi yang semasa kecilnya belum diakikahi oleh orangtuanya, maka telah gugur syariat akikahnya dan sah melakukan kurbannya, karena akikah dibatasi pada hari ketujuh dan bukan syarat sahnya kurban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *