Bersabar dalam Ibadah - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Bersabar dalam Ibadah

5 months ago
1177

 

Jamise Syar'i

أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka (QS. al-Furqon [25] : 75).

Mereka yang dimaksud ayat di atas adalah ‘Ibadur-Rahman; hamba-hamba pilihan Ar-Rahman. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersikap santun di siang harinya dan di malam harinya sibuk dengan sujud dan qiyam; tidak berlebihan dan tidak pelit dalam infaq; tidak syirik, membunuh, dan zina; kalaupun pernah melakukan dosa-dosa besar tersebut mereka bertaubat dengan sebenar-benarnya; tidak menjadi saksi kebohongan; menjaga kehormatan diri dengan tidak terjerumus pada hal-hal yang tiada manfaat; tidak pernah menutup mata dan telinga dari peringatan Allah; dan berusaha maksimal mewujudkan keluarga yang shalih. Semua amal itu menuntut kesabaran dalam menjalankannya. Tanpa kesabaran tidak mungkin amal-amal itu mampu diwujudkan dengan sempurna dan tidak mungkin juga sampai derajat ‘Ibadur-Rahman.

Dalam ayat lain, di surga ‘Adn yang dipenuhi oleh orang-orang beriman beserta ayah ibu, suami istri, dan anak-anak mereka, malaikat kelak akan menyambut mereka: “Salamun `alaikum bima shabartum; kesejahteraan untuk kalian karena kalian telah bersabar.” (QS. ar-Ra’d [13] : 24).

Ayat-ayat di atas meniscayakan kesabaran tidak hanya ketika ada musibah saja, melainkan juga ketika menjalani satu ibadah. Jika terasa berat menjalankannya, maka di sanalah kesabaran dituntut untuk dihadirkan. Apalagi jika musibah dan ibadah itu bertemu dalam satu momentum; di satu sisi harus ibadah, di sisi lain sedang susah karena suatu musibah, maka sabar dalam situasi ini lebih besar lagi kemuliaannya. Pujian Allah swt dalam dua ayat di atas untuk kesabaran yang berhasil diwujudkan sehingga ibadah pun bisa diamalkan tentunya terkait ibadah yang terkendala musibah dan kesusahannya juga. Mustahil seorang hamba menjalankan ibadahnya dengan mulus dalam situasi senang dan mapan. Pasti adakalanya sempit, susah, sulit, atau terkena musibah. Dalam situasi yang selalu fluktuatif seperti itu, orang-orang ‘Ibadur-Rahman selalu berhasil melaksanakan ibadah akibat kesabaran yang tinggi dari dalam jiwanya.

Terlebih ibadah qurban dari sejak awal Isma’il as hendak disembelih ayahandanya memang menuntut kesabaran dalam mengamalkannya. Kata Isma’il as: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. as-Shaffat [37] : 102). Atau yang ditegaskan kemudian dalam surat Al-Hajj tentang mereka yang berhasil menjalankan ibadah qurban: “Orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka.” (QS. al-Hajj [22] : 34).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *