Ujian Tahfizh di Masa Pandemi

4 days ago
124

Ada yang berbeda pada Ujian Tahfizh al-Qur`an dan Hadits di akhir semester ini. Pembedanya adalah masa darurat Covid-19 yang belum usai. Secara formal lembaga pendidikan belum diperbolehkan membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Mengingat kegiatan yang diselenggarakan ini hanya ujian tahfizh, bukan KBM, maka Pimpinan Pesantren memutuskan untuk tetap menggelarnya dari tanggal 8-25 Juni 2020. Pertimbangan lainnya, Pemerintah Kota Bandung sudah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) Proporsional dimana masjid sudah boleh dibuka kembali tetapi hanya untuk 30% kegiatan dan kapasitas jama’ah saja. Maka dari itu Pimpinan Pesantren pun memutuskan untuk memberlakukan hal yang sama pada Pesantren dalam hal ujian tahfizh. Ujian tahfizh diselenggarakan dengan 30% aktivitas dan kapasitas santri di Pesantren.

Ujian tahfizh al-Qur`an dan hadits merupakan salah satu kekhasan Pesantren Persatuan Islam 27 Situaksan Bandung yang tidak boleh tidak diselenggarakan bagaimanapun caranya. Pesantren ini sudah berkomitmen kuat dari sejak awal restorasinya bahwa tahfizh al-Qur`an dan hadits yang merupakan warisan pendidikan para ulama harus diabadikan. Ilmu al-Qur`an dan hadits selain dipahami lewat pengajaran para Asatidzah di kelas juga harus diikat dalam hafalan sehingga hasilnya menjadi kuat dalam pemahaman. Demikianlah model pendidikan Islam dari sejak era salaf yang hari ini sudah banyak diabaikan karena terkorbankan beban pelajaran umum yang terlalu banyak. Di samping itu tahfizh al-Qur`an juga bagian dari pendidikan dzikir al-Qur`an yang harus diamalkan setiap waktu secara terus menerus dan lebih khusus lagi untuk dibaca dalam shalat. Sebagai salah satu ikhtiar monitoring dan evaluasi tahfizh al-Qur`an dan hadits yang sangat penting ini maka di Pesantren Persis 27 diberlakukan ujian tahfizh di setiap akhir semesternya.

Model ujian tahfizh hadits sedikit lebih ringan daripada tahfizh al-Qur`an. Tahfizh hadits yang ditujukan pada hadits-hadits Bulughul-Maram dan Riyadlus-Shalihin hanya diujikan yang diajarkan pada semester berjalan saja. Kebetulan karena semester ini terkendala pandemi Covid-19 maka jumlah hadits yang harus dihafal pun tidak terlalu banyak, hanya berjumlah 150-an hadits. Sementara itu ujian tahfizh al-Qur`an memestikan santri untuk menyetorkan hafalannya dari juz pertama hafalannya kembali. Karena Pesantren Persis 27 memberlakukan sistem hafalannya dari juz 30 s.d juz 26, lalu beralih ke juz 1 dan terus maju ke juz-juz berikutnya, maka ujian tahfizh al-Qur`an pun dimulai dari juz 30 kembali untuk semua santri Tsanawiyyah ataupun Mu’allimin.

Pesantren tidak memberlakukan sistem ujian tahfizh online mengingat ujian tahfizh ini harus dilaksanakan secara sempurna untuk semua ayat dan hadits yang dihafal. Maka dari itu waktu yang disediakannya pun sampai tiga pekan. Jika selama tiga pekan itu harus dengan sistem online, terbayang harus menghabiskan berapa gigabyte dan ini tentu pemborosan, sebab dalam ujian tahfizh pasti menuntut adanya koreksi dari penguji. Berlama-lama menggunakan gadget atau komputer juga tidak baik untuk kesehatan.

Mengingat tidak semua santri yang dari luar kota bisa datang ke Bandung, maka Pesantren pun menetapkan kebijakan rukhshah untuk santri yang tidak bisa ke Bandung. Ujiannya ditangguhkan sampai semester berikutnya dan nilai dalam rapornya akan dikosongkan. Santri yang tidak bisa mengikuti ujian tahfizh tersebut pun tetap akan dinaikkan kelasnya, meski nilai tahfizh kosong dalam rapornya.

Untuk mengatur agar aktivitas dan kapasitas santri sekitar 30% saja, maka ujian tahfizh diselenggarakan di lima tempat berbeda bekerja sama dengan Qayyimul-Masjid sekitar Pesantren, yakni Pesantren sendiri yang dipisah dalam 4 ruang di tiga lantai, masjid al-Furqon, at-Taubah, al-Azhar, dan Nurul Huda. Santri yang datang ujian pun dibagi empat gelombang. Selain itu setiap santri juga sudah ditetapkan waktu kedatangan dan kepulangannya dalam jam berbeda. Alhamdulillah dengan manajemen seperti itu ujian tahfizh berjalan lancar dan tidak tampak ada kerumunan. Bahkan masyarakat sekitar Pesantren pun tidak merasa ada kegiatan di Pesantren karena terasa sepi-sepi saja.

Dari hasil ujian tahfizh ini diketahui ada sedikit penurunan kualitas hafalan al-Qur`an pada sebagian besar santri. Kemungkinan besar ini akibat tidak efektifnya sistem monitoring tahfizh secara online selama tiga bulan lamanya semenjak diliburkan darurat Covid-19. Untuk santri Mu’allimin yang mencapai target 10 juz atau lebih hanya 7 orang (target per semester 5 juz). Urutannya dari yang terbesar: 17, 13, 12, 11 (3 orang), dan 10 juz. Itu pun diketahui ada dua orang santri yang sebelum darurat Covid-19 sudah setoran 10 juz lebih tetapi belum bisa ikut ujian karena terkendala PSBB. Sisanya yang lebih dari 5 juz ada 8 orang: 9, 7 (4 orang), dan 6 juz (3 orang). Selebihnya dari itu di bawah 5 juz. Sementara santri Tsanawiyyah yang mencapai target minimal 4 juz hanya 4 orang (target per semester 2 juz). Santri yang lulus ujian 3 juz ada 8 orang. Sisanya masih di bawah 3 juz. Adapun ujian tahfizh hadits mayoritas santri bisa menyelesaikan tugas hafalannya mengingat beban hafalannya tidak terlalu banyak hanya sekitar 150-an hadits.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *