Masuk Syurga dengan Selamat

2 months ago
850

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ رضي الله عنه، قَالَ: لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ، وَقِيلَ: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لأَنْظُرَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا اسْتَبَنْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ وَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُّوا الأرحام، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ. رواه الترمذي.

“Dari Abdullah bin Salam berkata, ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, orang-orang bergegas menyambut beliau sambil mengucapkan: Rasulullah saw datang, Rasulullah saw datang, Rasulullah saw datang, “Aku mendatangi orang-orang untuk melihat mereka, dan ketika aku telah memastikan wajah Rasulullah saw aku baru faham bahwa wajah beliau bukanlah wajah wajah pendusta, dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan  sambungkanlah tali shilaturrahim, dan laksanakanlah shalat pada saat manusia tertidur nisacaya kalian masuk surga dengan selamat.” (H.R. Tirmidzi, nomor 2.485)

Masuk surga dengan selamat apalagi tanpa hisab adalah dambaan setiap muslim. Namun faktanya, muslim yang masuk surga dengan melalui proses hisab dan bahkan terlebih dahulu meresakan proses siksaan neraka adalah sebuah keniscayaan. Maka hadits di atas adalah salah satu informasi berharga tentang bagaimana cara memasuki surga dengan selamat.

Setidaknya ada empat amalan yang mesti kita amalkan agar kita dapat masuk surga dengan selamat. Berikut uraiannya:

Menyebarluaskan Salam

Afsyus salam atau menyebarluaskan asalam adalah mengucapkan salam sebanyak mungkin kepada seorang muslim, baik itu yang kita kenal maupun yang tidak. Walaupun mengucapkan salam hukumnya sunnah, tapi ia adalah hak seorang muslim yang mesti ditunaikan dan tidak pantas ditinggalkan begitu saja. Menyebarluaskannya adalah wujud cinta, empati, simpati, loyalitas, solidaritas kepada sesama muslim yang dengannya menyebabkan seorang muslim masuk surga.

 “Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhai kepadanya,  ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya hendaklah ia mengucapkan salam, jika kemudian keduanya terhalang oleh pohon, atau tembok, atau batu, lalu bertemu kembali, hendaklah ia ucapkan salam lagi kepadanya.” (H.R. Abu Dawud, nomor 5.200)

Mengucapkan salam dianjurkan dengan sempurna, dan demikian pula dengan menjawabnya. Sebagaimana Rasulullah saw mencontohkannya.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ، ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَشْرٌ» ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: «عِشْرُونَ» ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ، فَجَلَسَ، فَقَالَ: «ثَلَاثُونَ» رواه أبو داود والترمذي.

“Dari Abu Raja dari Imran bin Hushain ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw  dan mengucapkan, “Assalamu Alaikum?” Beliau membalas salam orang tersebut lalu duduk, Nabi saw kemudian bersabda, “Sepuluh.” Setelah itu ada seseorang datang dan mengucapkan salam, “Assalamu Alaikum wa Rahmatullah.” Beliau membalas salam orang tersebut lalu duduk, beliau bersabda, “Dua puluh.” Setelah itu ada lagi orang datang dan mengucapakan salam, “Assalamu Alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh.” Beliau membalas salam orang tersebut lalu duduk, beliau bersabda, “Tiga puluh.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam prakteknya, mengucapkan salam diatur dalam adab-adab yang diterangkan oleh hadits Nabi saw. Seperti adab mengucapkan salam dari pengendara kepada pejalan kaki, pejalan kaki kepada orang yang duduk, dari rombongan yang sedikit kepada rombongan yang banyak, dan saat memasuki rumah.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى المَاشِي، وَالمَاشِي عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثِيرِ» رواه البخاري.

“Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhai kepadanya, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hendaknya orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.” (H.R. Bukhari, nomor 6.232)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا بُنَيَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُونُ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ. رواه الترمذي

“Dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah saw berkata kepadaku, “Wahai anakku, jika kamu masuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam, niscaya akan menjadi berkah bagimu dan bagi keluargamu.” (H.R. Tirmidzi, nomor 2.698)

Dianjurkan mengucapkan salam kepada anak kecil. Sebagaimana Rasulullah saw telah mencontohkannya.

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa dia pernah melewati anak-anak kecil, lalu ia memberi salam kepada mereka dan berkata, “Nabi saw juga biasa melakukan hal ini.” (H.R. Bukhari, nomor 6.247)

Adapun mengucapkan salam kepada orang kafir maka hukumnya haram. Seandainya mereka (orang kafir) mengucapkan salam kepada kita, cukup bagi kita dengan menjawab “wa ‘alaika/ wa ‘alaikum”.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ ” رواه البخاري

“Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu dia berkata, Nabi saw bersabda, “Apabila ahli kitab menyampaikan salam kepada kalian, maka jawablah, wa ‘alaikum (dan keatasmu).” (H.R. Bukhari, nomor 6.258)

Memberi Makan

Memberi makan termasuk amal shaleh dan amalan orang Islam yang paling baik. Ketika ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad saw, “Siapakah orang Islam yang paling baik” maka Nabi menjawab, “Adalah orang yang suka memberi makan.” Memberi makan di sini maksudnya adalah memberi makan kepada fakir miskin dan orang-orang yang sedang kelaparan.

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir pasti akan memperhatikan saudaranya. Tidak mungkin akan membiarkan keluarga, kerabat, atau tetangganya dalam keadaan lapar. Ciri orang-orang yang beriman, yaitu mereka akan memberikan makanan yang disukainya kepada orang-orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Allah swt berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (٨) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Q.S. Al-Insan ayat 8-9)

لَنْ تَنالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran: 92)

Selain itu, memberi makan bisa dipahami juga dengan menjamu tamu yang berkunjung sebagai bentuk memuliakan tamu. Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salâm.

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ (٢٤) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلامًا قَالَ سَلامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ (٢٥) فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ(٢٦) فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلا تَأْكُلُونَ (٢٧)

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan, “Salaman.” Ibrahim menjawab, “Salamun, ” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, “Silakan kamu makan.” (Tetapi mereka tidak mau makan).” (Q.S. Adz-Dzâriyât ayat 24-27)

Bersilaturrahmi

Menyambungkan tali shilaturrahim itu hukumnya wajib, bahkan  termasuk di antara ciri-ciri orang beriman. Menurut al-Bassam bahwa tujuan pokok silaturrahmi itu ditujukan kepada keluarga, seperti ibu, ayah, kakek, nenek, adik, kakak, dan kerabat karib baik yang dekat maupun yang jauh (Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, Taudhihul Ahkam, hal. 504). Sebagaimana firman Allah swt:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ

“Dan bertakwalah. kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminla satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi.” (Q.S. Annisaa ayat 1)

“Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhai kepadanya dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka sambungkanlah tali shilaturrahim.” (H.R. Bukhari, nomor 6.138)

Orang yang memutuskan tali shilaturrahim termasuk dosa besar, dan ancamannya adalah masuk neraka.

إِنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ، أَخْبَرَهُ: أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ» رواه البخاري وفي رواية مسلم: قَالَ ابْنُ أَبِي عُمَرَ: قَالَ سُفْيَانُ: يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ

“Sesungguhnya Jubair bin Muth’im telah mengabarkannya, Sesungguhnya dia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan. Dalam riwayat Muslim, dari Ibnu Abi Umar berkata, Sufyan berkata, “Yaitu memutuskan tali shilaturrahim.” (H.R. Bukhari, nomor 2.556)

Shalat Tahajud

Para ulama fiqih sepakat bahwa shalat malam/tahajud itu disyari’atkan, walaupun sunnah menurut imam Hanafi dan Hanbali, mandub menurut imam Malik, dan mustahab menurut imama Syafi’i. (Kunuz Riyadish Shalihin, juz 11, hal. 229).

Secara bahasa, tahajud ialah salat yang dikerjakan sesudah tidur. Makna ini didukung oleh banyak hadis yang menyebutkan bahwa Nabi saw melakukan salat tahajud sesu­dah tidur. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Aisyah  serta sahabat-sahabat lainnya, (Syaikh Ahmad Syakir, ‘Umdatut Tafsir, jilid II, 447)

Terdapat banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan shalat tahajud, di antaranya adalah dikabulkannya doa seorang hamba.     

 “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika di sepertiga malam, lantas Ia berkata, “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka aku beri, siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku ampuni?.” (H.R. Bukhari, nomor 1.145)

Itulah keempat amalan yang menghantarkan seorang hamba masuk surga dengan selamat. Maka siapapun yang mendambakan masuk surga dengan selamat, tidak boleh melewatkan keempat amalan itu. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *