Ijtihad

2 months ago
898

Ijtihad secara bahasa memiliki pengertian badzlul wus’I  (mencurahkan kemampuan). Kata ijtihad itu diambil dari kata al-Juhdu yang bermakna kesungguhan atau kemampuan. Sebagaimana kata ini digunakan dalam al-Qur’an,

وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ

“…dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya,..” (Q.S at-Taubah : 79) (Lihat as-Shihah : 460)

Adapun secara istilah Ijtihad memiliki pengetian

بَذْلُ المَجْهُوْدِ فِي العِلْمِ بِأَحْكَامِ الشَرْعِ

“Mencurahkan kemampuan dalam ilmu tentang hokum-hukum syari’at” (Raudhatun Nazhir : 190).

Dengan demikian secara sederhana ijtihad ialah mengerahkan segala kemampuan untuk memahami hukum-hukum syariat. Dari pengertian ini maka, perkara-perkara yang telah pasti dalam agama tidak dapat disebut dengan ijtihad. Seperti halnya masalah-masalah akidah dan ibadah yang telah qath’I bukanlah bagian dari medan ijtihad. Karena Ijtihad hanya berada dalam masalah-masalah furu’iyyah  ibadah dan akidah.

Kapan Ijtihad Terjadi?

Ijtihad telah muncul sejak zaman Nabi saw. Para sahabat diberikan peluang oleh nabi untuk berijtihad meskipun Nabi saw. berada dihadapan mereka. Ijtihad dikalangan sahabat ini sebagaimana tergambar dalam riwayat berikut,

عَنْ الحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى اليَمَنِ، فَقَالَ: «كَيْفَ تَقْضِي؟»، فَقَالَ: أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ، قَالَ: «فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ؟»، قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟»، قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي، قَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ

“Dari al-Harits bin ‘Amr dari beberapa sahabat Mu’adz bahwasannya Rasulullah saw. Mengutus Mu’adz ke Yaman kemudian beliau bersabda, ‘Bagaimana kamu akan menetapkan hukum?’. Mu’adz menjawab ‘Aku akan menetapkan dengan al-Qur’an’. Kemudian Nabi Bertanya, ‘Jika kamu tidak menemukannya’. Mu’adz menjawab, ‘Aku akan menetapkan dengan sunnah Rasulullah saw’. Kemudian Nabi bertanya kembali, ’Jika kamu tidak menemukannya?’. Mu’adz menjawab, ‘Aku akan mencurahkan pemikiranku’. Kemudian Nabi saw. Bersabda, ’Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah saw.” (H.R at-Tirmidzi, Bab Ma Jaa fil Qadhi Kaifa Yaqdhi no. 1327)

Begitu pula Ijtihad ini dibenarkan oleh Nabi saw. Kepada ‘Amr bin ‘Ash meskipun Nabi ada ketika itu.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَجُلَيْنِ اخْتَصَمَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِعَمْرٍو: «اقْضِ بَيْنَهُمَا» فَقَالَ: أَقْضِي بَيْنَهُمَا وَأَنْتَ حَاضِرٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ عَلَى أَنَّكَ إِنْ أَصَبْتَ فَلَكَ عَشْرُ أُجُورٍ وَإِنِ اجْتَهَدْتَ فَأَخْطَأْتَ فَلَكَ أَجْرٌ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ           

“Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasannya dua orang laki-laki telah berselisih datang kepada Nabi saw. Maka Nabi bersabda kepada ‘Amr, Tetapkanlah olehmu perkara antara dua orang itu?. Kemudian ‘Amr pun bertanya, ‘Aku yang menetapkan sedangkan engkau hadir?’ Nabi menjawab, ‘Iya, jika engkau benar maka bagimu sepuluh ganjaran namun jika engkau berijtihad dan keliru maka bagi dirimu satu ganjaran” (H.R al-Hakim,  Bab Kitabul Ahkam no. 7004 ia Mengatakan hadis ini sanadnya shahih)

Siapa Mujathid?

Dari pengertian Ijtihad ini, maka dapat dipahami bahwa mujtahid itu ialah orang yang memiliki kemampuan dalam berijtihad, yaitu seorang yang mampu memberikan kesimpulan hukum-hukum syar’I melalui dalil-dalil yang terperinci. Dengan demikian, seorang tidak akan disebut sebagai seorang mujtahid jika hanya mengetahui hukum syar’I dengan cara menghafal saja atau hanya dengan menyampaikan hukum melalui kitab-kitab dan lisan para ulama dengan tanpa ada proses penelitian dan istinbath. (al-Wajiz fi Ushulil Fiqh : 317)

Syaikh Abdul Karim Zaidan menjelaskan setidaknya ada tujuh syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid.

Pertama, Memahami Bahasa Arab. Seorang mujtahid tidak akan mampu memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dengan baik dan ber-istinbath  jika ia tidak memahami bahasa arab. Terlebih al-Qur’an dan Hadis yang memiliki nilai keindahan bahasa yang tinggi, keduanya tidak akan dipahami jika seorang tidak memahami Ilmu Nahwu, shorof, Balaghah, Bayan dan Ma’ani.

Kedua, Memahami al-Qur’an. Seorang mujtahid harus mampu membedakan mana ayat yang bersifat umum dan mana ayat yang bersifat khusus. Ia pun harus memahami ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an. Sebagian Ulama menyatakan bahwa seorang mujtahid harus memahami lima ratus ayat tentang hukum dalam al-Qur’an.

Ketiga, Memahami Sunnah. Seorang mujtahid harus memiliki kemampuan dalam membedakan hadis dhaif dengan hadis shahih, hadist mutawatir dan hadis ahad, Asbabul Wurud, nasikh wal Mansukh, kaidah-kaidah dalam Tarjih (Memilih mana yang lebih kuat) dan masalah-masalah seputar ilmu hadis agar tidak keliru dalam memahami hadis.

Keempat, Memahami Ilmu Ushul Fiqh. Seorang Mujtahid sangat penting untuk memahami ilmu ini, karena ia tidak akan mampu ber-Istinbath tanpa memahami ilmu ini. Mulai dari aspek-aspek petunjuk lafazh, makna-makannya, mana yang harus didahulukan dan diakhirkan, serta kaidah-kaidah Tarjih dalam setiap dalil yang ada, semua ini tidak akan dipahami jika seorang mujtahid tidak memahami Ilmu Ushul Fiqh.

Kelima, Memahami Ijma. Seorang mujtahi mesti mengetahui mana masalah-masalah yang telah masuk dalam perkara Ijma’ dan mana masalah yang menyalahi Ijma.

Keenam, Memahami Maqashid asy-Syar’iyyah. Dengan memahami Maqashid asy-Syar’iyyah  seorang mujtahid mampu memberikan kesimpulan hukum yang tidak dijelaskan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, bisa melalui Qiyas, Maslahat ataupun Adat yang yang telah berlaku dengan menimbang kemaslahatan untuk umat.

Ketujuh, kesiapan secara fitrah untuk berijtihad. Syarat ketujuh ini syarat yang tidak diberlakukan oleh para ahli ushul terdahulu. Ketika seorang memiliki akal yang baik, kelembutan hati, kejernihan dalam berpikir dan ketajaman dalam pemahaman, maka ia akan dengan mudah untuk memahami alat-alat untuk berijtihad. (al-Wajiz fi Ushulil Fiqh : 318-320)

Dengan demikian tidak semua orang memiliki kemampuan berijtihad. Tidak sedikit orang yang dengan mudah mengatakan ‘Saya Berijtihad’ dalam perkara syari’at sedangkan ia tidak memiliki kemampuan dalam berijtihad bahkan tidak memiliki salah satu syarat pun dari tujuh syarat yang telah disebutkan sebelumnya.

Ijtihad Tidak terikat Waktu dan Zaman

Sebagian ulama mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Pernyataan ini, hakikinya bukan menutup pintu ijtihad, namun untuk menutup celah orang-orang bodoh menganggap sepele dalam berijtihad. Seorang yang telah mampu untuk berijtihad tidak masuk dalam pernyataan ini. Oleh karena itu, Ijtihad akan terus berlangsung hingga hari kiamat, selama syarat-syarat dalam berijtihad telah dipenuhi. (al-Wajiz fi Ushulil Fiqh : 321)

Al-Qur’an telah mendorong seorang untuk mengerahkan kemampuan dalam merenungkan ayat-ayat al-Qur’an. Dorongan ini memberi isyarat bahwa setiap orang dituntut untuk memahami hukum-hukum Allah. Maka, secara tidak langsung al-Qur’an mendorong kita semua untuk memiliki kemampuan dalam berijtihad.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S Muhammad : 24) 

Ijtihad tidak Dapat Gugur dengan Ijtihad

Setiap mujtahid tidak boleh mengingkari ijtihad yang lainnya selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam perkara ijtihadiyah dalam masalah-masalah fur’iyyah, perbedaan ijtihad itu tidak menyebabkan seorang berdosa. Seorang yang benar dalam ijtihadnya mendapatkan dua pahala sedangkan yang keliru hanya mendapatkan satu pahala. Perbedaan ijtihad ini, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,

لَيْسَ لَهُ مَنْعُ النَاسُ مِنْ مِثْلِ ذَلِكَ وَلَا مِنْ نَظَائِرِهِ مِمَا يَسُوْغُ فِيْهِ الِاجْتِهَادُ وَلَيْسَ مَعَهُ بِالمَنْعِ نَصٌ مِنْ كِتَابِ وَلَا سُنَةٍ وَلَا إِجْمَاعٍ وَلَا مَا هُوَ فِي مَعْنَى ذَلِكَ؛ لَا سِيَمَا وَأَكْثَرُ العُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ مِثْلِ ذَلِكَ وَهُوَ مِمَا يَعْمَلُ بِهِ عَامَةُ المُسْلِمِيْنَ فِي عَامَةِ الأَمْصَارِ . وَهَذَا كَمَا أَنَ الحَاكِمَ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَنْقَضَ حُكْمَ غَيْرِهِ فِي مِثْلِ هَذِهِ المَسَائِلِ وَلَا لِلْعَالِمِ والمُفْتِيْ أَنْ يَلْزَمُ النَاسُ بِاتِبَاعِهِ فِي مِثْلِ هَذِهِ المَسَائِلِ؛ وَلِهَذَا لِمَا اسْتَشَارَ الرَشِيْدُ مَالِكًا أَنْ يَحْمَلَ النَاسُ عَلَى [ مُوَطَئِهِ ] فِي مِثْلِ هَذِهِ المَسَائِلِ مَنَعَهُ مِنْ ذَلِكَ . وَقَالَ : إِنَ أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ تَفَرَقُوْا فِي الأَمْصَارِ وَقَدْ أَخَذَ كُلُ قَوْمٍ مِنَ العِلْمِ مِا بَلَغَهُمْ

“Seorang tidak boleh melarang orang-orang dan hal yang semisalnya dalam perkara yang layak untuk berijtihad. Dan seorang pula tidak boleh melarang sesuatu yang telah ada keterangannya dalam al-Qur’an, sunnah dan Ijma’. Terlebih kebanyakan ulama membolehkan hal itu dan bahkan telah diamalkan pula oleh kebanyakan kaum muslimin di berbagai negeri. Hal ini sebagaimana ketetapan syariat bahwa seorang hakim tidak boleh menggugurkan hukum selainnya dalam masalah-masalah seperti ini, begitu pula seorang ‘Alim dan seorang Mufti tidak boleh memaksa orang-orang untuk mengikutinya dalam masalah-masalah ini. Oleh karena itu Harun ar-Rasyid ketika bermusyawarah agar Imam Malik mendorong orang-orang di negerinya untuk menjadikan pegangan al-Muwatha’ dalam masalah ini, maka kemudian Imam Malik melarangnya dan mengatakan. ‘Sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw. dahulu berbeda pendapat dan sungguh setiap kaum telah mengambil ilmu yang sampai kepada mereka” (Majmu’l Fatawa : 79 : 30).

Wallahu A’lam bis Shawwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *