Merdeka Itu Bebas dari Kemiskinan - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Merdeka Itu Bebas dari Kemiskinan

3 months ago
1288

Kemerdekaan didambakan oleh siapa pun, tidak terkecuali oleh bangsa Palestina yang hingga kini masih memperjuangkan kemerdekaannya. Tidak terhitung sudah berapa banyak syuhada yang gugur dan masyarakat Palestina yang kehilangan tempat tinggal di negerinya sendiri. Hal yang tidak jauh beda sebenarnya dirasakan oleh bangsa Indonesia. Meski proklamasi kemerdekaan sudah dikumandangkan nyatanya Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari penjajahan bangsa asing.

Majalah Tafaqquh berkesempatan mewawancarai pakar Hukum Internasional dan Kepala Departemen Hukum Internasional di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran yang juga merupakan seorang Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Prof. Atip Latipulhayat, SH., LL.M., Ph.D. tentang kemerdekaan Palestina dan Indonesia. Selamat membaca.

Mengapa sampai saat ini PBB belum mengakui kemerdekaan Palestina, bahkan kemarin sempat dihapus dari google maps?

Palestina adalah sejarah panjang dari penjajahan (kolonialisme) dan sebuah gambaran ketidakadilan dari sebuah sistem Internasional. Palestina telah mengajukan keanggotaan PBB sejak lama, tetapi tidak mendapatkan rekomendasi dari Dewan Keamanan PBB. Hal ini terjadi karena dalam sistem PBB, untuk menjadi anggota PBB itu harus mendapatkan rekomendasi dari Dewan Keamanan PBB. Dewan Keamanan PBB terdiri dari lima Negara pemilik hak veto (hak istimewa), yaitu Amerika, Inggris, Rusia, China, dan Prancis. 2/3 dari Negara anggota PBB telah menyetujui keanggotaan Palestina sebagai Negara, tetapi keputusan tersebut ditolak karena tidak mendapat rekomendasi dari salah satu Dewan Keamanan PBB, yaitu Amerika. Sehingga meskipun seluruh Negara anggota PBB telah menyetujui, belum tentu dapat diputuskan jika salah satu Negara pemilik hak veto menolaknya. Walaupun sebenarnya, Palestina telah diakui oleh banyak Negara, termasuk Negara-Negara di Eropa.

Hak Veto di PBB sebenarnya memiliki tujuan yang baik, sebab pada awalnya hak veto tersebut digunakan untuk kepentingan objektif terutama berkaitan dengan menjaga keamanan dunia dan internasional. Namun, dalam pelaksanaannya justru digunakan untuk kepentingan subjektif masing-masing anggota. Pengkajian ulang terhadap hak veto PBB ini telah diusulkan sejak lama agar dikurangi kemutlakannya atau agar hak veto ini tidak digunakan untuk kepentingan tertentu saja, terutama hal-hal yang subjektif. Tetapi, usulan ini tentu bukan hal yang mudah untuk diwujudkan.

 

Mengapa Israel ingin mencaplok Tepi Barat dan mengapa PBB tidak bersikap tegas?

Hal tersebut terjadi karena tujuan Israel itu adalah menjajah dan berkaitan dengan keyakinan mereka tentang promise land (tanah yang dijanjikan). Sehingga Israel akan terus memperluas daerah penjajahan mereka, termasuk dengan mencaplok Tepi Barat. Jika dilihat dari sudut pandang hukum, jelas bahwa Israel telah melanggar hukum Internasional. Hukum internasional bahkan tidak jalan jika berkaitan dengan Israel. Karena suatu hukum membutuhkan kekuatan, tetapi kekuatan itu sendiri justru ada di Negara yang mendukung Israel, yaitu Amerika. Amerika bahkan sudah beberapa kali menggunakan hak Veto untuk membela Israel, karena Israel adalah sekutu utama Amerika. Tidak heran, jika PBB tidak dapat bertindak tegas pada penjajahan di Palestina.

 

Di tengah polemik yang ada justru Palestina sendiri terpecah menjadi dua kubu; Fatah-Hamas. Bagaimana Pandangan Profesor terkait hal tersebut?

Fatah-Hamas, keduanya adalah kelompok yang memiliki tujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina, namun memiliki ideologi perjuangan yang berbeda. Hamas menganggap jika kemerdekaan Palestina atas Israel tidak dapat dilakukan dengan jalur diplomasi atau komunikasi politik, sedangkan Fatah memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui jalur diplomasi. Perbedaan ini yang cukup menjadi problem (masalah) dalam perjuangan kemerdekaan Palestina. Sehingga Fatah dan Hamas sebaiknya bersatu agar terjadi sinergitas perjuangan dalam upaya meraih kemerdekaan Palestina.

 

Usaha yang perlu dilakukan oleh muslim dunia untuk kemerdekaan Palestina itu apa?

Usaha kemerdekaan Palestina sebenarnya telah dilakukan sejak lama dengan menyatukan kekuatan dan meningkatkan kerjasama di antara negara-negara Islam yang salah satunya dipicu oleh masalah Palestina. Usaha tersebut tergambarkan dengan kehadiran Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Ke depan, dunia Islam harus lebih bersatu lagi dalam berbagai bentuk perjuangan, terutama untuk kemerdekaan Palestina. Sehingga dari segi kekuatan politik, ekonomi, militer, dan berbagai aspek lainnya negara-negara Islam menjadi jauh lebih kuat.

 

Tahun ini Indonesia telah sampai di usia 75 tahun kemerdekaan, sebenarnya apakah Indonesia telah benar-benar merdeka atau belum?

Jika dilihat dari sudut pandang politik, tentu Indonesia telah merdeka dari penjajahan. Tidak akan ada satu pun negara di dunia yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Namun, dalam urusan ekonomi, kedaulatan, dan lain sebagainya bangsa Indonesia masih harus berjuang. Sebagaimana cita-cita kemerdekaan Indonesia agar menjadi bangsa yang berdaulat secara ekonomi dan menghadirkan bangsa yang sejahtera di Negerinya sendiri.

 

Indikator Negara merdeka itu seperti apa?

Secara sederhana, merdeka itu adalah freedom (kebebasan). Yaitu kebebasan dari penindasan, intervensi negara lain, dan kebebasan-kebebasan lainnya. Sehingga bukan hanya merdeka secara politik, tetapi juga memiliki nilai kemerdekaan yang sebenarnya dengan terbebas dari kemiskinan, penjajahan, dan memiliki kedaulatan sendiri dalam menentukan berbagai kebijakan Negara.

 

Bagaimana agar hakikat kemerdekaan itu benar-benar dapat dirasakan oleh bangsa Indonesia?

Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa ini harus memanusiakan manusia. Sebagaimana konsep tauhid dalam Islam, memerdekakan manusia dalam penghambaan terhadap manusia kepada menghambakan diri hanya pada Allah swt., karena manusia sendiri diciptakan oleh Allah dalam keadaan merdeka. Proses memanusiakan manusia, salah satunya diawali dengan membebaskan manusia dari kemiskinan. Ketika kemiskinan itu ada, manusia menjadi kurang manusiawi, hakikat manusianya menjadi turun karena penindasan dan pembatasan-pembatasan yang tidak perlu. Sebab itu, negara harus memanusiakan manusia agar hakikat kemerdekaan benar-benar dapat dirasakan oleh bangsa Indonesia.

Elfa Muhammad Ihsan Al Aufa

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *