Urgensi Dzikir Selepas Merdeka

2 months ago
770

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat (QS. an-Nashr [110] : 3).

Ada dua makna dari surat an-Nashr di atas: Pertama, apabila kaum muslimin memperoleh kemenangan dari musuh atau merdeka dari penjajahan bangsa asing, dan itu ditandakan juga dengan banyaknya manusia yang masuk Islam sebagaimana lumrahnya bangsa yang kalah selalu ikut agama yang menang, maka bertasbihlah, tahmid, istighfar, dan taubat. Itu semua sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah swt, dzikir agar selalu ingat kemahakuasaan Allah swt, dan hisab atas segala kesalahan diri yang sudah dilakukan sebelum kemenangan tiba.

Nabi saw mencontohkan, ketika Makkah jatuh ke tangan pasukan muslim, beliau shalat delapan raka’at di waktu dluha. Para shahabat umumnya menyebut shalat itu shalat dluha, tetapi al-Hafizh Ibn Katsir sendiri lebih cenderung untuk menamakannya shalat al-fath (penaklukan). Alasannya karena Nabi saw tidak merutinkan shalat dluha. Jika yang dirutinkan saja seperti rawatib tidak beliau amalkan ketika safar, apalagi yang tidak beliau rutinkan. Jadi shalat delapan raka’at itu, menurut Ibn Katsir, lebih tepat disebut shalat al-fath, sebagai implementasi dari titah dalam ayat di atas. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh pasukan kaum muslimin sesudah beliau.

Tentunya tidak berarti bahwa dengan mengamalkan shalat selepas menang tersebut maka titah dalam ayat di atas sudah selesai diamalkan. Amal tasbih, tahmid, istighfar, dan taubat berlaku sepanjang hayat dikandung badan.

Makna kedua, apabila sudah dekat ajal maka perbanyaklah tasbih, tahmid, istighfar, dan taubat. Ini didasarkan pada hadits ‘Aisyah dan Ibn ‘Abbas ra dimana Nabi saw memperbanyak tasbih, tahmid, istighfar, dan taubat menjelang akhir ajalnya melebihi dzikir-dzikir sebelumnya. Ketika ‘Aisyah ra konfirmasi, Nabi saw menjawab bahwa itu disebabkan pemberitahuan ajalnya sudah dekat telah diumumkan Allah swt dalam surat an-Nashr tersebut.

Itu berarti bahwa siapapun orangnya harus punya target agar bertambahnya usia bertambah juga kesuksesannya. Target sukses yang dimaksud tentu sukses dalam hal agama, bukan materi duniawi, sebab Nabi saw pun wafat tanpa meninggalkan harta warisan yang melimpah. Selanjutnya memperbanyak tasbih, tahmid, istighfar, dan taubat agar ajal menjemput ketika diri sudah menjadi pribadi yang sempurna.

Maka jika bangsa Indonesia hanya menyambut kemerdekaan dengan pesta ia pasti melupakan dua dzikir yang penting di atas; dzikir atas kemerdekaan yang sudah diraih sehingga abai dari mempertahankan dan meningkatkan kualitas kemerdekaannya, dan dzikir atas sisa usianya untuk meningkatkan kesuksesan agamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *