Jangan Mudah Mengkafirkan

3 weeks ago
922

Bagaimana pandangan ustadz terkait konsep tauhid rububiyyah “madzhab salafi” yang menilai tauhid terhadap orang-orang musyrik jahiliyyah?

Sebenarnya, mengenai tauhid rububiyyah itu adalah meyakini adanya Rabb. Semua manusia meyakini adanya Rabb, baik orang-orang musyrik jahiliyyah bahkan Fir’aun sekalipun. Meskipun ia mengatakan ana rabbukumul-a’la, tetapi dalam akhir kehidupan ia mengatakan amantu annahu lā ilaha illa-lladzi āmanat bihi banū isrā’il wa ana minal-muslimin (Q.S. Yunus [10] : 90). Perkataan Fira’un tentang mengaku bahwa ia Tuhan itu hanya sebatas kesombongannya saja, tetapi di dalam hati kecilnya ia meyakini keberadaan Rabbnya.

 

Lalu bagaimana cara menyelesaikan antara syirik dan tauhid, yang semestinya dua hal tersebut tidak boleh disatukan?

Sudah jelas dalam al-Qur’an wa mā qadarullah haqqa qadrih (tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan sebenar-sebenarnya pengangungan) (QS. Al-An’am [6] : 91]. Artinya bahwa mereka bertauhid tapi tidak utuh, tidak benar. Kafir Jahiliyyah sudah mengakui tapi pengakuannya belum benar, sehingga dibenarkan oleh Rasulullah. Maka tauhid rububiyyah bisa dikatakan bahwa tauhid ini adalah tauhid fitrah, semua yakin akan adanya Rabb. Kalaupun dikatakan antara syirik dan tauhid tidak bisa disatukan, tapi memang faktanya demikian. Setan, Iblis pun meyakini adanya Rabb, dikatakan khalaqtani min-nār; Engkau menciptakanku dari api. Artinya bukankah ia meyakini adanya Rabb yang mencipta? Tentu meyakini, tapi mereka membantah terhadap Rabbnya, dalam al-Qur’an disebutkan Abā wa-stakbara. Dengan demikian, tauhidnya tidak utuh atau tidak sempurna. Oleh sebab itu, tauhid rububiyyah adalah tauhid fitrah. Artinya untuk bahasanya itu terserah, tapi pada intinya bahwa tauhid rububiyyah itu fitrah. Hubungan tiga konsep tauhid itu nanti talazum (saling berkaitan). Artinya tauhid rububiyyah harus dengan tauhid uluhiyyah, dan demikian seterusnya.

 

Kemudian Konsep Tauhid Uluhiyyah sampai berani mengkafirkan dalam hal tawassul, tasyaffu’, dan tabarruk, bagaimana ustadz menilai?

Harus diketahui apa yang dimaksud tauhid uluhiyyah. Apakah ada pertentangan terkait definisi tauhid uluhiyyah atau tidak. Tauhid uluhiyyah itu adalah amali’. Tauhid ‘Amali berarti semua bentuk penyembahan hanya untuk Allah swt. Berarti nanti kalau ada tauhid uluhiyyah, maka akan ada syirk fīl-ulūhiyah. Maksudnya bagaimana? Nanti ada beberapa praktik ibadah yang seharusnya kepada Allah swt, tapi malah bukan kepada Allah swt. Dan dari sana nanti dirinci, mana saja amaliah yang seharusnya untuk Allah tapi diserahkan juga kepada selain Allah, dan ini banyak macamnya, termasuk tawassul (menggunakan wasilah/perantara antara diri sendiri dengan Allah swt), tasyaffu’ (mencari syafa’at kepada selain Allah swt), tabarruk (mengharapkan barakah dari benda-benda tertentu), dan banyak lagi. Dan dalam hal itu mesti dirinci pula, ada tawassul masyru’ (diysari’atkan) dan ada tawassul mamnū’ (dilarang). Begitu pun dengan tasyaffu’, tabarruk, dan yang lainnya.

Kemudian, yang masyru’ perhatikan juga apakah itu ittifaq (disepakati) atau tidak, karena nanti yang masyru’ pun ada yang mukhtalaf (diperselisihkan). Lalu yang jadi pertanyaan kenapa diperselisihkan? Mungkin nanti banyak hal sampai diperselisihkan, salah satunya beda penilaian terhadap hadits. Andai kata hadits itu palsu, maka itu berarti mamnū’ (dilarang). Apalagi dalam masalah aqidah, harus betul-betul diperhatikan tentang hadits yang dipakainya, jangan hadits palsu. Bahkan hadits dla’īf pun tidak boleh dipakai dalam masalah aqidah.  Selanjutnya perlu diinvetarisir juga mana saja hadits-hadits yang dipakainya. Nanti perbedaan dalam menilai hadits itu ijtihadi (perbedaan kesimpulan sesudah penelitian/ijtihad), dengan demikian hal itu rahabatush-shadrī (disikapi dengan lapang dada). Maka penyebab perbedaan itu, bisa karena perbedaan penilaian hadits, atau sama menilai hadits tapi beda dalam memahami maknanya, atau sudah berbeda titik tolak. Kalau sudah berbeda titik tolak berarti itu sudah tidak memakai dalil, nah ini yang nanti disebut sesat.

Jadi, ditegaskan kembali, perlu didudukkan mana yang masyru’ dan mana yang mamnū. Kemudian dibagi lagi muttafaq masyru’-nya dan muttafaq mamnū-nya. Dan yang mukhtalaf masyru’-nya, nanti apa penyebabnya, bisa diselesaikan tidak? Mau diselesaikan tidak? Begitu yang perlu diperhatikan.  

 

Pandangan ustadz tentang konsep tauhid asma wa sifat yang telah ekstrem memvonis kafir dan minimalnya sesat kepada para ulama Ahlus-Sunnah yang memilih madzhab ta’wil?

Perlu dipahami bahwa perbedaan itu ada dalam masalah ushul (pokok agama) dan masalah furu’ (cabang agama). Kemudian dalam masalah tauhid asma wa sifat juga banyak sekali madzhab, dan setiap madzhab itu juga menuduh kepada kelompok dan madzhab yang lain sebagai kelompok yang sesat dan kafir juga. Begitu pula kelompok madzhab ta`wil pun sangat ekstrem mengkritik madzhab salaf, mengatakan bahwa Ibn Taimiyyah gila. Jadi, jangan menilai sebelah mata, antara madzhab ta`wil dan madzhab di luar ta`wil itu sama-sama ekstrem juga. Kadang-kadang sikap ekstrem itu karena situasi yang ekstrem juga. Bahkan di zaman Imam Ahmad, orang-orang yang bermadzhab ta`wil menyiksa orang-orang yang tidak menta`wil, bahkan selevel Imam Ahmad pun dihukum. Coba bayangkan selevel Imam Ahmad dihukum? Jadi ekstrem mana antara yang menta`wil dan yang tidak menta`wil?

Imam Malik pun pernah ditanya tentang mal-istiwa (apa yang dimaksud Allah “bersemayam” di atas ‘Arasy)? Jawab Imam Malik: Istiwa ma’lum wal-iman bihi wajib wa su’āl anhu bid’ah (istiwa itu sudah maklum, mengimaninya wajib, dan bertanya tentang hal itu bid’ah). Artinya, Imam Malik sangat tegas kepada orang yang mau mengutak-atik tentang Tuhan, menyalahi manhaj salaf, bertanya tentang bagaimana Tuhan, itu termasuk bid’ah.

Banyak ulama-ulama lain yang disiksa dan dipenjarakan, tetapi saya perlu menelusuri kembali data-datanya. Jadi, kalau melihat fakta seperti itu, lebih ekstrem mana antara yang menta`wil dan yang tidak menta`wil? Mungkin saja, saat ini yang lebih keras itu yang menta`wil atau yang tidak menta`wil atau sebut saja manhaj salaf? Baik kesan verbal atau dengan ungkapan lain, kalau lihat data-data kembali, bagaimana kecaman-kecaman mereka yang tidak setuju dengan ta`wil, menganggap kepada mereka yang tidak menta`wil sebagai kelompok mujassimah (meyakini Allah swt memiliki fisik tubuh), kebodohan, sesat, atau seperti kepada Ibn Taimiyyah yang dianggap gila dan masih banyak lagi kecaman-kecaman yang kasar terhadap ulama yang tidak sepaham dengannya. Jadi yang kasar atau ekstrem itu siapa, kalau memang mau dibalikkan fakta? Dan bisa jadi, hal itu ada raddu-fi’li (tindakan balasan), maksudnya disebabkan dikasari, maka akan berbalik kasar pula.

 

Sikap bijak seperti apakah yang mesti dilakukan?

Perlu didudukkan kembali tentang masalah ta`wil, apakah ada titik temu atau tidak? Mungkin guru saya bisa jadi rujukan, namanya Syaikh Muhammad Khalif at-Tamīmī. Guru saya yang ini termasuk orang yang concern di bidang asma wa sifat. Informasi terakhir, perbedaan ta`wil itu bukan masalah jauhariyyah (inti), tapi dalam masalah syakliyyah (bentuk formal, kemasan). Jauharīnya intinya mensucikan Allah swt (tanzih), baik yang ta`wil dan yang tidak ta`wil, pada intinya sama-sama ingin mensucikan Allah. Menurut sebagian mereka untuk mensucikan Allah itu harus dengan ta`wil, menurut sebagian yang lain tidak boleh ta`wil, tapi pada intinya sama-sama ingin mensucikan Allah swt. Maka perbedaan itu bukan jauhariyyah tapi syakliyyah, hanya bentuknya saja tapi inti substansinya sama.

Itu mungkin sikap yang lebih bijak, sebab kalau berbicara ekstrem, keduanya sama-sama ekstrem. Kadang-kadang sifat ekstrem itu diletakkan pada jauhariyyah, dan ini yang tidak boleh.

 

Dalam konsep syirik akbar dan ashgar, Salafi menilai orang yang masih muslim namun pelaku dosa besar divonis sebagai orang yang kekal di dalam neraka? Padahal itu bukan kafir i’tiqadi tetapi kafir ‘amali. Pandangan ustadz bagaimana?

Pertanyaan tentang hal ini, saya sendiri memang belum memahami betul. Karena di dalam al-Qur’an penyebutan masuk neraka dengan kalimat khalidina fīha (kekal di dalam neraka) kadang-kadang itu karena dengan satu amalan. Dan kalimat khalidina fiha di sana dipahami untuk orang kafir, tetapi untuk orang mukmin bukan makna khalidina fiha, penyebutan hal itu hanya untuk rasa takut saja, sebab tadi bahwa orang mukmin tidak mungkin setara dengan orang kafir. Penyebutan di dalam al-Qur’an kalimat khalidina fiha itu hanya untuk orang kafir saja, karena kalau orang mukmin yang fasiq (tidak sampai kafir/musyrik) itu nanti bisa keluar dengan syafa’at, meskipun dalam hati kecilnya keyakinannya sebesar dzarrah (biji yang sangat kecil).

Kemudian harus dipahami juga, mungkin bukan berarti ia takfirul-muslimin (mengkafirkan kaum muslim). Takfir itu sendiri nanti pembagiannya ada takfir mu’ayyan (mengkafirkan ke individu orang langsung) dan takfir ghair mu’ayyan (mengkafirkan secara umum, tidak menunjuk orang tertentu).

Penghuni neraka pun nanti dibagi dua. Pertama, mukhallad fiha (kekal di dalamnya), tempat ini diperuntukan orang-orang kafir. Sedangkan yang kedua, ghair mukhalladun fiha (tidak kekal di dalamnya), inilah bagi orang mukmin fasiq yang bisa keluar melalui syafa’at.

 

Dalam konsep rumusan Nawaqidlul-Islam (pembatal Islam menurut Salafi), terutama dalam hal takfir, bagaimana akibat dari takfir yang serampangan untuk kaum muslimin yang masih kategori fasik dan ada peluang untuk mendapatkan syafa’at?

Menganggap iman dan menganggap kafir merupakan bagian dari doktrin aqidah dan mempunyai standar yang jelas. Dan tentunya ada beberapa kaidah dalam masalah menganggap kafir serta harus ekstra betul hati-hati. Kalau bahasa saya, “Lebih baik salah menilai ia muslim, daripada salah menilai ia kafir” karena sebuah hadits yang menyatakan, “Barang siapa yang menyatakan kafir kepada seseorang, padahal tidak terbukti, maka kafirnya itu kembali kepada yang mengatakannya”.

Dalam masalah ini ada sedikit saja indikasi keimanan pada seseorang, maka seorang itu sudah dianggap muslim. Kemudian dari dalil sangat banyak tentang hal itu. Ketika Nabi menentukan seorang muslim atau tidak, maka ditunggu apakah terdengar adzan atau tidak, kalau terdengar adzan berarti tidak jadi memeranginya, maka dengan adzan sudah dianggap muslim. Begitu pun dengan melihat bapak ibunya muslim, maka anaknya pun sudah dianggap muslim. Bahkan jika masih dalam kandungan yang sudah wajib dizakati (120 hari), maka ia sudah muslim (kullu mauludin yuladu ‘ala fitrah).

Itulah keislaman sudah jelas, sekecil apapun indikasi keislaman, maka ia sudah islam, dan tidak boleh dikeluarkan dari Islam. Yang tahu hakikat keislaman dan keimanan seseorang hanyalah Allah swt dan hal itu akan diketahui nanti di pengadilan Allah swt. Maka oleh sebab itu, hal-hal itulah yang harus ekstra hati-hati dalam menilai kafir (takfir) dan para ulama sudah menyusun dhawābith (standar ukuran), dimana dhawabith ini harus menjadi patokan.

Tibaus Surur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *