Makmum Tidak Mengikuti Qunut Shubuh Imam - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Makmum Tidak Mengikuti Qunut Shubuh Imam

3 weeks ago
1003

Bismillah. Ustadz maaf bertanya. Selama ini Persis dengan tegas menyatakan bahwa qunut subuh adalah bid’ah. Terlepas dari fatwa tersebut bagaimana sebaiknya sikap seseorang yang bermakmum kepada imam yang melakukan qunut subuh kalau dikaitkan dengan hadits imam harus diikuti oleh makmum. Apakah harus ikut qunut (mengangkat tangan & meng-amin-kan) atau diam saja. Terima kasih atas jawabannya. Jazaakumullahu khairan. 0813-1209-xxx

 

Hadits yang anda tanyakan diriwayatkan Anas ibn Malik ra sebagai berikut:

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

Hanyasanya imam itu diangkat untuk diikuti. Maka apabila ia shalat sambil berdiri, shalatlah kalian sambil berdiri. Apabila ia ruku’, ruku’lah kalian. Apabila ia bangkit, maka bangkitlah kalian. Apabila ia membaca sami’allâhu liman hamidah, bacalah oleh kalian Rabbanâ wa lakal-hamdu. Apabila ia shalat sambil berdiri, maka shalatlah kalian sambil berdiri. Dan apabila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk semuanya.” (Shahih al-Bukhari bab innama ju’ilal-imam li yu`tamma bihi no. 688-689).

Dalam hadits Abu Hurairah ra riwayat Abu Dawud ada tambahan penekanan dari Nabi saw:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَلاَ تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ … وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ

Hanyasanya imam itu diangkat untuk diikuti. Apabila imam takbir, maka takbirlah. Janganlah kalian takbir sehingga imam takbir. Apabila imam ruku’, ruku’lah kalian, dan janganlah kalian ruku’ sehingga imam ruku’…Apabila imam sujud maka sujudlah, dan janganlah kalian sujud sehingga imam sujud (Sunan Abi Dawud bab al-imam yushalli min qu’ud no. 603).

Dalam hadits Abu Hurairah ra riwayat Ibn Majah ada tambahan keterangan:

وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا وَإِذَا قَالَ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ

Apabila imam membaca al-Qur`an, maka diamlah kalian. Apabila imam membaca ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa lâd-dlâllîn, ucapkanlah oleh kalian âmîn (Sunan Ibn Majah bab idza qara`al-imam fa anshitu no. 846).

Terkait hadits-hadits di atas, Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah menjelaskan bahwa di antara bentuk kesempurnaan i`timam (mengikuti imam) adalah mengikuti semua gerakan shalatnya, sehingga kalau imam memandang ada syari’at duduk istirahah sementara makmumnya tidak, makmum harus mengikuti praktik duduk istirahah imam sebagai bentuk i`timam. Demikian sebagaimana dikutip dari Taudlihul-Ahkam min Bulughil-Maram bab shalatil-jama’ah wal-imamah.

Akan tetapi pendapat Ibn Taimiyyah itu hanya bersifat fiqihnya pribadi, sebabnya dalam hadits di atas Nabi saw sendiri sudah menjelaskan dalam hal apa i`timam itu harus dilakukan, yakni takbir, membaca al-Qur`an, membaca amin, ruku’, i’tidal, sujud, dan praktik berdiri-duduk imam dalam shalat. Dalam kesemuanya itu tidak boleh makmum mendahului imam. Demikian juga sebaliknya memperlambat diri dari imam, karena itu termasuk tidak mengikuti juga. Adapun dalam hal-hal yang sering berbeda antara imam dan makmum yang beda madzhab seperti duduk istirahah, cara ruku’, cara i’tidal, cara turun sujud, cara sujud, cara duduk iftirasy, bangkit dari sujud, qunut shubuh, qunut nazilah, dan praktik-praktik lainnya yang berbeda, tidak ada keharusan makmum mengikuti sepenuhnya imam.

Jadi jelasnya jika makmum berpendapat bahwa qunut shubuh itu bid’ah maka tidak ada keharusan ia mengikuti imam qunut shubuh, cukup i’tidal biasa saja dan menunggu imam selesai qunut. Yang diwajibkan untuknya adalah mengikuti gerakan imam tanpa mendahuluinya, juga semua hal yang Nabi saw sabdakan langsung dalam hadits-hadits di atas.

Terkait shalat makmum sambil duduk ketika imam shalat sambil duduk, perintah Nabi saw di atas tidak bermakna wajib, sebabnya di masa Nabi saw sakit menjelang wafatnya, Nabi saw shalat sambil duduk, lalu Abu Bakar menjadi makmum di sampingnya sambil berdiri, dan makmum lainnya di belakang Nabi saw dan Abu Bakar, shalat sambil berdiri. Hal ini, menurut al-Hafizh menjadi dalil bahwa perintah bagi makmum mengikuti imam dalam hal duduk dan berdiri otomatis menjadi gugur atau tidak wajib, meski masih boleh diamalkan.

Al-Hafizh menyimpulkan fiqih hadits di atas sebagai berikut:

وَالْمُرَاد بِهَا أَنَّ الِائْتِمَام يَقْتَضِي مُتَابَعَة الْمَأْمُوم لِإِمَامِهِ فِي أَحْوَال الصَّلَاة ، فَتَنْتِفِي الْمُقَارَنَة وَالْمُسَابَقَة وَالْمُخَالَفَة

Yang dimaksud dengannya “bermakmum” itu memastikan mengikuti imam dalam gerakan shalat dan tidak boleh menyamai, mendahului, atau mengakhirkan diri (Fathul-Bari bab innama ju’ilal-imam li yu`tamma bihi).

Contoh Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *