Hafalan al-Quran dan Hadits Santri PPI 27 - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Hafalan al-Quran dan Hadits Santri PPI 27

3 weeks ago
1149

Selain terkenal berbasis pada pendidikan adab, Pesantren Persis 27 pun hadir dengan program unggulannya, yakni Hifzhan (hafalan) al-Qur’an 30 Juz’. Santri di sana dituntut untuk menghafal al-Qur’an sebanyak 30 Juz’. Hal itu berlaku bagi santri Tsanawiyyah juga Mu’allimin, tentu saja dengan ketentuan yang berbeda. Adapun bagi santri Tsanawiyyah, program hifzhan al-Qur’an 30 Juz’ ini sengaja dirancang hanya bagi santri yang berencana melanjutkan kembali jenjang Mu’allimin-nya di Pesantren Persis 27. Adapun teknisnya, berbeda dengan tingkat Muallimin, bagi santi tingkat Tsanawiyyah dituntut untuk hafal 15 Juz’, minimalnya, dalam jangka waktu tiga tahun. Sehingga bila dikalkulasikan, dalam waktu satu tahun santri harus sudah hafal sebanyak 5 Juz’. Setiap santri dituntut untuk hafal dalam sehari minimalnya setengah halaman. Bila dapat melakukan hal itu secara istiqomah, insya’al-Llah, dalam waktu satu bulan santri dapat hafal setengah Juz’.

Jamise Syar'i

Bagi santri Mu’allimin memiliki target menghafal 30 Juz’ dalam jangka waktu tiga tahun. Bila dikalkulasikan santri harus menghafal 10 juz dalam waktu satu tahun. Agar dapat memenuhi target tersebut, pesantren menawarkan metode ODOP; One Day One Page atau satu hari satu halaman. Sehingga bila santri mampu menghafal al-Qur’an sebanyak satu halaman dalam satu hari secara istiqomah, insya’al-Llah, dalam satu bulan satu Juz’ akan hafal.

Namun, semuanya dikembalikan sesuai dengan kemampuan masing-masing santri. Pesantren tidak mungkin mendesak secara paksa santri untuk itu, namun tetap sebagaimana Allah swt. ajarkan di al-Qur’an; Allah tidak membebani seseorang kecuali sekemampuannya.

Begitu pula dengan program Hifzhan Hadits, Pesantren Persis 27 menuntut santrinya agar dapat menghafal hadits, di samping al-Qur’an. Hadits-hadits yang dihafal diambil dari kitab Bulughul-Maram karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalany (1372-1449 M), Riyadhus-Shalihin karya Imam Nawawi (1233-1277 M), dan Mukhtashar Shahih Bukhari (810-870 M).

Bagi santri Tsanawiyyah dalam tiga tahun pembelajaran ditargetkan hafal sebanyak 614 hadits dari kitab Bulughul-Maram; 309 hadits dari kitab Riyadhus-Shalihin; dan 214 hadits dari kitab Mukhtashshar Shahih Bukhari, maka bila dihitung secara keseluruhan, dalam tiga tahun pembelajaran santri Tsanawiyyah dituntut untuk hafal sebanyak 1.137 hadits.

Sedangkan bagi santri Muallimin, ditargetkan hafal dalam tiga tahun pembelajaran sebanyak 657 hadits dari kitab Bulughul Maram; 361 hadits dari kitab Riyadhush-Shalihin; dan 351 hadits dari kitab Mukhtashar Shahih Bukhari, maka dihitung secara keseluruhan, dalam tiga tahun pembelajaran santri Mu’allimin dituntut untuk hafal sebanyak 1.369.

Tentunya, semua ini merupakan bentuk ikhtiar pesantren agar melahirkan dan menciptakan generasi-generasi yang selalu berpegang pada Qur’an dan Sunnah (hadits) dimanapun dan kapanpun itu. Karena mengingat bahwa Qur’an dan Sunnah (hadits) merupakan indikator seorang muslim agar terus berada dijalan yang lurus, serta dapat menjadi sebab mendapat petunjuk dari-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sungguh aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang tidak akan membuat kalian sesat apabila telah berpegang pada keduanya : Kitabul-Llah (Qur’an) dan sunnahku (hadits), serta keduanya tidak akan berpisah sampai bertemu padaku di  telaga surga” (Al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala Shahihain, Kitab al-‘Ilm Bab Fa amma Hadits Abdillah ibn Numair, Vol. I, hal 307).

Tidak hanya itu, Qur’an &  Sunnah (hadits) juga merupakan hujjah, sumber hukum dan rujukan yang paling utama, terutama bagi para santri yang didambakan dan diimpikan pesantren ini untuk menjadi pendakwah Islam. Maka kedua sumber hukum ini sangat penting untuk dipahami oleh seorang pendakwah islam, tentunya salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan cara menghafalnya. Wa-Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *