Hukuman Mati untuk Penghina Nabi - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Hukuman Mati untuk Penghina Nabi

3 weeks ago
1113

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57)

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (QS. Al-Ahzab [33]: 57)

Pada ayat sebelumnya, Allah swt mengabarkan tentang keagungan Nabi Muhammad saw. Keagungan Nabi Muhammad saw dibuktikan dengan bershalawatnya Allah dan para malaikat kepadanya. Bahkan orang-orang beriman pun diperintahkan untuk bershalawat kepadanya.

Jamise Syar'i

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56)

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

Yang pokok shalawat itu bermakna berdoa. Namun jika shalawat itu berasal dari Allah maka maknanya adalah rahmat dan ridha-Nya. Dan jika shalawat itu berasal dari malaikat maka maknanya adalah mendoakan dan memintakan ampunan untuknya. Sedangkan jika shalawat itu berasal dari umat Nabi Muhammad saw maka maknanya adalah mendoakan dan mengagungkannya.

Dengan kedua ayat ini, memberikan isyarat kepada kaum muslimin bahwa mana munkin kalian menyakiti Nabi Muhammad saw, sedangkan Allah dan para malaikat saja bershalawat kepadanya. (Tafsir al-Munir)

Sampai-sampai Allah mengharamkan tanah dan termasuk di dalamnya binatang merayap untuk memakan jasad Nabi saw, sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan terhadap Nabi saw.

قَالَ : إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ.

Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para nabi.” (Sunan Ibnu Majah no. 1636)

Penghinaan terhadap Nabi saw telah terjadi sejak Nabi saw memproklamirkan dirinya sebagai utusan Allah sekaligus mengajak kepada kaum musyrikin Arab untuk meninggalkan praktek penyembahan berhala. Cacian semisal orang gila, si penyair, si penyihir, dan semisalnya sering ditujukan kepada Nabi saw. Walau sebenarnya mereka menyadari bahwa itu semua tidak benar.

Hal itu sebagaimana diceritakan oleh Shafiyyrahman al-Mubarakfuri dalam Raudhatul Anwar fi Shiratun-Nabiyyi al-Mukhar, bahwa ketika musim haji tiba kemudian muncul kekhawatiran akan tersebarluasnya dakwah Nabi saw, mereka orang-orang kafir Quraisy bersepakat untuk mencari strategi agar dakwah Nabi saw tidak diterima oleh masyarakat di luar kota Makkah. Akhirnya mereka mendatangi al-Walid bin al-Mughirah sebagai sesepuh dari suku Quraisy. Maka tuduhan-tudahan yang dilemparkan kepada pribadi Nabi saw, semisal majnun (orang gila), sya’ir (penyair), dan sahir (penyihir) sempat ditolak seluruhnya oleh al-Walid bin Mughirah.

وَ اللهِ إِنَّ لَقَوْلَهُ حَلَاوَةٌ، وَ إِنَّ عَلَيْهِ لَطِلَاوَةٌ، وَ إِنَّ أَصْلَهُ لَعَذْقٌ، وَ إِنَّ فَرْعَهُ لَجْنَاةٌ. وَ مَا أَنْتُمْ بِقَائِلِيْنَ مِنْ هَذَا شَيْئًا إِلَّا عُرِفَ أَنَّهُ بَاطِلٌ، وَ إِنَّ أَقْرَبَ الْقَوْلِ أَنْ تَقُوْلُوْا هُوَ سَاحِرٌ، وَقَوْلُهُ سَاحِرٌ يُفَرِّقُ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ أَبِيْهِ وَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ أَخِيْهِ وَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ زَوْجِهِ وَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ عَشِيْرَتِهِ

Demi Allah! Sungguh ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan indah. Akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian menuduhnya dengan salah satu dari hal tersebut melainkan akan diketahui kebatilannya. Sesungguhnya, pendapat yang lebih dekat mengenai dirinya adalah dia tukang sihir yang membawa suatu ucapan berupa sihir, yang mampu memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, saudara, istri dan keluarganya.

Ayat ini meski turun berkenaan dengan istrinya Nabi saw, Shafiyyah binti Huyyay, akan tetapi dzhirnya menunjukan tentang orang-orang yang mencela Nabi saw.

Eksekusi Mati

Ibnu Taimiyyah dalam ash-Sharimul-Maslul ‘ala Syatimir-Rasul menegaskan bahwa hukuman bagi orang yang menghina dan melecehkan Nabi saw adalah eksekusi mati. Menurutnya, ini telah menjadi kesepakatan bagi mayoritas ahli ilmu dan ulama empat mazhab.

Qadhi ‘Iyadh merinci bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap Nabi saw yang menyebabkan seseorang dieksekusi mati. Berikut penjelasannya:

Kethuilah –semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan kamu- bahwa orang yang menghina Nabi saw, mencelanya, mencemarkan namanya, keturunannya, agamanya, atau mencemarkan kepribadiannya, menyindirnya, menyerupakannya dengan sesuatu dalam bentuk hinaan, merendahkannya, dan meremehkannya adalah bentuk penghinaan terhadap Nabi saw. Dan hukuman terhadap orang yang menghina Nabi adalah dibunuh. (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquqi al-Mushthafa, 2013:765)

 Berikut dalil-dalil yang dijadikan argumen terhadap hukuman mati bagi para penghina Nabi saw, di antaranya adalah:

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا (60) مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا (61)

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar. Dalam Keadaan terlaknat. di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. (QS. Al-Ahzab [33]: 60-61)

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka did unia, dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar. (QS. Al-Maidah [5]: 33)

Muharabah (memerangi) pada ayat di atas, makna asalnya adalah melanggar; melampau batas; menganiaya; menyerang dan merampok. Dipakai pada ayat ini dengan makna majazi, yaitu mengintimidasi dan berbuat jelek kepada Allah dan Rasul-Nya. (Al-Munir, 2009: 512)

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (61)

Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah, “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (QS. At-Taubah [9]: 61)

جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الْأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jabir bin Abdillah radhiya-‘Llahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang sanggup membubuh Ka’ab bin al-Asyraf? Sungguh ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih al-Bukhari no. 2510)

Pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam pidatonya yang mendukung karikatur Nabi Muhammad saw beberapa pekan lalu, sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap Samuel Patty yang dipenggal kepalanya oleh salah seorang muridnya gara-gara menampilkan karikatur Nabi Muhammad saw dalam pelajaran kebebasan berekspresi adalah bentuk penghinaan terhadap Nabi saw. 

Maka kecaman yang diawali oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang kemudian disusul oleh sejumlah negara Islam di dunia merupakan sikap yang tepat untuk menunjukan pembelaan terhadap Nabi Muhammad saw. Jika sulit merealisasikan hukuman mati terhadap Presiden Macron yang telah menghina Nabi Muhammad saw, maka mematikan ekonomi Prancis dengan mengkampanyekan boikot terhadap produk-produknya adalah cara lain untuk merealisasikan hukuman mati terhadap Macron.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *