Jeda Antara Adzan dan Iqamat - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Jeda Antara Adzan dan Iqamat

3 weeks ago
1116

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِبِلَالٍ: إِذَا أَذَّنْتَ فَتَرَسَّلْ وَإِذَا أَقَمْتَ فَاحْدُرْ وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ الْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ. الْحَدِيثَ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

Dari Jabir—semoga Allah meridlainya—sesungguhnya Rasulullah—semoga shalawat dan salam dari Allah selalu tercurah untuknya—bersabda kepada Bilal: “Apabila kamu adzan maka perlambatlah dan apabila iqamat percepatlah. Serta jadikanlah Antara adzan dan iqamatmu seukuran selesainya orang yang makan dari makannya—silahkan baca kelanjutan haditsnya. At-Tirmidzi meriwayatkannya dan mendla’ifkannya.

Tautsiq Hadits

Jamise Syar'i

Imam at-Tirmidzi menuliskan hadits di atas dalam Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fit-tarassul fil-adzan no. 195-196 dari sanad ‘Abdul-Mun’im, dari Yahya ibn Muslim, dari al-Hasan dan ‘Atha`, dari Jabir ra. Imam at-Tirmidzi menjelaskan:

حَدِيثُ جَابِرٍ هَذَا حَدِيثٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ المُنْعِمِ، وَهُوَ إِسْنَادٌ مَجْهُولٌ

Hadits Jabir ini adalah hadits yang kami tidak mengetahuinya melainkan dari jalur ini dari hadits ‘Abdul-Mun’im, dan itu sanad majhul (tidak dikenal).

‘Abdul-Mun’im yang disebutkan oleh Imam at-Tirmidzi di atas disimpulkan statusnya oleh Ibn Hajar dalam Taqribut-Tahdzib: matruk (harus ditinggalkan karena pendusta). Al-Hafizh Ibn Hajar dalam at-Talkhishul-Habir menjelaskan ada sanad lain dari ‘Ali ra akan tetapi dalam sanadnya ada rawi yang matruk juga yakni ‘Amr ibn Syimr. Jadi kesimpulannya hadits ini dla’if.

Dalam Fathul-Bari bab kam bainal-adzan wal-iqamah, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa hadits Jabir ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah, Salman, dan Ubay ibn Ka’ab. Akan tetapi semuanya berstatus dla’if.

Syarah Hadits

Meski status hadits di atas dla’if, hukum yang dijelaskan hadits di atas disepakati oleh para ulama bisa diamalkan. Itulah mungkin yang menjadi alasan al-Hafizh Ibn Hajar tetap menuliskannya dalam Bulughul-Maram. Terlebih sebagaimana dijelaskannya dalam Fathul-Bari, dikuatkan oleh tiga hadits shahabat lainnya yang secara teori bisa saling menguatkan. Ditambah lagi faktanya dikuatkan oleh ijma’, hadits mauquf, dan hadits-hadits shahih yang semakna.

Terkait memperlambat bacaan adzan dan mempercepat iqamat, Imam an-Nawawi menyebutnya muttafaq ‘alaih dan Imam as-Syafi’i pun menegaskan demikian. Meski dengan cara bagaimanapun adzan sah, tetapi dengan cara yang disepakati ini lebih baik (al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab 3 : 108). Ini berarti bahwa praktik adzan seperti diajarkan hadits di atas statusnya mujma’ ‘alaih (disepakati), bukan berdasarkan hadits dla’ifnya melainkan berdasarkan ijma’. Di antara dasar dalil yang dirujuk oleh Imam as-Syirazi dalam al-Muhadzdzab dari madzhab Syafi’i ataupun Ibn Qudamah dari madzhab Hanbali adalah hadits ‘Umar ra yang mauquf dari muadzdzinnya, Abuz-Zubair, seorang tabi’i masyhur, dimana ‘Umar ra berkata kepadanya:

إِذَا أَذَّنْت فَتَرَسَّلْ وَإِذَا أَقَمْت فَاحْذِمْ

Apabila kamu adzan perlambatlah dan apabila iqamat percepatlah (al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab 3 : 108 dan Tuhfatul-Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fit-tarassul fil-adzan)

Berdasarkan ijma’ ini maka adzan dikumandangkan satu lafazh satu lafazh secara perlahan dengan satu nafas untuk setiap lafazhna, kecuali lafazh Allahu Akbar Allahu Akbar dua lafazh disatunafaskan berdasarkan hadits ‘Umar dan Mu’awiyah ra tentang cara menjawab adzan yang jelas disebutkan bahwa khusus untuk lafazh Allahu Akbar disebutkan sekaligus dua lafazh dalam satu nafas (Tuhfatul-Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fit-tarassul fil-adzan).

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ…

Apabila muadzdzin mengucapkan Allahu Akbar Allahu Akbar lalu salah seorang di antaramu mengucapkan Allahu Akbar Allahu Akbar; kemudian ketika muadzdzin mengucapkan Asyhadu alla ilaha illal-‘Llah ia juga mengucapkan Asyhadu alla ilaha illal-‘Llah(Hadits ‘Umar ra dalam Shahih Muslim kitab as-shalat bab istihbabil-qaul mitsla qaulil-muadzdzin liman sami’ahu no. 876).

أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ مُعَاوِيَةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

Muadzdzin adzan: Allahu Akbar Allahu Akbar, Mu’awiyah menjawab: Allahu Akbar Allahu Akbar… (Shahih al-Bukhari kitab al-jumu’ah bab yujibul-imam ‘alal-minbar idza sami’an-nida` no. 914)

Adzan juga dikumandangkan dengan perlahan. Standar bacaan mad-nya otomatis standar adzan, tidak standar membaca al-Qur`an secara umum atau standar iqamat.

Sementara terkait jarak jeda antara adzan dan iqamat, menurut Imam al-Bukhari seukuran shalat sunat dua raka’at antara adzan dan iqamat. Jadi meskipun hadits di atas dla’if tetapi pengamalannya terkuatkan oleh hadits-hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim. Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya menuliskan satu tarjamah khusus:

بَاب كَمْ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَمَنْ يَنْتَظِرُ الْإِقَامَةَ

Bab: Berapa lama jarak antara adzan dan iqamat dan orang yang menunggu iqamat.

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan dalam Fathul-Bari bahwa hadits Jabir di awal yang dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah, Salman, dan Ubay ibn Ka’ab, menunjukkan bahwa jarak antara adzan dan iqamat itu ada, hanya ukuran pastinya saja yang tidak disepakati. Dengan menuliskan hadits-hadits di bawah ini, al-Bukhari hendak memberikan petunjuk bahwa jarak yang dimaksud adalah seukuran shalat sunat qabliyyah. Khusus untuk shalat shubuh, sesudah shalat qabla shubuh ada menunggu sebentar menuju iqamat. Itulah yang dimaksud tarjamah: “dan orang yang menunggu iqamat”. Meski tentunya menunggu iqamat ini berlaku juga untuk shalat-shalat lainnya jika diperlukan. Ini juga berarti bahwa shalat sunat antara adzan dan iqamat itu jelas dianjurkan dalam sunnah dan sebaiknya diamalkan sebagaimana hukum shalat sunat pada umumnya.

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ لِمَنْ شَاءَ

Di antara dua adzan ada shalat. Di antara dua adzan ada shalat. Di antara dua adzan ada shalat, bagi yang mau (Shahih al-Bukhari kitab al-adzan bab kam bainal-adzan wal-iqamah no. 624).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ الْمُؤَذِّنُ إِذَا أَذَّنَ قَامَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِيَ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَذَلِكَ يُصَلُّونَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ شَيْءٌ قَالَ عُثْمَانُ بْنُ جَبَلَةَ وَأَبُو دَاوُدَ عَنْ شُعْبَةَ لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلَّا قَلِيلٌ

Dari Anas ibn Malik ra ia berkata: “Dahulu jika muadzdzin selesai adzan, beberapa shahabat Nabi saw bersegera mendekati tiang-tiang. Sampai Nabi saw keluar mereka masih seperti itu sedang shalat dua raka’at sebelum maghrib. Tidak ada apapun antara adzan dan iqamat.” ‘Utsman ibn Jabalah dan Abu Dawud menjelaskan dari Syu’bah, maksudnya “tidak ada antara adzan dan iqamat itu melainkan sebentar”. (Shahih al-Bukhari kitab al-adzan bab kam bainal-adzan wal-iqamah no. 625. Dalam riwayat Muslim disebutkan oleh Anas ra: Sehingga sungguh ada pendatang asing yang masuk masjid ia menyangka shalat maghrib sudah dikerjakan saking banyaknya jama’ah yang shalat qabla maghrib).

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ بِالْأُولَى مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ بَعْدَ أَنْ يَسْتَبِينَ الْفَجْرُ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw itu apabila muadzdzin selesai dari “adzan pertama” shalat shubuh beliau berdiri dan shalat dua raka’at yang ringkas sebelum shalat shubuh setelah jelas fajar, kemudian berbaring ke sebelah kanan sehingga muadzdzin dating kepada beliau untuk memberitahu iqamat.” (Shahih al-Bukhari kitab al-adzan bab man intazharal-iqamah no. 625).

Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *