Keadilan Sosial bagi Penguasa-Pengusaha - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Keadilan Sosial bagi Penguasa-Pengusaha

3 weeks ago
1360

Dengan sangat tergesa-gesa para penguasa dan pengusaha (corporatocracy) Negeri ini berkolaborasi untuk mengesahkan perundang-undangan raksasa demi mewujudkan keadilan sosial bagi mereka. Omnibus Law dalam wujud UU Cipta Kerja terdiri dari 15 bab 174 pasal 905 halaman. UU ini menjadi UU sapu jagat yang akan menyapu UU lain yang ada di jagat Indonesia demi kepentingan penguasa-pengusaha. Sila kelima Pancasila “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan seenaknya saja mereka ubah menjadi “Keadilan Sosial bagi Seluruh Penguasa-Pengusaha”. Tidak heran kalau kemudian mahasiswa mengkritik “Pancasila” sudah berubah menjadi “Pancasalah”

Dari sejak zaman para Nabi, musuh terbesar umat selalu para penguasa yang berkolaborasi dengan para pengusaha. Al-Qur`an menyebutnya al-mala`u di 17 ayat yang berbeda. Al-Hafizh Ibn Katsir menafsirkannya dengan:

Jamise Syar'i

الْجُمْهُورُ وَالسَّادَةُ وَالْقَادَةُ وَالْكُبَرَاءُ مِنْهُمْ

Mayoritas, tuan-tuan, para pemimpin, dan para pembesar dari mereka (Tafsir QS. Al-A’raf [7] : 60).

Sebut misalnya dalam surat al-A’raf [7] yang secara berturut-turut menyebutkan musuh para Nabi as mulai dari Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan Musa ‘alaihimus-salam sebagai berikut:

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ٦٠

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata“. (QS. Al-A’raf [7] : 60)

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ٦٦

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta“. (QS. Al-A’raf [7] : 66)

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ  قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ٧٥

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang shaleh diutus untuk menyampaikannya“. (QS. Al-A’raf [7] : 75)

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا  قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ٨٨

Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami“. Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” (QS. Al-A’raf [7] : 88).

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ١٠٩

Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai.” (QS. Al-A’raf [7] : 109)

Khusus untuk para pemuka kaum Fir’aun disebutkan dalam ayat yang lain tokoh-tokoh utamanya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ٢٣ إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ٢٤

Dan Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”. (QS. Ghafir [40] : 23-24).

Fir’aun adalah raja Mesir. Haman adalah pejabat tinggi Mesir di bawah Fir’aun. Sementara Qarun adalah pengusaha sukses. Mereka inilah al-mala`u di zaman Nabi Musa as yang berkolaborasi apik untuk menentang da’wah Nabi Musa as dan menghasut umatnya bahwa Nabi Musa as adalah pembohong dan penyebar hoax. Seperti ini juga gambaran al-mala`u dari para penentang Nabi-nabi yang disebutkan sebelumnya. Selalu berkolaborasi antara penguasa dan pengusaha di sepanjang sejarahnya untuk menjadi musuh Nabi dan umatnya.

Pasca era kenabian Muhammad saw, kolaborasi penguasa-pengusaha ini melahirkan ideologi kapitalisme yang menekankan bahwa yang berhak menerima keuntungan besar hanya para pemilik modal (kapital), sebab merekalah yang paling menentukan dalam laju ekonomi sebuah Negara. Sementara buruh dan orang-orang miskin hanya sebagai pelengkap saja. Ideologi ini sempat ditentang oleh sosialisme dan komunisme. Akan tetapi sosialisme dan komunisme kemudian menjadi kapitalisme juga ketika para pengusung ideologinya menjadi para penguasa. Mereka berkolaborasi juga dengan para pengusaha untuk menciptakan keuntungan maksimal bagi mereka. Bahkan kenyataannya komunis dan sosialis seringkali lebih kejam daripada Negara-negara kapitalis. Sebut misalnya Rusia dan Cina dengan Hongkong yang sampai saat ini masih bergejolak. Belum lagi Negara-negara Amerika Tengah dan Selatan seperti Kuba, Bolivia, dan Venezuela yang mengagungkan sosialisme sebagai lawan kapitalisme tetapi berujung dengan kapitalisme gaya baru. Betapa jelas corporatocracy (kekuasaan yang disetir oleh pengusaha) sudah menjadi tabi’at para pembesar zhalim, baik di masa dahulu ataupun masa sekarang, dan bahkan sampai akhir masa di sepanjang sejarahnya.

Islam Membela Hak Buruh dan Kaum Miskin

Islam sebagai agama rahmatan lil-‘alamin tentu tidak memiliki ideologi seperti kapitalisme yang meyakini bahwa para pemilik modal saja yang harus diutamakan karena jasa besarnya. Islam juga tidak seperti sosialisme atau komunisme yang mengajarkan doktrin ekstrem sebaliknya bahwa pengusaha harus berbagi sama dengan kaum buruh. Al-Hafizh Ibn Hajar menekankan bahwa Islam mengajarkan muwasah (saling berbagi) tetapi tidak sampai musawah (berbagi sama persis). Islam mengajarkan bahwa siapa pun orangnya baik itu yang lebih tinggi status sosialnya atau yang lebih rendah, statusnya sebagai saudara bagi masing-masingnya. Nabi saw sendiri ketika pertama kali datang ke Madinah mempraktikkannya dengan muakhat (mempersaudarakan yang tidak ada hubungan nasab) berdasarkan standar persaudaraan seagama (ukhuwwah islamiyyah). Maka kaum buruh tidak memandang para pengusaha sebagai para penjahat kelas kakap, demikian juga para pengusaha tidak memandang kaum buruh hanya sebagai pelengkap saja; jika sudah tidak menguntungkan dibuang saja. Hak sesama saudara meski di antara yang berbeda status sosialnya dijelaskan oleh Nabi saw dalam berbagai hadits sebagai berikut:

إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

Pembantumu/hamba sahayamu adalah saudaramu. Allah menjadikan mereka di bawah tangan kalian. Maka siapa yang saudaranya ada di bawah tangan (kekuasaan)-nya hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan dan memberinya pakaian dari apa yang ia pakai. Janganlah menugasi mereka dengan apa yang mereka tidak mampu. Jika kamu memberi tugas kepada mereka yang mereka tidak mampu maka bantulah mereka (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabiy saw al-‘abid ikhwanukum no. 2545).

Maksud hadits ini, al-Hafizh Ibn Hajar menegaskan, adalah muwasah (saling berbagi) bukan musawah (harus persis sama) karena ada lafazh min pada mimma yang menunjukkan sebagian bukan keseluruhannya sama (Fathul-Bari). Intinya para pekerja harus diberi makanan dan pakaian yang layak atau penghidupan yang layak.

مَنْ كَانَ لَنَا عَامِلاً فَلْيَكْتَسِبْ زَوْجَةً فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ خَادِمٌ فَلْيَكْتَسِبْ خَادِمًا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَسْكَنٌ فَلْيَكْتَسِبْ مَسْكَنًا مَنِ اتَّخَذَ غَيْرَ ذَلِكَ فَهُوَ غَالٌّ أَوْ سَارِقٌ

Siapa yang jadi pekerja kami maka hendaklah ia memperoleh istri. Jika ia tidak punya pembantu, hendaklah ia memperoleh pembantu. Jika ia tidak punya rumah, hendaklah ia memperoleh rumah. Siapa yang memperkaya diri lebih dari itu maka itu termasuk menggelapkan atau mencuri (Sunan Abi Dawud bab fi arzaqil-‘ummal no. 2947).

Maksud hadits di atas sebagaimana dijelaskan al-Khaththabi, ada dua pengertian: (1) Setiap pekerja berhak mendapatkan upah yang layak seukuran bisa menikah, mempunyai pembantu, dan memiliki rumah. Pekerja yang terbukti memperkaya diri secara ilegal, senyap-senyap, maka itu termasuk penggelapan atau pencurian. (2) Setiap pekerja yang belum menikah, mempunyai pembantu, dan memiliki rumah, harus diberi uang untuk menikah, diberi layanan pembantu, dan diberi fasilitas rumah selama ia bekerja, yang kesemuanya dalam akad hak guna pakai, tidak sampai hak milik (‘Aunul-Ma’bud bab fi arzaqil-‘ummal).

Apapun makna yang dipilih dari dua penjelasan di atas pada intinya para pekerja harus mendapatkan kehidupan yang layak, baik itu berupa hak milik ataupun hak guna pakai. Pola pikir kapitalis (mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya) tidak sesuai dengan ajaran ukhuwwah Islam ini. Pemerintah RI dalam hal ini juga jangan kemudian terjebak pada keinginan dan tuntutan para kapitalis. Jika dirasa di Negara lain seperti Vietnam dan Cina para kapitalis dimanjakan dengan sejumlah keuntungan besar bagi mereka, jangan kemudian Negara Indonesia ikut membebek kepada Vietnam, Cina, dan Negara-negara semisal dengan mengorbankan hak-hak hidup layak untuk kaum buruh. Dalih bahwa agar banyak lapangan kerja tercipta seperti di Vietnam dan Cina tidak tepat jika faktanya tidak disertai dengan menghasilkan kehidupan yang layak untuk kaum buruh dan miskin. Maka penguasa sudah seharusnya memosisikan diri sebagai penengah di antara pengusaha dan buruh atau kaum miskin secara umum, bukan malah memihak kepada penguasa dan kemudian berdalih kepada kaum miskin ini demi menciptakan lapangan kerja yang banyak untuk kaum buruh dan miskin. Mereka tidak butuh dalih-dalih cipta kerja seperti itu, yang mereka butuhkan adalah kehidupan yang layak.

Dari sekian pekerja yang ada maka para pengajar kitab Allah; al-Qur`an, dan semua ilmu yang diturunkan dari al-Qur`an sudah sepantasnya mendapatkan upah yang lebih baik sebab mereka mengajarkan ilmu yang paling mulia. Mereka lebih berhak untuk mendapatkan yang lebih dari rumah dan pembantu, sebab mereka juga berkewajiban mengembangkan ilmu mereka, sehingga dibutuhkan modal yang besar untuk itu. Meski ini tidak bisa dijadikan dalih untuk memberanikan diri meminta upah (QS. as-Syu’ara` [26] : 109, 127, 145, 164, 180). Hanya sebatas berhak, tanpa diperbolehkan menuntut hak. Jadi ini adalah kewajiban para pemberi kerja atau orang-orang yang memiliki harta lebih, karena para pengajar al-Qur`annya tetap tidak boleh menuntut upah.

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ

Sungguh, upah yang paling berhak kamu ambil adalah dari mengajarkan/meruqyahkan kitab Allah (Shahih al-Bukhari bab as-syarth fir-ruqyah no. 5737).

Dalam hal ini para pengusaha muslim juga tidak boleh berlagak kapitalis dengan pura-pura tidak tahu hak para pengajar al-Qur`an yang harus dimuliakan seperti ini. Sudah jadi pengetahuan umum jika saat ini banyak sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren yang berbayar mahal tetapi nyatanya yang menikmati keuntungannya hanya para pengurus Yayasannya saja. Meski tidak dipungkiri juga banyak para pengusaha yang menggratiskan biaya belajar dan memberikan kehidupan yang layak bari para pengajarnya.

Bukan hanya para pengusaha kepada para pekerjanya, tetapi juga orang-orang kaya dan berada kepada kerabatnya dan tetangganya yang harus memperlakukan mereka sebagai saudara dan kemudian semangat berbagi. Nabi saw mengajarkan:

طَعَامُ الِاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ

Makanan untuk dua orang harus cukup untuk tiga orang. Makanan untuk tiga orang harus cukup untuk empat orang (Shahih al-Bukhari bab tha’amul-wahid yakfil-itsnain no. 5392; Shahih Muslim bab fadllil-muwasah fit-tha’amil-qalil no. 5488).

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِى الاِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الاِثْنَيْنِ يَكْفِى الأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ

Makanan untuk satu orang harus cukup untuk dua orang. Makanan untuk dua orang harus cukup untuk empat orang. Makanan untuk empat orang harus cukup untuk delapan orang (Shahih Muslim bab fadllil-muwasah fit-tha’amil-qalil no. 5489).

Nabi saw memberikan teladan dalam hal ini. Perhatian beliau yang besar kepada orang-orang miskin, muallaf, dan para pelajar yang tinggal di masjid (Ahlus-Shuffah) tercatat dalam hadits. Ketika beliau memperoleh tawanan perang banyak dan putrinya, Fathimah, meminta satu untuk dijadikan pembantu, beliau menjawab:

وَاَللَّه لَا أُعْطِيكُمَا وَأَدَع أَهْل الصُّفَّة تُطْوَى بُطُونهمْ لَا أَجِد مَا أُنْفِق عَلَيْهِمْ وَلَكِنِّي أَبِيعهُمْ وَأُنْفِق عَلَيْهِمْ أَثْمَانهمْ

Demi Allah, aku tidak akan memberi kepada kalian berdua sementara aku membiarkan Ahlus-Shuffah  dalam keadaan perut kosong dan aku tidak punya sesuatu yang bisa aku nafkahkan kepada mereka. Maaf, aku akan jual para tawanan perang itu dan aku akan infaqkan hasilnya kepada Ahlus-Shuffah (Musnad Ahmad bab musnad ‘Ali ibn Abi Thalib no. 838).

Abu Hurairah ra sebagai salah seorang Ahlus-Shuffah juga menjelaskan:

وَأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ الْإِسْلَامِ لَا يَأْوُونَ إِلَى أَهْلٍ وَلَا مَالٍ وَلَا عَلَى أَحَدٍ إِذَا أَتَتْهُ صَدَقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئًا وَإِذَا أَتَتْهُ هَدِيَّةٌ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ وَأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فِيهَا

Ahlus-Shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki rumah, harta, tidak pula seorang pun keluarga/teman. Apabila ada shadaqah datang kepada beliau, beliau selalu mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambilnya sedikit pun. Tetapi apabila yang datang kepada beliau hadiah, beliau pun selalu mengirimkannya untuk mereka, tetapi setelah mengambilnya sedikit, dan kemudian berbagi dengan mereka (Shahih al-Bukhari bab kaifa kana ‘aisyun-Nabi saw wa ashhabihi no. 6452).

Inilah ajaran Islam untuk semua orang kaya dan berada agar selalu menempatkan kaum buruh, orang miskin, terutama para pengajar dan pelajar Islam sebagai saudara dan kemudian berbagi dengan mereka demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh umat. Bukan keadilan sosial untuk penguasa dan pengusaha saja.

Wal-‘Llahu a’lam

Nashruddin Syarief

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *