Ibrahim Panutan dalam Bertauhid - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ibrahim Panutan dalam Bertauhid

6 months ago
653

Dalam beberapa ayat al-Qur`an, Allah‘azza wa jalla memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallal-`Llāhu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti millah Ibrahim, di antaranya:

Jamise Syar'i

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“…Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ikutilah millah Ibrahim yang hanif (lurus)…” (QS an-Nahl [16]: 123) dan juga:

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Katakanlah: ‘Benarlah (segala yang difirmankan) Allah’, maka ikutilah millah Ibrahim yang hanif…” (QS Ali ‘Imran [3]: 95)

Meskipun begitu, bukan berarti beliau harus mengikuti syari’at Nabi Ibrahim karena syariat yang dibawa oleh beliau merupakan penyempurna dari syari’at-syari’at para nabi sebelumnya, termasuk Nabi Ibrahim. Bahkan sebaliknya, jika ada nabi sebelum beliau yang masih hidup pada masa kenabian beliau atau setelahnya, maka wajib bagi nabi tersebut untuk mengikuti syariat Muhammad. Dalam sebuah hadits beliau telah menegaskan:

وَالَّذِي نَفسِي بِيَدِهِ ‌لَو ‌أنَّ ‌مُوسَى ‌كَانَ حَيّاً مَا وَسَعَهُ إِلَاّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya Musa masih hidup tidaklah ia diberi keleluasaan kecuali untuk mengikuti (syariat)ku.” (Musnad Ahmad: III/387)

Dengan demikian, maksud dari perintah untuk mengikuti millah Ibrahim bukanlah mengikuti syari’atnya tapi hanya sekadar mengikuti ajaran tauhid yang diperjuangkannya dengan begitu gigih. Di dalam al-Qur`an banyak kisah perjuangannya yang Allah abadikan agar dapat dijadikan panutan oleh umat islam dalam bertauhid kepada Allah. Bahkan Allah sendiri yang memuji Nabi Ibrahim dan mengukuhkannya sebagai panutan bagi umat islam. FirmanNya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya…” (QS al-Mumtahanah [60]: 4)

Pengukuhan ini diulang lagi dalam ayat selanjutnya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ

Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri tauladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian…” (QS al-Mumtahanah [60]: 6)

Bukan tanpa alasan Allah mengukuhkan Nabi Ibrahim sebagai teladan dalam beragama, secara umum beliau memiliki sifat-sifat luar biasa yang membuatnya layak dijuluki sebagai khalilul-`Llah (kekasih Allah) sebagaimana yang langsung dinyatakan oleh firman Allah yang Mahabenar:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٢٠) شَاكِرًا لأنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (١٢١) وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (١٢٢)

Sungguh, Ibrahim adalah seorang ummah, qanit, hanif, dan dia bukan termasuk orang musyrik. Dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus. Dan kami berikan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya di akhirat ia termasuk orang yang shalih.” (QS an-Nahl [16]: 120-122)

Ummah di sana bisa berarti imam, yaitu pemimpin atau panutan dalam beragama atau bermakna umat secara bahasa, karena pada saat itu Nabi Ibrahim merupakan satu-satunya umat atau hamba Allah yang mukmin sedangkan seluruh manusia selainnya kafir sebagaimana yang dinyatakan oleh Mujahid. Selain itu, Abdullah ibn Mas’ud radliyal-`Llāhu ‘anhu menyatakan bahwa ummah bisa juga bermakna orang yang selalu mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

Adapun qanit adalah orang yang selalu taat kepada Allah dan rasul-Nya jika konteksnya mengarah pada seorang muslim biasa. Jika seorang nabi, maka tentunya hanya taat kepada Allah.

Sedangkan hanif maknanya adalah orang yang senantiasa lurus di jalan tauhid, tidak berbelok menuju jalan syirik. Dan terakhir, maksud dari mensyukuri nikmat-nikmat-Nya pada ayat di atas adalah selalu menggunakan kenikmatan yang Allah berikan kepadanya dalam rangka melaksanakan seluruh perintah Allah. Kemudian di akhir ayat ini Allah memberikan ganjaran bagi Nabi Ibrahim atas sifat-sifat luar biasa yang beliau miliki dan tentunya juga bagi orang-orang yang senantisa meneladani sifat-sifat beliau tersebut, yaitu dengan memberikan kebaikan di dunia dan menempatkannya di akhirat bersama para shalihin di surga-Nya. Menurut Ibn Katsir, maksud dari kebaikan di dunia adalah mencakup segala hal yang dibutuhkan oleh seorang mukmin selama di dunia guna mencapai hidup yang thayyib. (Tafsir Ibn Katsir, tafsir QS an-Nahl [16]: 120-122)

Dalam beberapa ayat al-Qur`an, Allah pun menyebutkan beberapa contoh konkret dari kisah-kisah Nabi Ibrahim yang dapat dijadikan teladan dalam bertauhid. Pertama, teladan beliau dalam mendakwahkan tauhid. Objek pertama dakwahnya adalah orang terdekatnya, yaitu ayahnya, Azar yang merupakan seorang penyembah berhala. Di samping status kafirnya, Azar merupakan ayah Ibrahim yang sedikit-banyaknya telah berjasa merawat dirinya sejak lahir. Oleh karenanya Ibrahim tetap menggunakan gaya bahasa yang penuh kelembutan dalam mendakwahi ayahnya. Ini berarti Ibrahim telah berhasil menjaga hak Allah dengan tetap menjaga orang lain untuk bertauhid tanpa mengenyampingkan hak orangtuanya. Allah mengabadikan ucapan beliau kepada ayahnya:

“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.” Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS Maryam [19]: 42-48)

Setelah mendakwahi orang terdekatnya, mulailah Ibrahim mendakwahi kaumnya, baik di Babilonia yang merupakan para penyembah berhala maupun di Harran yang merupakan para penyembah benda langit. Meskipun saat itu Ibrahim masih satu-satunya mukmin -sebelum Sarah dan Luth ikut beriman- ia tetap berani menyerukan tauhid demi melaksanakan perintah Allah, kekasihnya tercinta. Kendatipun dakwahnya selama bertahun-tahun tak kunjung membuahkan hasil, namun ia tetap tak jemu-jemu menyuarakan “u’budul-`Llaha wa-jtanibut-thaghut (beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut)”.

Kedua, teladan beliau dalam beribadah dan melaksanakan perintah Allah yang merupakan  praktik utama dari tauhid. Ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk membawa Hajar dan bayi Isma’il ke daerah tandus tak berpenghuni -yang sekarang menjadi Kota Makkah- kemudian meninggalkan mereka berdua, ia tetap melaksanakannya kendatipun terasa sangat pedih di hati saat meninggalkannya. Begitupun dalam melaksanakan perintah menyembelih putra semata wayangnya, Isma’il yang telah dinanti-nanti selama 80 tahun lamanya, ia tetap berusaha melaksanakannya sebaik mungkin, meskipun akhirnya Allah ganti dengan seekor domba dan menjadi teladan juga saat mereka melaksanakan perintah Allah dalam membangun Ka’bah bersama anaknya Isma’il.

Ada kisah unik yang ‘ibrahnya sangat luar biasa ketika turun perintah kepada Nabi Ibrahim untuk berkhitan. Beliau berkhitan dengan qadum (semisal kapak). Meskipun terasa sangat berat bagi dirinya, hal itu tidak pernah membuatnya merasa ragu terhadap segala kebaikan perintah Allah. Namun setelah selesai berkhitan, Allah mewahyukan kepadanya: “Engkau terburu-buru sebelum Kami tentukan alatnya.” Ibrahim mengatakan: “Wahai Rabb, sungguh aku tidak suka jika harus menunda perintah-Mu.” Inilah akibat dari luar biasa ketika seseorang telah memiliki kecintaan yang sangat besar kepada Allah; berada di puncak tauhid, ia akan senantiasa menjadikan perintah Allah di atas segalanya dan ingin segera melaksanakannya tanpa dinanti-nanti.

Terakhir, teladan beliau dalam menghadapi musibah dan ujian. Berkali-kali Ibrahim diuji keimanannya oleh Allah, seperti ketika dibakar hidup-hidup di Babilonia maupun ketika istrinya, Sarah, hendak dilecehkan oleh Raja Mesir. Dalam menghadapi musibah dan ujian, Ibrahim senantiasa langsung bergantung kepada Allah tanpa bergantung pada makhluk. Kisah detik-detik pembakaran Ibrahim adalah bukti bahwa Allah menjadi satu-satunya penolong baginya. Padahal saat itu Jibril menghampirinya untuk memberikan bantuan kepadanya.

Wal-`Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *