Ulama dalam Perundungan Penguasa - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ulama dalam Perundungan Penguasa

2 weeks ago
559

Ulama dengan segudang pengetahuan dan ilmunya menjadi sebab mereka memiliki kedudukan yang sangat penting di tengah-tengah masyarakat Muslim. Bahkan sejarah panjang peradaban Islam sekalipun di dalamnya terdapat peran penting para ulama.

Jamise Syar'i

Memang benar, di antara kebanggaan kita terhadap sejarah peradaban Islam tidak hanya terletak pada kesuksesan para khalifahnya di setiap masa, tetapi karena banyaknya tercantum ulama terkemuka yang telah berkontribusi banyak dalam segala bidang –terutama bidang keilmuan. Sehingga Syaikh Ahmad Farid menyanjung para ulama sebagai buah-buah yang baik lagi penuh berkah bagi dakwah Islam yang abadi yang mana melalui merekalah Allah meninggikan panji-Nya dan menjayakan syariat-Nya.” (Lihat. Min A’lâmis Salaf, jil. 1, hlm. 6)

Kedudukan ulama ditengah masyarakat tidak hanya dikarenakan berfungsi sebagai referensi umat dalam menghadap persoalan-persoalan keagamaan saja, sebab di suatu masa dan tempat, ulama berperan signifikan dalam urusan-urusan sosial, ekonomi, bahkan urusan politik-kenegaraan.

Tidak cukup sampai disitu, keberadaan ulama di tengah masyarakat ibarat garam sebagai penyedap rasa. Apabila umat memenuhi hak-haknya, maka akan ada kebaikan yang terjadi, namun begitu sebaliknya, bila umat menyepelekan, merendahkan sampai mendzaliminya maka pintu fitnah akan terbuka lebar. Sebagaimana Sulaiman Ar-Rukhaili menyatakan: “Akan senantiasa ada kebaikan kepada manusia selama mereka mengenal ulamanya, membenarkannya, dan senantiasa menjadikan mereka sebagai pijakan; dan akan senantiasa ada kebaikan kepada manusia selama ada di antara mereka seorang ulama.” (Fiqh Al-Fitan, hlm. 24)

Oleh karenanya, wajar bila ulama digambarkan ibarat bulan purnama di antara hamparan bintang-bintang dan mendapat perhatian di dalam Alquran maupun Assunnah, sampai Syaikh Badruddin Al-Kinani di dalam Kitabnya Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim; fi Adabil  ‘Âlim wal Muta’allimi dan Abu Bakr Muhammad Al-Ajri di dalam kitabnya Akhlaq Al-Ulama mencantumkan satu bab khusus berkenaan dengan keutamaan ilmu dan Ulama.

Akan tetapi, sepanjang sejarah islam pula, tidak sedikit kisah-kisah para ulama yang dirundung fitnah; mulai dari persekusi, penyiksaan, sampai  pemenjaraan. Misalnya, kitab Ittahâmmat lâ Tutsbat karya Syaikh Sulaiman bin Shalih Al-Khirasyi mencantumkan kisah para ulama dengan rupa-rupa fitnah dan ujian yang menimpanya.

Adapun tulisan singkat ini adalah potongan kecil dari sejarah peradaban islam yang di dalamnya terselip peristiwa yang menyayat hati, di mana ulama mendapat perlakuan dzalim dari para penguasa.

Abu Hanifah: “Tangis Ibuku Lebih Keras daripada Cambukan”

Abu Hanifah. Konon kunyah ini disematkan kepada An-Nu’man bin Tsabit bin Zuwatha At-Taimi Al-Kufi tersebab ia terus-terusan berobat dengan obat yang namanya hanifah. Beliau merupakan salah satu ulama dari kalangan Tabi’in yang dilahirkan di Kufah pada tahun 80 H. pada masa ke khalifahan Abdul Malik bin Marwan. (Lihat. Min A’lâmis Salaf, jil. 1, hlm. 222)

Keluasan ilmu  yang dimilikinya tidak perlu diceritakan, dan itulah yang menjadi sebab ia mendapat kedudukan yang istimewa di hati umat sampai hari ini. Dengan itu pula, beliau menjadi salah satu imam madzhab fiqih yang empat.

Abu Hanifah adalah ulama yang panen sanjungan dan pujian dari para ulama kaliber Fudail bin Iyadh, Yahya bin Ma’in, dan Imam Asy-Syafi’i atas keilmuwannya, ke-wara’annya, dan kedermawanannya. Hal ini dapat ditelusur di dalam beberapa kitab seperti Siyar A’lamin Nubala karya imam Adz-Dzahabi atau Tarikh Baghdad karya Al-Hafidz Khathib Al-baghdadi.

Akan tetapi, benarlah ungkapan bahwa tidak semua manusia akan menyukai kita sepenuhnya. Demikian juga yang menimpa Abu Hanifah, meski pujian dan sajungan seluhur gunung tidak menjadikan ia sempurna dimata semua manusia. Perjalanan hidupnya tidak lepas juga dari ujian dan cobaan serta fitnah. Adapun di antara ujian yang menimpanya ialah datang dari pemimpin pada masanya, yaitu khalifah Abu Ja’far Al-Manshur.

Di kisahkan oleh Khatib Al-Baghdadi dalam tarikh-nya  melalui Ubaidullah bin ‘Amr bahwa “Ibnu Hubairah mencambuk Abu Hanifah sebanyak 110 kali cambukan karena ia menolak menjabat sebagai qadhi.” (Tarikh Baghdad, 13/328)

Sedangkan dalam riwayat lain dari Yahya bin Abdul Hamid, dari ayahnya ia berkata: “Abu Hanifah keluar setiap hari –atau di antara hari-hari- sedang ia dicambuk agar mau terlibat di pengadilan sebagai qadhi.” (Tarikh Baghdad, 13/328)

Kurang lebih beginilah kronologisnya, tulis imam adz-Dzahabi di dalam Siyar-nya melalui riwayat dari Bisyr bin Al-Walid bahwa suatu waktu, khalifah al-Mansur mencari Abu Hanifah dan memanggilnya. Beliau diminta untuk menjadi qadhi, tetapi beliau menolak permintaannya sehingga membuat Al-Mansur marah dan menyatakan, “Apakah engkau membenci urusan kami?” Abu Hanifah menjawab, “Aku tidak layak sebagai qadhi.” Lantas Al-Manshur menimpali, “Engkau berdusta.” Kemudian Abu Hanifah menyatakan, “Sungguh Amirul Mu’minin (sendiri) telah menetapkan atasku bahwa aku tidak layak.” Al-Manshur semakin naik pitam atas jawabannya dan ia menjebloskan Abu Haifah ke dalam penjara.

Kemudian, Adz-Dzahabi melanjutkan dengan mengutif riwayat dari Al-Faqih  Abu Abdillah Ash-Shaimari bahwa beliau (Abu Hanifah) tidak mau menerima jabatan qadhi, lalu ia dicambuk dan dipenjara, kemudian meninggal dipenjara. (Siyar A’lamin Nubala, 6/402)

Malik bin Anas dan Cambuk Ja’far bin Sulaiman

Namanya tidak asing lagi ditelinga umat Islam. Beliau merupakan salah satu imam madzhab fiqh yang empat, yaitu Malik bin Anas bin Malik bin Amir bin Amr bin Al-Harits bin Ghaima bin Khutsail bin Amr bin Al-Harits atau Abu Abdillah Almadini. [Siyar A’lamin Nubala, 7/150]

Sebagaimana halnya imam Abu Hanifah, Malik bin Anas juga merupakan seorang ulama dengan keluasan ilmu yang sangat luar biasa, sehingga tidak sedikit para ulama menyanjung dan memuji beliau, seperti pujian imam Asy-Syafi’i yang memuji kemuliaan imam Malik dengan menyatakan, “jika para ulama disebut, maka Malik-lah bintangnya.” (Abu Nu’aim, Hilyatul Aulia, 6/318)

Bahkan untuk menunjukan kemuliaan dan keluasan ilmunya, imam Adz-Dzahabi sampai menyatakan, “Dia adalah alim Madinah pada zamannya, setelah Rasulullah dan sahabatnya, Zaid bin Tsabit, Aisyah, Ibnu Umar, Sa’id bin al-Musayyab, Az-Zuhri, Ubaidullah bin Umar, kemudian Malik.” (Siyar A’lamin Nubala, 7/155)

Pujian-pujian para ulama yang ditujukan kepadanya tentu sangatlah bayak, seperti pujian dari Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Uyainah, Al-Waqidi, dll. Namun, di sisi lain, ujian dan cobaan yang cukup menyayat hati sesiapa saja yang membaca kisahnya pun amatlah banyak. Di mana Malik bin Anas, tulis Abu Nu’aim  di dalam Hilyatul Aulia-nya, pernah dicambuk dan digunduli hanya karena fatwa yang disampaikan oleh beliau terkait persoalan talak yang dijatuhkan oleh orang yang dipaksa. Demikianlah meriwayakannya. (6/318).

Sedangkan Adz-Dzahabi meriwayatkan bahwa ujian dan fitnah yang menimpa Malik itu datang dari seorang khalifah bernama Ja’far bin Sulaiman.  di mana ia dipukul, dicukur rambutnya, dan dinaikan ke atas keledai, lalu dipaksa agar menyerukan kesalahan fatwanya. (Siyar A’lamin Nubala, 8/80-81)

Ahmad Bin Hambal dan Hujanan Fitnah Empat Periode ke-Khalifahan

Inilah fragmen kisah dari seorang ulama yang gigih memegang teguh sunnah di tengah-tengah gempuran dan paksaan paham bid’ah sekte Mu’tazilah. Dia-lah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaybâni, seorang ulama yang hidup di pertengahan abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-3 hijriyah.

Namanya harum mewangi sampai hari ini atas limpahan ilmu yang dimilikinya dan akhlaknya yang terpuji, sampai Imam Asy-Syafi’i menyatakan, “Aku melihat seorang pemuda di Bahgdad yang apabila ia mengatakan haddatsana, maka semua orang akan mengatakan, dia benar, dialah Ahmad bin Hanbal.” (Lihat. Siyar A’lamin Nubala, 11/197)

Selain itu, dialah ulama dengan julukan imamnya Ahlus Sunnah, berkat keteguhannya dalam memegang dan membela Sunnah pada saat terjadinya mihnah (ujian).

Dikisahkan oleh Ahmad Farid, bahwa Ahmad bin Hanbah rahimahullah mengalami fitnah secara bertubi-tubi dari empat khalifah, yaitu Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, Al-Watsiq, dan Al-Mutawakkil. Yang mana tiga dari ke-empatnya adalah para pemimpin dengan paham ahli bid’ah (Mu’tazilah) dengan keyakinan bahwa Alquran adalah makhluk.

Pada periode khalifah-khalifah tersebut banyak para ulama yang dipaksa untuk menerima paham mereka, ada yang menerima atas dasar pura-pura (taqiyyah) dan adapula yang dibunuh pada mihnah tersebut. Sementara beliau (Imam Ahmad) memiliki pendirian yang sangat kukuh, bahkan dinyatakan penderitaan itu tidak mampu dilakukan kecuali oleh para nabi, di mana ia menghadapi semua ujian yang menimpanya bahkan mampu menaklukan satu persatu, mulai dari cambukan semenjak masa kekhalifahan Al-Ma’mun dan dipenjara selama 28 bulan oleh Al-Mu’tashim, kemudian siksaan itu berlanjut sampai akhir masa al-Watsiq, bahkan tidak hanya itu, beliau diintimidasi dan diekstradisi selama tiga masa kekhalifahan tersebut. (Lihat. Min A’lâmis Salaf, jil. 2/218)

Semua ujian yang menderanya selama tiga masa kepemimpin ahli bid’ah itu dihadapi oleh sang Imam dengan teguh nan sabar. Kemudian  masuk pada kepemimpinan baru, yaitu khalifah Al-Mutawakkil, seorang Ahlus Sunnah yang perlahan mengikis paham bid’ah. Pada masa ini, Imam Ahmad masih belum bisa bernafas lega, beliau kembali mendapat fitnah dari sang khalifah dengan fitnah yang sedikit ringan dari cambukan, ekstradisi, intimidasi dan penjara para khalifah sebelumnya, tetapi pada masa ini, sang khalifah berusaha mengujinya denga fitnah dunia, fitnah harta, dan fitnah kedudukan. Namun, fitnah yang ditawarkan kepadanya tidaklah membuat pendiriannya goyah, sebab di masa akhir hayatnya sang Imam lebih memilih hidup zuhud dan tidak tergoda sama sekali dengan kemilau dunia yang ditawarkan sang khalifah. Demikianlah Ahmad Farid mengisahkan mihnah yang dihadapi oleh ulama yang memiliki pengaruh besar pada zamannya.

Itulah tiga kisah ulama yang ketiganya adalah imam madzhab fiqih dengan pengaruh dan keilmuan yang tidak diragukan lagi. Tetapi, keteguhan mereka dalam berdakwah dan berjuang mendapatkan rintangan dari berbagai kalangan di antaranya para pemimpin pada zamannya. Kisah hidup dan perjuangan mereka syarat akan hikmah yang patut diambil ibrah-nya oleh generasi setelehnya. Sebab, semenjak beberapa tahun terakhir, ulama-ulama yang lurus, tegas, dan senantiasa melayangkan kritik terhadap pemerintah di negeri ini, mendapat perlakuan dzalim dari para penguasa, mulai dari pemenjaraan, intimadasi, terorisasi, dan persekusi.

Adapun ibrah yang mesti dipetik dari kisah-kisah teladan di atas sebagai berikut;

  • Ulama adalah corong untuk menyampaikan kebenaran kepada para pemimpin meskipun pahit. Maka semestinya, ulama memiliki jarak tegas dengan pemimpin dan tidak boleh menjual kebenaran dengan pragtisme duniawi.
  • Aktivitas dakwah itu senatiasa dihadapkan dengan rintangan, sehingga memerlukan kekuatan dan keikhlasan dalam menjalankannya.
  • Semestinya pemimpin itu membangun sinergitas dan harmoni dengan ulama, sebab mereka ibarat dua sisi mata uang yang dapat menghadirkan kesejahteraan yang hakiki bahkan membentengi negri dan penduduknya dari bala bencana. Wa-Llahu a’lam bi s-Shawab.

Fajar Shiddiq, Alumni STAIPI Garut;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *