Mengobrollah dengan Anakmu - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Mengobrollah dengan Anakmu

2 weeks ago
581

Anak tercipta sebagai  anugerah terindah bagi setiap orang tua. Anak dengan berbagai karakter dan keunikannya menuntut orang tua untuk memiliki kecakapan, ilmu, dan seni dalam berkomunikasi. Karena komunikasi adalah kunci penting dalam membina kedekatan orang tua dengan anak. Pendekatan terhadap anak sangat penting untuk melahirkan generasi yang ta’at, percaya diri, dan mandiri.

Banyak kita temui kasus kenakalan anak bersumber dari kurang baiknya komunikasi orang tua dengan anaknya, sehingga anak tidak terbiasa terdidik untuk menghadapi masalah ataupun tantangan lingkungan/budaya sekitar. Di sinilah pentingnya komunikasi orang tua dengan anak sebagai dasar membentuk hubungan yang baik dan mengenali karakter anak.

Jamise Syar'i

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. an-Nisa’ [4]: 9).

Keluarga haruslah bisa menjadi wadah dalam menghadapi masalah. Komunikasi orang tua terhadap anak yang tidak kondusif akan menyebabkan beberapa masalah seperti anak yang minder, tidak kreatif, dan gampang berontak disebabkan orang tua yang terlalu memaksakan kehendaknya tanpa membangun komunikasi tentang apa yang diinginkan anak. Atau tidak sedikit kita dapati orang tua yang tidak berwibawa, diperbudak oleh keinginan anak, disebabkan orang tua terlalu membebaskan anak karena cenderung acuh, jarang sekali berkomunikasi dengan anak.

Islam sendiri memberikan contoh dan anjuran kepada orang tua dalam membangun kedekatan dengan anak salah satunya dengan komunikasi yang baik, yang dibina dari semenjak dalam kandungan dimana seorang ibu yang hamil harus aktif mengajak bicara janin dalam kandungan. Ini akan membangun kedekatan dan kecerdasan buah hati kelak.

Dalam proses menyusui selama 2 tahun pun terdapat manfaat tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan gizi anak, akan tetapi lebih dari itu proses menyusui menumbuhkan  kedekatan fisik dan  psikis, dan membina komunikasi batiniah lewat tatapan dan dekapan sang ibu kepada anak.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman [31]: 14).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa proses hamil dan menyusui merupakan perjuangan untuk melahirkan bakti anak di kemudian hari dan di sanalah dimulainya kedekatan ibu dan anak. Dalam ayat lain Allah memberikan contoh komunikasi yang baik antara ayah dan anaknya bahkan dalam menghadapi ujian yang besar. Ketika Nabi Ibrahim meminta pendapat anaknya Ismail, tentang perintah Allah untuk menyembelihnya.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S Ash-Shaffat [37]: 102).

Ayat ini menjelaskan tentang membangun komunikasi dengan anak yang menginjak remaja (akil baligh), belajar menjadi pendengar yang baik dan menghargai pendapat  anak. Dalam Q.S Luqman ayat 13-19, Allah juga memberikan contoh komunikasi ayah kepada anaknya dengan memberikan nasehat yang mengandung makna-makna ketauhidan, pengajaran terhadap kebaikan, dan ibadah. Dan ini memang tanggung jawab besar orang tua dalam memberikan pendidikan Islam terhadap anaknya sebagai landasan dalam menjalani kehidupan.

Betapa indah gaya bahasa Luqman terhadap anaknya ataupun gaya bahasa Nabi Ibrahim terhadap Ismail putranya. Ini mengajarkan bahwa dalam membina komunikasi dengan anak harus menggunakan bahasa yang baik, tidak merendahkan anak, memberikan nasehat/teguran ketika anak melakukan kesalahan, dan memberikan motivasi ketika anak melakukan kebaikan. Bahkan dalam suatu hadits dikisahkan bagaimana indahnya cara komunikasi Rasulullah dalam memberikan nasehat kepada seorang remaja Ibnu Abbas  dalam suatu perjalanan dengan suasana yang segar, pikiran yang jernih dan hati yang terbuka.

Nabi bersabda, “Nak, aku akan memberimu beberapa pelajaran : “Jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu; jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah; jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu; dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering” (HR. At-Tirmidzi).

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak yang didasari kekuatan iman, ilmu dan akhlak baik, insya’-Llah, akan merlahirkan generasi yang bemanfaat, cakap bersosialisasi, dan tangguh dalam mengahadapi ujian. Wa-Llahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Laila Isyrina Afriani (Staf Pengajar Pesantren Persatuan Islam 27).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *