Rekonsiliasi Ulama Umara dan Umat - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Rekonsiliasi Ulama Umara dan Umat

2 weeks ago
545

Sesungguhnya kekhilafahan setelah Rasulullah shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam dipegang oleh khulafa rasyidin mahdiyin, di mana mereka umara sekaligus ulama (al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, 2011: I/155). Artinya, pada waktu itu belum ada clash (pertentangan) yang signifikan antara ulama dan umara. Karena karakter keduanya melekat pada diri sang khalifah/pengusa. Berbeda dengan masa-masa setelahnya ketika terjadi dikotomi dan kedua karakter tersebut mulai pudar. Dalam perkembangannya kemudian kita dapati dalam sejarah bahwa banyak sekali ulama yang mendapatkan perundungan dari para penguasa. Sebut saja peristiwa Mihnah (833-848 M) di tiga periode sekaligus sebagai tragedi politik di mana penguasa memaksakan ideologinya tentang al-Quran kepada para ulama. Begitupun peristiwa-peristiwa lainnya tidak terhitung menghiasi lembaran hitam sejarah pertentangan umara-ulama.

Jamise Syar'i

Indonesia pun tidak luput dari sejarah kelam tersebut. Cukup dituduh sebagai subversif, kontra revolusioner, atau hal lain semisalnya yang tidak sesuai dengan keinginan penguasa seseorang bisa dijebloskan ke penjara. Sebut saja HAMKA (Haji Abdul Majid Karim Amrullah) yang terpaksa mendekam di penjara selama dua tahun (1964-1966) karena dituduh subversif pada waktu itu. Tapi bukan ulama namanya kalau tidak bisa mengambil hikmah dari musibah yang menimpanya. Selama masa tahanannya Hamka menyelesaikan tafsir al-Quran yang ia beri nama Tafsir Al-Azhar, yang naskahnya bertebalkan 8000 halaman. Sampai beliau bersyukur telah dipenjara, karena kalau tidak dipenjara mungkin beliau tidak bisa menghasilkan mahakarya tersebut. Tapi bukan berarti seseorang harus dipenjara dulu untuk bisa menulis. Ini hanya keinsafan dari seorang ulama yang mendedikasikan dirinya untuk tidak takut pada siapapun, kecuali kepada Allah (Q.S. Fathir [35]: 28).

Yang uniknya juga, ternyata di akhir hayatnya Soekarno justru meminta agar Hamka, yang ia penjarakan dulu, menjadi imam shalat jenazahnya. Dan Hamka pun mau. Happy ending yang mengesankan antara ulama dan umara tersebut ketika tidak ada lagi iri hati, dengki, dan juga dendam. Sebenarnya kalau mau menginsafi diri, baik sebagai umara dan ulama, pertentangan politis itu alangkah baiknya dihindari. Energi yang terbuang percuma tersebut bisa disalurkan pada hal yang lebih maslahat, terutama untuk kepentingan umat banyak.

Dalam kitabnya, al-Hisbah fi l-Islam aw Wazhifah l-Hukumah l-Islamiyah, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Apabila gabungan agama dan seluruh pemerintahan itu adalah perintah dan larangan, maka perintah yang Allah utus kepada Rasul-Nya ialah al-amr bi l-ma’ruf (memerintah kepada kebaikan), dan larangan yang Allah utus ialah an-nahy ‘an l-munkar (melarang dari keburukan). Inilah sifat bagi Nabi dan orang-orang yang beriman (Q.S. at-Taubah [9]: 71).

Dan ini wajib bagi setiap muslim yang mampu, yaitu fardhu kifayah, dan bisa jadi fardhu ‘ain bagi yang mampu di mana tidak ada orang lain yang menempatinya. Kemampuan itu adalah kekuasaan dan wilayah. Maka pemilik kekuasaan lebih mampu dibanding yang lainnya. Serta memiliki kewajiban yang tidak dimiliki orang lain. Maka sungguh sumber kewajiban itu adalah kemampuan, maka wajib bagi setiap orang berdasarkan kemampuannya (Q.S. at-Taghabun [64]: 16).

Lebih lanjut menurut beliau, bahwa amr ma’ruf dan nahy munkar ini mempu-nyai landasannya yaitu kejujuran dan keadilan. Jujur dan adil dalam ucapan dan perbuatan. Keduanya saling melengkapi (Q.S. al-An’am [6]: 115).

Maka yang wajib itu adalah ialah apa yang paling diridhai dari yang ada (al-ardha min l-wujud). Biasanya tidak ditemukan yang sempurna. Maka dikerjakan yang terbaik dari yang baik atau dihindari yang terburuk dari yang buruk. Oleh karenanya ‘Umar bin l-Khaththab pernah berujar, “Aku mengeluhkan kepadamu kuatnya orang yang berdosa dan lemahnya orang yang shaleh.” Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat merasa senang dengan menangnya Romawi dan Kristen atas Majusi, padahal keduanya kafir. Karena salah satu dari keduanya ada yang lebih dekat dengan Islam. Allah pun menurunkan surat ar-Rūm berkenaan dengan hal itu ketika Romawi dan Persia berperang, dan kisahnya populer. Dan begitupun Yusuf as-Shiddiq –‘alaih Salām- menjadi wakil bagi penguasa (fir’aun) Mesir, padahal ia dan kaumnya itu musyrik. Tapi beliau berlaku dengan adil dan baik sesuai dengan kemampuannya, dan mengajak mereka kepada keimanan sebisa mungkin (al-Hisbah fi l-Islam, Tt: 11-13).

Apa yang diterangkan secara sistematis di atas menunjukkan kematangan beliau dalam memahami politik tidak hanya di tingkat elit, tapi akar rumput sekalipun. Semua warga negara mempunyai peran yang sama dalam partisipasi untuk mengawal kejujuran (akuntabilitas) dan juga keadilan (fairness) di wiliyah publik. Terlebih bagi pemeluk agama, mempunyai panggilan iman dan juga tanggungjawab moral dalam merealisasikan (mewujudkan) amr ma’ruf dan nahy munkar.

Kata ma’ruf, menurut ar-Raghib al-Ashfahani  adalah sebuah nama bagi setiap pekerjaan yang dikenal baik secara akal maupun syari’at. Sedangkan yang munkar adalah yang ditolak baik secara akal dan syari’at (Mu’jam Mufradāt Alfāzh l-Qurān, 2010: 249). Karena itu peran dari civic religio (masyarakat beragama) menurut versi Ibnu Taimiyah adalah menyelaraskan antara peran akal dan juga syari’at dalam wilayah kemaslahatan publik sebagai penyelenggara perintah dan larangan Allah di muka bumi. Wa jamī’ l-wilāyāt l-Islāmiyyah innamā maqshūduhā al-amr bi l-ma’ruf wa n-nahy ‘an l-munkar, sesungguhnya seluruh kekuasaan Islam mempunyai tujuan, yaitu memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan (Ibid. Hal. 12).

Dalam wilayah politik yang bersifat vertikal, antara rakyat dengan penguasa, relasi (hubungan) antara keduanya memiliki jalinan yang erat. Menurut Fuad ‘Abd l-Mun’im Ahmad, Associate Proffesor Politik Syari’ah, rakyat memiliki hak berserikat untuk mengemukakan pendapat dalam masalah publik, karena rakyat dan pemimpin negara saling membantu dalam menegakkan agama dan mengatur kemaslahatan dunia dengan tolong-menolong pada kebaikan dan ketakwaan, bukan dosa dan permusuhan (Syaikh l-Islam Ibn Taimiyah wa l-Wilayah s-Siyasiyah l-Kubra, 1996: 254).

Al-Ghazali (Ihya’ ‘Ulumiddin, 2011: I/50-1) membagi peran-peran politik yang dapat memberikan kemaslahatan dunia akhirat. Pertama, politik para nabi. Di mana hukum mereka berlaku pada wilayah publik dan privat baik secara lahiriah maupun batiniah. Kedua, politik para penguasa. Hukum mereka berlaku pada wilayah publik dan privat, namun hanya urusan lahiriah saja. Ketiga, politik para ulama, para pewaris nabi. Hukum mereka ditujukan pada urusan batiniah privat. Keempat, politik para influencer (wu’azh). Hukum mereka ditujukan pada urusan batiniah publik.

Menurut Ibnu Taimiyah, Ulil l-Amri itu ada dua bagian, yaitu: umara’ dan ‘ulama. Mereka lah orang-orang yang apabila telah beres, maka orang-orang pun beres. Maka kewajiban keduanya adalah memilah dengan pantas apa yang akan mereka ucapkan dan lakukan sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti al-Quran (as-Siyasah s-Syar’iyah, 1999: 127).

Hakikat dari ketaatan kepada Uli l-Amri bukan semata-mata karena taat kepada mereka, tapi dalam rangka taat kepada Allah. Karena tidak ada ketaatan pada satu pun makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Landasan etis politik Islam, salah satunya, dibangun atas firman Allah dalam Q.S. an-Nisa’ [4]: 58-59. Inilah yang kemudian menjadi acuan bagi umat untuk menempatkan Uli l-Amri sebagai partner (kawan) dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam. Fain tanaza’tum fi syai’in farudduhu ila-Llah wa Rasulih.

Pencarian cita-cita politik Islam di Indonesia masih terus dicari dalam perkembangannya yang paling mutakhir. Cita-cita untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebagai sebuah pertanggungjawaban kepada negara yang telah hadir atas berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Kuasa. Wa-Llahu a’lam. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *