Wajah Baru Tahun Baru - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Wajah Baru Tahun Baru

2 months ago
539

Presiden Joko Widodo melakukan reshuffle (pergantian) pada Kabinet Indonesia Maju dengan mengganti 6 Menteri yang dinilai tidak bisa melakukan perubahan—jika enggan mengatakan gagal—di setiap kementerian-kementerian di antaranya; Menteri Parawisata dan Ekonomi Kreatif dari Wisnutama kepada Sandiaga Uno, Menteri Sosial dari Juliari Batubara epada Tri Risma Harini, Menteri Kelautan dan Perikanan dari Edhy Prabowo kepada Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kesehatan Terawan Agus Prutanto kepada Budi Gunadi Sadikin, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto kepada Muhammad Lutfhi, dan Menteri Agama dari Fachrul Razi kepada Yaqut Cholil Qoumas.

Pemilihan kabinet ini memanglah sesuatu yang sangat dinantikan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Sebab banyak di antara para Menteri yang menjabat dinilai tidak kompeten dalam posisi yang dijabatnya. Selain itu, ketidakmampuan mengatasi masalah ketika pandemi ini menguatkan perlu adanya reshuffle dalam kabinet Indonesia Maju jilid 2. Ketidakmampuan ini mungkin cocok ditujukan kepada Menteri Terawan yang menghilang bak ditelan bumi ketika pandemi menimpa Indonesia. Selain Menteri Terawan, Menteri Parawisata Wisnutama pun demikian dinilai tidak bisa menyelamatkan industri pariwisata dari pandemi ini. Selain masalah ketidakmampuan, masalah korupsi pun yang menyeret dua Menteri; Edhy Prabowo yang terjerat kasus suap ekspor benur lobster dan Juliari Batubara yang terjerat kasus korupsi dana bansos.

Jamise Syar'i

Dari beberapa Menteri yang disebutkan ada Menteri yang sangat menyerot perhatian publik, terutama masyarakat Muslim di Indonesia: Menteri Agama. Sejak pengangkatan Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Maju jilid 2 pada tahun lalu memang sudah mendatangkan beberapa komentar dan kritik dari masyarakat. Pengangkatan Fachrul Razi yang notabene berasal dari militer dirasa tidak cocok untuk menjabat Menteri Agama. Hal ini karena dinilai Fachrul Razi tidak mempunyai kompetensi dalam agama, terutama agama Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Pengangkatan Fachrul Razi menjadi Menteri Agama ini membuat bingung kebanyakan masyarakat. Bahkan, Menteri Agama: Fachrul Razi pun bingung ketika ia diminta oleh Presiden Jokowi untuk mengisi jabatan tersebut. Ia mengatakan mungkin pemilihan ia menjadi Menteri Agama karena pendekatan Islam yang ia anut adalah Islam yang damai bukan Islam yang radikal (Tempo.co)

Narasi Islam damai yang digunakan oleh Fachrul Razi memolarisasi (membagi) Islam menjadi dua kudu; Islam Damai dan Islam Radikal. Benarlah adanya bahwa pada dua periode Presiden Jokowi ia menggalakan tentang Islam yang damai atau Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Lalu apa yang dimaksud dengan Islam Rahmatan lil ‘Alamin menurut versi dari Jokowi ini?

Islam Rahmatan lil ‘Alamin versi Jokowi

Pada pencalonan dirinya menjadi Presiden pada tahun 2014, banyak berita dan isu-isu yang tersebar di masyarakat terkait agama dan keturunan Jokowi. Ia diisukan keturunan anggota atau gembong Partai Komunis Indonesia (PKI), antek Tiongkok (China) dan sebagainya. Keraguan itu dijawab oleh Jokowi bahwa agamanya adalah Islam. Dalam siaran pers yang dilakukannya ia mengatakan “Saya Jokowi, bagian dari Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di negara RI yang memegang teguh UUD 45. Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan” (Kompas.com).

Isu-isu yang tersebar di masyarakat memang tidak dapat dihindari, apalagi hal itu terjadi ketika tahun-tahun politik yang penuh dengan intrik-intrik politik dari dua kubu yang sedang bertarung merebut kursi Presiden. Isu-isu demikian pun menyerang kubu lawan: Prabowo Subianto yang diragukan keIslama-nya ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Terlepas dari isu-isu yang ada ketika Pilpre 2014, Jokowi menegaskan Islam yang dianut oleh beliau adalah Islam yang rahmatan lil alamin.  Dia juga mengatakan: “Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengafirkan saudaranya sendiri. Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain. Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang di tangan dan di mulut. Saya bukan bagian dari Islam yang suka menjejerkan fustun-fustun-nya,

Untuk mencapai tujuannya, beragam keputusan yang sangat kontroversial dikeluarkan untuk memudahkan langkah-langkahnya itu. Keputusan itu diantaranya; sertifikasi untuk para mubaligh yang dinilai tidak radikal, penghapusan bahan-bahan ajar yang mengandung unsur radikalisme, revisi konten materi khilafah dan jihad di pelajaran-pelajaran agama.

Istilah Islam rahmatan lil alamin ini sebenarnya banyak digaungkan oleh KH. Hasyim Muzadi: ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) periode 1999-2010. KH. Hasyim Muzadi sering mengkampanyekan Islam rahmatan lil alamin di tingkat nasional di Gerakan Moral Nasional (Geralnas) dan di International Conference of Islamic Scholars (ICIS) (Rasyid, 2016). Tidak lain gagasan ini bersumber dari Al-Quran surat Al-Anbiya:

وَمَا أَرۡسَلۡنَاكَ إِلَّا رَحۡمَةً لِلۡعلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107).

Islam rahmatan lil alamin perspektif KH. Hasyim Muzadi ini setidaknya akan melahirkan sikap dan pola dakwah tawassuth (moderat), i’tidal (tegak), tasammuh (toleran) dan tawazun (seimbang).

Ancaman Pluralisme

Pluralism adalah sebuah paham yang mengatakan bahwa seluruh agama semua benar. Paham ini mengatakan bahwa seluruh agama yang ada di dunia selain Islam adalah benar dan merupakan jalan keselamatan di kehidupan setelah kematian (after life). Pluralism secara tidak langsung mengatakan bahwa kita menuju tujuan yang sama namun dengan jalan yang berbeda. Ini bertentangan dengan akidah Islam, di mana dalam Islam agama yang diridoi dan diterima di sisi Allah Swt. hanya Islam saja.

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya [Q.S. Ali ‘Imran [3]: 19).

Dengan Islam rahmatan lil alamin dan pengangkatan Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama menimbulkan kekhawatiran pribadi penulis. Kekhawatiran yang muncul bukan tanpa sebab, kekhawatiran ini muncul disebabkan dari track dan record atau sepak terjang Yaqut selama menjadi ketua GP Ansor.

Ancaman yang dimaksud adalah dari sikap toleransi dari GP Ansor yang terlalu kebablasan. Sudah masyhur di kalangan masyarakat bahwa sering kali GP Ansor menjaga Gereja ketika perayaan Natal. Memang tidak bisa kita pungkiri mereka berniat untuk melakukan kebaikan agar prosesnya aman, namun masalah penjagaan bisa dilakukan oleh pihak kepolisan.

Dengan posisi Menteri Agama diisi oleh Yaqut Cholil Qoumas, kebijakan-kebijakan yang mendukung akan terwujudnya pluralism agama ini kemungkinan akan dikeluarkan oleh Menteri Agama yang baru ini. Selain itu, kebijakan-kebijakan terkait dari konten materi ajar pada sekolah-sekolah yang berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag) kemungkinan akan banyak materi-materi yang membenarkan pluralism agama ini. Oleh sebab itu, marilah para pendidik untuk membentengi dari materi ajar yang berbau pluralism agama untuk menyelematkan akidah dan keberagamaan generasi penerus Islam. Maka itu harus disadari bahwa ini hanya wajahnya yang baru, tapi gaya lama di rezim jilid dua. wa-Llahu a’lam bi s-shawab.

Iqbal Maulana Akhsan, Mahasiswa Pascasarjana UIN Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *