Adab dalam Majelis Ilmu - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Adab dalam Majelis Ilmu

2 weeks ago
559

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – لَا يُقِيمُ اَلرَّجُلُ اَلرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ, ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ, وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا, وَتَوَسَّعُوا – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiya-‘Llahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Janganlah seseorang mengusir orang lain dari majelisnya kemudian ia duduk di tempatnya, namun berilah kelonggaran dan keluasan”. Muttafaq ‘alaihi

Keutamaan ‘Ilmu

Jamise Syar'i

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddinnya menegaskan bahwa letak kemulian manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya, terletak pada ilmunya. Kemulian manusia tidak terletak pada besarnya badan, karena gajah lebih besar badannya daripada manusia; kemuliaan manusia tidak terletak pada besarnya keberanian, karena binatang buas lebih besar keberaniannya daripada manusia; dan tidak pula kemuliaan manusia terletak pada banyaknya makan, karena seekor sapi lebih banyak makannya daripada manusia.

Maka dari itu, Allah swt mengangkat seseorang beriman yang berilmu daripada seorang beriman tapi tidak berilmu. Allah berfirman:

…يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11)

Allah akan mengangkan orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadalah [58]: 11)

Maksud dari ayat di atas menurut Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa Allah akan mengangkat beberapa derajat orang yang beriman tapi berilmu daripada orang yang beriman tapi tidak berilmu. Derajat di sini maksudnya bisa dipahami secara maknawi dan juga hissi. Maknawi berarti derajat di sana dipahami berupa kedudukan tinggi, nama baik, penghormatan, dan segala macam yang menunjukan kemuliaan di dunia. Sedangkan hissi berarti derajat yang dipahami berupa ditinggikannya derajat surga kelak di akhirat. (Fathul Bari)

Karena besarnya kemuliaan ilmu, Nabi saw menjanjikan surga bagi siapa saja yang menempuh jalan ilmu; para malaikat meridhakan diri untuk menaungi setiap majelis-majelis ilmu; seluruh makhluk ikhlas mendoakan kepada mereka yang duduk dalam majelis ilmu; dan bahkan mereka diberikan gelar sebagai pewaris para nabi.

« مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ »..

Barangsiapa yang menempuh satu jalan yang di dalamnya ia mencari ilmu, niscaya dengannya Allah akan menunjukan jalan-jalan menuju surga. Sungguh para malaikat pasti akan meletakkan sayapnya karena merasa ridha terhadap pencari ilmu. Sungguh orang yang berilmu akan dimintaampunkan oleh makhluk yang ada di langit, di bumi, dan ikan yang ada di dasar air. Sungguh keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang beribadah bagaikan keutamaan cahaya bulan pada malam purnama dibandingkan dengan cahaya bintang-bintang. Dan sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak pernah mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya (ilmu), sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak. (Sunan Abu Dawud no. 3643)

Dari dalil-dalil di atas yang menunjukan akan kemuliaan ilmu, mendorong para sahabat dan generasi selanjutnya untuk antusias dalam mencari ilmu. Maka inilah titik awal peradaban Islam dalam membangun ilmu pengetahuan; baik yang bersifat syariat maupun non syariat. Kisah-kisah pencari ilmu semisal Abu Hurairah, Imam Syafi’i, dan Imam al-Bukhari adalah bukti bagaimana dorongan al-Qur’an dan al-Hadits mampu melahirkan pembelajar yang hebat sekaligus cendekiawan muslim yang tafaqquh fiddin. Maka tak heran jika kemudian hari majelis-majelisnya dibanjiri oleh para pencari ilmu.

Fenomena ulama yang mejelisnya dibanjiri oleh para pencari ilmu dapat kita saksikan di era milenial ini. Kajian-kajian ustadz Abdul Shamad, Adi Hidayat, Habib Riziq Syihab, A Agim, K.H. Aceng Zakaria dan semisalnya, banyak dipadati oleh para jama’ahnya. Berdesak-desakkan dan saling berebut posisi duduk menjadi satu hal yang lumrah yang mungkin akan kita dapati dalam situasi dan kondisi tersebut. Dari sinilah kemudian Nabi saw memberikan panduang tentang adab dalam mejelis ilmu.

Tidak Menempati Tempat Duduk Orang Lain

Di antara adab bermajelis ilmu adalah tidak menempati tempat duduk orang lain. Hal ini sebagaimana hadits yang menjadi tema pokok dalam pembahasan kali ini.

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – لَا يُقِيمُ اَلرَّجُلُ اَلرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ, ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ, وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا, وَتَوَسَّعُوا – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiya-‘Llahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Janganlah seseorang mengusir orang lain dari majelisnya kemudian ia duduk di tempatnya, namun berilah kelonggaran dan keluasan”. Muttafaq ‘alaihi

Hadits ini secara dzahir menunjukan keharaman mengusir orang lain dari tempat duduknya. Bahkan menurut ash-Shan’ani, orang yang lebih dahulu menempati tempat duduk di suatu majelis maka ia adalah orang yang paling berhak untuk menempatinya. Meski pada suatu kesempatan bisa jadi orang yang menempati majelis tersebut keluar sebentar karena ada beberapa keperluan, namun tetap tempat duduknya tidak boleh ditempati oleh orang lain. Majelis atau tempat duduk di sini mencakup juga tempat-tempat khusus seperti tempat berjualan (lapak atau jongko). (Subulus Salam)

Hal ini menunjukan bahwa tempat-tempat khusus seperti lapak jualan atau jongko untuk konteks hari ini, itu terikat oleh kontrak waktu yang relatif lebih lama. Selama kontraknya belum habis, maka selama itu pula ia lebih berhak untuk menempatinya. Atau kursi bus; kursi kereta api; dan  kursi pesawat pesawat yang telah dipesan (booking) tidak boleh ditempati oleh lainnya.

Demikian halnya dengan mejelis ilmu yang bersifat formal seperti madrasah dan universitas, berlaku ketentuan adab-adab tersebut. Dimana seorang santri atau mahasiswa yang telah menentukan tempat duduknya semenjak pertama kali ia masuk kelas, mereka adalah yang paling berhak untuk menempatinya. Haram seseorang mengambil alih tempat duduknya meskipun pada suatu kesempatan, santri atau mahasiswa tersebut tidak masuk karena sakit, misalnya.

Meski demikian, Islam mengajarkan untuk memberikan kesempatan bagi orang lain yang hadir dalam majelis ilmu dengan cara memberikan kelonggaran dan keluasan tempat. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11)

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam maejlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah [58]: 11)

Menurut Qatadah –sebagaimana dikutip Ibnu Katsir- ayat ini berkaitan dengan majelis dzikir. Ketika sebagian sahabat datang untuk duduk dekat dengan Nabi saw, sahabat yang sudah duduk dekat bersama Nabi saw merasa tidak suka dengan kehadiran mereka dan menutup rapat-rapat tempat duduk mereka. Maka Allah pun memerintahkan mereka untuk saling meluaskan dan melonggarkan mejelis mereka, agar mereka yang baru datang dapat duduk bersama. (Ibnu Katsir)

Antusias para sahabat untuk menghadiri mejelis ilmu Nabi saw dan agar bisa duduk dekat bersama Nabi saw, bisa kita pahami dalam konteks hari ini. Dimana kita dapati orang-orang secara berdesak-desakan untuk menghadiri mejelis ilmu seorang ustadz dan ulama yang telah terkenal (masyhur). Maka melalui tuntunan hadits ini memberikan pelajaran penting bagi kita untuk tidak egois dengan tempat duduk sendiri; tidak pelit tempat duduk; tidak main sikut-sikutan; dan sebagainya. Karena itu semua bukanlah adab baik dalam majelis ilmu. WaLlahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *