Mulia Dengan Alquran - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Mulia Dengan Alquran

9 months ago
437

Al-Qur’an merupakan kitab satu-satunya di muka bumi yang murni sebagai kalam Allah Swt, tanpa campur tangan siapapun. Di dalamnya tidak ada keraguan sedikitpun; penuh akan hikmah; penyempurna kitab-kitab sebelumnya; dan sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan bahwasannya siapa saja yang membaca al-Qur’an, kelak apa yang dibacanya itu menjadi pemberi syafa’at atau penolongnya di akhirat.

Jamise Syar'i

“Bacalah al-Qur’an, karena sungguh ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi pembacanya…” (Shahih Muslim, kitab shalat al-musafirin, bab fadhl qira’at al-qur’an wa surat al-baqarah, no. 1910)

Tidak hanya dengan membacanya saja, bahkan hanya dengan mendengar bacaannya saja, bernilai pahala. Lebih hebat lagi, hanya dengan mendengar bacaan al-Qur’an hati seseorang akan dibuat lembut karena keindahan al-Quran itu sendiri. Sebagaimana yang terjadi pada Umar bin al-Khaththab r.a. yang kala itu hatinya dapat menadi lunak, hanya dengan lantunan bacaan al-Qur’an. Padahal saat itu Umar terkenal akan sifatnya yang keras, dan amat benci terhadap agama Islam. Bahkan Umar di waktu itu sempat berniat untuk membunuh Nabi saw., namun tidak berhasil. Sehingga peristiwa masuk Islam-nya Umar yang awalnya dinilai mustahil, menjadi kenyataan.

Hal itu terjadi karena memang jaminan dari Allah Swt, bahwasannya Al-Qur’an itu dapat melunakkan hati. Karena al-Qur’an itu bagian dari dzikir. Sedangkan dzikir adalah salah satu media dalam melunakkan hati. (Q.S ar-Ra’d [13]: 28).

Keterangan tersebut memberi penjelasan bahwa hanya dengan membaca dan mendengarnya saja sudah sarat akan keutamaan dan hikmah, apalagi bagi mereka yang menghafalkannya. Sungguh tak terbayang sebesar apa keutamaan dan pahala yang mereka dapat dari hafalan al-Qur’an tersebut. Apalagi Rasulullah saw menjelaskan, bahwa nilai dari satu huruf yang dibaca itu bernilai 10 kebaikan. Sehingga tak terbayang sebanyak apa pahala yang ia dapat dari menghafal dan muraja’ah yang ia rutin lakukan. Tentunya akan menjadi nilai besar yang tak terduga.

Hal itu lah yang mendorong Pesantren Persis 27 Situ Aksan, Bandung, untuk menjadikan tahfizh al-Qur’an 30 Juz itu’ sebagai program unggulan, dan sangat diberi perhatian yang serius. Bagi santri Mu’allimin, diberi target 3 tahun dapat menyelesaikan 30 Juz. Sehingga bila dihitung per-bulan, santri diharuskan hafal 1 Juz agar dapat mencapai target 30 Juz dalam 3 tahun. Adapun bagi santri Tsanawiyyah, diberi target hafal 15 juz dalam 3 tahun. Kurang lebih bila dihitung perbulannya, dalam 1 bulan santri harus mengahafal  Juz, jika ingin mencapai target yang ditentukan.

Untuk saat ini perkembangan tahfizh di Pesantren Persis 27 bisa dibilang baik. Pasalnya sebagian santri sudah dapat mencapai target yang diinginkan pesantren, walaupun memang ada sebagian santri yang belum mencapai target tahfizh pesantren. Kini diadakan pula kebijakan bagi santri untuk membuat laporan muraja’ah hariannya dalam shalat. Hal itu dilakukan setiap hari, dan disetorkan kepada mu’addib-nya masing-masing, sebagai bahan evaluasi. Kebijakan ini ditetapkan, mengingat waktu shalat, terlebih shalat sunnah itu waktu paling pas untuk muraja’ah al-Qur’an. Sehingga hafalan al-Qur’an dapat di-dzikir-kan dalam shalat.

Di samping keutamaan dari menghafal al-Qur’an yang sarat akan keutamaan dan hikmah, faktor pendorong diadakannya program tahfizh 30 Juz’ ini ialah karena menghafal pun menjadi prasyarat untuk tafaqquh fiddin. Amat mustahil seseorang dapat paham betul makna dan tafsiran al-Qur’an bila tidak hafal al-Qur’an itu sendiri. Walaupun kini selalu dibentrokkan antara menghafal dan memahami, sampai ada istilah “biar tidak hapal juga, yang penting paham”. Padahal paham itu tidak lepas dari hapal. Maka jika memang ia paham beberapa ayat, namun nyatanya ia tidak hafal ayat tersebut, hakikatnya ia tidak paham secara utuh. Sehingga paradigma dikotomis antara menghafal dan memahami itu perlu dirubah.

Syaikh al-Utsaimin (1929-2001 M) dalam kitabnya yang bertajuk Syarh Riyadlush-Shalihin, menjelaskan bahwasannya hafalan al-Qur’an agar menjadi bernilai perlu adanya pengamalan, dan pengamalan tersebut hanya dapat dicapai dengan tadabbur; perenungan. Karena mustahil seseorang dapat mengamalkan ayat-ayat al-Quran, tanpa melalui proses tadabbur. Karena tadabbur itu menuntut adanya ilmu dan amal. Tentunya tadabbur tersebut bisa dilakukan, salah satunya dengan cara memahami makna atau tafsir dari ayat tersebut. (Syarh Riyadlush-Shalihin, 4:638).

Mengingat saratnya keutamaan penghafal al-Qur’an dan tuntutannya yang besar bagi seorang Muslim untuk mengahafal kitabnya sendiri, menjadi pelecut bagi kita untuk senantiasa menghafal al-Qur’an. Dengan itu pula penghafalnya akan diberi kemuliaan oleh Allah Swt. Maka barang siapa yang menghafalnya, maka merekalah hamba-hamba yang mulia di antara yang lainnya (QS. Fatir [35]: 32). Wal-‘Llahu a’lam    

Rifki Azkiya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *