Kontroversi Vaksin Covid-19 - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Kontroversi Vaksin Covid-19

1 month ago
163

Semestinya tidak perlu ada kontroversi. Akan tetapi masyarakat memang sudah liberal; merasa berhak untuk bersuara sebebas-bebasnya. Ketika semua bersuara otomatis menjadi kontroversi. Padahal semua hal terkait kehidupan rakyat banyak ada pihak yang berwenangnya. Dalam aspek kebijakan, pihak yang berwenang adalah Pemerintah. Dalam aspek keilmuan, pihak yang berwenang adalah ilmuwan di Perguruan Tinggi. Dalam aspek fatwa, pihak yang berwenang adalah Majelis Fatwa MUI dan ormas-ormas Islam. Jika pihak-pihak yang berwenang itu dirasa tidak ada yang dipercaya, berarti sebaiknya diam saja. Nabi saw sudah memberikan tuntunan: “Berkata yang baik atau diam.”

Ramai sekali kontroversi vaksin Covid-19 di tengah-tengah masyarakat khususnya di dunia whatsapp. Ada berita yang menyatakan Vaksin Covid-19 adalah modus operandi dari PKI atas perintah Negara komunis Cina untuk menghabisi rakyat Indonesia. Ada juga berita yang menyatakan bahwa vaksin Sinovac membahayakan; buktinya Pemerintah Cina sendiri tidak menggunakan vaksin Sinovac untuk warganya dan bahkan katanya mengimpor dari Jerman. Ada juga berita yang beredar bahwa vaksin Sinovac malah menjadikan virus Covid-19 memiliki antibody sendiri dan akan menjadikannya lebih ganas dan lebih banyak. Berita lainnya, penerima suntikan pertama vaksin Covid-19 meninggal dunia. Isu lainnya, vaksin Sinovac sebenarnya dikirim ke Indonesia untuk uji klinis saja, bukan untuk disuntikkan sebagai vaksin kepada pasien. Isu lainnya vaksin dari Sinovac mengandung sel kera hijau dari Afrika. Isu lainnya vaksin Covid-19 mengandung virus corona hidup yang dilemahkan. Isu lainnya vaksin Sinovac mengandung boraks, formalin, hingga merkuri. Berita miring lainnya, vaksin Sinovac adalah vaksin yang paling lemah dibanding merek-merek lainnya. Ada juga yang menyebarkan berita bahwa relawan vaksin mengalami gangguan saraf setelah disuntik vaksin sinovac. Yang terakhir ini bisa disebut sebagai berita yang paling nyaring di media sosial. Intinya vaksin Sinovac itu lebih banyak madlaratnya dan nyaris tidak ada manfaatnya.

Jamise Syar'i

Belum lagi protes dari sebagian kalangan bahwa vaksin memberatkan rakyat. Sesudah digratiskan oleh Pemerintah, teriakan kemudian beralih pada Presiden harus menjadi yang pertama divaksin. Sesudah Presiden divaksin, muncul berita bahwa yang disuntikkan ke Presiden hanya Vitamin C. Ditambah lagi isu bahwa vaksin statusnya pasti haram karena berawal dari enzim babi. Selain itu konon faktanya banyak orang yang divaksin tetapi menjadi berpenyakit dari semula yang tidak ada penyakit. Sebagiannya malah tetap terjangkit virus Covid-19 meski ia sudah divaksin Covid-19. Orang-orang yang turut serta menyebarkan isu-isu nyeleneh tersebut merasa tidak berdosa dengan apa yang mereka turut sebarkan.

Padahal Islam sudah mengajarkan bahwa berita-berita yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat tidak boleh disebarkan sembarangan, harus diserahkan kepada pihak-pihak yang berwenangnya. Semua pertanyaan dan keanehan seputar vaksin Covid-19 yang beredar di masyarakat jangan ditelan sebagai berita yang pasti sampai dikonfirmasikan kepada mereka yang berwenang dalam hal kebijakan dan keilmuan. Pihak yang berwenang tersebut istilahnya dalam al-Qur`an: ulil-amri.

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ  وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu) (QS. An-Nisa` [4] : 83).

Dalam ayat yang lain Allah swt mengingatkan bahwa abai dari tabayyun akan mengakibatkan keliru dalam menghukumi sesuatu dan ini jelas termasuk dosa meski itu ditutupi dengan dalih tidak tahu. Masalahnya bukan tidak tahunya, tetapi mengapa begitu ceroboh dalam membagikan berita tanpa tabayyun terlebih dahulu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat [49] : 6).

Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan, berdasarkan riwayat Ahmad, ayat ini turun terkait kekeliruan shahabat al-Walid ibn ‘Uqbah dalam kasus zakat Banil-Mushthaliq. Pada saat pimpinan mereka, al-Harits ibn Dlirar (kelak menjadi mertua Rasulullah saw dari istrinya, Juwairiyyah ummul-mu`minin ra) masuk Islam, ia meminta kepada Rasul saw untuk mengirimkan petugas guna mengambil zakat dari Banil-Mushthaliq. Sekembalinya al-Harits ke Banil-Mushthaliq, petugas Rasulullah saw yang dinanti-nanti tidak kunjung datang. Maka al-Harits pun berinisiatif untuk mengumpulkan sendiri dan menyetorkannya langsung ke Madinah, karena berasumsi mungkin petugas Rasulullah saw mengalami gangguan teknis di jalan. Maka berangkatlah al-Harits beserta rombongan ke Madinah untuk menyetorkan zakat. Al-Walid ibn ‘Uqbah yang diutus Rasul saw mengambil zakat bertemu dengan al-Harits di perjalanan. Melihat rombongan al-Harits yang banyak, ia bergegas kembali ke Madinah dan melaporkan kepada Rasulullah saw bahwa al-Harits membawa pasukan untuk menyerang dan mereka menolak membayar zakat. Rasulullah saw pun segera menyiapkan pasukan untuk menyambut mereka. Ketika dua rombongan bertemu, al-Harits langsung memperkenalkan dirinya dan niatan yang sebenarnya. Sehingga nyatalah kekeliruan al-Walid ibn ‘Uqbah. Pada saat itulah turun ayat 6 surat al-Hujurat di atas.

Berdasarkan asbabun-nuzul di atas berarti yang dituju sebagai fasiq adalah seorang shahabat yang keliru. Tentu maksudnya bukan berarti shahabat orang fasiq. Hanya terkait kekeliruannya tersebut, ia sudah berbuat fasiq. Jadi artinya al-Qur`an menilai fasiq kepada siapa saja yang terlalu cepat menyimpulkan dan berasumsi tanpa tabayyun terlebih dahulu, apalagi jika sampai menyebarkannya. Menghadapi orang-orang yang berkarakter seperti itu, maka setiap muslim wajib melakukan tabayyun, agar kemudian tidak terjerumus pada perbuatan memfitnah orang lain tanpa dasar (bi jahalah) sehingga berujung pada penyesalan. Vonis fasiq dari al-Qur`an itu jelas menunjukkan bahwa menyebarkan berita sebelum tabayyun itu statusnya berdosa, meski dalihnya karena tidak tahu. Dalih tersebut hanya dinilai sebagai dalih yang tidak berdasar, karena al-Qur`an sudah mengingatkan jangan berdalih dengan “tidak tahu” dari sebuah perbuatan fasiq.

Hal ini dikuatkan oleh hadits Nabi saw yang menyatakan mudahnya menyebarkan informasi tanpa mau menelitinya sebagai perbuatan menyebarkan dusta dan jelas berdosa:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Seseorang cukup dinilai berdusta ketika ia menyampaikan semua yang ia dengar (Shahih Muslim bab an-nahyi ‘anil-hadits bi kulli ma sami’a no. 7).

Dalam hadits al-Mughirah ibn Syu’bah, Nabi saw menyebutnya qila wa qala (baru dikatakan/katanya, sudah berani mengatakannya):

وَكَانَ  يَنْهَى عَنْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ وَمَنْعٍ وَهَاتِ وَعُقُوقِ الْأُمَّهَاتِ وَوَأْدِ الْبَنَاتِ

“Nabi saw melarang qila wa qala, banyak bertanya, menghambur-hamburkan harta, pelit tapi rajin meminta, durhaka kepada ibu, dan mengubur anak perempuan hidup-hidup.” (Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab ma yukrahu min qila wa qala no. 6473).

Secara khusus, terkait informasi yang merusak nama baik seorang muslim—termasuk di dalamnya Pemerintah, ilmuwan, ulama—maka harus disikapi dengan husnuzhan dan meminta empat orang saksi. Dalam kasus fitnah yang menimpa ‘Aisyah, Allah swt mengingatkan:

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta (QS. an-Nur [24] : 12-13).

Apa yang sudah ditradisikan oleh para ulama dalam ilmu riwayah merupakan khazanah yang ternilai harganya. Dari sejak awal para ulama menerapkan isnad; meminta dan meneliti sandaran/sumber) dalam menyeleksi berita. Isnad ditujukan pada kredibilitas dan kecermatan sang penyampai informasi, sekaligus akurasi informasi yang disampaikannya dengan cara mengecek ulang, membandingkan, dan melakukan kritik matan/content. Itu semua ditempuh sesudah mengecek terlebih dahulu satu persatu mata rantai periwayatannya; dari siapa, lalu dari siapa lagi, lalu dari siapa lagi, sampai ke nara sumbernya. Semuanya harus jelas namanya dan riwayat kredibilitasnya. Jika ada yang tidak jelas status beritanya majhul (tidak diketahui) dan tidak boleh disebarkan. ‘Abdullah ibnul-Mubarak, ulama besar Khurasan generasi tabi’ tabi’in dalam hal ini menyatakan:

بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْقَوَائِمُ. يَعْنِى الإِسْنَادَ

Yang membedakan kita dan kaum yang lain adalah tonggak-tonggak ini—yakni isnad (penelitian sumber berita) (Shahih Muslim bab fi annal-isnad minad-din no. 33).

Jika rambu-rambu di atas tidak dihiraukan, setiap muslim harus menyadari bahwa informasi yang diterima dan disebarkannya pada hakikatnya adalah informasi palsu. Ia secara tidak langsung juga sudah termasuk seorang pendusta. Nabi saw sudah mengingatkan:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Siapa yang mengampaikan hadits dariku yang diduga kuat bahwa itu dusta, maka ia termasuk salah seorang pendusta (Shahih Muslim no. 1).

Keamanan Vaksin Covid-19

Vaksin adalah zat atau senyawa yang diberikan kepada seseorang sebagai upaya imunisasi, yakni suatu usaha untuk meningkatkan kekebalan tubuh (imunitas) terhadap suatu penyakit tertentu. Dalam fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2016 tentang Imunisasi dijelaskan bahwa vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup tetapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lain, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

MUI menjelaskan ketentuan hukumnya sebagai berikut:

  1. Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.
  2. Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci.
  3. Penggunaan vaksin imunisasi yang berbahan haram dan/atau najis hukumnya haram.
  4. Imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali:
  5. digunakan pada kondisi ad-dlarurat atau al-hajat;
  6. belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; dan
  7. adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.
  8. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.
  9. Imunisasi tidak boleh dilakukan jika berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, menimbulkan dampak yang membahayakan (dlarar)

Terkait dengan vaksin Covid-19, MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa pada tanggal 11 Januari 2021 terkait kehalalan dan kethayyibannya. Vaksin Covid-19 yang diteliti adalah yang diproduksi oleh Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero) dengan nama produk yang didaftarkan sebanyak tiga nama, yaitu (1) CoronaVac, (2) Vaksin Covid-19, (3) Vac2Bio. Fatwa halalnya itu sendiri sudah dikeluarkan pada tanggal 8 Januari 2021 sebelumnya. Akan tetapi karena belum mendapatkan sertifikat aman dan layak dikonsumsi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan maka fatwa halal itu menunggu kepastian thayyibnya. Setelah keluar sertifikat kelayakan untuk diberikan kepada masyarakat, MUI kemudian mengeluarkan fatwa lengkap terkait kehalalan dan keamanan vaksin Covid-19.

Proses pengambilan kesimpulan halal dan aman untuk vaksin Covid-19 itu sendiri didasarkan pada:

Pertama, Laporan dan Penjelasan Hasil Audit Tim Auditor LPPOM MUI bersama Komisi Fatwa MUI ke Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dan ke PT. Bio Farma (Persero) tentang proses produksi dan bahan yang merupakan titik kritis sebagai berikut:

  1. Vaksin diproduksi dengan platform virus yang dimatikan.
  2. Fasilitas produksi hanya digunakan untuk produksi vaksin Covid-19.
  3. Produksi vaksin mencakup tahapan penumbuhan Vero Cell (sel inang bagi virus), penumbuhan virus, inaktifasi virus, pemurnian (purifikasi), formulasi dan pengemasan.
  4. Sel vero merupakan sel diploid yang digunakan sebagai inang virus. Sel ini diperoleh dari sel ginjal kera Hijau Afrika (African Green Monkey) dari hasil penelitian tahun 1960-an dan terbukti aman untuk berfungsi sebagai inang virus dan telah disetujui oleh WHO.
  5. Media pertumbuhan Vero Cell dibuat dari bahan kimia, serum darah sapi, dan produk mikrobial. Produk mikrobial yang digunakan berasal dari mikroba yang ditumbuhkan pada media yang terbuat dari bahan nabati, bahan kimia, dan bahan mineral.
  6. Terdapat penggunaan tripsin dan beberapa enzim lainnya dalam tahap produksi dan pemurnian. Enzim yang digunakan ini merupakan produk mikrobial dimana mikroba ditumbuhkan pada media yang terbuat dari bahan nabati, bahan kimia, dan bahan mineral.
  7. Tidak ada penggunaan bahan turunan babi dan bahan yang berasal dari bagian tubuh manusia pada seluruh tahapan proses produksi.
  8. Dalam penyiapan media untuk produksi pada skala 1.200 liter ditambahkan air murni sebanyak 1.076 liter. Selain itu, pada tahapan formulasi, juga ditambahkan air murni sebanyak 930-940 liter per 1.000 liter hasil formulasi vaksin.
  9. Kemasan primer produk yang digunakan terbuat dari kaca dan karet.

Setelah itu MUI kemudian memperhatikan pendapat peserta rapat Komisi Fatwa pada tanggal 8 Januari 2021, yang menyimpulkan bahwa vaksin Covid-19 produk Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero) dalam proses produksinya:

  1. Tidak memanfaatkan (intifa’) babi atau bahan yang tercemar babi dan turunannya.
  2. Tidak memanfaatkan bagian anggota tubuh manusia (juz’ minal insan).
  3. Bersentuhan dengan barang najis mutawassithah, sehingga dihukumi mutanajjis, tetapi sudah dilakukan pensucian yang telah memenuhi ketentuan pensucian secara syar’i (tathhir syar’i).
  4. Menggunakan fasilitas produksi yang suci dan hanya digunakan untuk produk vaksin covid-19.

Peralatan dan pensucian dalam proses produksi vaksin di PT. Bio Farma (Persero) dipandang telah memenuhi ketentuan pencucian secara syar’i (tathhir syar’i).

Selanjutnya berdasarkan keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang telah memberikan persetujuan penggunaan pada masa darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dan jaminan keamanan (safety), mutu (quality), serta kemanjuran (efficacy) bagi Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co.Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero) yang menjadi salah satu indikator bahwa vaksin tersebut memenuhi kualifikasi thayyib.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan seksama tersebut, MUI kemudian mengeluarkan fatwa:

  1. Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero) hukumnya suci dan halal
  2. Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Sciences Co. Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero) sebagaimana angka 1 boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten.

Masyarakat sudah seharusnya tidak bersikap pura-pura bodoh bahwa vaksin harus manjur dan tidak boleh ada dampak negatifnya sama sekali. Disebut pura-pura bodoh karena semua orang pastinya tahu bahwa yang menyembuhkan itu hanya Allah swt, obat atau vaksin hanya upaya ikhtiar saja. Vaksin itu sendiri sebagaimana halnya obat kadang tergantung faktor cocok dan tidak cocok. Mustahil cocok untuk semua orang. Ketika ada ketidakcocokan tidak perlu dibesar-besarkan sebagai aib yang kemudian seleluasanya mencemarkan nama baik pihak-pihak yang berwenang mulai dari Pemerintah, ilmuwan, sampai ulama. Nabi saw sudah mengajarkan bahwa sepanjang sebuah keputusan dan kebijakan diambil berdasarkan penelitian akurat (ijtihad), hasilnya pasti akan selalu ada dua; tepat atau keliru. Ketika kemudian ternyata keliru, tidak boleh divonis salah atau sesat apalagi berdosa besar, sebab Nabi saw sendiri menjaminnya dengan pahala. Keliru itu sesuatu yang manusiawi karena memang penelitinya bukan Allah swt sendiri. Kekeliruan tersebut cukup dibenahi dan diperbaiki saja, tidak perlu dengan dicemarkan nama baik pihak-pihak yang terkaitnya.

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

Apabila seorang hakim memutuskan perkara dan ia berijtihad, maka jika ia benar dapat dua pahala, dan jika ia memutuskan keliru maka dapat satu pahala (Sunan at-Tirmidzi kitab al-ahkam bab al-qadli yushibu wa yukhthi`u no. 1326).

Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *