Menepis Isu Miring Vaksin - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Menepis Isu Miring Vaksin

1 month ago
211

Wawancara dengan Iwan Setiawan (Head of Corporate Communication PT Biofarma (persero)

Jamise Syar'i

Hampir genap satu tahun pandemi COVID-19 melanda Indonesia. Harapan kembalinya keadaan menjadi benar-benar normal (tidak pakai new) diharapkan setiap orang, sampai datangnya kabar tentang adanya vaksin. Masih banyak gonjang-ganjing informasi yang membuat masyarakat bingung dan ragu dengan vaksin. Oleh karena itu, tim redaksi Majalah Tafaqquh melalui sambungan konferensi jarak jauh (24/01/2021) berkesempatan mewancarai Iwan Setiawan, Humas Bio Farma sekaligus Tim Ahli PT Bio Farma yang memberikan penjelasan vaksin Sinovac-Bio Farma pada Sidang Dewan Hisbah Persis (20/01/2021). Bio Farma sebagai BUMN produsen Vaksin dan Antisera, telah ada 130 tahun lalu (1890), hari ini menjadi garda terdepan dalam pengembangan vaksin COVID-19 di Indonesia. Selamat membaca!

Apa itu vaksin dan asal mulanya?

Vaksin adalah produk biologi. Dia berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau dimatikan. Kemudian diperuntukkan untuk merangsang pembentukan kekebalan di dalam tubuh seseorang secara spesifik dalam jangka waktu yang cukup panjang (tertentu). Adapun proses pemberiannya disebut vaksinasi. Jadi berbeda dengan obat. Kalau obat untuk kuratif/pengobatan, kalau vaksin untuk pencegahan atau preventif. Dalam pembuatan vaksin itu macam-macam teknologinya. Teknologi yang pertama itu dengan cara in-aktivasi. Jadi membuat vaksin itu seperti kita “bercocok tanam”. Pertama kita harus mencari bibitnya (seed) terlebih dahulu. Bibit ini berasal dari mikroorganisme itu sendiri. Misalnya COVID-19, nama virusnya Sars-Cov 2, lalu diperbanyak, seperti kita mau menanam padi, lalu dipanen, kemudian dimatikan, dan dipurifikasi (dimurnikan). Sehingga betul-betul sudah mati atau dilemahkan, jadi tidak ada zat-zat yang lainnya lagi, jadilah vaksin. Lalu vaksin ini dimasukkan ke tubuh kita. Sehingga tubuh kita mengenali bahwa ini adalah virus COVID-19. Adapun yang menimbulkan kekebalan adalah tubuh kita. Yang perlu dicatat itu, terkadang orang-orang merasa takut dengan vaksin (virus yang telah dilemahkan/dimatikan), tapi kepada virus liar di luar itu orang-orang tidak merasa takut.

Dalam sejarahnya, saya menemukan dari beberapa ensiklopedi Islam, ternyata penggagas atau penemu vaksin itu adalah seorang ilmuwan muslim dari Rayy, namanya (Muhmmad bin Zakariya Abu Bakar, bukan Fakhruddin) ar-Razi, atau di Barat dikenal dengan Razhes. Beliau sebetulnya orang pertama yang menemukan konsep dasar vaksin smallpox (cacar api) yang berasal dari virus variola. Kemudian beliau menulis buku dengan judul “al-Jadari wa l-Hashbah”. Manuskrip itu masih ada di perpustakan Leiden University, Belanda. Kemudian diterjemahkan menjadi “A Treatise on The Smallpox and Measles”. Itulah asal mula ditemukannya vaksin. Kalau di buku-buku kedokteran modern yang diakui itu malah Edward Jenner. Padahal ia lebih belakangan.

 

Untuk PT Bio Farma sendiri sudah sampai mana menangani vaksin?

Vaksin yang sudah kita tangani berhasil, salah satunya yang tadi saya sampaikan, yaitu vaksin cacar api atau smallpox yang disebabkan oleh virus variola. Cacar api yang dulu menjadi wabah seluruh dunia, di antaranya, Bio Farma yang memproduksi vaksinnya. Sampai hari ini tinggal ceritanya saja. Itu sudah dieradikasi, atau sudah musnah di atas muka bumi ini; dinyatakan tidak ada kasusnya itu pada tahun 1977. Salah satu penyebarannya diberhentikan oleh vaksin. Karena vaksin ini fungsinya, di samping untuk kekebalan sendiri, juga untuk kekebalan komunitas atau yang kita sering dengar dengan herd imunity (kekebalan kelompok). Herd imunity ini berfungsi untuk memotong penyebaran dari wabah itu. Jadi ketika dalam satu kelompok ada 60-80% orang divaksinasi sehingga ia kebal dari penyakit, menurut WHO, maka penyakit itu tidak bisa berkembang biak. Mikroorganisme ini hanya bisa hidup di tubuh manusia. Ketika dinyatakan misalnya ia menginfeksi 14 hari, ia mencari lagi dan lagi, dari satu orang ke orang lagi. Kalau ditargetkan 70%, maka di Indonesia harus ada 180 juta orang yang divaksin, baru akan terbentuk herd imunity.

Dan juga yang sudah diproduksi oleh Bio Farma, di antaranya, adalah BCG; Difteri; Tetanus; Polio; Campak; Flubio. Makanya Bio Farma sebetulnya sudah punya kemampuan memproduksi sekitar 3,2 Miliyar dosis. Khusus yang didedikasikan untuuk COVID-19 ini 250 Juta. Karena vaksin yang lain tidak boleh berhenti. Kalau kita hanya fokus ke COVID-19, nanti malah akan timbul wabah baru di anak-anak dan balita. Jadi kita sudah memproduksi vaksin sudah ratusan tahun, dan produk kita itu sudah kualifikasi WHO, kulaifikasi internasional. Kita pun tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, sudah 150 negara yang suplai vaksin kita. Di antaranya adalah 52 negara OKI (Organisasi Kerjasam Islam), atau OIC (Organization Islamic Corporation). Tidak semua negrara punya pabrik vaksin. Untuk negara OKI saja ada 57 negara yang tergabung dalam organisasi kerjasama Islam, hanya tujuh negara yang punya pabrik vaksin. Di antaranya yang tujuh itu adalah Mesir; Saudi Arabia; Maroko; Senegal; Turki, Iran dan Indonesia di antaranya. Dari yang tujuh ini, hanya ada dua negara yang kulitasnya itu sudah internasional, atau yang sudah disertifikasi oleh WHO, yaitu Senegal dan Indonesia. Senegal sendiri yang disertifikasi hanya satu vaksin, namanya Yellow Fever (demam kuning), itu untuk kebutuhan di Afrika Selatan dan Afrika Timur. Tetapi kita itu sudah 14 vaksin yang sudah diakreditasi oleh WHO. Artinya sudah dipakai untuk kebutuhan internasional. Di dunia Internasional, Indonesia, dalam hal ini Bio Farma, ditunjuk di negara-negara Islam sebagai Center of Excellent, menjadi rujukan dan tempat pelatihan negara-negara Islam.

 

Untuk negara-negara di luar Islam, negara yang jadi rujukan vaksin di mana?

Yang paling banyak sekarang, tentunya di negara-negara maju, paling banyak pabrik vaksin di Eropa; Amerika; termasuk Cina. Cina perkembangannya sangat luar  biasa, pesat sekali, di sana ada beberapa. Kalau di Indonesia hanya ada satu. Bahkan di Asia Tenggara kita itu paling besar. Malaysia itu belum punya pabrik vaksin. Kita kan sudah terbiasa kerjasama, karena terbatas lembga vaksin di dunia, kita bisa punya akses ke lembaga-lembaga yang mana sedang mengembangkan vaksin COVID-19, yang sudah advance, yang sudah lebih duluan. Kita punya akses ke situ. Contoh sederhana, di Saudi Arabia, ada Arabio yang adanya persis di Jeddah. Arabio itu belum bisa membuat vaksin dari awal sampai akhir, dari A sampai Z. Biasanya dia dari bahan setengah jadi sampai bahan jadi. Untuk polio saja bahan bakunya dari kita, dalam hal ini dari Bio Farma. Seperti yang sekarang kita lakukan, produk bahan baku vaksin COVID-19 kita impor dari Cina.

Kalau ada orang yang mempertanyakan kenapa harus dari Cina? Saya tantang, kalau ada dari Timur Tengah, ingin saya pilih dari sana. Tetapi mereka pun memohon bantuan dari kita. Jadi kalau untuk ilmu pengatahuan dan teknologi, kita tidak melihat mana Barat mana Timur, yang penting bermanfaat bagi ummat. Jangan-jangan peribahasa uthlubu l-‘ilma wa law bi s-shin (carilah ilmu meskipun ke negeri Cina), Corona maksudnya.

 

Kalau melihat di berita, Agustus lalu ada penandatangan kerjasama Sinovac-Bio Farma, kerjasama distribusi dan pengembangan teknologi. Itu seperti apa?

Ketika terjadi wabah COVID-19 yang berasal dari Wuhan, Cina, tidak ada satupun negara yang siap dengan wabah tersebut. Sehingga apa yang terjadi adalah bagaimana semua berupaya menangani, mencegah dari wabah tersebut. Salah satu pencegahan dari wabah ini, yang dianjurkan oleh WHO dan terbukti, yaitu dengan vaksin. Kemudian Indonesia, dalam hal ini Bio Farma, ditugaskan oleh pemerintah untuk mendapatkan vaksin. Bio Farma dalam mengadakan vaksin ada dua skenario. Skenario pertama ialah melakukan penelitian dan pengembangan secara mandiri. Dilakukan oleh kita bekerjasama dengan univeritas-universitas dan lembaga-lembaga penelitian, dipimpin oleh lembaga Bio Molecular Eijkman yang ada di Jakarta.

Cuma yang saya tadi bilang, vaksin itu yang terpenting bagaimana kita bisa membuat bibit dari virus itu yang betul-betul aman. Kita kan belakangan, penyakit ini bulan Maret baru datang ke Indonesia. Sementara Cina lebih duluan, secara logika ia berarti sudah lebih dulu mempunyai akses terhadap hal ini. Indonesia melakukan penelitian dan pengembangan yang akan kita calonkan nanti menjadi vaksin merah putih. Dalam perjalanannya setelah dilakukan pemetaan dan membuat timeline, ternyata apa yang akan kita lakukan ini masih panjang. Kemungkinan kita mendapatkan vaksin ini akan sangat-sangat terlambat kalau kita hanya mengandalkan yang kita lakukan sendiri. Oleh karena itu untuk menutup gap ini kita mencari lembaga mana di dunia yang sudah memiliki teknologi yang sudah duluan, yang paling advance. Artinya di samping kita melakukan kemandirian, kita paralel mencari ke berbagai lembaga yang ada di dunia. Waktu itu ada beberapa kriteria yang kita lakukan, setidaknya ada tiga.

Yang pertama, dari sisi kecepatan. Kita mencari pabrik mana yang sudah punya teknologi palng dulu. Kita tahu bahwa vaksin ini kan harus melalui beberapa fase uji klinis. Ia harus melalui pre-klinis diujikan ke hewan. Kemudian uji klinis satu, dua, dan tiga. Kita mencari mana yang paling dulu dari sisi kecepatan. Yang kedua, kita mencari dari sisi kualitasnya. Lembaga mana yang bisa memberikan keamanan, efektif, efikasinya yang tinggi, dan lain sebagainya dari sisi kualitas. Bahkan kita harus mencari yang sudah pernah dia buat itu yang sudah disertifikasi WHO. Yang ketiga, dari sisi teknologi. Yang kita cari itu yang mirip dengan teknologi yang dikuasi oleh Bio Farma. Karena kita berharap bukan hanya membeli vaksin saja, tapi ada transfer teknologi.

Dari ketiga ini kita mencari ditemukanlah yang namanya Sinovac Beijing, Cina, dan kita bukan hanya ke situ saja mencarinya. Dan dengan Sinovac bukan hanya kali ini kerjasamanya. Ada kita yang membeli dari mereka, ada yang mereka membeli dari kita. Dari sisi kecepatan Sinovac pada April ini sudah fase dua. Jadi di dunia dia yang paling dulu. Dari segi kualitasnya sudah sama dengan Bio Farma. Kemudian dari sisi teknologi, teknologinya itu in-activated (yaitu virus yang dimatikan) yang bagi Bio Farma sudah sangat familiar. Dari sisi kecepatan, kualitas, dan teknologi sudah terpenuhi. Jadi bukan mencari tanpa dasar, itu yang kita tetapkan.

Ada satu lagi. Vaksin itu kalau secara kualitas harus memenuhi tiga kriteria. Pertama dari sisi safety, yang kedua kualitas, dan ketiga efikasi. Itu yang diwajibkan oleh WHO. Tapi kita di Bio Farma, karena kita mayoritas muslim, maka kita menetapkan yang keempat, salah satu pertimbangan kita, adalah halal. Untuk yang halal ini kita menemukan ternyata yang di Sinovac Cina ini menggunakan Trypsin Recombinant. Karena pada saat itu belum diaudit kehalalannya. Kita menemukan celah sebagai gerbang untuk mendapatkan sertifikasi halal. Maka kita kemudian mengadakan kerajasama dengan Sinovac untuk mengadakan vaksin ini. Ketika kita kerjasama ternyata ada dua jenis vaksin. Yang pertama, vaksin dalam bentuk jadi, sudah final product, siap pakai. Jadi datang ke sini yang diterima Bio Farma sekitar 3 Juta yang sudah didistribusikan ke seluruh Indonesia. Yang kedua, kita mendapatkan produk setengah jadi, kemudian kita produksi menjadi produk akhir. Kemarin kita sudah terima sebanyak 15 juta, dan secara simultan akan kita terima lagi.

Ini adalah perjalanan panjang, bukan tiba-tiba di ujung. Dari bulan November, dari tanggal 4-6, kita ke sana bersama BPOM; LPPOM MUI; Komisi Fatwa MUI; dan Kemkes berangkat ke sana untuk melalukan audit langsung. Bahkan kita melakukan tes untuk kehalalan itu bulan Juli, kita minta sample dari sana. Yang kita lakukan adalah tes terhadap kandungan DNA babi. Saking hati-hatinya MUI, meskipun tidak ada di produk akhir, tapi kalau diprosesnya itu pernah bersentuhan dengan babi, mereka tidak akan mengeluarkan sertifikat halal.

 

Kalau prosesnya yang panjang ini, kenapa BPOM mengeluarkan Emergency Use Authority (EUA)?

Minimal uji klinis ini minimal enam bulan untuk fase tiga. Saya ingin menjawab kenapa uji klinis tiga ini dilakukan di Indonesia, jangan-jangan Indonesia dijadikan kelinci percobaan? Uji klinis fase tiga itu dilakukan dengan jumlah yang sangat besar, dan itu bukan hanya di Indonesia, tapi dilakukan multi center juga di Turki; Brasil; Cili; dan Bangladesh. Pengujian uji klinis itu harus dilakukan di negara yang kasusnya masih banyak. Uji klinis itu membandingkan antara yang divaksin dan tidak. Pengujian yang dilakukan Bio Farma itu sudah dilakukan 30 kali lebih, hanya sekarang saja yang heboh.

Uji klinis ini minimal enam bulan, tetapi ketika terjadi pandemi seperti ini, ada ketetapan dari WHO yang namanya Emergency Use Authorization, artinya penggunaan masa darurat. Kalau sudah sampai selesai itu bukan EUA, tapi NIE, Nomor Izin Edar, itu dalam keadaan normal. Pembuatannya betul di Januari, itu pun sistem gugur, ada 125 lalu gugur. Ini dilakukan sudah panjang, dan memang panjang, apalagi dalam keadaan normal pembuatan vaksin itu bisa lima sampai sepuluh tahun. Karena pandemi semua orang dicurahkan ke sana. Makanya keluarlah EUA, atau penggunaan dalam masa darurat. Termasuk masih belum bisa ditentukan berapa lama memberikan kekebalan karena ini vaksin baru. Kalau vaksin yang lama, seperti meningitis, sudah diketahui kekebalannnya dua tahun.

 

Kenapa Kita mengadakan vaksin padahal izin belum keluar?

Ketika terjadi pandemi semua negara berupaya untuk mengadakan vaksin. Di dunia ini rebutan. Bahkan WHO sedang mengatur bagaimana caranya agar negara-negara yang miskin, negara-negara yang tidak punya pabrik, punya akses terhadap vaksin. Karena negara-negara kuat, Amerika misalnya, sudah membeli tapi barangnya belum ada, atau ijon vaksin, sampai dua setengah kali dari kebutuhan penduduknya. Dengan catatan mereka memperkirakan vaksin ini jangan-jangan baru enam bulan harus divaksin lagi. Bayangkan negara-negara yang kuat berlomba-lomba untuk ini. Dalam keadaan seperti ini, seperti termasuk Indonesia, kalau tidak mengambil itu maka tidak akan terbagi. Maka kecepatan ini seperti yang saya sampaikan. Kecepatan ini dengan paralel tetap melakukan uji-uji. Ketika kita distribusi itu belum keluar izin-izin, kenapa itu dilakukan? Karena Indonesia itu luas. Sehingga ketika izin sudah keluar, barang sudah terdistribusi. Semuanya sudah terjadwal pada timeline yang kita buat. Semuanya sudah bisa terprediksi meskipun ada resiko, tapi ini dalam kondisi darurat. Kita tidak bisa melakukan secara biasa, kita harus melakuakn di luar kebiasaan.

 

Apa prediksi setelah vaksinasi dan himbauan kepada masayarakat?

Saya ingin mengatakan, memang vaksin ini, atau apapun yang ada di dunia, kita tidak bisa menjamin mutlak-mutlakan, yang mutlak itu hanya Allah. Tapi bukan berarti kita pesimis. Kita tidak bisa menjamin ketika seseorang divaksin terlindungi seratus persen. Kalau boleh menganalogikan seperti halnya kita memakai helm, tidak ada jaminan ketika terjadi kecelakaan akan pasti selamat. Maka ketika divaksin, protokol 3M, bahkan sekarang 5M, itu harus tetap dilakukan. Inilah salah satu upaya, sehingga ke dapan kita dapat keluar dari pandemi yang sudah memporak-porandakan tatananan kehidupan kita.

Untuk masyarakat, di luar terdapat banyak hoax terkait isu-isu vaksin, termasuk ada yang menanyakan di kalangan dokter atau yang seprofesi sendiri. “Saya yang awam tambah bingung, jadi mana yang harus diikuti?” Kalau menurut saya begini, dalam ilmu pengetahuan dan teknologi itu sifatnya nisbi, apa yang hari ini benar besok bisa salah. Di dalam sains pun ada madzhab-madzhabnya. Karena dalam profesi apapun pasti akan ada yang nyeleneh, apalagi sekarang setiap orang menjadi “ahli virus”. Apa yang harus kita lakukan? Ikuti saja yang jumhur.

Pewancara: Farhan Fuadi Rahman & Saeful Ja’far Shiddiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *