Agar Makanan Menjadi Berkah - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Agar Makanan Menjadi Berkah

1 month ago
562

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا» رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhai kepadanya: “Bahwasanya Nabi Muhammad shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian telah makan maka janganlah dia mengusap tangannya sampai dia menjilatinya atau dijilatkan kepada orang lain.” (Shahih Bukhari no. 5456)

 

Jamise Syar'i

Meraih Keberkahan

Makan dan minum adalah kebutuhan primer bagi kehidupan manusia. Tidak hanya manusia, bahkan hewan sekalipun membutuhkan makan dan minum. Tujuannya adalah agar kehidupan tetap berlangsung. Jika hewan makan dan minum itu hanya sebatas bisa tumbuh dan berkembang, maka amat sangat berbeda dengan manusia; terutama orang-orang yang beriman. Bagi orang-orang yang beriman tujuan makan dan minum adalah untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.  Agar makanan  yang dimakan menjadi ibadah dan diberkahi oleh Allah ‘Azza wa Jalla maka harus melaksanakan adab-adabnya. Adab-adab makan tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang beriman akan melaksanakan adab-adabnya dalam makan. Sehingga akan mendapatkan keberkahan dari makanan yang dimakan. Sedangkan orang-orang kafir, makan dan minumnya tak ubahnya seperti binatang; hanya memenuhi kebutuhan perutnya saja. Sebagimana Allah berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang, dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)

Orang-orang kafir itu tujuan hidupnya hanyalah untuk makan dan bersenang-senang. Sedangkan orang-orang yang beriman tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah dan  mendambakan keberkahan dalam hidupnya, termasuk dalam hal makan.   

Makna berkah itu sendiri menurut Imam Nawawi adalah bertambahnya kebaikan dan tetapnya dalam melaksanakan kebaikan serta merasa senang ketika melaksanakan kebaikan itu. Kemudian Imam Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksud berkah dalam makanan adalah mendapatkan kenikmatan dalam makan, terhindar dari berbagai penyakit, dan menguatkan ketaatan kepada Allah Ta’ala. (Syarh Muslim Imam Nawawi)

Agar makanan menjadi berkah, maka harus memperhatikan adab-adabnya. Di antara adab-adabnya adalah sebagai berikut:

  1. Memakan Makanan Halal dan Thayyib

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ  

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah ayat 168)

Menurut Ahmad Syakir dalam kitab ‘Umdatut Tafsir, makanan yang halal dan thayyib itu adalah makanan yang menyehatkan jiwa dan badannya, serta tidak membahayakan badan dan akalnya.

  1. Makan dan Minum Tidak Berlebih

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’râf ayat 31)

Imam al-Bukhari mengutip perkataan Ibnu ‘Abbas, “Makanlah apa yang kamu kehendaki, pakailah baju yang kamu kehendaki, tetapi jangan berlebihan dan bersikap sombong”.

Kemudian Nabi Muhammad shall-‘Llah ‘alahi wa sallam bersabda:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قاَلَ: “كُلُوا، وَاشْرَبُوا، وَتَصَدَّقُوا، والبَسُوا، فِي غَيْرِ مَخِيْلَةٍ وَلا سرف، إِنَّ الله يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى عَبْدِهِ” رواه أحمد

“Dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Makanlah, minumlah, bershadaqahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan. Sesunggunya Allah bangga bila nikmat-Nya ada pada hamba-Nya diperlihatkan.”(H.R. Ahmad no. 6708)

  1. Membaca Basmallah dan Makan dengan Tangan Kanan

Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ رضي الله عنه، يَقُولُ: كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» رواه البخاري

“Dari ‘Umar bin Abi Salamah semoga Allah meridhai kepadanya ia berkata: “Ketika aku masih kecil, aku berada di bawah asuhan Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam tanganku berseliweran di nampan saat makan, maka Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang berada di dekatmu.” (Shahih al-Bukhari no. 5376)

  1. Makan dan Minum Sambil Duduk

Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا، فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ» رواه مسلم

“Dari Abu Hurairah semoga Allah meridoi kepadanya ia berkata: Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah salah seorang diantara kalian minum sambil berdiri, barang siap yang lupa, maka muntahkanlah.” (Shahih Muslim no. 2026)

Dengan hadits ini, maka makan dan minum harus dalam keadaan duduk. Tidak boleh makan minum sambil berdiri. Dalam hal minum, larangannya tidak sampai menunjukan kepada haram, tetapi sebatas makruh. Karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, diterima dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiya-‘Llahu ‘anhu, ia berkata: “Saya memberi minum kepada kepada Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (Shahih Muslim no. 2027).

Kemudian di dalam shahih al-Bukhari disebutkan, bahwasanya ‘Ali radhiya-‘Llahu ‘anhu minum sambil berdiri. Lalu dia berkata: “Saya melihat Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan seperti ini, sebagaimana kalian melihat aku ini.” (H.R Bukhari, nomor: 5.615)

  1. Tidak Boleh Mencela Makanan

Dalam Shahih Bukhari, sahabat Abu Hurairah radhiya-‘Llahu ‘anhu berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِلَّا تَرَكَهُ» رواه البخاري

“Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhai kepadanya ia berkata: “Nabi Muhammad shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sedikit pun. Jika beliau menyukainya beliau memakannya, dan jika tidak, beliau meniggalkannya.” (Shahih al-Bukhari no. 3563)

  1. Menjilati Tangan Setelah Makan

Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam dahulu suka makan menggunakan tangan, bahkan makan dengan tiga jari, lalu menjilati tangannya sebelum diusap atau dicuci;

عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ، وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا» رواه مسلم

“ Dari Ka’ab bin Malim dari ayahnya Radhiyallâhu ‘Anhumâ ia berkata: Dahulu Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi wa Sallam makan menggunakan tiga jari, dan beliau menjilati tangannya sebelum beliau mengusapnya.” (HR. Muslim, nomor 2.032)

Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam mengatakan bahwa orang yang makan kemudian tidak menjilati tangannya, maka sisa-sisa makanan itu terbuang karena diusap atau dicuci, maka hal ini termasuk kepada kufur nikmat. Seharusnya setelah makan itu tangannya dan jari-jarinya dijilati agar tidak ada makanan yang tersisa. (Taudhîhul Ahkâm, jilid 7, hal. 297)

Mengapa menjilati tangan harus dilakukan setelah makan. Tujuannya adalah mendapatkan keberkahan dalam makan. Nabi Bersabda:

“Dari Jabir semoga Allah meridhai kepadanya, bahwasanya Rasulullah Shallalâhu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menjilati jari-jari tangan dan piring bekas makan. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kalian tidak mengetahui pada makanan yang mana yang menjadi berkah.” (H.R. Muslim, nomor 2.033)

  1. Membaca doa setelah makan

Setelah makan, maka disunnahkan untuk membaca doa. Sebagaimana dalam shahih al-Bukhari yang diterima dari sahabat Abu Umamah radhiya-‘Llahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalla-‘Llahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai makan, maka beliau berdoa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kecukupan kepada kami dan menghilangkan rasa haus. Bukan nikmat yang tidak dianggap atau dikufuri.” (H.R. Al-Bukhari)

WaLlahu A’lam

Penulis : Oman Warman (Staf  pengajar pesantren PERSIS 27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *