Makanan Yang Haram Tidak Hanya Empat - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Makanan Yang Haram Tidak Hanya Empat

1 month ago
162

Dalam diskursus ilmu hadits sudah umum dipahami bahwa kedudukan hadits terhadap al-Qur`an setidaknya ada tiga: Pertama, menguatkan al-Qur`an seperti perintah shalat, zakat, dan larangan riba. Kedua, menjelaskan al-Qur`an seperti penjelasan kaifiyyat shalat mencakup rukun dan syaratnya atau rincian aturan waris. Ketiga, menetapkan hukum yang tidak ada dalam al-Qur`an seperti haramnya keledai jinak (M. Ajjaj al-Khathib, Ushulul-Hadits; ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu, hlm. 50).

Jamise Syar'i

Kewenangan hadits sebagaimana disepakati oleh para ulama hadits di atas merujuk pada otoritas Nabi Muhammad saw yang dikukuhkan al-Qur`an sebagai penjelas al-Qur`an sekaligus penetap hukum halal dan haram yang tidak diuraikan semuanya dalam al-Qur`an.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu AlQur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan (QS. An-Nahl [16] : 44).

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

…dan (Nabi saw) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…(QS. Al-A’raf [7] : 157).

Akan tetapi hadits-hadits yang jelas mengharamkan sesuatu yang tidak ada dalam al-Qur`an seperti daging keledai jinak, hewan buas yang bergigi taring, burung pemangsa yang bercakar tajam, dan hewan-hewan lainnya yang diharamkan hadits, terkadang dipertentangkan dengan ayat al-Qur`an yang membatasi makanan/minuman haram pada empat saja; bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih untuk selain Allah, di antaranya:

﴿قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ  فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ١٤٥﴾

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am [6] : 145).

Ayat di atas dikuatkan dengan ayat-ayat lainnya yang selalu menyebutkan innama (hanyasanya) ketika menjelaskan empat yang diharamkan sehingga dipahami hashr (membatasi) pada yang empat saja, tidak ada yang lainnya, seperti QS. Al-Baqarah [2] : 173 dan an-Nahl [16] : 115.

Ketika dipertentangkan dengan ayat-ayat di atas, maka hadits yang mengharamkan selain empat di atas dipahami sebagai tanzih (untuk kesucian) atau sebatas makruh, tidak sampai haram sepenuhnya. Padahal ketika sabda Nabi saw jelas menyebutkan haram sangat riskan kalau maknanya kemudian dipahami makruh. Khawatirnya jadi tidak mengharamkan yang haram. Bahkan karena makruh itu ada unsur halalnya, jadinya khawatir menghalalkan yang haram, dan ini tentu sangat dimurkai oleh pembuat syari’at.

Al-Hafizh Ibn Hajar, seorang ulama hadits yang sudah disepakati kepakarannya dalam hadits, menjelaskan bahwa ayat 145 surat al-An’am [6] adalah ayat makkiyyah (turun di Makkah) sementara hadits-hadits yang mengharamkan madaniyyah (turun di Madinah). Ayat di atas hanya membatasi yang haram pada waktu ayat itu diturunkan. Sesudah ayat itu diturunkan masih ada lagi yang diharamkan, di antaranya khamr (diharamkan di Madinah) dan daging keledai jinak (Fathul-Bari kitab adz-dzaba`ih was-shaid bab luhum al-humur al-insiyyah).

Menyimak penjelasan al-Hafizh Ibn Hajar tentunya akan terasa riskan jika memang yang haram hanya empat, lalu bagaimana status keharaman khamr? Jika alasannya karena yang empat haram tersebut konteksnya makanan, maka jawaban baliknya bukankah darah juga diminum dan tidak dimakan? Jadi yang diharamkan itu intinya yang haram dikonsumsi, baik makanan atau minuman. Jika yang haram hanya empat, lalu bagaimana dengan khamr? Jadi akan lebih tepat memilih penjelasan para ulama sebagaimana dikemukakan al-Hafizh Ibn Hajar di atas bahwa maksud “tidak menemukan yang haram pada yang diwahyukan kepadaku” adalah pada saat di Makkah, agar tidak bertentangan yang diharamkan pada periode berikutnya di Madinah.

Terkait lafazh “innama” yang harus dipahami secara hashr (terbatas) ini juga kurang tepat, karena hadits innamal-a’mal bin-niyyat tidak berarti syarat satu-satunya dalam amal itu hanya niat. Para ulama sepakat bahwa di samping niat, amal juga harus benar sesuai dengan syari’at. Innama itu hanya menegaskan yang pentingnya saja, tidak berarti menutup dari ada kemungkinan yang lainnya. Maka innama yang ditujukan pada yang empat dalam ayat-ayat di atas tidak berarti tidak ada yang haram di luar yang empat tersebut.

Terkait pendapat shahabat Ibn ‘Abbas yang (dianggap) menolak keharaman daging keledai berdasarkan QS. al-An’am [6] : 145 di atas, menurut Ibn Hajar, pendapat tersebut lemah dilihat dari dua aspek. Pertama, pernyataan tersebut bukan pernyataan langsung Ibn ‘Abbas, melainkan menurut Jabir ibn Zaid. Kedua, dalam riwayat Muslim jelas disebutkan bahwa Ibn ‘Abbas sendiri menyatakan dirinya tidak yakin apakah haramnya itu karena keterbatasan sarana angkut ataukah haram mutlak (Fathul-Bari kitab adz-dzaba`ih was-shaid bab luhum al-humur al-insiyyah).

Lebih jelasnya, berikut pendapat shahabat Ibn ‘Abbas yang dimaksud dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim:

قَالَ عَمْرٌو قُلْتُ لِجَابِرِ بْنِ زَيْدٍ يَزْعُمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  نَهَى عَنْ حُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ فَقَالَ قَدْ كَانَ يَقُولُ ذَاكَ الْحَكَمُ بْنُ عَمْرٍو الْغِفَارِيُّ عِنْدَنَا بِالْبَصْرَةِ وَلَكِنْ أَبَى ذَاكَ الْبَحْرُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَقَرَأَ {قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا}

‘Amr berkata: “Aku berkata kepada Jabir ibn Zaid bahwa orang-orang meyakini sesungguhnya Rasulullah saw telah melarang makan daging keledai jinak.” Jabir ibn Zaid menjawab: “Sungguh pendapat itu dikemukakan al-Hakam ibn ‘Amr al-Ghifari di Bashrah (Irak). Akan tetapi sang lautan ilmu, Ibn ‘Abbas, menolak pendapat tersebut seraya membacakan ayat: {Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan… (QS. al-An’am [6] : 145)} (Shahih al-Bukhari kitab adz-dzaba`ih was-shaid bab luhumil-humuril-insiyyah no. 5529).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لاَ أَدْرِى إِنَّمَا نَهَى عَنْهُ رَسُولُ اللهِ  مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ كَانَ حَمُولَةَ النَّاسِ فَكَرِهَ أَنْ تَذْهَبَ حَمُولَتُهُمْ أَوْ حَرَّمَهُ فِى يَوْمِ خَيْبَرَ لُحُومَ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ.

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: “Aku tidak tahu apakah Rasulullah saw melarangnya karena keledai jinak itu hewan tunggangan sehingga beliau takut hewan tunggangan ini habis dimakan, ataukah beliau memang mengharamkannya pada hari Khaibar, yakni daging keledai jinak ini?” (Shahih Muslim kitab as-shaid wadz-dzaba`ih bab tahrim akli lahmil-humuril-insiyyah no. 5129)

Pendapat Ibn ‘Abbas yang menyatakan “la adri; saya tidak tahu”, jelas tidak kuat dan tidak bisa dijadikan pegangan. Terlebih faktanya banyak shahabat yang meriwayatkan keharaman daging keledai jinak secara meyakinkan, di antaranya ‘Ali, Ibn ‘Umar, Jabir ibn ‘Abdillah, Ibn Abi Aufa, al-Bara, Abu Tsa’labah, Abu Hurairah, al-‘Irbadl ibn Sariyah, Khalid ibn Walid, Ibn ‘Amr, al-Miqdam ibn Ma’dikarib, Salamah ibn al-Akwa’, dan lainnya. Pendapat mereka tertulis jelas dalam diwan-diwan (kitab-kitab standar rujukan) Islam, dan merupakan pendapat yang dianut mayoritas shahabat dan tabi’in (Subulus-Salam). Sementara Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah menyatakan, sebagaimana dikemukakan Mujahid, Ibn ‘Abbas sudah mengikuti pendapat jumhur, yakni menyetujui keharaman daging keledai jinak, setelah ‘Ali ibn Abi Thalib menegur dan berdiskusi dengannya tentang keharaman daging keledai jinak ini (al-Albani dalam ta’liq Subulus-Salam)

Bahkan kalaupun Ibn ‘Abbas menyatakan keterbatasan hewan tunggangan yang jadi sebab diharamkannya, menurut Ibn Hajar, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak keharaman daging keledai jinak ini, sebab jika seperti itu tentu kuda pun akan diharamkan, mengingat statusnya sebagai hewan tunggangan lebih diperlukan. Sementara itu dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  نَهَى يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ وَأَذِنَ فِى لُحُومِ الْخَيْلِ

Dari Jabir ibn ‘Abdillah: “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang (makan) daging keledai jinak pada hari Khaibar, dan mengizinkan (makan) daging kuda.” (Shahih Muslim kitab as-shaid wadz-dzaba`ih bab fi akli luhumil-khail no. 5134)

Menurut Syaikh al-Albani, alasan keharaman daging keledai jinak lainnya adalah sabda Nabi saw: fa innahu rijsun; karena itu kotor (Subulus-Salam ta’liq al-Albani). Dan itu sama dengan firman Allah swt dalam QS. al-A’n’am [6] : 145 yang menyebutkan salah satu alasan keharaman bangkai, darah, dan daging babi, yakni fa innahu rijsun; karena itu kotor. Maka dari itu tidak heran jika para ulama jumhur (mayoritas) sepakat akan keharaman daging keledai jinak ini.

Terlebih ada hadits lain yang mengingatkan umat Islam untuk tidak hanya berpegang pada al-Qur`an saja dalam hal halal-haram, melainkan juga harus merujuk pada hadits:

لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الأَمْرُ مِنْ أَمْرِى مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لاَ نَدْرِى مَا وَجَدْنَا فِى كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ

Jangan sampai aku temukan salah seorang di antara kalian bersandar di atas singgasananya, lalu ditanyakan kepadanya urusan yang aku perintah dan aku larang, tetapi malah menjawab: “Kami tidak tahu. Pokoknya yang kami temukan dalam kitab Allah, kami akan mengikutinya.” (Sunan Abi Dawud kitab as-sunnah bab fi luzumis-sunnah no. 4607)

أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ أَلاَ لاَ يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الأَهْلِىِّ وَلاَ كُلُّ ذِى نَابٍ مِنَ السَّبُعِ وَلاَ لُقَطَةُ مُعَاهِدٍ إِلاَّ أَنْ يَسْتَغْنِىَ عَنْهَا صَاحِبُهَا

Ingatlah, sungguh aku diberi kitab (al-Qur`an) dan yang semisalnya (sunnah) bersamanya (al-Qur`an). Ingatlah, telah dekat masanya seseorang yang kenyang perutnya duduk di atas singgasananya lalu berkata: “Kalian cukup berpegang pada al-Qur`an ini saja. Apa yang halal dalam al-Qur`an, maka halalkanlah. Dan yang haram dalam al-Qur`an maka haramkanlah.” Ingatlah, tidak halal bagimu daging keledai jinak, setiap hewan buas yang bergigi taring, dan barang temuan milik kafir yang terikat perjanjian damai, kecuali jika pemiliknya sudah tidak membutuhkannya (Sunan Abi Dawud kitab as-sunnah bab fi luzumis-sunnah no. 4606).

Penegasan Nabi saw dalam hadits terakhir dengan “ingatlah, tidak halal…” menegaskan bahwa yang Nabi saw sebutkan dalam hadits di atas benar-benar haram, tidak ada unsur halalnya sama sekali. Jadi keledai jinak, anjing, singa, harimau, elang, garuda, dan juga hewan-hewan lainnya yang dilarang oleh Nabi saw (rujukan sederhana bisa dilihat pada bab makanan dari Bulughul-Maram) statusnya memang haram.

Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *