Shalat Wajib Tidak Boleh di Atas Kendaraan - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Shalat Wajib Tidak Boleh di Atas Kendaraan

1 month ago
776

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. زَادَ الْبُخَارِيُّ: يُومِئُ بِرَأْسِهِ وَلَمْ يَكُنْ يَصْنَعُهُ فِي الْمَكْتُوبَةِ

Dari ‘Amir ibn Rabi’ah—semoga Allah meridlainya—ia berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—shalat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap.” Disepakati shahihnya. Al-Bukhari menambahkan: “Beliau memberi isyarat dengan kepalanya namun beliau tidak melakukannya pada shalat wajib.”

وَلِأَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ : كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اِسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَجْهُ رِكَابِهِ. وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

Dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Anas—semoga Allah meridlainya: “Apabila beliau bepergian kemudian ingin shalat sunat maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah qiblat. Beliau takbir kemudian shalat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap.” Sanadnya hasan.

 

Jamise Syar'i

Tautsiqul-Hadits

Hadits ‘Amir ibn Rabi’ah ra di atas dituliskan dalam Shahih al-Bukhari bab shalatit-tathawwu’i ‘alad-dabbah wa haitsuma tawajjahat bihi (shalat sunat di atas kendaraan dan mengarah ke arah mana saja) no. 1093 dan bab man tathawwa’a fis-safar fi ghairi duburis-shalawat (orang yang shalat sunat dalam safar selain selepas shalat wajib) no. 1104; Shahih Muslim bab jawaz shalatin-nafilah ‘alad-dabbah fis-safar haitsu tawajjahat (bolehnya shalat sunat di atas kendaraan ketika safar ke arah mana saja menghadapnya) no. 1653. Hadits yang menegaskan tidak diamalkan dalam shalat wajib dituliskan oleh Imam al-Bukhari dalam bab yanzilu lil-maktubah (turun dari kendaraan untuk shalat wajib) no. 1097.

Sementara hadits Anas dituliskan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud bab at-tathawwu’ ‘alar-rahilah wal-witr (shalat sunat dan witir di atas kendaraan) no. 1227

 

Syarah Hadits

Dua hadits di atas mengajarkan bahwa shalat sunat boleh diamalkan di atas kendaraan dengan tidak menghadap qiblat. Tetapi syaratnya ketika takbiratul-ihram kendaraannya harus menghadap qiblat terlebih dahulu, setelahnya menghadap ke arah mana saja tidak jadi masalah.

Shalat sunat yang dimaksud dalam hadits ‘Amir ibn Rabi’ah disebutkan jelas dalam riwayat lain shalat malam:

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى السُّبْحَةَ بِاللَّيْلِ فِي السَّفَرِ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ.

Dari ‘Amir ibn Rabi’ah ra, bahwasanya ia melihat Nabi saw shalat sunat di malam hari ketika safar di atas kendaraannya dengan menghadap ke arah mana saja kendaraannya tersebut menghadap (Shahih al-Bukhari bab man tathawwa’a fis-safar fi ghairi duburis-shalawat no. 1104).

Sementara itu dalam hadits Ibn ‘Umar ra disebutkan dengan shalat witirnya.

عَنْ نَافِعٍ قَالَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا وَيُخْبِرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُهُ.

 Dari Nafi’, ia berkata: Ibn ‘Umar ra shalat (sunat) di atas kendaraannya dan shalat witir juga di atasnya. Ia memberitahukan bahwa Nabi saw pernah mengerjakannya (Shahih al-Bukhari bab shalatit-tathawwu’i ‘alad-dabbah wa haitsuma tawajjahat bihi no. 1095).

Imam al-Bukhari sendiri memberikan tarjamah untuk hadits di atas:

بَاب مَنْ تَطَوَّعَ فِي السَّفَرِ فِي غَيْرِ دُبُرِ الصَّلَوَاتِ وَقَبْلَهَا

Bab: Orang yang shalat sunat dalam safar tapi bukan di selepas shalat wajib dan sebelumnya.

Maksudnya shalat sunat dalam safar itu bukan shalat rawatib qabliyyah atau ba’diyyah, melainkan shalat sunat muthlaq secara umum. Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkannya; tahajjud, witir, dluha, dan semacamnya. Untuk shalat tahajjud dan witir dalil di atas sudah cukup jelas. Sementara shalat dluha, Imam al-Bukhari menuliskan dalam bab ini hadits dari Ummu Hani tentang Nabi saw shalat dluha ketika fathu-Makkah. Artinya ketika safar di Makkah, Nabi saw shalat dluha, dan itu menunjukkan tetap sunnah untuk diamalkan.

عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ مَا أَخْبَرَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ اغْتَسَلَ فِي بَيْتِهَا فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فَمَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلَاةً أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Dari Ibn Abi Laila, ia berkata: Tidak ada seorang pun yang memberitahukan kepada kami bahwa ia pernah melihat Nabi saw shalat dluha selain Ummu Hani. Ia menceritakan: “Nabi saw pada hari fathu Makkah mandi di rumahnya lalu shalat delapan raka’at. Aku tidak pernah melihatnya shalat yang lebih cepat daripada shalat tersebut, tetapi masih tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (Shahih al-Bukhari bab man tathawwa’a fis-safar fi ghairi duburis-shalawat no. 1103. Pernyataan Ibn Abi Laila tersebut tentunya tidak berarti bahwa yang meriwayatkan shalat dluha hanya Ummu Hani saja, melainkan sepengetahuan Ibn Abi Laila hanya Ummu Hani saja. Faktanya ada banyak shahabat lain yang meriwayatkan shalat dluha Nabi saw seperti ‘Aisyah, Abu Hurairah, Abu Dzar, dan Abud-Darda` radliyal-‘Llahu ‘anhum—Fathul-Bari)

Terkait kedudukan shalat sunat dalam safar, para ulama sepakat akan kebolehan shalat sunat yang muthlaq sebagaimana telah disinggung di atas. Termasuk di dalamnya shalat tahiyyatul-masjid, shalat di antara dua adzan, syukrul-wudlu, dan shalat yang tidak terikat shalat wajib lainnya.

Sementara terkait shalat rawatib yang berkaitan dengan shalat wajib baik yang sebelumnya atau sesudahnya, terdapat perbedaan pendapat: (1) Madzhab Ibn ‘Umar dan lainnya yang menghukumkan makruh, karena Nabi saw sengaja tidak pernah mengamalkannya sama sekali. (2) Madzhab Imam as-Syafi’i dan jumhur ulama yang menyatakan tetap dianjurkan. Dalilnya hadits-hadits umum tentang anjuran shalat rawatib; hadits Nabi saw shalat dluha pada waktu fathu-Makkah; Nabi saw shalat dua raka’at qabla shubuh ketika bangun kesiangan dalam salah satu safar; qiyas kepada shalat sunat yang muthlaq; sangat mungkin Nabi saw shalat rawatib di tendanya dan tidak terlihat Ibn ‘Umar karena shalat sunat lebih baik dilaksanakan di tempat sendiri; atau Nabi saw sengaja meninggalkan shalat rawatib sebatas untuk mengajarkan bahwa shalat rawatib ketika safar boleh ditinggalkan tetapi bukan lebih baik ditinggalkan (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab shalatil-musafirin wa qashriha).

Intinya shalat yang diamalkan di atas kendaraan ketika safar adalah shalat sunat selain rawatib. Shalat rawatib itu sendiri sebatas boleh diamalkan dan tidak menjadi dosa jika diamalkan.

Sementara shalat wajib, maka tidak boleh diamalkan di atas kendaraan ketika safar. Imam al-Bukhari menuliskan hadits-hadits yang menegaskan dalam kitab Shahihnya bab yanzilu lil-maktubah.

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ  وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ r يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ

Dari ‘Amir ibn Rabi’ah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw di atas unta shalat sunat sambil berisyarat dengan kepalanya ke arah mana saja beliau menghadap. Tetapi Rasulullah saw tidak pernah mengerjakan hal itu dalam shalat wajib.” (Shahih al-Bukhari bab yanzilu lil-maktubah no. 1097).

قَالَ ابْنُ عُمَرَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ r يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ

Ibn ‘Umar berkata: “Rasulullah saw shalat sunat di atas unta ke arah mana saja beliau menghadap dan shalat witir di atasnya. Tetapi beliau tidak pernah mengerjakannya dalam shalat wajib.” (Shahih al-Bukhari bab yanzilu lil-maktubah no. 1098)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ  كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ الْمَكْتُوبَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ

Dari Jabir ibn ‘Abdillah: “Nabi saw pernah shalat di atas untanya ke arah timur (padahal qiblat dari Madinah itu ke arah selatan—pen). Apabila hendak shalat wajib, beliau turun dan menghadap qiblat.” (Shahih al-Bukhari bab yanzilu lil-maktubah no. 1098).

Hadits-hadits di atas harus diperhatikan oleh siapa pun yang safar agar tidak tasahul (mempermudah diri) dengan shalat wajib di atas kendaraan, padahal masih mungkin untuk turun dari kendaraan guna mengamalkan shalat wajib. Shalat wajib di atas kendaraan kedudukannya ghair masyru’ (tidak disyari’atkan) sehingga tidak sah. Harus dipaksakan untuk turun dari kendaraan dan shalat wajib di darat.

Dikecualikan jika kedudukannya darurat atau tidak mungkin turun dari kendaraan. Contohnya orang yang sedang naik kereta api dengan perjalanan jauh, pesawat terbang, atau kapal laut, yang jika akan menunggu kendaraan berhenti dan turun ke darat pasti waktu shalatnya sudah terlewat. Untuk mereka maka shalat mau tidak mau diamalkan di atas kendaraan. Akan tetapi shalat dalam kendaraan-kendaraan tersebut jika masih memungkinkan mengamalkan shalat dengan sempurna berdiri, ruku’, dan sujudnya, maka sudah seharusnya shalat diamalkan dengan sempurna berdiri, ruku’, dan sujudnya (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab jawaz shalatin-nafilah ‘alad-dabbah fis-safar haitsu tawajjahat).

Imam at-Tirmidzi dalam hal ini menulis sebagai berikut:

عَنْ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ بْنِ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَانْتَهَوْا إِلَى مَضِيقٍ، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَمُطِرُوا، السَّمَاءُ مِنْ فَوْقِهِمْ، وَالبِلَّةُ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ، ” فَأَذَّنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، وَأَقَامَ، فَتَقَدَّمَ عَلَى رَاحِلَتِهِ، فَصَلَّى بِهِمْ يُومِئُ إِيمَاءً: يَجْعَلُ السُّجُودَ أَخْفَضَ مِنَ الرُّكُوعِ “،: «هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، تَفَرَّدَ بِهِ عُمَرُ بْنُ الرَّمَّاحِ البَلْخِيُّ لَا يُعْرَفُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِهِ، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ»، وَكَذَلِكَ رُوِيَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ «أَنَّهُ صَلَّى فِي مَاءٍ وَطِينٍ عَلَى دَابَّتِهِ»، وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ

Dari ‘Amr ibn ‘Utsman ibn Ya’la ibn Murrah, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya mereka pernah safar bersama Nabi saw. Ketika sampai di sebuah jalan yang sempit, datang waktu shalat, dan turun hujan lebat. Sehingga jadinya di atas hujan dan di bawah basah. Rasulullah saw kemudian adzan di atas kendaraannya, iqamat, dan memajukan sedikit kendaraannya, lalu shalat mengimami rombongan dengan isyarat; sujud lebih rendah daripada ruku’.

Ini adalah hadits gharib (asing) karena ‘Amr ibn ar-Rammah al-Balkhi hanya meriwayatkan sendiri, dan ia tidak dikenal kecuali dari hadits ini, tetapi ada meriwayatkan darinya beberapa ahli ilmu bukan hanya seorang. Demikian juga diriwayatkan dari Anas ibn Malik bahwasanya ia pernah shalat di atas air yang bercampur tanah di atas kendaraannya. Pengamalan seperti ini dianut oleh para ulama, dan merupakan pendapat Ahmad dan Ishaq (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fis-shalat ‘alad-dabbah fit-thin wal-mathar no. 411).

Ketika shalat sunat dalam safar diamalkan di atas kendaraan, atau shalat wajib terpaksa diamalkan di atas kendaraan, sebagaimana disinggung dalam hadits-hadits di atas, maka shalat dilakukan dengan duduk dan dengan isyarat kepala untuk ruku’ dan sujudnya. Tentunya posisi kepala ketika sujud lebih rendah daripada ruku’.

Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *