Ramadhan, Bulan Diturunkannya Al-Qur’an - Majalah Islam Digital Tafaqquh

Ramadhan, Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

1 month ago
781

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu bertemu dengan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa padanya, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Di antara keistimewaan bulan Ramadhan yang secara khusus disebutkan di dalam ayat ini bahwa ia adalah waktu permulaan diturunkannya al-Qur’an. Untuk itu, Ramadhan dan al-Qur’an memiliki kaitan yang sangat kuat. Sebagaimana kita tahu, keresahan Rasulullah saw selama tiga tahun yang beliau iringi dengan menyendiri di gua Hira karena melihat kejahiliyahan masyarakatnya, menemukan jawabannya pada bulan Ramadhan dengan diturunkannya al-Qur’an surat al-‘Alaq 1-5. Tepatnya hari Senin, yang menurut tahqiq ulama jatuh pada tanggal 21 Ramadhan tahun 1 kenabian, di usia beliau yang ke-40 tahun. 

Jamise Syar'i

Maka, tidak heran jika Ramadhan adalah waktu spesial dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Sebagaimana hal itu dicontohkan oleh Rasulullah saw:

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ 

 “Dari Ibnu ‘Abbas berkata, bahwa Rasulullah saw adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril as menemuinya, dan adalah Jibril as mendatanginya setiap malam di bulan Ramadlan, dimana Jibril as bertadarus al-Qur’an bersama beliau. Sungguh Rasulullah saw jauh lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 6; 1902; 3220; 3554; 4997; dan Muslim no. 2309). 

Dalam hadits di atas disebutkan kata مُدَارَسَة sebagai mashdar dari kata دَارَسَ يُدَارِس yang memiliki makna “musyarokah” (berarti saling, ada keaktifan dari kedua belah pihak), yang asal katanya  دَرَسَ يَدْرُس yang asal maknanya melatih dan merutinkan sesuatu (lihat Mu’jam Lisanul ‘Arab), juga bermakna mempelajari, membaca, mengingat-ingat, dan keseluruhan penggunaannya berkisar pada makna “mendapatkan dan menyisakan atsar (bekas/pengaruh)” “tanawul wa baqa al-atsar” (lihat Mu’jam al-Mufrodat fi Gharib al-Qur’an). 

Maka “mudarasah al-qur’an” maknanya adalah saling membaca, saling mengingat-ingat agar tetap terjaga hapalannya, saling mempelajari sehingga dapat dihasilkan makna-maknanya, yang dilakukan antara malaikat Jibril as dan Nabi Muhammad saw. 

Dalam redaksi lain dari hadits di atas dengan kata “ya’ridhu” (يعرض) yang berarti Rasulullah saw menyodorkan atau memperdengarkan al-Qur’an kepada Jibril as, atau dalam bahasa lain menyetorkan hapalan al-Qur’an. 

Juga dengan redaksi “yu’aaridhu” (يعارض) yang berarti saling memperdengarkan bacaan al-Qur’an. 

 Kata “mudarasah” juga semakna dengan kata “tadarus” yang disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ 

 “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw beliau bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah ta’ala, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di antara malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud no. 1455). 

Muhammad Syamsul Haq Al-‘Azhim Abadi menjelaskan kata “yatadarasunahu bainahum” (saling mempelajarinya di antara mereka) dengan “mereka berikutserta dalam membaca satu sama lain dan mengingat-ingatnya karena khawatir lupa” (lihat Aunul Ma’bud syarah Sunan Abi Dawud). 

Juga semakna dengan kata “ta’ahud” yang disebutkan dalam hadits berikut: 

عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا 

“Dari Abu Musa dari Nabi saw, beliau bersabda: “Peliharalah selalu al-Qur`an, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh ia cepat hilang daripada unta yang terikat.” (HR. Bukhari no.5033 dan Muslim no. 791 dengan lafazh “tafallutan” pengganti dari lafazh “tafashshiyan“). 

Maka, interaksi dengan al-Qur’an yang spesial pada bulan Ramadhan adalah dengan lebih banyak membaca, menghapal, memperdengarkan bacaan, mengkaji dan mentadaburi isi kandungannya. 

Ibnu Rajab Al-Hanbali mengomentari hadits mudarasah al-Qur’an di atas, “Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya mengkaji al-Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, dan memperdengarkannya kepada orang yang lebih hapal terhadapnya. Dan juga menjadi dalil dianjurkannya memperbanyak tilawah pada bulan Ramadhan. Di dalam hadits Fatimah ra dari ayahnya saw bahwa beliau mengabarkan kepadanya bahwa “Jibril as saling memperdengarkan bacaan al-Quran bersama beliau sekali setiap tahun, dan pada tahun wafat beliau sebanyak dua kali”. Dan pada hadits Ibnu Abbas bahwa “mudarasah” antara Jibril dengan beliau itu dilakukan pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya memperbanyak tilawah al-Qur’an pada malam hari karena pada malam hari itu terputus berbagai kesibukan, berkumpulnya kesungguhan, hati dan lisan lebih siap untuk bertadabur, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya bangun di malam hari itu lebih memberi sentuhan pada jiwa dan bacaannya lebih berbekas” (QS. Al-Muzammil : 6). Dan bulan Ramadhan memiliki kekhususan tersendiri dengan al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya, “Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah : 185). (Lathaiful Ma’arif, hal. 315) 

Oleh karena itu, salafush shaleh kita telah memberikan contoh dalam berinteraksi dengan al-Qur’an secara spesial di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab menyebutkan, 

“Siapa yang ingin menambah bacaan al-Qur’an dan memanjangkannya, dalam keadaan ia shalat untuk dirinya maka panjangkanlah sekehendaknya, sebagaimana Nabi saw mengatakannya. Dan begitu juga siapa yang shalat dalam jama’ah yang mereka ridha terhadap shalatnya. Sebagian salaf mengkhatamkan al-Qur’an dalam Qiyam Ramadhan setiap tiga malam. Sebagian mereka dalam tujuh malam, dan di antara yang melakukannya adalah Qatadah. Dan sebagian mereka ada yang mengkhatamkannya dalam sepuluh malam, di antaranya Abu Raja al-‘Atharidi; salaf membaca al-Qur’an pada bulan Ramadhan baik dalam shalat maupun di luar shalat. Al-Aswad membaca khatam al-Qur’an di setiap dua malam pada Ramadhan. An-Nakha’i melakukan itu (khatam setiap dua malam) khusus pada sepuluh hari terakhir, dan pada hari lainnya di bulan Ramadhan setiap tiga hari. Qatadah khatam biasanya setiap tujuh malam, pada bulan Ramadhan setiap tiga malam, dan pada sepuluh hari terakhir setiap malam. Imam Syaf’i melakukan 60 kali khatam pada Ramadhan yang beliau baca di luar shalat. Dan diriwayatkan bahwa Abu Hanifah pun melakukan semacam itu. Qatadah mempelajari al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Az-Zuhri, apabila masuk Ramadhan ia berkata : “Bulan Ramadhan adalah tilawah al-Qur’an dan memberi makan”. 

Ibnu Abdi Hakam berkata: “Imam Malik apabila masuk Ramadhan beliau meninggalkan pembacaan hadits dan majelis ahli ilmu, beliau menghadap kepada tilawah al-Qur’an dari mushaf. Abdur Razaq berkata: “Sufyan ats-Tsauri apabila masuk Ramadhan ia meninggalkan berbagai ibadah dan menghadap kepada tilawah al-Qur’an.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 318). 

Interaksi secara spesial dengan al-Qur’an pada bulan Ramadhan itu adalah untuk lebih menghayati fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayatnya,

 هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ 

 “Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”  

Perhatikanlah, dalam ayat di atas Al-Qur’an memiliki tiga fungsi yaitu: petunjuk, penjelasan-penjelasan dari petunjuk, dan pembeda antara yang haq dan yang batil. 

Lebih lanjutnya para ahli tafsir menjelaskan tentang makna al-huda. Ath-Tahabari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “al-huda” adalah manhaj yang menunjukkan manusia kepada jalan kebenaran. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “al-huda” adalah petunjuk bagi hati hamba-hamba yang beriman. Ibnu Asyur menjelaskan bahwa yang dimaksud “al-huda” adalah petunjuk kepada kemaslahatan umum dan kemaslahatan khusus yang tidak menafikan kemaslahatan umum. Wahbah Zuhaili menjelaskan: “Hikmah dalam penyebutan “wa bayyinatin minal huda wal furqon” setelah firman-Nya “huda linnaas“, yaitu menunjukkan bahwa petunjuk itu ada dua macam: petunjuk yang tegas, jelas yang dapat dipahami akal biasa pada saat terbertik pertama kali, dan petunjuk yang tidak diketahui kecuali oleh orang khusus, dan yang pertama faidahnya lebih banyak”.

Agar fungsi Al-Qur’an itu bisa kita raih dalam diri kita, tentunya jangan sampai al-Qur’an hanya lewat di bibir kita begitu saja, dengan target-target pengkhataman, tetapi hampa tidak memberi dampak di dalam jiwa kita. Interaksi dengan al-Qur’an jangan sampai hanya berupa aktifitas fisik belaka, tetapi harus betul-betul menghadirkan ruh dan penghayatan yang mendalam. Maka kita perlu mempersiapkan jiwa dan iman kita, agar kesibukan bersama Al-Qur’an semakin menambah keimanan, sebagaimana tarbiyah al-Qur’an telah mampu membentuk karakter para Salafush Shaleh terdahulu. Jundub bin Abdullah menuturkan: “Kami bersama Rasulullah saw saat kami adalah anak-anak yang telah kuat dan menjelang baligh. Kami belajar iman sebelum kami belajar al-Qur’an. Kemudian kami belajar Al-Qur’an, maka bertambahlah dengannya iman kami.” (HR. Ibnu Majah, no.61). WaLlahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *