

Sepuluh hari terakhir merupakan hari-hari yang paling ditunggu oleh para ulama salafussalih. Bagaimana tidak, diantara sepuluh malam terakhir ramadhan itu terdapat satu malam yang teramat istimewa bagi umat Nabi Muhammad r. Jangan heran jika kita akan menyaksikan kesungguhan yang besar dari orang-orang shalih terdahulu dalam menyambut sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Sufyan ats-Tsauri misalnya, beliau mengatakan
أحب إلي إذا دخل العشر الأواخر أن يتهجد بالليل و يجتهد فيه
“Hari yang paling aku sukai adalah ketika masuk sepuluh hari terakhir ramadhan di malamnya dilaksanakan shalat tahajjud dan di malam itu aku bersungguh-sungguh beribadah” (Lathaiful Ma’arif : 341)
Para ulama salafussalih begitu giat di sepuluh hari terakhir ramadhan ini karena memang sunnah dari Nabi r. sendiri yang menambah kualitas dan kuantitas ibadah di sepuluh hari terakhir ramadhan. Jika kita telusuri riwayat-riwayat berkaitan dengan sepuluh hari terakhir ramadhan ini kita akan menemukan beberapa Adab dan sunnah Nabi r. dan para ulama salafussalih dalam menyambut sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Pertama, Itikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan untuk memutus hubungan dengan makhluk dan mencurahkan segala perhatian untuk mengabdi beribadah kepada Allah.
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Biasanya (Nabi sallallahu’alaihi wa sallam) beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172)
Kesungguhan para ulama salafussalih dalam memutuskan hubungan dengan makhluk di malam-malam yang istimewa ini tergambar dalam perkataannya Daud at-Thai, dengan penuh ketulusan ia berujar di malam itu dengan penuh kesyahduan,
همك عطل علي الهموم و حالف بيني و بين السهاد و شوقي إلى النظر إليك أوبق من اللذات و حال بيني و بين الشهوات
“Tekadmu hanyalah menelantarkan berbagai keinginan, telah terhimpun antara diriku dengan orang-orang yang tidak ingin tidur di malam hari. Kerinduanku melihat diri-Mu, lebih kuat dari berbagai kelezatan. Dan menjadi penghalang antara diriku dengan kenikmatan syahwat” (Lathaiful Ma’arif : 349)
Kedua, membangunkan anak dan istri. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Nabi r dan para sahabat. Menghidupkan malam-malam di sepuluh hari terakhir harus menjadi agenda tahunan keluarga yang jangan terlewatkan.
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Ketiga, mandi diantara maghrib dan Isya, memakai pakaian terbaik dan minyak wangi untuk mempersiapkan ibadah semalam suntuk. Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwasannya Nabi r, mandi diantara dua adzan yang dimaksud adalah antara maghrib dan Isya. (Lathaiful ma’arif : 344). Seorang ulama yang bernama Zir bin Hubaisy memerintahkan agar mandi di malam ke dua puluh tujuh. Anas bin Malik apabila masuk ke malam dua puluh empat beliau mandi, memakai pakaian terbaik dan memakai wangi-wangian. Apabila malam-malam sepuluh hari terakhir usai, maka beliau melipat kembali pakaian itu dan menyimpannya untuk menyambut lailatul qadr di tahun yang akan datang. Ayyub as-Sikhtiyani beliau mandi di malam kedua puluh tiga dan dua puluh empat kemudian beliau memakai dua pakaian yang baru untuk mempersiapkan ibadah di malam-malam itu. Tsabit al-Bunani di setiap malam itu memakai pakaian terbaik dan memakai minyak wangi kemudian beliau menggunakan wewangian itu untuk masjid yang akan dijadikan tempat ibadah. Begitu pula Tamim ad-Dari, beliau membeli pakaian khusus untuk lailatul qadr senilai seribu dirham atau sebanding dengan harga ratusan juta rupiah karena begitu besarnya perhatian beliau dalam memuliakan lailatul qadr.
Keempat, menambah kualitas dan kuantitas qiyam di setiap malam sepuluh hari terakhir ramadhan.
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ .
“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760).
Di zaman Umar bin Khatab t, sebagaimana penuturan dari u-Saib bin Yazid, Shalat tarawih diperintahkan Umar dilaksanakan berjamaah dengan Imam Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari dengan setiap rakaat sebanyak dua ratus ayat. Sampai sampai para sahabat ketika itu bersandar kepada tongkat karena lamanya shalat malam di zaman Umar t. Semakin lama shalat di malam-malam itu maka keutamaan yang akan semakin besar diperoleh. Nabi r. Bersabda,
مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ
“Barangsiapa yang menunaikan (membaca) sepuluh ayat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang lalai. Dan barangsiapa yang menunaikan seratus ayat, maka dia termasuk qhanitin (ahli ibadah). Barangsiapa menunaikan seribu ayat, maka dia termasuk golongan orang Muqanthirin.” (H.R Abu Daud, no. 1264)
Kelima, Memperbanyak do’a khusus di malam-malam yang diharapkan turunnya lailatul qadr yang diajarkan Nabi r. Kepada Aisyah t.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Dari ‘Aisyah, ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah saw, bagaimana pandangan anda jika seandainya saya tahu malam yang mana Lailatul-Qadar itu, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab: Ucapkanlah: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun lagi Mahamulia, senang mengampuni, ampunilah aku” (Sunan at-Tirmidzi kitab ad-da’awat no. 3513).
Orang-orang beriman di malam-malam ini menjadi mulia dengan kesungguhan beribadah kepada Allah I. Kemuliaan ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma’arif bahwa di malam lailatul qadr itu Allah berfirman kepada para malaikat, “Kalian telah merendahkan Bani adam dengan berkata, ‘Apakah Engkau akan menjadikan makhluk yang akan merusak di bumi?’. Kemudian Aku berfirman kepada kalian, ‘Sungguh Aku lebih mengetahui dari pada apa yang tidak kalian ketahui’. Pergilah malam ini sampai kalian melihat hamba-hamba-Ku sedang bersujud, rukuk dan berdiri agar kalian semua mengetahui bahwa Aku memilih mereka berdasarkan ilmu atas semesta alam”. Selamat menikmati kesyahduan malam-malam istimewa dalam menyambut lailatul qadr. ! Wallahu A’lam bis Shawwab.














